Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 8 "Penumpang Gelap"


__ADS_3

"Tuan Ardinata, kita dalam masalah besar. Ada yang meretas data perusahaan kita dan membuat saham kita turun secara drastis."


"APA?"


Laki-laki itu tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya setelah mendengar apa yang disampaikan oleh asistennya. Laki-laki itu bangkit dari posisi duduknya dan merebut berkas yang ada ditangan asistennya, mata hitamnya membaca rentetan kalimat yang tertulis dalam lembaran keras yang terbungkus dalam map hijau tersebut.


"AARRRKKKHHH! BRENGS**." Dengan kesal laki-laki itu membanting map ditangannya seraya menggeram marah. "Aku ingin agar kau segera menemukan siapa pelaku dan dalang utama dibalik kejadian ini. Aku sangat penasaran, siapa sebenarnya orang misterius ini yang ingin bermain-main denganku."


"Baik tuan, saya akan melakukan dengan segera."


.


oOo


.


Baru saja Nathan hendak menutup matanya. Tapi dering pada ponselnya membuat dia harus mengurungkan niatnya untuk segera pergi kealam mimpi. Pria itu mendecih setelah menatap nama penelfon yang tertera dilayar ponselnya.


"Apa kau tidak memiliki akal sehat? Kenapa menghubungiku tengah malam begini?"


Henry meringis diseberang sana mendengar omelan Nathan. "Aku tidak mungkin menghubungimu jika tidak ada hal yang sangat penting . Mengenai turunnya saham Ardinata kepar** itu, apa itu ada hubungannya denganmu?"


"Jika hanya karna masalah saham kepar** itu yang anjlok , bukankah kira masih bisa membahasnya besok ? Kau hanya membuang-buang waktuku saja saja!" Nathan memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak lalu mematikan ponselnya.


Tujuannya agar Henry tidak kembali menghubunginya. Dan Nathan berani bersumpah jika saat ini kakaknya itu sedang uring-uringan tidak jelas karna ulahnya. Tapi Nathan bersikap masa bodoh dan tidak ingin terlalu memusingkannya. Ia lelah dan ingin segera tidur.


"Hyung,"


Dan nyaris saja Nathan terkena serangan jantung dadakan karna kemunculan seorang pemuda berkulit seputih susu dari bawah tempat tidurnya. "Ck, apa kau sudah bosan hidup?" geram Nathan sambil menatap Satya tajam.


"Pisss. Tidak usah marah-marah begitu, Hyung. Aku disini 'kan cuma ingin memberimu kejutan. Heheheh. Dan lagi pula jika aku meminta ijin pada Henry Hyung, dia tidak akan memberiku ijin."


Nathan memutar matanya jengah, mengabaikan Satya dan kembali berbaring. Ia tidak merasa heran ataupun bingung kenapa Satya bisa berada di dalam kapal padahal dia tidak membayar satu peser pun. Bukan hanya Satya, Nathan yakin masih ada penumpang gelap lain dalam kapal yang saat ini tengah bersembunyi di dalam kamarnya.


"Keluar kalian berdua jika tidak ingin aku lempar hidup-hidup kedalam laut." Serunya memberi ancaman.


Dua orang pemuda keluar dari tempat persembunyiannya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mereka berdua sudah siap jika harus mendapatkan amukan dari Nathan. "Sudah kuduga, dasar kalian. Seharusnya kalian bersekolah dengan benar bukannya jadi penumpang gelap dikapal ini." Omel Nathan pada ketiga pemuda itu. Satya, Rio dan Frans.


Ketiganya tersenyum tiga jari. Mereka yakin jika Nathan tidak tidak mungkin menghakimi mereka. Karna Nathan tidak akan sampai hati. Satya dan Frans adalah anak yang diadopsi oleh kedua orang tuannya dari panti asuhan. Sementara Rio adalah keponakannya, putra dari Senna.

__ADS_1


Senna pernah menikah namun bercerai saat usia pernikahannya baru seumur jagung. Suaminya menghianatinya dan meninggalkannya demi wanita lain. Selama ini Rio tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah yang kemudian hal itu dia dapatkan dari kedua pamannya yakni Henry dan Nathan.


Mereka sangat menyayangi Rio dan sedikit memanjakannya. Meskipun Nathan selalu bersikap dingin dan acuh, tapi dia sangat menyayangi Rio dan kedua adik angkatnya itu.


"Ini kunci kamar kalian, jadi cepat keluar dari kamarku sekarang." Nathan melemparkan sebuah kunci pada Satya dan meminta ketiga pemuda itu untuk segera keluar dari kamarnya.


Dan mungkin kehadiran mereka bertiga akan memberikan cerita yang berbeda dalam perjalanannya kali ini. Dan untungnya kapal pesiar itu adalah milik keluarga Lu sehingga ketiga pemuda itu tidak akan mendapatkan masalah meskipun mereka adalah seorang penumpang gelap.


.


oOo


.


Dihari kedua liburannya, Viona memutuskan untuk mendatangi pusat perbelanjaan. Salah satu fasilitas yang bisa ditemukan dalam kapal pesiar. Gadis itu melangkahkan kaki jenjangnya untuk memasuki jejeran toko yang menawarkan barang branded dengan berbagai merk yang sudah mendunia seperti GUCCI, VALENTINO, MULBERRY, DIOR, CELINE, LOIS dan masih banyak lagi.


Viona tidak berniat untuk membeli apa pun dan hanya ingin sekedar melihat-lihat saja. Ia tidak pernah tertarik dengan yang namanya belanja dan Viona hanya akan datang kepusat perbelanjaan jika memang ada sesuatu yang benar-benar dibutuhkan dan mengharuskannya untuk pergi kesana seperti berbelanja kebutuhan bulanan misalnya.


Tiba-tiba langkah kakinya berhenti saat mata hazelnya tidak sengaja melihat sebuah lace dress yang dipajang disalah satu toko. Tertarik dengan dress itu Viona pun memutuskan untuk melihat dan akan mengambilnya jika memang sesuai dengan selera fashionnya.


Dan setibanya di dalam, mata hazelnya langsung dimanjakan oleh deretan dress-dress cantik seperti retro lace dress, rockabilly dress, shoulder party dress dan masih banyak lagi.


"Sepertinya lace merah dan putih gading itu sangat cocok denganmu." Seru seseorang dari arah belakang.


Nathan beranjak dari tempatnya lalu melangkah menghampiri Viona. "Cobalah dua gaun itu, kau pasti akan semakin cantik saat memakainya."


Blussshhh!!


Rona merah muncul dikedua pipi Viona karna pujian Nathan. Dan pagi ini pria itu sukses membuatnya kembali merasakan sport jantung hanya dengan kata-kata dan tatapannya.


"Baiklah, aku akan mencobanya." Viona membawa dua dress itu menuju ruang pas dan mencobanya, gadis itu berdiri di depan cermin sambil memagut dirinya.


Tidak disangka jika pria dingin itu memiliki selera yang sangat tinggi dalam fashion. Kedua lace dress itu sangat pas dan memeluk tubuhnya dengan sempurna. Dan kedua lace itulah yang sejak awal menarik perhatian Viona, tidak disangka jika ia dan Nathan memiliki pilihan yang sama. "Aku akan mengambil keduanya, tunggulah disini aku akan membayar ini dulu." ujarnya dan berlalu begitu saja.


Nathan mendahului langkah Viona dan mengambil dress itu dari tangan dokter cantik tersebut. "Biar aku saja."


"Eeehh." Membuat Viona terkejut karnanya


"Tidak perlu, lagi pula aku tidaklah semiskin itu. Dan uangku lebih dari cukup jika hanya membeli dua dress itu." Tangan Viona segera ditepis oleh Nathan , gadis itu mencerutkan bibirnya melihat delikan tajam Nathan.

__ADS_1


"Anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih dariku karna kau sudah menyelamatkan nyawaku malam itu, meskipun harga gaun ini tidaklah seberapa dengan dengan yang sudah kau lakukan. Setidaknya aku bisa membalas kebaikanmu. Dan aku harap kau tidak menolaknya."


"Baiklah, aku akan menerimanya. Maaf ya jadi perepotkanmu."


"Bukan hal besar. Oya, berapa nomor sepatumu?" tanya Nathan sebelum beranjak dari hadapan Viona.


"37," jawabnya singkat.


"Baikkah, tunggu disini." pintanya.


"Nona, apakah anda berkencan dengan tuan muda Lu? Kalian terlihat sangat cocok bersama. Dan apa anda tau, ini pertama kalinya tuan muda berlayar bersama seorang gadis." Viona menoleh seketika karna pertanyaan kasir didepannya.


Alis Viona terangkat , apa kasir itu bilang? Tuan muda Lu? Bagaimana dia bisa mengenal Nathan? Memangnya siapa dia? Apakah dia sepopular itu?' batin Viona penasaran. "Kau mengenalnya?" tanya Viona penasaran. Kasir itu tersenyum kemudian mengangguk


"Tentu saja, karna kapal pesiar ini milik keluarga beliau." Jawabnya yang sontak membuat mata Viona membulat saking kagetnyal


"Apa!! Milik keluarganya?" kasir itu mengangguk.


Demi puluhan panci yang dikoleksi Dio, Viona dibuat semakin penasaran dengan siapa Nathan sebenarnya. Pertama, saat dia menemukan pria itu terkapar di depan rumahnya. Viona melihat pemuda itu menggenggam senjata.


Kedua, saat hendak pulang keumahnya. Nathan dijemput oleh seorang laki-laki yang memakai mobil mewah yang tidak semua orang kaya bisa membelinya kecuali keluarga bangsawan. Bahkan laki-laki yang menjemput Nathan begitu hormat padanya.


Dan ketiga, kasir didepannya mengatakan jika kapal pesiar ini adalah milik keluarganya. Mungkinkah Nathan bukan rakyat jelata melainkan seorang bangsawan? Entahlah , hanya waktu yang bisa menjawabnya.


"Cobalah sepatu ini."


"Omo?" nyaris saja Viona terkena serangan jantung dadakan karna ulah Nathan.


Pria itu tiba-tiba saja berlutut didepannya dengan sepasang sepatu cantik. "Nathan, A-pa yang kau lakukan ? Jangan seperti ini, tidak enak dilihat orang." Ujar Viona sambil memperhatikan sekitarnya,


"Cerewet." dengan gemas Nathan meraih kaki kanan Viona lalu melepas hils yang membalut kakinya dan menggantinya dengan hils pilihannya. Nathan juga melakukan hal yang sama pada kaki kiri Viona.


Sungguh betapa Viona merasa sangat malu karna sekarang dirinya dan Nathan tengah menjadi bahan tontonan pengunjung lain. Tak ingin sekamin kehilangan muka di depan mereka. Viona memilih untuk menundukkan wajahnya.


Mata mereka saling bersiborok tepat ketika Nathan mengangkat wajahnya, memandangnya dengan senyum setipis kertasl "Lihatlah, kau terlihat semakin cantik dengan sepatu ini. Dan aku ingin kau memakainya malam ini, jam tujuh aku akan menunggumu ditempat kita bertemu kemarin. Temani aku menghadiri pesta dansa."


"Apa? Pesta dansa!!"


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2