Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 56) "Aku Mohon Bertahanlah"


__ADS_3


Riders, jangan lupa baca juga new novel Author yang berganti judul menjadi ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM. Tinggalkan like dan koment kalian juga ya 🙏🙏🤗🤗🤗


-


"Luna, aku mohon bertahanlah!" bisik Zian dengan suara paraunya.


Zian menggenggam tangan Luna dengan erat seolah-olah tak pernah ingin melepaskannya. Air matanya tak terbendung lagi, hatinya hancur berkeping-keping melihat tubuh sang istri yang sedang terbaring lemah dalam keadaan tidak berdaya.


Melihat wajah Luna yang semakin memucat di tambah dengan banyaknya darah yang keluar dari luka tembak pada dada kirinya membuat Zian semakin ketakutan.


Zian takut jika hal buruk sampai menimpa Luna, Zian takut jika Luna tidak mampu bertahan dan meninggalkannya. Zian tidak siap, dia tidak akan pernah siap untuk kehilangan belahan jiwanya.


"Maaf Tuan, Tapi Anda tidak diizinkan untuk masuk," kata Suster sambil menahan Zian.


Tubuh Luna di bawa masuk ke dalam ruang operasi oleh Dokter dan para tim medis yang menanganinya. Tim medis akan segera mengambil tindakkan cepat untuk memyelamatkan nyawa Luna, yakni dengan mengeluarkan peluru yang bersarang di dada kirinya.


Tak sedikit pun Zian meloloskan pandangannya sampai sosok Luna yang terbaring lemah di atas kereta dorong hingga sosoknya tidak tertangkap lagi oleh mata abu-abunya.


Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya pada ubin rubah sakit yang dingin dan keras, salah satu tangannya bertumpuh pada lututnya. "AAARRRKKKHHHH....!" Zian menggeram sambil mengacak kasar rambut keperakannya. Dia benar-benar merasa kacau.


Zian bangkit dari posisi duduknya lalu berbalik dan memukul tembok dibelakangnya berulang-ulang, seolah tidak peduli dengan bau anyir yang keluar dari kepalan tangannya yang terkelupas.


Zian membutuhkan pelampiasan. Semua hanya mampu terdiam dan tidak ada yang berani menghentikan Zian, termasuk Reno.


Mereka yang ada diruangan itu memandang Zian dengan sendu. Bukan hanya Zian yang merasa cemas dan kerakutan akan kondisi Luna saat ini, tapi mereka berempat juga.


"Zian cukup!!" seru Nathan yang baru saja tiba bersana Viona. Nathan menahan tubuh Zian yang semakin tidak terkendali.


Dan kedatangan Nathan serta Viona tentu saja mengejutkan Zian dan trio kadal. Pasalnya tidak ada yang memberitau mereka mengenai apa yang terjadi pada Luna. Dan seandainya di beritaupun, pasti mereka tidak mungkin tiba dalam waktu sesingkat ini. Karna jarak Korea-Berlin yang jauh.


Karna kedatangan mereka di sana memang bukan untuk Luna. Tapi untuk memberikan pelajaran pada trio kadal karna sudah membuat panik semua orang.


Namun ketika mereka tiba di bandara, Nathan mendapatkan pesan singkat dari Reno jika Luna sedang kritis di rumah sakit setelah tertembak oleh orang tak dikenal.


"Hentikan, Bodoh!! Kau bisa melukai dirimu sendiri," ujar Nathan sambil menarik Zian kebelakang.


"Lepaskan aku, Hyung, lepaskan!" teriak Zian seperti orang kerasukan.


Zian menyentak tangan Nathan dari lengannya dengan kasar, laki-laki itu menggeram keras dan kembali memukul tembok itu sekali lagi, membuat lukanya semakin parah dan banyak mengeluarkan darah.


"Cukup Zian, berhenti menyakiti dirimu sendiri. Luna pasti sedih melihatmu seperti ini," nasehat Viona sambil mengusap punggung Zian dengan gerakan naik turun.


Viona dapat merasakan kepedihan hati Zian, karna dia pun merasakan hal yang sama. Namun Luna mencoba untuk tetap tegar, karna dia tau jika Luna adalah perempuan yang kuat. Dia pasti mampu bertahan dan melewati masa kritisnya.


"Hiks.. Ini semua salah kami, jika saja kami bertiga bisa lebih menjaga Luna nunna, pasti hal semacam ini tidak akan terjadi dan saat ini pasti Luna nunna masih baik-baik saja. Kami sungguh-sungguh menyesal," tutur Satya.


Isak tangis Rio, Frans dan Satya pecah begitu saja. Rasa takut akan kondisi Luna membuat mereka sangat ketakutan. Reno menghampiri mereka bertiga kemudian memeluknya, mencoba memberikan ketenangan pada ketiga pemuda itu.


Zian menjatuhkan tubuhnya pada kursi ruang tunggu, laki-laki itu membungkuk dalam posisi duduknya. Tangannya mengusap kasar wajahnya, dan gerakkan jarinya tanpa sengaja melepas perban yang melekat pada pelipis Zian. Ujung kukunya membuat darah kembali merembes keluar dari luka jahitnya.


"Sungguh, aku bukan suami yang berguna. Jika saja aku bisa lebih menjaganya, pasti hal semacam ini tidak mungkin terjadi dan Luna masih baik-baik saja." Tutur Zian penuh sesal.

__ADS_1


Viona menghela nafas, wanita itu bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Zian. "Dengarkan Nunna, Zian!" Viona mengambil jeda. Mata hazelnya terkunci pada manik abu-abu milik Zian. "Nunna tau apa yang menimpa, Luna sangat menyakitkan untukmu. Tapi aku tidak ingin kau bersikap seperti ini, kau boleh merasa sedih dan marah atas apa yang menimpa adikku, tapi jangan sampai kau menyakiti dirimu sendiri apalagi terus menyalahkan dirimu seperti ini. Luna, akan sedih melihatmu seperti ini," ujar Viona memaparkan.


Zian tidak memberikan respon apa-apa. Wanita itu mendongak menatap langit-langit rumah sakit dengan pandangan hampa. Cairan bening kembali menggenang dipelupuk matanya.


"Apa? Baiklah, kami akan segera kesana." Reno memutuskan sambungan telfonnya lalu menghampiri Zian dan Nathan. "Zian, aku baru saja mendapatkan telfon dari pihak kepolisian. Mereka memberi tau jika pelaku penembakan masal sudah berhasil ditangkap, dan salah satu dari mereka mengakui jika telah melepaskan tembakannya pada, Luna." ujar Reno sambil menatap bergantian kedua pria dihadapannya.


Sontak saja Zian bangkit dari posisi duduknya. Tanpa mengatakan apapun dan menghiraukan semua orang yang ada di depan ruang tunggu, Zian langsung melenggang pergi. Zian menggepalkan kedua tangannya, mata abu-abunya berkilatan penuh amarah.


'Siapa pun dirimu, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kau harus membayar mahal untuk apa yang sudah kau lakukan pada Jessica,' ujar Zian membatin.


"Oppa, sebaiknya kau ikut dengan mereka, aku takut Zian tidak bisa menahan dirinya," ujar Viona yang segera dibalas anggukan oleh Nathan.


"Baiklah,"


"Paman, kami juga ikut!!!"


.


.


Gyuttt...


Rio mengepalkan tangannya setelah melihat siapa pelaku dibalik penembakan Luna. Dengan langkah cepat Rio menghampiri orang itu dan tanpa babibu, dia melayangkan kepalan tangannya hingga membuat orang itu terjengkang kebelakang, sudut bibirnya terkelupas dan berdarah.


"Brengsek, jadi kau orangnya. Kau yang sudah membuat bibi, Luna terluka," Rio menarik krah pakaian yang laki-laki itu kenakan seraya melayangkan satu pukulan lagi pada wajahnya, tapi segera dihentikan oleh Satya.


"Bodoh, kendalikan dirimu. Ini kantor polisi," kata Satya mengingatkan.


Polisi memberikan keterangan dan bukti-bukti jika memang pria itulah pelaku penembakan itu. Zian mengepalkan kedua tangannya, raut wajahnya berubah-ubah setiap mendengar penjelasan polisi yang duduk didepannya.


"Hyung?"


Zian tidak memberikan respon apa-pun. Pemuda itu menarik si pelaku dan membawanya meninggalkan kantor polisi, dengan kasar Zian mendorong tubuh laki-laki itu untuk masuk kedalam jok belakang mobilnya.


Zian melempar kunci mobilnya pada Frans karna ia akan duduk dibelakang bersama orang itu dan Satya sementara didepan Satya dan Frans. Sedangkan Nathan membawa mobil sendiri. "Paman, kau serius ingin menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan? Apa kau sungguh....?"


"Aku tidak bodoh, aku sudah memiliki rencana untuk bajingan ini," ujar Zian menyela kalimat Rio.


ketiganya masih bertanya-tanya mengenai rencana Zian. Entah kenapa Frans memiliki firasat buruk dengan sesuatu yang direncanakan oleh laki-laki itu. Frans rasa keputusan Zian untuk menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan hanya alasan saja, dan Frans berharap agar Zian tidak melakukan tindakan yang aneh-aneh.


"Hyung, sebenarnya rencana apa yang kau miliki?" tanya Frans memastikan.


Zian mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki itu datar. "Apa kau berniat....."


"Ya, aku akan memberikan pelajaran pada bajingan ini. Karna di kantor polisi aku tidak mungkin bisa bertindak dengan bebas dan memberikan pembalasan yang setimpal pada bajingan ini," ujar Zian dengan tatapan penuh intimidasi.


Orang itu yang sedari tadi duduk disamping Zian tidak bisa berkutik sama sekali. Kedua tangannya terikat kuat dan mulutnya tersumpal kaos kaki milik Rio yang sudah satu bulan tidak di cuci. Rio tidak tahan mendengar orang itu yang terus berteriak hingga membuat telinganya menjadi sakit.


Mobil yang Frans kendarai mulai memasuki khawasan sepi. Tidak ada bangunan yang berdiri di sepanjang jalan yang mereka lewati selain pohon- pohon dan hamparan padang ilalang.


"Frans, hentikan mobilnya!" pinta Zian dengan suara datarnya. Frana mengangguk kemudian menepikan mobilnya.


Zian menarik orang itu keluar dari mobilnya kemudian melempar tubuh laki-laki itu pada rerumputan. "Kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi bajingan, karna dirimu kini istriku dalam keadaan kritis," ujarnya.

__ADS_1


Zian melayangkan tinjunya pada wajah orang itu hingga babak belur. Zian menghajar laki-laki itu dengan brutal, tidak hanya sekali saja, Zian melakukannya berkali-kali.


Hidung dan rahang pria itu patah setelah pukulan berulang-ulang melayang diwajahnya, kedua matanya membiru dan mengalami pembengkakan.


Tidak hanya memukul saja, Zian juga menendang dan menginjak tubuh orang itu yang sudah tidak berdaya. Zian benar-benar kehilangan kendali, sosok Iblis dalam dirinya muncul dan mengambil alih kesadarannya.


"Zian cukup," seru Nathan sambil menarik mundur tubuh Zian. "Apa kau sudah gila? Bagaimana jika dia sampai mati? Kau bisa terkena masalah," bentak Nathan sambil mengguncang tubuh Zian.


Zian menyentak kasar tangan Nathan."Aku tidak peduli, aku hanya ingin bajingan ini mati. Dia yang sudah membuat, Luna hampir saja kehilangan nyawanya dan aku tidak bisa membiarkannya tetap hidup," teriak Zian tak kalah kencang dari Nathan.


Nathan menatap Zian dengan tatapan datar. Dia melihat sosok iblis dalam diri Zian, dan melihat Zian seperti ini membuat dia tak ada dlbedanya dengan dirinya ketika sedang marah dan dikuasai emosi. Karna jika sudah menyangkut orang yang dia cintai, Nathan bisa menjelma menjadi Iblis.


Zian hendak menghampiri pria itu yang sudah terkapar namun segera dihentikan oleh Nathan.


"Kendalikan dirimu, Zian. Hal ini tidak akan menyelesaikan masalah," bentak Nathan mengingatkan.


"Lepaskan aku Hyung, lepaskan!" Zian terus meronta namun Nathan tetap tidak mau melepaskannya. Dia tidak ingin jika Zian sampai berbuat yang lebih nekat dari yang ia lakukan saat ini. Apalagi saat ini mereka berada di negeri orang.


Byurrr....!!!


"AAARRRKKKHHHH.... PERIH," Semua mata kini tertuju pada pria itu setelah mendengar teriakan laki-laki itu.


Sekujur tubuhnya basah kuyup setelah disiram air jeruk nipis bercampur garam dan cairan alkohol serta pecahan es batu oleh Satya dan Rio. Tiba-tiba keduanya hilang entah kemana, dan tiba-tiba ia kembali sambil membawa seember air.


Rio tertawa puas melihat pria itu yang terus menggeram kesakitan karna ulahnya, luka-luka disekujur tubuhnya semakin perih setelah disiram air campuran jeruk nipis, garam, alkohol dan pecahan es batu oleh V.


"Aaarrkkkhhh,,.... bo..cah, a..pa yang kau lakukan eo?" teriak pria itu dengan bahasa jerman, suaranya terbata-bata.


"Hahahha!! Rasakan, itulah balasan karna kau sudah berani menyakiti bibi, Luna. Tadi kau juga membunuh orang-orang yang tidak bersalah itu. Sebenarnya masalah apa yang kau miliki dengan mereka?" tanya Rio memastikan.


Mata pria itu menatap Rio tajam, nafas-nya tersenggal tak beraturan. Nyaris saja orang itu kehilangan kesadarannya namun Satya datang membuat kesadarannya kembali. Apa yang Satya dan Rio lakukan bukan-nya membantu meredahkan sakit pada luka sekujur tubuhnya, tapi air itu justru membuat dia semakin tersiksa.


Perhatian Nathan sedikit teralihkan oleh dering pada ponselnya. Itu panggilan dari Viona. Tanpa membuang banyak waktu. Nathan segera menerima panggilan tersebut.


"Ada apa, Vi?"


"Oppa, di mana kalian? Luna sudah sadar dan mencari Zian. Jadi cepatlah kembali,"


"Apa? Jadi, Luna sudah sadar? Baiklah kami akan kembali sekarang," Nathan memutuskan sambungan telfonnya dan menghampiri Zian. "Luna, sudah sadar dan dia mencarimu,"


Mata Zian membelalak. Matanya kembali memancarkan kehidupan setelah mendengar kabar dari Nathan jika Luna sudah sadar. Zian menarik pistol di balik pakaiannya lalu menembak pria tersebut sampai mati.


"Hyung, kenapa kau membunuhnya?" kaget Satya melihat apa yang Zian lakukan pada pria itu.


"Karna orang seperti dia tidak layak dibiarkan tetap hidup!!" jawab Zian datar.


"Tapi tetap saja, Hyung. Itu tadi membuatku terkejut," protes Satya.


"Lempar tubuh pria itu ke dalam jurang. Kalian bisa pulang dengan mobilku. Hyung, sebaiknya kita kembali sekarang," Zian melemparkan kunci mobilnya pada Satya dan pergi begitu saja.


Zian tidak sampai untuk bisa segera tiba di rumah sakit. Dia ingin segera tau bagaimana keadaan Luna sekarang. Dan hatinya tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur karna Luna mampu bertahan untuknya.


-

__ADS_1


Bersambung.


...Maaf kalau novelnya semakin hari semakin jelek dan membosankan 😭😭😭 Author sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk novel ini. Semoga para riders sekalian masih mau membaca dan meninggalkan lika koment kalian di novel ini 🙏🙏🙏 seperti biasanya. Karna satu like kalian sangat berarti buat Author....


__ADS_2