
Viona menatap gusar jam yang menggantung di dinding. Sudah jam 11 malam tapi masih belum ada tanda-tanda jika Nathan akan pulang. Viona sudah mencoba menghubungi ponselnya tapi tidak aktif dan nomornya selalu berada di luar jangkauan.
Viona tidak tau apa yang sedang Nathan lakukan diluar sana sampai-sampai dia harus mematikan ponselnya. Viona hanya bisa berharap semoga suaminya itu tidak melakukan sesuatu yang membahayakan nyawanya. Nathan sudah berjanji akan pulang sebelum waktu makan malam, tapi sampai sekarang dia belum juga datang.
Langit yang semula terang perlahan tenggelam dan tertutup awan hitam, angin malam bertiup kencang seolah membisikkan nyanyikan kematian. Dentuman Guntur serta sambaran kilat menggila, menghiasi malam di kota Seoul yang kian pekat. Petir menggelegar saling bersahutan.
Awan perlahan bergerak meninggalkan peraduannya memperlihatkan langit malam yang tak berbintang dan tak berbulan. Langit semakin gelap, rintihan langit mulai terdengar. Tetes demi tetes air hujan turun membasahi bumi. Namun wanita itu tetap tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Viona masih tetap bertahan meskipun tubuhnya sedikit menggigil.
Dingin, satu kata yang menggambarkan suhu udara malam ini. Tetapi Viona tetap menolak untuk beranjak. Wanita itu menatap langit yang terlihat semakin gelap mencari asal tempat rintikkan air hujan itu berasal. Melihat hujan yang semakin deras membuat perasaannya semakin kalut.
"Vi, masuklah Nak. Kau bisa sakit jika terlalu lama berdiri di sini," ucap Hans membujuk. Tapi tak dihiraukan oleh Viona, wanita itu tetap bergeming. "Kau bisa terkena omelan suamimu jika dia pulang dan mendapati kau berdiri disini. Paman mohon, masuk sekarang,"
"Sebentar lagi aku masuk, Paman. Sebaiknya Paman tidur dulu, ini sudah larut malam."
"Bagaimana Paman bisa tidur sedangkan kau masih terjaga dan berdiri di sini sendirian. Paman akan menemanimu sampai Nathan pulang,"
Viona tidak memberikan jawaban apa-apa. Sebagai gantinya wanita itu menganggukkan kepala.
Sebenarnya bukan hanya Viona saja yang mencemaskan keadaan Nathan saat ini, tapi Hans juga. Dan Hans hanya bisa berharap semoga tidak ada hal buruk yang terjadi padanya.
Dan sementara itu...
Ditempat dan dilokasi berbeda. Seorang pria tampak terbaring tak sadarkan diri disebuah gubuk sederhana yang di tinggali seorang anak laki-laki berusia 8 tahun dan kakeknya.
Beberapa luka dan memar tampak pada sekujur tubuh termasuk wajah tampannya.
Si bocah tak beranjak sedikit pun dari sisi pria asing tersebut. Menemaninya dan menunggu pria itu siuman. "Daniel, apa dia belum siuman?" tanya si kakek pada cucunya.
Daniel menggeleng. "Belum, Kek."
"Kalau begitu kau tetap di sini dan temani dia, mungkin sebentar lagi dia akan siuman. Kakek akan pergi untuk bekerja. Kita sudah tidak memiliki uang lagi dan tidak ada barang yang bisa di jual,"
"Aku mengerti, Kek. Kakek hati-hati ya, dan segera pulang," pesan Daniel yang kemudian di balas anggukan oleh kakeknya.
"Tentu Nak, Kakek pergi dulu,"
Susana menjadi sangat hening setelah kepergian Kakek. Daniel masih tak beranjak, bocah laki-laki itu sesekali memijit kaki pria dihadapannya. Baik Daniel maupun kakeknya tidak ada yang mengenal pria itu. Dan saat mereka menemukannya, Pria itu sudah dalam keadaan tak sadarkan diri di tepi jalan.
Tiba-tiba Daniel mememangi celananya dengan wajah yang sedikit memerah karna kebelet pipis yang sudah tidak lagi tertahankan. "Aku kebelet pipis, sebaiknya aku pergi ke belakang dulu saja," Daniel turun dari kursinya kemudian pergi ke luar untuk buang air kecil. Meninggalkan pria asing itu yang masih belum sadarkan diri.
.
.
Mata kanannya terbuka perlahan, sesekali mata itu berkedip untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Dan ketika mata kanannya terbuka sempurna, hal pertama yang dia lihat adalah sesuatu yang sangat asing.
Nathan merubah posisinya menjadi duduk kemudian pandangannya menyapu. Dia benar-benar berada ditempat yang asing dan tidak di kenal. Tempat itu begitu sederhana, tidak ada tempat tidur nyaman ataupun bantal yang empuk dan selimut yang hangat. Nathan berbaring pada sebuah ranjang yang hanya berlapis tikar.
Nathan menutup matanya. Sebelah tangannya mencengkram kepalanya yang terasa sakit dan serasa ingin pecah. Nathan menutup mata kanannya dan mencoba untuk mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Tapi tidak bisa, bukan karna Nathan mengalami Amnesia, hanya saja kepalanya terasa sakit untuk bisa mengingat apa yang sudah menimpanya.
"Eo, Tuan... Anda sudah siuman," seru seorang bocah melihat Nathan yang sudah membuka matanya. "Syukurlah, aku lega sekarang," lanjut bocah itu tersenyum.
"Hei, Nak. Siapa kau dan sekarang aku ada di mana?" tanya Nathan pada bocah itu yang pastinya adalah Daniel
"Namaku Daniel Lee, dan sekarang Paman ada di gubuk milik kakekku. Tadi sore kami menemukan Paman yang sedang tak sadarkan diri ditepi jalan. Dan karna kami tidak tau dimana Paman tinggal, makanya kami membawa Paman ke tempat ini," tutur Daniel memberi penjelasan.
__ADS_1
"Lalu di mana Kakekmu?"
"Dia sedang pergi bekerja. Kami berdua sangat miskin jadi harus bekerja keras dulu agar bisa mendapatkan uang untuk membeli sesuap nasi. Oya, nama Paman siapa dan Paman berasal dari mana?"
"Namaku Nathan dan aku berasal dari Seoul,"
"Ahh, jadi Paman berasal dari kota. Pantas saja Paman memiliki pakaian dan jam tangan yang bagus. Pasti sangat mahal ya harganya? Oya Paman, benda ini milikmu 'kan?" Daniel memberikan sebuah ponsel dan dompet pada Nathan.
"Paman bisa cek dulu apakah uangnya berkurang atau tidak," ucap Daniel.
Nathan menggeleng. "Tidak perlu karna aku yakin jumlahnya masih utuh. Oya, di mana kakekmu bekerja di jam segini?" tanya Nathan penasaran.
"Pasar. Biasanya jam segini truk-truk yang mengangkut sayur dan buah-buhan sudah datang. Dan kakek bekerja sebagai buruh angkat barang. Sebenarnya aku tidak tega melihat kakek masih harus bekerja keras diusianya yang sudah senja, tapi dia juga tidak memiliki pilihan lain. Dia bekerja untuk bisa bertahan hidup," ujar Daniel dengan mata berkaca-kaca.
"Kau tidak sekolah?"
Daniel menggeleng. "Kami tidak memiliki biaya. Aku dikeluarkan dari sekolah karna kakek tidak sanggup membayar biayanya, dan semua anak selalu menghina dan mengejekku. Mengataiku, merendahkanku dan mereka juga bilang jika aku tidak pantas sekolah di sana karna aku miskin." Tutur Daniel.
Hati Nathan terenyuh mendengar cerita bocah laki-laki itu. Nathan tidak menyangka bila Daniel memiliki hidup yang begitu berat padahal usianya masih sangat muda. "Lalu, apakah kau tau di mana biasanya kakekmu bekerja? Maukah kau mengantarkanku ke sana?"
"Tapi Paman, kau sedang sakit. Lagi pula untuk apa kita menyusul kakek ke sana? Sedangkan aku tidak bisa membantu apa-apa," Daniel menundukkan wajahnya.
Nathan mendekati Daniel kemudian berdiri didepannya. "Kita ke sana untuk menjemput kakekmu pulang. Soal makanan kau tidak perlu cemas, aku akan membelikannya untuk kalian berdua. Jadi kakekmu tidak perlu bekerja keras lagi. Dan apa kau masih ingat di mana kau menemukanku tadi?" Daniel mengangguk. "Apakah di sana ada sebuah mobil berwarna hitam?" lagi-lagi Daniel mengangguk.
"Antarkan aku ke sana lebih dulu dan setelah itu kita jemput kakekmu,"
Daniel mengangguk. "Baiklah Tuan,"
-
"Ahhh,"
Mereka hanya diam seolah-olah sangat menikmati pertunjukkan tak manusiawi yang pria itu lakukan.
Cacian dan makian menghujani si pria tua yang tampak rapuh dan tak berdaya. Bahkan dia hanya bisa diam meskipun dirinya di tindas dan diperlakukan dengan buruk. "Hei, Pak Tua!! Sebaiknya kau pergi saja karna tempat ini adalah milikku, jika kau ingin bekerja di sini kau harus membayar pajak padaku! KAU MENGERTI!!"
"Hahaha. Lihatlah Boss, kau menakutinya. Dia hampir menangis karna ulahmu,"
"Benar sekali Boss. Dan bagaimana kalau kita ajak kakek tua ini bersenang-senang sebentar. Membuatnya mabuk pasti akan sangat menyenangkan,"
"Kau memberiku ide menarik. Bawa kemari soju-soju itu,"
"Siap Boss,"
Pria tua itu menggeleng. "Jangan, tolong jangan paksa saya untuk minun arak. Saya memiliki riwayat penyakit dalam dan dokter melarang saya untuk minum arak," mohon pria tua itu.
"Kau fikir aku peduli. Hahahha, pegangi dia,"
"Baik Boss,"
Dua pria itu terhempas ke tanah setelah mendapatkan tendangan telak pada wajah dan dadanya. Bak seorang pahlawan, Nathan tiba disana dengan tepat waktu. "Kurang ajar!! Siapa kau? Berani sekali kau ikut campur dan mengganggu kesenanganku. Apa kau sudah bosan hidup eo? yang kalian tunggu, cepat maju dan berikan pelajaran pada pria tak tau diri itu!!"
Nathan memandang sinis pada beberapa pria yang berdiri dihadapannya yang sepertinya mulai dikuasai emosi dan amarah. "Orang-orang seperti kalian hendak memberikan pelajaran padaku?" tanyanya dengan nada meremehkan. "Yang benar saja,"
Ucapan Nathan membuat pria itu murka bukan kepalang. "Boss, sebaiknya selesaikan saja dia! Bungkam mulutnya supaya tidak banyak bicara lagi,"
__ADS_1
Para anak buah pria itu tidak terima dan merasa diremehkan. Beberapa dari mereka langsung melayangkan serangannya pada Nathan. Gerakan mereka sangat cepat, kuat, dan teratur.
Di samping itu pria-pria itu mampu melakukan kerja sama dengan sangat baik. Mereka tidak kompromi lagi seperti sebelumnya. Tapi masing-masing pihak kirimkan serangan dengan sasaran yang berbeda-beda pada Nathan.
Salah satu dari mereka melompat dan menerjang Nathan seperti seekor Singa yang hendak menyambar mangsanya.
Pria tinggi besar itu mengirimkan serangan berupa cengkeraman pada ubun-ubun dan pelipis Nathan.
Sedangkan satu orang lagi menggulingkan tubuhnya ke depan mendekati Nathan. Ketika telah berada
dekat pria itu, dia bangkit seraya melancarkan kepalan tangannya ke arah ulu hati Nathan. Tapi Nathan tidak
menjadi gugup karenanya. Dia melempar tubuh ke belakang dan bersalto beberapa kali untuk menjauhkan diri.
Nathan berhasil memupuskan serangan lawan-lawannya. Hal ini membuat pria itu dan anak buahnya semakin tersulut emosi. Kian kalap. Karena tak menyangka kalau lawan yang mereka serang, tak selemah seperti yang diperkirakan.
Walaupun begitu, mereka tak menjadi putus asa. Malah sebaliknya, mereka semakin ganas menyerang. Dengan kerja sama seperti sebelumnya. Tapi hasil yang mereka peroleh tak beda jauh. Karna Nathan mampu mengandaskan serangan-serangan mereka tanpa kesulitan sama sekali.
Pria berjuluk Iblis berdarah dingin itu memang bermaksud untuk melampiaskan rasa marahnya. Maka, selama beberapa waktu pria bereyepacth itu tak memberikan perlawanan sama sekali. Dia mengelak ke sana kemari untuk mempermainkan lawan-lawannya.
Pria itu pun semakin kalap ketika serangan-serangan yang mereka lancarkan terus-menerus menghantam tempat kosong. Mereka seperti menyerang bayangan mereka sendiri. Kenyataan yang mereka terima ini, membuat dada mereka seperti hendak meledak. Mereka tersiksa bukan main oleh deraan amarah yang bergejolak di dalam dada. Amarah yang tak terlampiaskan, ditambah lagi dengan rasa tersinggung dan jengkel karena ketidakberhasilan menyarangkan serangan-serangan.
"Dengan kemampuan seperti ini kalian hendak memberikan pengajaran padaku? Seekor cicak yang lemah sekali pun tak akan mampu kalian robohkan, apalagi seorang manusia." Katanya meremehkan.
"Kalau kau bukan seorang pengecut, berkelahilah secara benar. Ataukah kau hanya bisa mengelak ke sana kemari" sahut salah seorang anak buah pria itu dengan keras.
"Baiklah kalau itu yang kalian inginkan" timpal Nathan.
Usai berkata demikian. Nathan tetap berdiri diam. Padahal saat itu dari kanan kirinya, lawan-lawannya lancarkan pukulan keras. Nathan benar-benar membuktikan ucapannya. Kali ini dia tidak mengelak. Ketika serangan-serangan lawan menyambar dari jarak dekat.
Dengan kecepatan gerakan yang sulit untuk diikuti mata pria itu dan anak buahnya. Pria beriris coklat itu, telah mencengkeram pergelangan tangan kedua orang lawannya. Membuat kedua lawannya langsung terkejut bukan main melihat hasil serangan mereka.
Nathan menarik sudut bibirnya, dia tersenyum sinis.
Dan dengan cepat Nathan menghantamkan kakinya ke perut pria itu sehingga dia terhuyung mundur sambil meringis memegangi perutnya yang menjadi landasan tendangan Nathan.
Nathan masih belum selesai, ia mendaratkan pukulannya dengan cepat di pelipis pria itu dan di lanjutkan kembali dengan tendangannya yang menghantam dadanya.
Nathan ingin segera menyelesaikan pertarungan itu secepat mungkin, dia memburu lawan-lawannya dengan serangan ganasnya. Namun dengan sisa-sisa tenaganya, tiga orang yang tersisa itu menghindar dengan melompat mundur.
Meski sempat bernafas lega karena berhasil menghindar, tapi itu hanya sesaat saja. Karena pada saat itulah Nathan kembali mendaratkan serangannya di dada dan pelipis mereka.
Keduanya kembali telempar dan jatuh akibat hantaman keras Nathan. pada saat mereka terjatuh dan bergulingan, Nathan kembali mendaratkan sepakannya sehingga pria-pria itu berhenti bergerak. Pingsan.
Nathan tanpa peduli pada korbannya, ia melenggang pergi. Puas. Ya dia benar-benar merasa puas sekarang.
Nathan menghampiri Daniel dan kakeknya.
"Sebaiknya kalian ikut denganku saja. Mulai malam ini dan seterusnya kalian akan tinggal ditempat yang lebih layak. Kau bisa bekerja sebagai tukang kebun di rumahku. Aku akan memberikan gaji yang besar padamu, supaya Daniel bisa mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang lebih layak,"
Kakek itu pun tak kuasana menahan air matanya. Dia merasa terharu dengan kebaikkan Nathan. "Terimakasih Tuan, saya pasti akan bekerja dengan sangat baik, saya berjanji,"
Nathan membantu pria itu berdiri. "Tidak perlu seperti ini. Bangunlah, mulai hari ini kita adalah keluarga. Dan sebagai sesama manusia sudah selayaknya kita harus saling tolong menolong. Baiklah, kita berangkat sekarang. Karna istriku pasti sedang menungguku dengan penuh kecemasan," ucap Nathan.
Dan apa yang Nathan lalukan ini adalah sebuah bentuk dari rasa terimakasihnya pada Daniel dan kakeknya yang telah menolong dan merawatnya dengan baik. Dan orang-orang berhati malaikat seperti mereka berdua memang sudah selayaknya mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan lebih layak.
__ADS_1
-
Bersambung.