
Rasanya Luna ingin mengantung Zian hidup-hidup. Sudah hampir satu jam mereka berkeliling Mall, tapi belum ada satu barang pun yang mampu menarik perhatian Zian.
Rencananya Zian ingin membelikan sesuatu untuk hadiah ulang tahun kakak perempuannya, tapi Zian bingung harus membeli apa. Awalnya Zian ingin membelikan sebuah gaun untuk sang kakak, tapi keinginannya itu tidak di setujui oleh Luna.
Luna sempat mengusulkan untuk membeli tas atau sepatu, tapi usul Luna malah di tolak mentah-mentah oleh Zian. Sudah terlalu banyak tas dan sepatu yang ibunya miliki, beberapa diantaranya bahkan belum pernah dia pakai.
"Yakk!! Zian Qin! Sebenarnya kau ini mau membeli apasih? Perasaan dari tadi kita hanya berputar-putar saja, sebaiknya segera tentukan pilihanmu setelah itu kita pulang. Aku benar-benar sangat lelah, dan apa kau tau? Rasanya kakiku hampir patah karna ulahmu!!" Luna merenggut kesal.
"Ck, kau ini bawel sekali sih. Lagipula jarang-jarang 'kan, aku meninta bantuanmu seperti ini,"
"Jarang sih jarang, tapi tidak seperti ini juga. Dasar beruang kutub menyebalkan,"
"Astaga, apa bibirmu tidak lelah dari tadi ngomel-ngomel terus?"
"Aku juga tidak akan ngomel-ngomel terus jika bukan kau yang memulai du-"
CHU...
Kedua mata Luna membelalak dan ponsel dalam genggamannya jatuh begitu saja saat tiba-tiba Zian menakup wajahnya dan mencium dibibirnya. Bukan hanya sekedar menempel saja tapi juga memagutnya.
Dan apa yang Zian lakukan langsung menyita perhatian banyak pasang mata manusia yang ada di sana. Dan sukses, hal itu membuat Luna bungkam saking kagetnya. Meskipun dalam hatinya, Luna terus menghujani Zian dengan berbagai sumpah serapahnya.
Zian mengakhiri ciuman sepihak itu beberapa detik kemudian. "Ayo," dan Luna yang tersipu malu memilih menundukkan wajahnya. Dia merutuki kegilaan Zian yang membuatnya kehilangan muka di depan banyak orang. "Dasar Zian Qin gila, bodoh.. bodoh.. bodoh..."
Zian meraih pergelangan tangan Luna dan membawanya memasuki sebuah toko perhiasan yang tak jauh dari tempat mereka berada. Setelah hampir sepuluh menit berkeliling, Zian menjatuhkan pilihannya pada sebuah perhiasan cantik bertabur berlian, dan sebelum memasuki toko perhiasan itu.
Mereka lebih dulu berkeliling dan entah sudah berapa banyak toko dan boutique yang mereka singgahi, tapi tidak ada satu pun barang yang menyita perhatian Zian.
Semua barang-barang mewah yang terlihat menurut Zian sangat biasa dan tidak ada yang istimewa, sementara Luna memilih parfume untuk kado ulang tahun kakak perempuan Zian.
Luna tidak hanya membeli satu parfum saja, ia juga membeli beberapa parfum dengan wangi berbeda untuknya dan satu untuk Viona, Nathan dan trio kadal. Karna Luna rasa tidak ada salahnya memberikan sebuah hadiah kecil untuk mereka.
"Lun, kemarilah." Panggil Zian tanpa menatap lawan bicaranya.
Luna yang semula sibuk melihat-lihat kalung yang terpajang di etalase langsung menoleh lalu menghampiri Zian.
Tanpa mengatakan apa pun Zian mendorong lembut tubuh Luna ke depan cermin yang ada di samping kirinya, di tangan kanan Zian memegang sebuah kalung cantik berliontin bunga sakura dengan permata indah berwarna hijau emerald.
Darah dalam tubuh Luna berdesir dan untuk sesaat gadis bermaga Leonil itu melupakan bagaimana caranya untuk bernafas saat Ziam menelusupkan kedua tangan kekarnya ke dalam sela-sela rambut panjangnya yang terurai, tubuhnya mencondong ke depan seperti Zian sedang memeluknya.
Tubuhnya terasa seperti di gelitik merasakan hembusan nafas hangat Zian menyapu permukaan lehernya. Dan Luna bisa kembali bernafas lega setelah Zian menarik tubuhnya menjauh.
"Lihatlah, kalung ini sangat cocok untukmu." Ucap Ziam yang entah sejak kapan berdiri di belakang Luna.
Dari cermin itu, Luna dapat melihat dengan jelas senyum Zian yang sangat lebar, hatinya menghangat. Pasalnya ini pertama kalinya Zian tersenyum selebar itu padanya.
'Tampan.' Hanya satu kata itu yang terlintas di fikiran Luna, untuk mendiskripsikan pemandangan langkah di hadapannya. "Untuk apa ini, Zi?" Luna menatap Zian bingung, hendak melepas kalung itu namun segera Zian menahan tangannya.
"Anggap saja ini hadiah kecil dariku, maaf jika selama ini aku selalu membuatmu susah. Aku bahagia memiliki sahabat sehebat dirimu." Satu ciuman Zian daratkan pada kening Luna.
Luna tersenyum miris mendengar kata 'Sahabat' Zian ucapkan tanpa beban. Ya, Luna memang selalu mengharapkan lebih dari itu. Tapi itu tidak mungkin, karna Zian tidak pernah menganggapnya lebih dari sekedar sahabat. Dan entah sejak kapan perasaan itu tumbuh di hati Luna.
__ADS_1
Namun Ia merasa beruntung, karna hanya Ia satu-satunya wanita asing yang bisa sedekat ini dengan Zian. Ia merasa menang, dengan sombongnya Ia akan memperlihatkan pada semua gadis yang ada di luaran sana jika Ia jauh lebih beruntung dari mereka semua.
"Tapi tidak perlu seperti ini Zian, aku tidak suka jika kau membelikanku hadiah semahal ini. Jadi--"
"Anggap saja itu sebagai simbol." Kata Zian menyela ucapan Luna. "Dan jangan sekali-kali kau melepaskannya apalagi berfikir untuk mengembalikan padaku." Lanjutnya.
"Tapi--" Luna hendak protes tapi Ia urungkan melihat Zian mendelik tajam padanya.
Gadis itu menunduk guna menghindari tatapan mematikan Zian. "Baiklah." Lirihnya menyerah. Zian tersenyum lebar.
Menepuk pelan kepala coklat Luna."Gadis baik." Katanya. "Ingin makan sesuatu?" Tawar Zian.
Luna tampak menimbang tawaran Zian, seketika matanya berbinat. "Ice Cream." Serunya semangat. Zian mendengus geli melihat tingkah Luna yang sedikit kekanakan, kemudian mengangguk
"Baiklah."
"Yeee... Kau memang yang terbaik,"
-
"Ma, sebenarnya ada apa dengan cara jalanmu itu? Aku perhatikan dari pagi tadi jalanmu terlihat sangat aneh," ucap Lucas menyadari ada keanehan pada ibunya.
"A-apa maksudmu jagoan? Memangnya aneh bagaimana? Mama rasa, cara jalan Mama masih sama saja seperti biasanya," Viona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Karna tidak mungkin juga Viona mengatakan yang sebenarnya pada Lucas jika semalam papanya bermain dengan sangat kasar sampai-sampai membuatnya sulit berjalan.
"Hn, mungkin saja. Ngomong-ngomong apa papa sesibuk itu, sampai-sampai dia tidak ikut sarapan dengan kita pagi ini?"
"Ya, Mama rasa begitu. Papamu memang selalu sibuk akhir-akhir ini. Ya sudah, sebaiknya kalian berdua segera bersiap. Kita akan pergi mengunjungi kakek Hans,"
"Kakek baik-baik saja, kakek sangat merindukan kalian berdua. Apalagi sudah lama kalian tidak bertemu dengannya," terang Viona.
"Mama benar, ya sudah, kami bersiap-siap dulu," ucap Laurent yang kemudian di balas anggukan oleh Viona.
Ponsel milik Viona tiba-tiba berdering, dan nama Luna menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Viona menarik sudut bibirnya, ia pun segera menerima panggilan tersebut.
"Eonni," seru Luna sambil melambaikan tangannya pada Viona. "Aku merindukan Eonni juga si kembar, bagaimana kalau akhir pekan ini kita pergi piknik bersama sebelum Eonni, Nathan Oppa dan si kembar pergi ke America,"
"Sepertinya bukan ide buruk. Kau bersama siapa? Jangan bilang kalau itu adalah Zian?" tebak Viona 100% benar.
Luna tampak terkekeh. "Memangnya siapa lagi kalau bukan dia. Jika orang yang tidak tau, pasti mereka akan mengira jika aku sedang berkencan dengan kakak iparku. Hahaha, pasti sangat lucu jika kakak ipar dan beruang kutub ini jalan beriringan," tutur Luna panjang lebar.
"Hahaha. Kau memberiku sebuah ide Lun, akhir pekan ini bawa Zian bersamamu juga. Supaya kita terlihat seperti dua pasangan kembar yang sedang piknik bersama," usul Viona yang langsung di sambut baik oleh Luna.
"*Dengan sangat baik, Eonni. Baiklah, aku tutup dulu telfonnya. Beruang kutub ini rasanya seperti ingin menelanki hidup-hidup. Hahahha,"
"Berhentilah memanggilku, beruang kutub, Leonil Luna!!"
"Hahaha. Kenapa harus marah, anggap saja itu sebagai panggilan sayangku untukmu,"
"Yakkk!!"
__ADS_1
"Hahaha. Kau semakin menggemaskan saat sedang marah, Beruang kutub!!"
"Gadis menyebalkan, awas saja kau!! Aku pasti akan menggantungmu hidup-hidup!!"
"Hahaha*,"
Viona mendengus berat. Mendengar perdebatan Luna dan Zian membuat Viona merasa geli sendiri. Kemudian Viona mengakhiri panggilan telfonnya begitu saja. Ia harus segera pergi.
-
"Berhenti di sana dan jangan lari!!"
Dorrr...
Tembakkan peringatan di lepaskan oleh seorang petugas kepolisian ke udara guna mencegah targetnya melarikan diri lagi. Seorang pria terlihat berlari terseok-seok sambil sesekali menoleh kebelakang. Kaki kirinya terluka akibat tembakkan petugas.
"Sial, aku tidak boleh tertangkap seperti ini." Gumam pria tersebut sambil sesekali menoleh ke belakang, para petugas masih mengejarnya.
Pria itu mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang. Panggilannya tersambung tapi tidak ada jawaban. "Sialan kau Sandora Lim, di saat seperti ini kau malah menghilang. Lihat dan tunggu saja, aku pasti akan menghabisimu," ucap pria itu penuh emosi.
"DORIS LU. BERHENTI DI SANA, KAU TERKEPUNG!!" teriak seorang polisi yang menghadang langkah pria itu yang ternyata adalah Doris.
"MENYERALAH!!"
"TIDAK! AKU TIDAK AKAN MENYERAH APALAGI MEMBIARKAN DIRIKU SENDIRI MEMBUSUK DI PENJARA!!" Doris mengelkan senjatanya dan mengarahkan pada para anggota polisi yang mengepungnya.
Brakk...
"Aahhhh,"
Pistol dalam genggaman Doris terlepas begitu saja setelah sebuah balok kayu menghantam lengan kanannya. Dan kelengahan itu polisi manfaatkan untuk meringkus Doris. Tapi lagi-lagi dia berhasil lolos. Doris berlari kearah jalan raya.
Tanpa Doris sadari. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju cepat kearahnya. Kedua mata Doris membelalak dan tubuhnya langsung membeku seketika. Doris tak dapat menggerakkan tubuhnya yang serasa seperti terpaku, sampai akhirnya...
BRAKK...
Tubuh Doris terhantam bagian depan mobil dan terpental. Tanpa di duga sebuah mobil lain langsung menyambut tubuh Doris yang melayang, dan ketika tubuh itu terkapar di aspal, mobil lain malah melindasnya dan membuat Doris meregang nyawa detik itu juga.
Orang-orang berdatangan dan mengerubungi tubuh Doris yang tak utuh lagi dan tanpak mengenaskan. Polisi langsung menghampirinya kemudian memasukkan tubuh Doris ke dalam kantong jenazah. Dan inilah akhir dari hidup seorang Doris Lu.
-
"Tuan, saya baru saja mendapatkan kabar jika Doris Lu telah meninggal dunia."
Gerakkan tangan Nathan terhenti setelah mendengar kabar yang baru saja Theo sampaikan. Nathan mengangkat wajahnya dan menatap Theo dengan pandangan bertanya. "Meninggal? Bagaimana bisa?" tanyanya penasaran.
"Doris mengalami kecelakaan saat mencoba melarikan diri dari kejaran polisi,"
Nathan mendesah berat. "Siapkan mobilku, bagaimana pun juga dia pernah menjadi keluargaku. Setidaknya aku harus memberikan penghormatan terakhir padanya,"
Theo mengangguk. "Baik Tuan,"
__ADS_1
-
Bersambung.