
Satu jam telah berlalu. Tapi Viona belum juga sadar dari pingsannya. Dokter mengatakan jika wanita itu baik-baik saja dan hanya sedikit kelelahan serta beban pikiran yang terlalu berat.
Pria dalam balutan jaket hitam itu tak beranjak sedikit pun dari samping Viona, jari-jari besarnya menggenggam jari-jari Viona yang terasa dingin. "Sampai kapan kau akan menutup matamu, hm? Bangun, Sayang. Jangan membuatku semakin cemas," lirih pria itu berujar. Namun tidak ada tanggapan. Kedua mata itu tetap tertutup rapat.
"Oppa, jangan pergi!! Jebal, jangan tinggalkan aku. Oppa, jangan pergi," Viona mengingau di bawah sadarnya.
"Aku disini, Sayang. Aku selalu ada disampingmu, aku tidak pernah benar-benar pergi darimu," ucap pria itu yang pastinya adalah Nathan.
Ya, Nathan masih hidup dan baik-baik saja sampai detik ini. Setelah insiden hari itu, Nathan melakukan beberapa kali operasi pada mata kirinya dan secara bertahap demi mendapatkan mata kirinya kembali.
Karna dengan begitu, Nathan bisa merubah identitasnya. Perbedaan mencolok antara Nathan dan Kevin terletak pada mata kirinya. Karna dengan begitu tidak akan ada yang tau jika Kevin sebenarnya adalah Nathan.
Bukan hanya operasi pada mata kirinya saja. Tapi Nathan juga merubah pola pada tatto dilengan kanannya serta membuat Tatto baru pada punggungnya.
Nathan rela merasakan sakit pada sekujur tubuhnya demi keberhasilan rencananya. Dia akan membalas semua yang telah Doris lakukan pada keluarga Lu, terutama kematian Senna. Nathan akan membuat Doris dan Tiffany merasakan bagaimana neraka dunia, dan kali ini dia tidak akan menggunakan hati.
"OPPA!!!"
Viona bangun dengan nafas tersenggal-senggal. Peluh membasahi disekujur tubuhnya. Nafasnya naik-turun tak beraturan. Nathan! Bukan, tapi Kevin terlihat mendekati Viona guna memastikan keadaannya. "Nona, kau baik-baik saja?" tanya Kevin memastikan.
Sontak Viona mengangkat wajahnya. Wanita itu langsung membekab mulutnya dengan tangannya. Kedua matanya membulat berkaca-kaca melihat sosok yang ada dihadapannya. "Nathan Oppa," gumam Viona tidak percaya.
Kevin memicingkan matanya. "Nathan? Sepertinya kau salah mengenali orang, Nona. Aku bukan Nathan tapi namaku Kevin,"
"Kevin?" ulang Viona memastikan. Kevin mengangguk.
Dan benar sekali, nama Nathan memang sudah ikut terkubur bersama jasad itu. Nama Nathan sudah lama mati bersama dirinya yang dulu, karna sekarang yang ada adalah Kevin Xiao. Seorang bartender di sebuah club malam ternama dipusat kota Seoul 'Xiao's Bar'
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kevin memastikan.
"Aku sudah tidak apa-apa. Terimakasih karna sudah membantuku dan maaf harus metepotkanmu," ucap Viona penuh sesal.
Kevin mengangkat bahunya. "Bukan masalah yang besar. Sebaiknya kau istirahat saja. Oya, aku belum tau siapa namamu?" ucap Kevin.
"Viona, Xi Viona,"
Kevin tersenyum tipis. "Nama yang sangat cantik, secantik orangnya. Aku akan keluar sebentar untuk mencari angin segar. Segeralah istirahat supaya kondisimu bisa segera pulih," Kevin menggerlingkan matanya pada Viona dan pergi begitu saja.
Rasanya Viona masih tidak percaya jika didunia ini ada dua orang yang wajahnya begitu mirip padahal mereka bukanlah saudara.
Awalnya Viona mengira jika pria itu adalah Nathan, tapi melihat sikapnya membuat dia ragu jika pria itu adalah suaminya ditambah lagi pria itu memiliki mata yang lengkap sementara Nathan tidak. Lagi pula mana mungkin Nathan masih hidup sementara ia ikut menguburkan jasadnya.
.
.
Angin malam bersemilir damai, menerbangkan daun daun kering yang berjatuhan di tanah. Bunyi gesekan antar daun dan rumput benar-benar bisa membawa perasaan tenang siapapun.
Seperti seorang pria berwajah tampan nan rupawan yang satu ini.
__ADS_1
Dia hanya sedang berdiri di dekat jendela sambil menyandarkan punggungnya pada tembok menikmati suasana sunyi malam ini guna menenangkan pikirannya yang berkecamuk.
Dinginnya malam tak membuat pria itu beranjak satu inci pun dari tempatnya berdiri. Dia hanya diam dan bergeming. Fikirannya melayang jauh entah kemana. Kevin mengangkat kembali wajah dan menatap langit. Bintang-bintang tampak bertaburan dangit, sungguh sebuah mahakarya Tuhan yang begitu luar biasa.
"Tuan Kevin," tegur seorang pria dan membuat perhatian Kevin teralihkan dari langit malam.
Sontak Kevin menoleh dan menatap datar pria yang berdiri dihadapannya. "Ada apa?" tanyanya dingin.
"Kami sudah menemukan lokasi di mana pria itu menyekap orang-orang Anda."
"Bagus, segera bersiap dan malam ini juga kita selamatkan mereka. Hubungi semua anak buahmu, mingkin malam ini akan menjadi malam yang sedikit panjang bagi kita," ujar Kevin seraya beranjak dari posisinya. "Dan satu lagi. Tempatkan salah satu anak buahmu di sini, aku ingin keamanan istri dan calon anakku tetap terjaga."
Pria itu mengangguk. "Baik Tuan,"
-
Sepasang muriara hitam itu hanya menatap datar pada pintu bercat putih yang ada di depan sana. Sudah lebih dari dua bulan dia terlurung di tempat terlutuk ini. Rasanya begitu sesak dan penggap, dia ingin segera keluar dan menghirup udara bebas seperti dulu lagi. Tapi rasanya semua begitu mustahil.
Hidupnya yang semula baik-baik saja hancur hanya dalam hitungan detik saja karna ulah dua orang.
Dia tidak hanya terkurung ditempat yang tidak sepayaknya, tapi juga kehilangan keluarganya. Adik dan kakaknya meninggal, wanita yang sangat dia cintai telah menghianatinya. Parahnya lagi, sang adik meregang nyawa ditangannya sendiri. Dan hatinya hancur berkeping-keping setiap mengingat peristiwa tersebut.
"ARRRKKKKHH!! AKU TIDAK GILA, LEPASLAN AKU DARI SINI!! DORIS LU, KAU AKAN MATI!! AKU PASTI AKAN MENGHABISIMU. ARRKKHH, BRENGSEK!! SEMUA ORANG BRENGSEK. MATI SAJA KALIAN SEMUA!!"
Teriakkan kerasnya menyita perhatian dia suster jaga. Dan lali-laki itu terpaksa harus di suntik obat penenang supaya keadaannya begitu stabil. Dia mengalami gangguan jiwa, pukulan berat dalam hidupnya dan guncangan hebat pada batinnya-lah yang akhirnya membuatnya depresi.
-
Brakk..
Dan dobrakkan keras pada pintu terpaksa menghentikan aksi panas mereka berdua. Sedangkan orang yang nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu itu langsung berbalik badan.
"Yakk!! Brengsek, berani sekali kau mengganggu kesenanganku, HAH!!" teriak pria itu marah.
"Maaf Tuan, jika bukan karna ada hal darurat, tidak mungkin saya menghampiri Anda di sini. Kita telah diserang sekelompok pria yang tidak dikenal, dan mereka berhasil membunuh setengah dari orang-orang kita dalam hitungam menit saja." Tuturnya dan membuat kedua mata Doris Lu membelalak saking kagetnya.
"APA!!" dan tak membuang lebih banyak waktu. Doris memakai kembali pakaiannya dan bergegas keluar untuk memastikannya. "Sayang, tetaplah di sini dan jangan coba-coba untuk keluar!! Mengerti?" Tiffany mengangguk.
Doris menyambar senjata apinya yang tergeletak dilaci nakasnya. Dia segera keluar untuk memastikan apa yang baru saja anak buahnya katakan. Namun tanpa Doris sadari, seseorang yang sedari tadi telah bersembunyi di balik guci besar disamping kamarnya. Langsung masuk dan membawa Tiffny pergi.
.
.
Dan setibanya di luar Doris melihat banyak sekali mayat yang bergelimpangan di lantai. Lantai rumahnya yang semula bersih seketika menjadi lautan darah. Dan parahnya lagi semua yang terbunuh adalah orang-orangnya.
"Tuan, seluruh tawanan berhasil mereka bebaskan. Dan hanya kami bersepuluh yang berhasil selamat, mereka membantai orang-orang kita dengan keji," lapor salah seorang anak buah Doris.
"Aarrkkhh. Brengsek!! Siapa mereka sebenarnya? Berani sekali mereka mencari masalah dengaku!!" geram Doris penuh emosi. "Periksa semua CCTV," perintah Doris pada salah satu anak buahnya.
"Semua CCTV telah dirusak, Tuan. Sepertinya penyerangan ini telah direncanakan dengan matang,"
__ADS_1
"SIAL!! Segera selidiki dan cari tau siapa dalang utama dibalik penyerangan ini,"
"Baik Tuan!"
-
"Uhukk.. Uhuk.. Uhukk.."
Kai terus terbatuk-batuk. Keadaannya benar-benar sangat memprihatinkan. Sekujur tubuhnya penuh luka dan bekas sulutan api. Penglihatan Kai juga mengalami masalah dan kaki kirinya patah.
Tak jauh berbeda dari apa yang menimpa Kai. Hal serupa juga di alami oleh Tao meskipun keadaannya tak separah Kai. Melihat hal tersebut membuat hati Kevin as Nathan terasa seperti dicabik-cabik. Doris Lu begitu kejam dan tidak berhati.
"Tu-Tuan, siapa kalian sebenarnya? Ke-kenapa kalian menolong kami?" tanya Kai dengan suara terbata-bata.
"Aku Kevin Xiao, aku adalah teman lama Bossmu. Maaf karna aku terlambat datang, karna aku juga baru mengetahui apa yang menimpa Nathan Lu. Sebaiknya kalian istirahat saja, agar keadaan kalian segera membaik. Dan kalian tidak perlu khawatir, kalian sudah aman sekarang. Aku akan melakukan apapun untuk membuat kalian bisa melihat lagi, dan kata dokter hanya butuh sedikit terapi dan dua kali operasi, kakimu bisa normal lagi. Baiklah, aku keluar dulu."
Sedangkan Tao yang tak mengalami masalah pada penglihatannya tak bisa berkata apa-apa setelah melihat wajah orang yang telah menyelamatkan dirinya dan Kai. Rasanya Tao ingin menjerit, tapi suaranya tak mau keluar seolah tertahan ditenggorokkannya. Kedua mata Tao tampak berkaca-kaca. Dia seperti melihat sosok Nathan pada diri Kevin.
"Entah kenapa aku merasa sangat yakin jika itu adalah kau Tuan,"
-
Decitan pintu dibuka dari luar mengalihkan perhatian Viona dari langit malam. Sosok pria penolongnya terlihat memasuki ruang inapnya sambil membawa sebuah bingkisan berisi makanan ditangannya. Kevin mengangkat bingkisan itu lalu memberikannya pada Viona.
"Aku tau rasa makanan rumah sakit sanggat hambar. Itulah kenapa aku membawakan makanan untukmu, kau terlihat pucat dan tak cukup bertenaga. Jadi makanlah yang banyak,
Viona tersenyum tipis. "Terimakasih Tuan Kevin, lagi-lagi aku merepotkanmu,"
Kevin menggeleng. "Sama sekali tidak. Oya, kenapa kau keluar malam-malam sendiri?Dimana suamimu? Kenapa dia tidak menemanimu?" tanya Kevin.
Pandangan Viona berubah sendu dan air mata tampak mengalir dari sudut matanya. Wanita itu mulai terisak. "Dia sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Seseorang menghabisi suamiku dengan keji," ujarnya memaparkan.
Hati Kevin seperti tercubit melihat air mata Viona yang jatuh dan membasahi wajah cantiknya. Sejak dulu ia paling benci melihat air mata Viona, haruskah dia membuka jati dirinya di depan Viona? Haruskah dia memberitau Viona jika sebenarnya dia masih hidup? Apakah Viona akan kecewa setelah mengetahui jika dirinya sebenarnya masih hidup?
Batin Kevin berkecambuk, dia benar-benar dilemah sekarang. Tidak, dia harus mengambil keputusan sekarang juga. Kevin mendekati Viona kemudian duduk berhadapan dengannya. Viona terpaku ketika melihat sorot mata pria dihadapannya. Viona sangat mengenali sorot mata dingin itu.
"Aku akan bertanya satu hal padamu. Apakah kau akan percaya jika aku mengatakan suamimu masih hidup dan baik-baik hingga detik ini?" tanya Kevin sambil menginci sepasang mutiara hazel Viona.
"A-apa maksudmu?" Viona terbata-bata.
Kevin menakup wajah Viona. "Lihat baik-baik siapa yang ada dihadapanmu, Viona Anggella." Pinta Kevin seraya menyebutkan nama belakang Viona. Dan hal itu membuat Viona terkejut bukan main.
Viona mengangkat kefua tangannya yang gemetar, yang kemudian dia arahkan pada wajah Kevin. Wanita itu menutup matanya dan mulai merabah wajah Kevin mulai dari mata, hidung, bibir kemudian rahangnya.
Air mata Viona jatuh tak tertahankan ketika dia menyadari satu hal. Jika yang ada dihadapannya ini bukanlah Kevin Xiao melainkan Xi Nathan suaminya.
"OPPA," Viona langsung berhambur kedalam pelukkan Kevin dan menangis sejadi-jadinya.
Kevin menutup kedua matanya seraya membalas pelukkan Viona. kemudian berkata. "Maaf," lirihnya penuh sesal. Sedikit beban dihatinya telah berkurang. Karna Viona mengetahui jika dirinya masih hidup. Meskipun terlambat, tapi setidaknya dia sudah mengatakan yang sebenarnya.
-
__ADS_1
Bersambung.