Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 24) "Luna Putri Kandung Kalina"


__ADS_3

"Mama," gumam Luna lirih, tapi suaranya masih bisa di dengar dengan jelas oleh Zian.


Zian menoleh, dan mengikuti arah pandang Luna. Namun di saat yang sama sebuah mobil melintas dihadapan mereka sehingga Zian tidak tau siapa sebenarnya orang yang sedang Luna lihat dan dia panggil mama. Karna setau Zian ibunya telah meninggal, dan mungkinkah itu adalah ibu kandung Luna? Zian tidak tau.


Tapi ada satu hal yang sedikit mengganjal hati Zian. Wanita itu terlihat mirip dengan Kalina, yang tak lain dan tak bukan adalah ibu tirinya. Tapi Zian juga tidak terlalu yakin, karna dia melihatnya hanya sekilas saja. Zian yang sedang diliputi rasa penasaran terus saja memandang ke arah wanita itu berada.


"Kemana perginya wanita itu? Tidak mungkin, apakah aku hanya salah lihat saja?" gumam Zian membatin.


Dan sayangnya orang itu sudah tidak ada di sana sehingga Zian tidak tau seperti apa rupa orang yang ia yakini sebagai ibu kandung Luna. Dan untuk memastikannya, tidak ada cara lain selain bertanya langsung padanya.


"Siapa yang kau lihat, Lun?" tanya Zian penuh selidik, namun suaranya di buat setenang mungkin supaya Luna tidak curiga jika dia memang sengaja bertanya.


Luna menoleh, lalu mengangkat wajahnya dan menatap Zian yang juga menatap padanya. "Mama," jawabnya singkat.


Zian memicingkan matanya. "Mamamu? Bukankah kau bilang jika dia sudah tiada?" tanya Zian memastikan.


Luna menggeleng. "Bukan mama Soraya, tapi mama kandungku. Orang yang telah mencampakkanku lima belas tahun yang lalu." Jawab Luna.


"Mencampakkanmu?" Zian mengulangi ucapan Luna. Gadis itu mengangguk."Bagaimana bisa?"


"Tentu saja bisa, karna dia bukan manusia, bahkan induk hewan sekalipun tidak pernah sampai hati meninggalkan anaknya. Meskipun lima belas tahun telah berlalu. Tapi aku tidak pernah melupakan wajah orang itu, wajah orang yang telah melahirkan dan mencampakkanku. Karna dia,,, adalah wanita yang paling aku benci di dunia ini!!"


"Memangnya seperti apa rupa ibu kandungmu itu, Lun? Apa kau memiliki fotonya? Aku sangat penasaran, pasti dia secantik dirimu,"


Luna menggeleng. "Aku tidak memilikinya. Lagipula untuk apa juga aku menyimpan foto wanita itu yang jelas-jelas tidak ada gunanya untukku. Sudahlah, tidak usah membahasnya lagi. Bisakah kita pergi sekarang? Aku ingin pulang," Luna menatap Zian penuh harap sambil mengguncang lengannya secara terus menerus. "Zian, ayo antarkan aku pukang," renggek Luna sekali lagi.


Zian mendesah berat. "Baiklah, tapi berhenti memasang wajah menyebalkanmu itu," sinis Zian sambil menjitak kepala Luna. Gadis itu terkekeh geli.


"Hahaha. Kau sangat menggemaskan dengan muka sebalmu itu. Kau terlihat sangat imut dan sangat menggenaskan," ujar Luna diiringi tawa.


Zian berdecak kesal. "Tidak lucu, dan berhentilah bersikap menyebalkan!!" pemuda itu menggeram kesal. Dan sekali lagi Luna tertawa.


Tiba-tiba Zian menghentikan langkahnya. Dia terus memperhatikan Luna yang sedang tertawa lepas. Tiba-tiba dada Zian terasa sesak.


"Semoga memang bukan kau orang yang sedang aku cari, Leonil Luna. Karna jika itu memang dirimu, lalu bagaimana mungkin aku bisa melakukannya. Jangankan untuk menghancurkanmu, melihatmu menangis saja aku tidak bisa. Semoga dewi fortuna kali ini berpihak padaku,"


"Yakkk!! Zian Qin, sampai kapan kau akan berdiri di sana? Paliwa," seru Luna dan menyadarkan Zian dari lamunannya.


"Sebentar, dasar bawel!!"


-


Pertemuan singkatnya dengan Luna membuat Kalina tak bisa berhenti memikirkannya. Meskipun hanya sebentar mereka melakukan kontak mata dan itupun dari kejauhan, namun Kalina bisa merasakan sebuah getaran tak biasa ketika menatap mata coklat jernih itu.


Mulai dari matanya, hidungnya, bibirnya. Kalina merasa sangat familiar. Dia adalah seorang ibu, dan tidak mungkin dia bisa salah mengenali putri kandungnya sendiri, meskipun lima belas tahun telah berlalu, dan putrinya itu bukan lagi seorang gadis kecil.


"Sayang, kenapa hanya di lihat saja makamannya? Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kau sangat lapar dan ingin makan malam di luar? Lalu kenapa?"


"Aku tidak berselera lagi,"


"Kenapa? Apa kau kurang enak badan?" Kalina menggeleng. "Lantas?"


"Aku melihat seorang gadis yang sangat mirip dengan gadis kecilku, tapi aku tidak yakin itu memang dia atau bukan,"


"Kau tidak perlu merasa sedih, Sayang. Cepat atau lambat kita pasti akan menemukannya, aku tidak akan membiarkan anak kurang ajar itu menemukannya lebih dulu. Aku pasti akan melindungi putrimu dari, Zian. Bukankah kita memiliki kartu AS untuk mengancamnya? Selama ibunya berada di tangan kita, Zian tidak akan berani macam-macam. Dia memang putraku, tapi kau adalah duniaku. Apapun akan aku lakukan demi kebahagiaanmu, karna aku sangat mencintaimu,"


"Aku juga sangat mencintaimu, suamiku,"


-

__ADS_1


Brugg...


Zian melepaskan jaket kulitnya dan menjatuhkan tubuhnya pada sofa usang di ruang tengah markasnya. Pemuda itu menutup matanya sambil memijit pelipisnya. Kepalanya terasa pening, fikirannya benar-benar kacau. Dan ingatannya membawa Zian pada beberapa jam yang lalu ketika berada di rumah Luna.


Flashback:


Zian dan Luna baru saja tiba di kediaman keluarga Leonil. Awalnya Zian tidak ingin mampir dan langsung pulang, dia benar-benar sangat lelah. Tapi karna paksaan Luna, akhirnya Zian pun setuju untuk mampir di rumah gadis itu.


"Duduklah dulu, aku akan membuatkan teh hangat untukmu," ucap Luna kemudian meninggalkan Zian sendiri di ruang tamu.


Pemuda itu menyapukan pandangannya ke segala penjuru arah. Ini adalah kedatangan kedua Zian di rumah Luna, pertama kali dia datang saat Luna menemukan ayahnya telah meninggal satu bulan yang lalu.


Zian memicingkan matanya ketika iris matanya tanpa sengaja melihat sebuah foto seorang gadis kecil yang langsung menarik semua atensinya. Dengan tangan gemetar Zian mengambil foto tersebut dan melihatnya dengan seksama.


"Bukankah aku sangat cantik dan menggemaskan ketika masih kecil? Itu adalah fotoku yang papa ambil satu bulan setelah aku di bawah ke rumah ini. Tak lama setelah wanita itu mencampakkanku dan meninggalkanku di pantiasuhan, kemudian papa dan mama datang untuk mengadopsiku. Dan di rumah ini aku mendapatkan begitu banyak cinta. Semua orang menyayangiku dan memanjakanku. Aku menemukan kembali apa yang sempat hilang dari hidupku. Yakni, senyuman dan kebahagiaan,"


Dada Zian rasanya seperti mau meledak setelah mendengar apa yang baru saja Luna sampaikan. Bukan karna cerita tentang masa lalu Luna, melainkan karna terbukanya sebuah fakta jika Luna adalah putri kandung dari ibu tirinya. Dan orang yang sedang Zian cari selama ini.


Tubuh Zian terhuyung beberapa langkah kebelakang. "Ya, Tuhan. Jadi orang yang aku cari selama ini adalah, Luna?" ujar Zian membatin. Zian mengangkat wajahnya dan menatap Luna yang juga menatap padanya.


"Zian, ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Semua baik-baik saja bukan?" tanya Luna memastikan.


Zian menepis tangan Luna seraya menatapnya dengan tajam. "Sebaiknya mulai sekarang kita tidak usah bertemu lagi. Anggap saja kau dan aku tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Karna memang tidak seharusnya kita bertemu apalagi sampai sedekat ini," ujar Zian dingin.


"Zi-Zian, kau ini kenapa? Sebenarnya apa yang kau bicarakan? Dan kenapa kau tidak ingin kita bertemu lagi? Zian, jangan bercanda. Jangan memainkan lelucon seperti ini, ini tidak lucu tau,"


"Aku tidak sedang bercanda." Zian melepaskan genggaman tangan Luna pada pergelangan tangannya dan kemudian pergi begitu saja.


"Zian, tunggu dulu. Kau tidak boleh pergi, Zian... Berikan penjelasan dan alasan yang masuk akal kenapa kau ingin kita saling menjauhi? Zian.. Zian.. Zian...!!"


Zian menutup matanya. Salah satu tangannya mencengkram bagian dada kirinya yang berdenyut nyeri. Gadis itu adalah Luna, jadi bagaimana mungkin Zian bisa melakukannya?


Zian membuka kembali matanya. Dam sepasang binner itu hanya menatap kosong kedepan, kenyataan yang baru saja Ia terima memberikan pukulan yang sangat hebat pada perasaannya. Hatinya seperti terkoyak saat mengetahui jika gadis yang selama ini Zian cari adalah gadis yang selalu ingin ia lindungi. Zian tidak bisa menyakitinya, dan satu-satunya cara terbaik adalah dengan menjauhinya.


Zian bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.


.


.


Malam semakin gelap, suasana di salah satu clum malam yang terkenal di kota Seoul semakin riuh dengan dentuman musik yang menghentak keras. Sebut saja Golden Bar.


Malam yang semakin larut dan ruangan yang tampak gelap karna minimnya penerangan membuat suasanan semakin memanas dan liar. Aroma alkohol yang sangat menyengat menyatu dengan bau asap rokok terasa begitu menyesakkan.


Beberapa pengunjung memilih untuk terjun kelantai dansa dan menari dengan para gadis malam yang meliukkan tubuhnya dengan erotis, namun tak sedikit pula yang memilih untuk duduk santai di sofa-sofa yang khusus di sediakan bagi mereka yang lebih memilih bersantai saja.


Mereka tidak hanya sendiri, banyak gadis-gadis penghibur yang menemani para tamu di club itu. Para pengunjung yang sedang meliukkan tubuhnya di Dance Floor semakin larut dalam dentuman musik yang menghentak keras, erotisnya para penari malam seirama dengan aliran musik yang di putar.


Namun tak sedikit pula dari para pengunjung wanita yang berdiri di depan Disc Jokey untuk melihat bagaimana dia menguasai musiknya. Mereka seakan terhipnotis oleh alunan musik serta hingar bingar dan gemerlap lampu disko yang temaram. Mereka benar-benar terlarut dalam suasana malam yang semakin memabukkan, karna semakin malam suasana di sana justru terasa semakin panas.


Mereka para pengejar kenikmatan sesaat yang menyukai hingar bingar kehidupan malam, tidak menyadari jika hidup mereka di permainkan oleh keindahan duniawi yang mampu menjerumuskan mereka dalam jurang kegelapan dalam kebahagiaan semu semata.


"Hai tampan, boleh aku duduk di sini?"


Pemuda dengan balutan tank top hitam dan rompi kulit yang senada dengan warna tanktopnya itu mendongak dan menatap datar sosok wanita malam yang hanya memakai pakaian super mini berdiri di sampingnya.


Pemuda itu berdecak lidah saat wanita itu mengalungkan tangannya pada lehernya. Dengan kasar ia pun menghempaskan tangan wanita tersebut dan menatapnya tajam.


"Pergilah, aku tidak tertarik padamu." Ucapnya ketus.

__ADS_1


Dari awal sudah dapat di pastikan jika pemuda itu memang tidak tertarik pada para wanita sexy yang ada di bar tersebut, buktinya ia bersikap biasa saja meskipun melihat gadis-gadis sexy dan cantik meliukkan tubuhnya dengan sangat erotis. Berputar dari tiang yang satu ke tiang yang lain, padahal penampilan mereka bisa di katakan cukup berani di tengah ramaiannya orang seperti malam ini.


Wanita itu mendesah kasar, dengan perasaan kesal Ia berlalu meninggalkan pemuda itu yang tak lain adalah Zian.


Zian menuangkan minuman kedalam gelas kecilnya yang telah kosong kemudian meneguk isinya hingga tak lagi tersisa.


Kedua matanya tampak memerah akibat pengaruh Vodka yang sejak tadi di minumnya, membuktikan banyaknya minuman beralkohol yang telah di teguk olehnya.


"Leonil Luna,,, Leonil Luna,,, Leonil Luna,,," Zian terus menggumamkan nama Luna hingga beberapa kali.


Pemuda itu memejamkan matanya sebelum meneguk kembali Vodka yang baru saja di tuangnya. Kini perasaan Zian bercampur aduk menjadi satu. Antara marah, kecewa dan tidak percaya. Semua perasaan itu kini menyatu dan berkecambuk menyiksa hatinya. Zian tidak pernah menyangka jika gadis yang selama ini di carinya ternyata adalah Luna. Gadis cantik yang telah mencuri hatinya.


"Mana mungkin aku sanggup melakukannya? Dan mana mungkin aku sanggup melukaimu? Luna, kenapa orang itu harus dirimu." Ujar Zian.


Pemuda itu menuang kembali Vodka kedalam gelasnya sebelum akhirnya meneguk isinya hingga tidak lagi tersisa. Di atas meja sudah ada empat botol Vodka yang telah kosong. Dan ini adalah botol ke limanya yang isinya akan segera Zian habiskan.


"Hyung, kami mencarimu kemana-mana, dan rupannya kau di sini." Tegur seseorang yang berdiri di hadapan Zian. Pemuda itu mendongak dan mendapati ke 4 sahabatnya.


"Oh kalian rupanya." Ucapnya acuh..


"Zian, kau minum sebanyak ini?" Tanya Reno melihat banyaknya botol Vodka yang telah kosong berserakan di atas meja.


"Tidak biasanya kau bersikap seperti ini, apa kau memiliki masalah? Dan juga apa yang terjadi padamu? Wajahmu babak belur, kasa pada pelipis kiri dan tulang pipimu? Apa artinya itu?" Tanya Adrian meminta penjelasan.


"Hanya luka kecil, tidak perlu khawatir." Balas Zian datar. Beberapa.saat lalu Zian terlibat perkelahian dengan geng lain. Ia tak hanya membuat mereka semua babak belue, tapi Zian mengirimntiga diantaranya ke neraka.


"Sebaiknya kalian duduklah dan temani aku minum."


"Tapi kau sudah banyak minum, Hyung!! Kau bisa mabuk. Sebaiknya kita pulang saja ne." Seru Simon membujuk.


Zian mengurungkan niatnya untuk meneguk kembali minuman yang ada di tangannya. Lantas Ia menarik sudut bibirnya dan tersenyum meremehkan. Ia menggeleng pelan sebelum akhirnya meneguk minuman di gelas kecil itu hingga tak tersisa.


"Map apa ini Lu?" Adrian mengerutkan dahinya melihat ada amplop berukuran cukup besar tergeletak begitu saja di atas meja, merasa penasaran dengan isinya. Adrian mengambil amplop tersebut.


Greppp ,,, !!! ,,,,


Namun cengkraman tangan pada lengannya menghentikan niatnya."Letakkan kembali amplop itu dan jangan coba-coba menyentuhnya." Pinta Zian dangan nada bicara yang begitu tidak bersahabat.


Adrian menatap Zian dengan horror dan mengangguk pasrah. "Maaf, Zian. Aku hanya penasaran." Balas Adrian penuh penyesalan.


Mata Zian berkilat tajam mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Adrian. Dadanya semakin sesak dan menyiksa batinnya, Zian benar-benar di lemah. Antara melanjutkan dendamnya atau tidak.


Ia bingung, jika melakukannya itu sama artinya dengan menghancurkan dirinya sendiri dan mungkin Ia akan di hantui rasa bersalah seumur hidupnya. Namun jika Ia tidak melakukannya, bagaimana bisa Ia membalas dan memberikan pelajaran pada Kalina?? Zian benar-benar bingung memikirkannya.


"Hyung," seru Simon melihat Zian bangkit dari duduknya.


"Aku akan pulang sekarang." Ucap Zian.


Pemuda itu beranjak dari duduknya namun sedikit kesulitan akibat pengaruh alkohol yang di minumnya. Tak ingin ada hal buruk terjadi pada Hyung kesayangannya, dengan sigap Simon menahan lengan Zian.


"Aku akan mengantarkan Zian Hyung pulang. Hyung, aku duluan." Simon memapah tubuh Zian dan pergi begitu saja.


"Hyung? Apa kalian memikirkan apa yang aku fikirkan?" Tanya Reno pada Adrian, keduanya menarik sebelah alisnya dan tersenyum musterius.


"Kita sudah di sini, sayang jika harus melewatkan mahluk-mahluk seindah itu. SAATNYA BERPESTA." Seru Adrian dengan sangat lantang.


"Yeeeaaahhhh. Ayo kita berpesta lagi!!"


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2