
Hari ini langit begitu cerah, secerah wajah Satya, Rio dan Frans. Ketiga pemuda itu baru saja mendapatkan mainan barunya. Saat ini mereka bertiga berada di kediaman Cherly. Sejak pagi ketiganya sudah merecoki Cherly hingga membuat wanita itu naik darah.
"Bibi, berhentilah marah-marah. Kau itu sudah seperti nenek-nenek." Cibir Rio sambil menutup telinganya yang terasa sakit karna teriakkan Cherly yang rasanya seperti memekatkan telinganya.
"Aku tidak akan marah-marah jika saja kalian bertiga tidak berulah. Keluar kalian dari sini, KELUAR!!"
Dengan kompak Rio, Frans dan Satya menggeleng. Membuat Cherly semakin geram. Wanita itu beranjak dan meninggalkan mereka bertiga yang tengah bermain game diruang keluarga. Tidak lama berselang Cherly kembali sambil membawa tongkat pemukul base ball milik ayahnya.
"KELUAR SEKARANG ATAU KUPATAHKAN SEMUA TULANG-TULANG KALIAN BERTIGA." teriaknya marah.
Mata ketiga pemuda itu membula saat melihat Cherly berjalan kearahnya. Sama-sama membungkukkan tubuhnya saat Cherly melayangkan tongkat itu, bukan tubuh mereka melainkan LCD TV-nyalah yang menjadi korban.
Prakkk!!
"TV-KU." Jeritnya histeris, Cherly membuang tongkat ditangannya lalu menghampiri Televisi malang itu dan meratapi salah satu benda mahal diapartemennya yang hancur karna ulahnya sendiri. "Kalian..." geramnya seraya menatap tajam pada ketiga pemuda yang kompak mengangkat tangannya. "Aku tidak mau tau, kalian harus ganti rugi."
Mereka menggeleng dengan kompak seraya menjawab "TIDAK MAU!!" Cherly melotot tajam. "Kenapa harus kami yang tanggung jawab? Jelas-jelas kau sendiri yang merusak TV itu kenapa malah meminta kami untuk bertanggung jawab? Kau sendiri 'kan yang memukulnya, kami tidak melakukan apa pun."
"Persetan dengan hal itu, kalian harus tanggung jawab atau aku akan memenjarakan kalian bertiga." Ancamnya.
Alih-alih merasa takut. Rio, Satya dan Frans malah menyeringai misterius. Tiba-tiba Satya beranjak dan menghampiri Cherly dengan sebuah ponsel di genggamannya.
"Kau yakin mau memenjarakan kami, Nunna-ya? Tapi aku rasa bukan kami tapi justru kaulah yang akan dipenjara jika aku menunjukkan video ini pada polisi." Kedua mata Cherly lantas membelala melihat video yang baru saja diputar oleh Satya. Cherly pun mulai berkeringat dingin.
"Dari mana kau mendapatkan rekaman itu?"
"Rahasia, dan rahasia ini akan tetap aman jika kau membiarkan kami bertiga tidur siang di sini. Jika kau melarangnya maka aku akan-:
"Oke ,terserah kalian." Cherly memyela ucapan Satya dan membuat senyum dibibir pemuda itu semakin terkembang lebar.
"Ahh, tiba-tiba aku merasa lapar. Nunna, bisakah kau memesankan makanan untuk kami, aku ingin pizza, ayam goreng, spagetty dan aneka makanan khas Korea. Jangan lupa ice cream porsi jumbo dan minuman segarnya juga, dan jangan pakai lama. Aku sudah sangat kelaparan."
"Jika kau ingin makan, ya makan saja tidak usah-"
"Nunna?" panggil Satya sambil menggoyangkan ponselnya.
"Ck, kenapa bocah-bocah setan seperti kalian tidak mati saja?" keluh Cherly dan berlalu begitu saja. Tawa ketiga pemuda itu pecah seketika, mereka benar-benar merasa puas karna bisa menggerjai Cherly habis-habisan. Dan mereka tidak akan merasa sepi lagi setelah kematian Leo.
-
Nathan membuka kembali mata kanannya karna dering pada ponsel Viona yang ada di atas nakas kecil samping tempat tidurnya. Mata kanannya memicing melihat nama Alex menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Penasaran kenapa Alex menghubunginya, Nathan segera menerimanya.
"Nona kami berhasil mendapatkan informasi mengenai Bram Wiranata. Seperti yang saya katakan sebelumnya, ternyata dia kembali untuk mengincar Anda. Dia menyebar anak buahnya untuk menemukan keberadaan Anda. Mulai sekarang sebaiknya Anda harus-"
"Siapa Bram Wiranata?"
Orang yang ada diseberang sana tersentak kaget mendengar suara dingin terlewat datar itu berkaur di dalam telinganya. Bukan Viona tapi Nathan lah yang menerima panggilan tersebut.
"Tuan Nathan!!"
"Sekali lagi aku tanya padamu, siapa Bram Wiranata?"
"Sepertinya tidak ada alasan lagi saya terus menyembunyikan tentang kebenaran ini dari Anda Tuan. Awalnya saya ingin memberitau Anda tapi Nona tidak mengijinkannya. Beliau tidak ingin menambah beban Anda lagi tentang Bram Wiranata. Bram Wiranata adalah salah satu musuh Tuan Besar di masa lalu. Dia pernah hancur oleh Tuan Besar. Dan sekarang dia kembali untuk balas dendam. Karna Tuan Besar sudah tidak ada, maka targetnya adalah Nona Viona,"
Nathan mendesah berat. Dia tidak habis fikir kenapa Viona sampai merahasiakan hal sebesar ini darinya. Apapun alasannya, Nathan tetap tidak bisa menerimanya. "Kirimkan informasi tentang orang itu padaku, dan aku ingin hari ini juga Informasi tentang dia sampai ketenganku,"
__ADS_1
"Baik Tuan,"
Nathan memutuskan sambungan telfon itu begitu saja lalu meletakkan ponsel milik Viona di tempat yang sama. Nathan menghela nafas panjang, satu masalah baru saja selesai dan sekarang sudah muncul lagi masalah baru.
Terkadang Nathan berfikir kapan hidupnya bisa tenang tanpa ada masalah dan masalah. Bisa saja Nathan tidak melibatkan diri dalam masalah itu. Tapi masalahnya... yang menjadi target incaran mereka adalah Viona, dan Nathan tidak akan tinggal diam apalagi sampai berpangku tangan.
Nathan meninggalkan kamarnya dan hendak menemui Viona yang kemungkinan sedang merawat bunga-bunganya di halaman belakang. Tapi setibanya di sana sosok yang dia cari malah tidak ada dan Nathan tidak menemukan Viona di mana pun.
Rumah begitu legang seperti tidak ada kehidupan. Bisa saja Nathan menghubunginya untuk menanyakan keberadaan Viona, dan yang menjadi masalahnya adalah Viona tidak membawa ponselnya.
"Kemana sebenarnya wanita ini pergi? Apa tidak bisa sehari saja dia tidak membuat orang lain cemas," geram Nathan sedikit emosi.
Nathan yang sedang marah semakin emosi karna Viona pergi tanpa memberi taunya. Nathan benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya saat mengetahui jika Viona menyembunyikan rahasia sebesar itu darinya. Itu bukanlah masalah yang sepele, karna nyawa Viona yang dipertaruhkan di sini. Nathan tau Viona memiliki alasan tapi tetap saja seharusnya dia memberi taunya bukan malah menyembunyikannya.
"Sial," Nathan mengumpat tajam saat merasakan mata kirinya kembali berdenyut sakit. Dia merasakan kasa yang menutup mata kirinya basah. Nathan mengarahkan sebelah tangannya untuk memastikannya dan darah tampak melumuri tangannya.
Nathan beranjak dan kembali ke kamarnya. Perbannya harus di ganti dengan yang baru. Dan setelah ini Nathan berencana untuk mencari Viona. Nathan tidak akan merasa tenang apalagi setelah mendengar apa yang Alex katakan.
Dan sementara itu...
Di tempat dan di lokasi berbeda. Dua orang wanita baru saja meninggalkan pusat perbelanjaan sambil menenteng kantong besar yang berisi belanjaan yang baru saja mereka beli. Mereka berdua adalah Viona dan Tiffany. Keduanya baru selesai berbelanja untuk kebutuhan dapur yang mulai menipis.
"Bagaimana keadaan Nathan? Apa dia sudah membaik?" tanya Tiffany memastikan.
"Lukanya masih sering terbuka dan mengeluarkan darah. Aku benar-benar prihatin dengan keadaannya saat ini. Hatiku rasanya seperti dicabik-cabik setiap kali melihat perban yang menutup mata kirinya." Tutur Viona panjang lebar.
Tiffany menarap sahabatnya itu dengan sendu. Dia memahami betul apa yang Viona rasakan saat ini. Dan memangnya istri mana yang tidak akan sedih saat melihat suaminya terluka. Jika saja dia berada di posisi Viona, Tiffany pun pasti akan merasakan hal yang sama.
"Kuatkan hatimu, ini adalah ujian untuk kalian berdua. Jika kalian kuat, pasti semua akan indah pada waktunya,"
Langkah mereka harus terhenti karna kemunculan beberapa pria asing dan bersenjata lengkap. Tiffany tersentak dan mulai berkeringat dingin sedangkan Viona terlihat tenang meskipun perasaannya diliputi kecemasan. "Siapa kalian dan untuk apa kalian menghalangi jalan kami? Minggirlah," pinta Viona datar.
"Kami tidak akan pergi sebelum bisa menghabisimu,"
"Aku tidak memiliki pilihan selain melawan kalian. Fanny, sebaiknya pergi dari sini. Karna aku tidak tau sampai kapan bisa menahan mereka. Aku tidak ingin jika kau sampai celaka karna diriku,"
"Tapi, Vi-"
"PERGI!!" teriak Viona.
Viona menangkis serangan yang mengarah padanya kemudian menendang tepat di uluh hati pria yang hendak memukulnya dan membuatnya tersungkur. Viona yang hanya sendiri di keroyok sedikitnya 7 orang, 3 diantaranya berhasil dia lumpuhkan. Menghadapi 4 yang tersisa jelas tidak mudah dan Viona menyadari hal tersebut.
Sejauh ini Viona masih terlihat baik-baik saja meskipun tenaganya mulai terkuras karna perkelahian yang tak seimbang itu. Sekuat dan sehebat apapun Viona, dia tetaplah seorang wanita yang tenaganya jelas tak sepadan dengan pria. Jika saja yang dia hadapi 3-4 orang saja mungkin akan mudah baginya tapi yang harus dia hadapi 7 orang dan semua bersenjata.
Di saat Viona mulai terdesak. Tiba-tiba terdengar suara rentetan senjata yang di lepaskan dari arah belakang membuat 3 diantaranya langsung tumbang setelah jantung dan otak mereka menjadi sarang peluru.
Sontak Viona menoleh dan mendapati Nathan berjalan menghampirinya. Wanita itu sedikit bergidik takut ketika melihat sorot dan tatapan matanya yang tajam. Aura membunun dalam diri Nathan juga terasa begitu kuat membuat sosoknya lebih mirip dengan seorang Iblis. Dan satu yang tersisa juga berhasil Nathan habisi. Tanpa menggalih informasi pun tentu Nathan sudah tau siapa yang mengirim mereka.
"Kita pulang," ucap Nathan dan pergi begitu saja. Bahkan Nathan tak menawarkan diri untuk membantu Viona membawa belanjaannya atau pun menanyakan keadaannya. Dan melihat sikap Nathan membuat Viona memiliki firasat buruk.
"Oppa, biar aku saja yang mengemudikan mobilnya," kata Viona.
"Tidak perlu," balasnya dingin. Nathan langsung masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Viona masih termanggu dalam posisinya, dia merasa jika Nathan bersikap lebih dingin padanya. "Sampai kapan kau akan diam di sana seperti orang bodoh?" tegur Nathan dan membuat Viona tersadar. Viona menghela nafas dan bergegas masuk ke dalam mobil Nathan.
Sepanjang perjalanan pulang tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Nathan. Pria itu diam 1000 bahasa dan hal itu membuat Viona merasa tidak nyaman. Sesekali Viona menatap suaminya yang sedang fokus pada jalanan. Viona benar-benar tidak tau apa yang terjadi pada suaminya dan kenapa tiba-tiba sikapnya menjadi dingin seperti kutub utara.
__ADS_1
Bahkan sampai tiba di rumah Nathan tidak mengatakan apa-apa, pria itu masuk lebih dulu dan meninggalkan Viona begitu saja. Viona yang merasa penasaran dengan sikap Nathan segera menyusulnya ke kamar.
.
.
Nathan merubah posisi berbaringnya saat menyadari kedatangan Viona. Yang terlihat oleh mata hazelnya hanyalah punggung tegap yang tersembunyi dibalik kemeja hitamnya. Viona mendekati Nathan yang tetap bersikap acuh.
"Oppa, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba kau bersikap seperti ini padaku?" tanyanya parau.
"....." Legang, tidak ada jawaban.
"Oppa, sampai kapan kau akan mendiamiku dan bersikap seperti ini padaku?"
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja, keluarlah aku mau istirahat. Mataku terus berdenyut nyeri," perintah Nathan dan kembali menutup matanya. Hati Viona rasanya seperti di remas-remas karna Nathan tiba-tiba bersikap dingin dan acuh padanya.
"Baiklah aku akan keluar sekarang. Sebaiknya kau istirahat saja,"
Selanjutnya Nathan mendengar suara pintu di tutup. Pria itu membuka kembali matanya kemudian merubah posisinya dan duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya.
Sebenarnya Nathan tidak ingin bersikap seperti ini pada Viona. Dan Nathan sadar jika sikapnya pasti akan melukai Viona, tapi memang beginilah Nathan ketika dirinya masih diliputi emosi. Nathan benar-benar kesal dan marah karna Viona menyembunyikan rahasia besar darinya.
-
"NATHAN!!"
Nathan hanya menatap datar pada sosok jangkung yang tiba-tiba datang dan membuat kegaduhan. Bima menghampiri Nathan yang ada di kamarnya. Dan Bima tidak dapat menahan keterkejutannya setelah melihat keadaan Nathan yang jauh lebih buruk dari yang dia bayangkan.
Bima merasa ngilu ketika melihat perban yang menutup mata kiri Nathan dengan noda darah yang menyembul di atas permukaan perbannya. Perban lain juga menutup luka pada tulang pipi serta lengannya.
"Jangan terus menatapku seperti oranb bodoh, Bima Park," sinis Nathan tajam.
"Dalam keadaan sakit pun mulutmu masih tetap saja tajam, dasar Nathan Lu menyebalkan,"
"Cih, pulang sana. Kedatanganmu tidak diharapkan di sini."
"Yakk!! Aku sengaja bolos kerja dan tidak mengikuti meeting penting hanya untuk menjengukmu dan seenaknya kau malah mengusurku. Kau benar-benar tidak berhati Tuan Muda Lu,"
"Memang aku peduli," sinis Nathan menyahuti.
"Aku benar-benar tidak habis fikir dengan Viona. Bagaimana bisa wanita secantik dan sebaik dia bisa tahan dengan Iblis sepertimu. Atau jangan-jangan Viona mulai katarak karna tidak bisa membedakan mana iblis dan mana malaikat," cerocos Bima tanpa henti.
Dan rasanya Nathan ingin menyumpal mulut Bima dengan kaos kaki bekas milik Rio supaya tidak bawel lagi. Terkadang Nathan berfikir saat hamil dulu Ibunya ngidam apa sampai-sampai memiliki anak sebawel dan seberisik Bima.
Dan meskipun begitu, Nathan tetap merasa bersyukur karna memiliki sahabat seperti Bima. Meskipun sikapnya terkadang menyebalkan tapi dia selalu bisa diandalkan. Dan Bima adalah satu-satunya teman yang tahan dengan sikap dinginnya. Nathan yang dingin dan Bima yang terlewat cerewet membuat persahabatan diantara mereka justru saling melengkapi,
"Baiklah kau istirahat saja, aku akan kembali ke kantor. Bisa-bisa Henry Hyung menggantungku hidup-hidup karna aku menghilang tiba-tiba dan tidak mengikuti meeting penting hari ini."
"Itu sih deritamu dan bukan urusanku,"
"YAKKK!!" Bima mengusap dadanya mencoba untuk bersikap bersabar. Menghadapi pria dingin dan bermulut tajam seperti Nathan memang membutuhkan kesabaran ekstran. Dan untungnya Bima sudah kebal dengan itu semua.
-
Bersambung.
__ADS_1