
Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗
-
Kedua kelopak matanya terbuka dalam satu gerakan halus. Manik matanya bergerak ke kiri lalu ke kanan, menyusuri setiap inci yang ada dalam ruangan serba putih itu. Ia tahu dimana ia berada saat ini, karena sudah lebih dari tiga hari dia berada di dalam ruangan tersebut.
Aroma yang khas menguar di indra penciumannya, langit-langit kamar yang diterangi lampu dan ada beberapa peralatan medis di sana.
Di luar cuaca tampak cerah. Namun secerah apapun cuaca hari ini tetap tidak mendukung perasaannya yang sedang di selimuti rasa gelisah, gundah dan gulana.
Bagaimana dia tidak gegana, wanita berparas cantik bak boneka itu selalu gelisah, galau dan gundah setiap kali waktu menunjuk pukul delapan pagi dan empat sore. Yang artinya tak lama lagi perawat akan datang untuk menyuntik dirinya.
Otaknya sedang berfikir keras, mencoba menemukan cara supaya dirinya bisa lolos dari jadwal suntik hari ini. Tapi sayangnya dia merasa buntuh sehingga tidak bisa berfikir dengan jernih.
"Apa yang sedang kau lamunkan, Lun?"
"Omo?"
Wanita itu 'Luna' terlonjak kaget karna teguran seseorang yang tiba-tiba masuk dan berkaur di dalam telinganya. Terlihat sosok Zian memasuki ruangan.
"Oppa, kau mengekutkanku," Luna mengusap dadanya. Jantungnya berdegup kencang dan dadanya berdebar tak karuan.
"Kau terlihat cemas, Sayang. Memangnya apa yang sedang kau fikirkab, hm? Jangan bilang jika kecemasanmu ini ada hubungannya dengan suster yang akan menyuntikmu?" Tebak Zian 100% benar.
Luna mengangguk. "Nah, itu Oppa tau. Oppa, aku tidak mau di suntik lagi. Kau tau sendiri bukan jika aku sangat takut pada jarum suntik. Lagipula aku sudah baik-baik saja, bagaimana kalau kita pulang saja," renggek Luna memohon.
Zian menggeleng. "Tidak!!" sepasang mata abu-abunya menatap Luna dengan tajam dan penuh intimidasi. Tatapan itu seolah mempertegas keputusan Zian.
Luba menatap Zian yang wajahnya tampak mengeras di depannya. Bibirnya terkatup rapat. Dia hendak berbicara tapi tak bisa. Keputusan Zian adalah hal yang mutlak, karna suaminya itu paling tidak suka di bantah. Dan keheningan menyelimuti di antara keduanya.
Sakura menghela napas perlahan. "Aku rasa percuma saja memohon padamu, karna Oppa tidak mungkin mengabulkannya," Luna merubah posisinya lalu memutup sekujur tubuhnya dengan selimut. Dan sekarang giliran Zian yang menghela nafas.
Zian tidak mungkin mengabulkan permintaan Luna. Dia mendekati Luna dan mencoba memberi pengertian padanya. Zian tau jika Luna memang sangat ketakutand dan dia bisa merasakannya. Tapi bagaimana pun juga Luna tetap harus di suntik.
"Oppa, janji. Ini terakhir kalinya kau di suntik. Oppa, akan bicara dengan dokter supaya besok kau sudah bosa pulang,"
Luna membuka kembali selimutnya dan menatap Zian yang juga menatap padanya."Benarkah?" Zian mengangguk. Luna tetsenyum lebar. "Baiklah, aku mau di suntik!!"
-
Seperti janji Zian semalam. Hari ini Luna diijinkan untuk pulang oleh pihak rumah sakit. Luna tidak tau bagaimana caranya suaminya itu bisa meyakinkan pada dokter sampai-sampai dia diijinkan untuk pulang.
Saat ini Luna tengah bersiap-siap dengan Viona yang membantunya. Karna Zian masih harus mengurus Administrasi.
Pintu ruangan itu di buka dari luar. Terlihat sosok Nathan memasuki ruangan. "Sudah siap?" tanya pria itu memastikan. Viona dan Luna sama-sama mengangguk. "Zian, meminta kita untuk menunggu di mobil. Dia akan segera menyusul." Tukas Nathan yang seolah mengerti arti dari tatapan Luna.
"Ahh. Begitu, dan bisakah kita pergi sekarang?" Luna menatap kakak dan kakak iparnya itu bergantian.
Keduanya sama-sama mengangguk."Tentu, biar Eonni yang mendorong kursi rodamu," Viona melangkah menuju belakang Luna, lebih tepatnya untuk mendorong kursi roda yang dia gunakan.
Luna tidak bisa menahan rasa bahagianya. Setelah hampir satu minggu terkurung di tempat yang menurut Luna bak neraka itu, akhirnya dirinya diijinkan untuk pulang.
Luna benar-benar sangat bahagia. Saking bahagianya sampai-sampai dia ingin menangis. Tapi sayangnya Luna tidak mau sampai disebut cenggeng nantinya.
-
BYURRR...!!
__ADS_1
Soojin menghentikan langkahnya dan tubuhnya terpaku setelah terkena cipratan air bekas hujan semalam yang menggenang di tepi jalam. Semalam tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya dan melumpuhkan hampir semua aktifitas di kota Berlin.
Tiba-tiba mobil putih itu berhenti setelah cukup jauh dari Soojin. Salah satu penumpangnya tiba-tiba menyembulkan kepalanya dan berteriak dengan sangat keras.
"BIBI, MAAF YA. SEBENARNYA KAMI MEMANG SENGAJA MEMANDIKANMU, BAU TUBUHMI 'KAN TIDAK ENAK. HAHAHA!!"
Soojin segera tersadar. Sontak saja dia menoleh dan matanya membelalak setelah melihat siapa orang yang sudah membuatnya basah-kuyub. "KALIAN!! YAKK!! BOCAH-BOCAH TENGIK, APA KALIAN BERTIGA SUDAH BOSAN HIDUP, EO? TURUN DAN HADAPI AKU JIKA KALIAN MEMANG BERANI!!" teriak Soojin penuh emosi.
"BIBI, KAU MENANTANG KAMI? APA TIDAK SALAH? BAGAIMANA KALAU PINGGANGMU MALAH TERSERANG ENCOK SETELAH MELAWAN KAMI? KAMI TIDAK TANGGUNG JAWAB, LOH"
"DIAM KALIAN SEMUA!! KEMARI KALIAN!! TURUN DAN HADAPI AKU KALAU BERANI!" teriak Soojin menantang.
"Baiklah, karna kau sendiri yang memintanya, maka kami akan mengabulkannya. Kurang baik apa lagi kami coba?"
Satya memundurkan mobil yang dikendarainya dengan perlahan hingga melewati Soojin yang masih berdiri di tempat yang sama.
Rio tiba-tiba turun sambil membawa sebuah botol air mineral yang berisi cairan berwarba kuning keenasan. Cairan tersebut dia tuang di dalam genangan air tersebut.
"Bibi, tunggu sebentar ya. Aku akan segera kembali. Kau 'kan kuat, aku bisa kalah kalau melawan emak-emak sepertimu tanpa membawa senjata!!"
Rio menggerlingkan mata dan beranjak dari hadapan Soojin. Pemuda itu masuk kembali ke dalam mobil dan...
BYURRR...
"YAKKK!!!"
Sekali lagi tubuh Soojin terguyur genangan air tersebut setelah Satya melajukan kembali mobilnya. Tapi kali ini rasanya ada yang berbeda dari sebelumnya. Aroma air itu begitu tidak sedap seperti bau kotiran ayam dan kencing manusia.
"BIBI, SEDIKIT SARAN DARI KAMI. SEBAIKNYA KAU SEGERA PULANG DAN MANDI AIR YANG DICAMPUR BUNGA TUJUH RUPA. KARNA GENANGAN AIR ITU SUDAH TERCAMPUR KOTORAN AYAM DAN PIPISNYA, RIO," teriak Frans.
Kedua mata Soojin lantas membelalak saking kagetnya. "APA KALIAN BILANG? YAKKK...!! BOCAH SETAN!! MATI SAJA KALIAN!!"
"HAHAHA...!"
-
Wanita itu menyibak selimut dari tubuhnya kemudian beranjak dan berjalan pelan meninggalkan kamar. Setibanya di luar dia melihat Zian, Viona, Nathan dan Reno sedang berkumpul di ruang keluarga.
Luba berjalan perlahan dan menghampiri mereka, yang tentu saja kedatangannya mengejutkan semua orang, terutama Zian. "Luna," Zian langsung berdiri dan menghampiri sang istri. "Apa yang kau lakukan? Seharusnya kau tidak boleh berjalan dulu seperti ini!!"
"Hentikan, Oppa. Berhenti memperlakukanku seperti orang yang berpenyakitan!! Lagipula terlalu lama di kamar membuatku merasa bosan," tuturnya panjang lebar.
Ziah mendesah berat. Dan satu jitakan mendarat mulus pada kepala coklatnya."Dasar keras kepala," kemudian Zian mengangkat Luna Bridal Style dan menempatkan dia disamping Viona.
"Kalian serius sekali, memangnya apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Luna penasaran.
Zian mendesah berat. "Kita mendapatkan masalah besar. Ada penyusup di perusahaanku dan dia berhasil mencuri beberapa data penting. Semua CCTV di perusahaan mati sehingga tidak ada yang tau siapa bajingan itu!!"
"Jika kita tidak bisa mendapatkan data-data itu kembali. Kemungkinan besar perusahaan akan mengalami kerugain besar," imbuh Reno menjelaskan.
Luna mengangguk tanda jika dia sudah mengerti."Aahh, jadi itu masalahnya. Aku tau siapa yang bisa menyelesaikan masalah ini. Bukankah hal itu terjadi diperusahaanmu yang ada di Korea. Serahkan saja padaku, aku pastikan malam ini kau sudah mendapatkan hasil terbaiknya," Luna tersenyum lebar.
"Jangan bilang kau akan melibatkan teman-temanmu yang cantik dan luar biasa itu lagi?" tebak Reno 100% benar.
"Bingo. Jadi kita hanya perlu menunggu hasil terbaiknya saja. Karna kami, Black Lady selalu bisa diandalkan!!"
-
"YAKK!! WANITA-WANITA GILA. SAMPAI KAPAN KALIAN AKAN MENAHANKU DI NERAKA TERKUTUK INI, EO?"
__ADS_1
Teriakkan keras seorang pria menggema dari salah satu ruangan di sebuah bangunan bekas perusahaan yang telah lama terbengkalai. Membuat salah seorang dari beberapa perempuan yang berkumpul di satu titik itu mendecih tidak suka. Terlalu bosan lebih tepatnya.
"Reyya, kau mau kemana?" tegur Erika melihat Reyya tiba-tiba bangkit dari duduknya.
"Memberikan sedikit pelatihan fisik pada si bodoh itu!!"
"Tunggu, aku ikut," seru Erika dan segera mengejar Reyya.
Pelajaran fisik yang Reyya maksud bukanlah sebuah pukulan dan sejenisnya. Melainkan hubungan badan.
Jika biasanya wanita yang selalu di buat tak memiliki harga diri di tangan para pria, tapi kali ini malah sebaliknya. Karna seorang prialah yang di buat tak memiliki harga diri oleh mereka. Jordan benar-benar di buat tak berdaya oleh wanita-wanita itu.
Hampir setiap detik dan setiap menit dia selalu dipaksa untuk memuaskan mereka semua. Jika menolak, maka hukuman cambuk yang dia dapatkan. Dan Jordan lebih memilih membusuk di penjara dari pada harus berurusan dengan para wanita gila seperti mereka.
Ting...
Zifanya mengerutkan dahinya melihat ada sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya dari nomor asing. Penasaran siapa yang mengiriminya pesan, Zifanya segera membuka pesan tersebut.
"Ketua memiliki tugas baru untuk kita. Girls saatnya kita untuk bersenang-senang lagi," serunya dengan gembira.
Sudah lama Zifanya tidak mendapatkan tugas seperti ini, dan kali ini dia mendapatkan tugas yang merupahkan keahliannya. Dan tentu saja Zifanya tidak akan menyia-nyiakannya.
-
Gemerisik kelopak bunga-bunga persik yang terus berguguran warnai heningnya suasana malam, suara yang dihasilkan bernaung sejenak di indera pendengaran, membawa perasaan damai bagi setiap orang, tentunya.
Tak terkecuali seorang dara jelita yang tengah menikmati lembutnya angin malam. Cahaya bulan lebih terang malam ini.
Sang dara tengah duduk di beranda rumahnya, lensa pengamatnya menerawang, ribuan manik-manik langit memainkan cahayanya yang benderang. Hembusan angin malam yang berhembus dengan lembut membuat rambut panjangnya yang terurai sedikit berkibar.
Duduk dalam diam, menikmati indahnya suasana malam. Sudah lama tidak seperti ini. Bahkan dia sudah lupa kapan terakhir kali merasakan perasaan yang sedamai ini.
Sesekali dia menggoyangkan dua kakinya, kedua tangannya bertumpu di atas papan kayu yang juga menjadi penopang tubuhnya.
Gaun bermotif bunga berwarba kehitamab terlihat bercahaya selagi purnama tidak segan-segan untuk membagi cahayanya untuk sang dara.
Tak lama kemudian, kedua lensa pengamat menutup, senyum yang menghiasi wajah menambah keelokannya.
Tampak kolam kecil yang berada di depannya bergelimang akibat biasan cahaya sang penguasa malam. Warna jingganya yang memesona pancarkan kesejukan
Manik putih di atas sana mengerlipkan cahayanya kepada makhluk hidup yang ada di bawah, mengundang gumaman terpesona kepada mereka yang melihatnya. Termasuk wanita itu.
Perhatiannya sedikit terusik ketika indera pendengarannya menangkap derap langkah kaki seseorang yang datang. Dan selanjutnya yang dia rasakan adalah sebuah kehangatan ketika sepasang tangan itu memeluknya dengan erat.
"Oppa, kau melihat bulan di sana?" tunjuk si wanita pada permata langit yang sedang menunjukkan eksistensinya.
"Hn,"
"Bukankah sangat indah,"
"Ya,"
"Bagaimana kalau kita membuat moment?" usul di wanita. Dilepaskan pelukan itu kemudian merubah posisinya. Mereka duduk saling berhadapan. "Aku ingin menciptakan moment indah di sini sebelum kita kembali besok," ucap wanita itu 'Luna'
Pria itu menakup wajah Luna dan menyatuhan bibir mereka. Awalnya bibir mereka hanya sekedar menempel saja. Namun beberapa saat kemudian ciuman itu berubah menjadi ciuman yang menggairahkan ketika Zian mulai menggerakkan bibirnya dan mulai memagut bibir tipis ranum milik Luna.
Luna menutup matanya perlahan ketika merasakan pagutan bibir Zian yang semakin lama semakin memabukkan. Kedua tangannya mengalung pada leher pria itu. Kemudian Luna menurunkan sebelah tangannya menuju lengan terbuka Zian karna pakaian tanpa lengan yang dia pakai.
Luna meremas lengan berotot Zian saat dia merasakan pagutan Zian semakin dalam dan menuntut. Luna melengkuh panjang, membuat desahan demi desahan meluncur bebas dari bibir ranumnya.
__ADS_1
Luna terlena, mereka sama-sama enggan untuk mengakhiri ciumannya meskipun kebutuhan oksigen mulai mengambil alih kewarasan mereka. Luna terhanyut, terbawa dalan suasana.
"Berciuman dengan Zian dengan berpayungkan langit malam bertabur bintang,sungguh sebuah pengalaman yang tak akan pernah terlupakan