
Di tengah malam yang dingin dan sunyi. Dua terlihat dua orang laki-laki baru saja melompati sebuah pagar tinggi sebuah gedung bertingkat dan megah yang memiliki sedikitnya empat puluh lantai. Tidak terlihat seperti apa rupa kedua pria misterius itu karna tertutup masker dan topi yang mereka kenakan sebagai alat penyamaran. Gedung itu terlihat gelap , hampir semua lampu sudah di matikan mengingat jika ini sudah hampir lewat tengah malam.
"Sebenarnya untuk apa kita ke sini? Lihatlah, gedung ini terlihat sedikit errrr... menyeramkan." ucap pria yang memiliki tinggi kira-kira 186 cm pada rekannya yang memiliki tinggi tubuh lebih pendek darinya.
Laki-laki itu menyeringai di balik masker hitamnya , seringai yang mampu membuat siapa pun akan merasa merinding ketika melihatnya. "Membereskan serangga-serangga nakal yang sudah menghancurkan keluargaku."
Laki-laki jangkung itu meringis mendengar ucapan temannya itu lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maksudmu apa Tuan Muda Lu? Aku tidak mengerti."
Laki-laki itu mengangkat bahunya acuh. "Entah, aku juga tidak mengerti dengan apa yang aku katakan." jawabnya dengan ringan tanpa beban dan dapat dipastikan jika laki-laki jangkung itu sangat dongkol karna jawaban temannya tersebut. "Lupakan apa yang baru saja aku katakan, kau membawa alat yang aku minta?" laki-laki itu menoleh dan menatap datar teman jangkungnya.
"Tentu, aku kan tidak pelupa seperti Lay." laki-laki jangkung itu mengobrak-abrik isi tasnya kemudian memberikan sebuah alat pada pria di depannya.
"Bereskan dua Security sialan itu, aku akan menunggumu di dalam."
"Woke, untuk hal semacam ini serahkan pada ahlinya."
Laki-laki itu berjalan dengan tenang memasuki gedung yang sudah gelap itu hanya dengan berbekalkan sebuah senter sebagai alat bantu untuk misinya kali ini. Suara langkahnya menggema memenuhi seluruh penjuru gedung , beruntung seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan itu sudah pulang semua dan dua Security yang berjaga di luar juga sudah berhasil di bereskan.
Itu artinya ia bisa lebih leluasa untuk melakukan aksinya, namun ada satu hal yang lebih penting yang harus dia lakukan. Yakni mematikan semua CCTV didalam gedung ini.
Sekarang laki-laki itu sudah berada di depan pintu sebuah ruangan yang Ia duga sebagai ruang kontrol. Laki-laki itu mengarahkan senternya pada knop pintu.
"Cih, pintar juga Ardinata keparat itu." Ia mendecih kesal karna pintu itu memiliki keamanan khusus seperti yang di miliki perusahaannya.
Namun laki-laki itu tidak kehabisan akal , ia sudah melakukan persiapan yang sangat matang sebelumnya karna menduga hal semacam ini akan terjadi. Setelah melakukan beberapa hal, pintu ruang kontrol itu terbuka dengan sendirinya membuat smrik laki-laki itu kian lebar.
"Kau memang yang terhebat, Nathan Lu. Meskipun aku tidak pandai-pandai amat, tapi aku beruntung memiliki sahabat secerdik dan selicik dirimu." ujar laki-laki jangkung itu yang entah sejak kapan sudah ada disamping Nathan.
"Bagaimana, Bim? Apa kau sudah membereskan dua Security itu?" tanya Nathan memastikan. Bima tersenyum dan mengangguk. "Kerja bagus Bima Park."
Mereka sudah berada diruang kontrol, Nathan langsung duduk di depan komputer induk yang ukurannya sedikit lebih besar dari komputer-komputer yang lainnya dan komputer itu akan menjadi kunci untuk keberhasilannya malam ini. "Kau sangat ingin tau bukan dengan apa yang akan kita lakukan disini?"
"Tentu! Aku sangat-sangat ingin tau, jadi cepat beritau dan jangan membuatku mati penasaran karna keingintauanku." jawab Bima dengan sangat antusias.
"Kalau begitu..." Nathan menyeringai dengan sangat tajam, laki-laki itu memberi kode pada Bima dengan jarinya agar mendekat dan duduk di sampingnya. Melihat kode yang diberikan oleh Nathan membuat Bima cengengesan dan semangatnya semakin mengebu-gebu . Dengan cepat ia menghampiri Nathan kemudian duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Aku ingin memberikan sedikit kejutan pada Ardinata brengs** itu dengan memberi mereka hadiah kecil yang mungkin akan segera merubah nasib mereka." Ucap Nathan seraya menggerakkan jari-jarinya dengan lincah di atas keyboard didepannya.
"Jadi... apa yang akan kita lakukan di tempat ini?" Bima mengulang pertanyaannya seraya menatap sisi wajah Nathan yang menunjukkan keseriusan.
"Cela untuk menghancurkan mereka dari dalam, dengan pergerakan halus melalui komputer-komputer ini. Jika kau ingin tau, sebaiknya kau diam dan jangan banyak bertanya." Ucap Nathan seraya membuka tas ransel yang sedari tadi di bawah oleh Bima kemudian mengeluarkan sebuah laptop Apple yang memang sudah dia persiapkan sebelumnya.
Raut wajah Bima mengartikan bahwa ia sedang berusaha untuk mencerna kalimat Nathan dan apa yang tengah dilakukan oleh sahabatnya itu. Bima terlalu sulit memecahkan teka-teki yang Natha berikan, ia berfikir apakah itu karna Nathan yang terlalu pintar atau ia yang memang terlalu bodoh??
Bima mengangkat bahunya dan tidak ingin terlalu ambil pusing. Dia menoleh ke arah Nathan yang sedang sibuk dengan laptopnya. "Katanya kau ingin memberitauku?" ucapnya seraya mencubit lengan Nathan.
Dengan kesal Nathan menyentak tangan Bima dan menatapnya tajam. "Sakit bodoh." celetuk Nathan kesal , tatapan horrornya membuat bulu kuduk Bima berdiri seketika. "Bukankah aku sudah memberitaumu, Bima Park, tapi kenapa kau tidak pamah juga." Gemas Nathan sambil menjitak kepala sahabat jangkungnya tersebut.
"Ayolah, Nathan. Kau tau bukan jika aku ini terlalu cerdas, jadi jelaskan dengan bahasa yang lebih jelas dan bisa aku pahami. Jangan pakai bahasa yang rumit yang sulit dimengerti." komentar Bima panjang lebar.
Nathan mendengus dan memutar matanya jengah. Bagaimana bisa Bima begitu bodoh seperti ini, jika bukan karna dia adalah sahabat terbaiknya.. pasti Nathan sudah melemparkannya dari lantai sepuluh gedung ini.
"Berapa tahun kau berteman denganku? Kenapa kau masih saja sebodoh dulu." ucap Nathan gemas.
"Aku tidak bodoh, Nathan Lu!! Tapi hanya sedikit lambat berfikir , itu saja."
"Aisshhh.. terserah kau sajalah." berdebat dengan Nathan hanya akan membuatnya semakin kesal dan akhirnya Bima memilih mengalah.
Bima memilih diam dan memperhatikan setiap hal yang Nathan lakukan. Ia benar-benar tidak mengerti karna bidang yang Nathan kuasai bukanlah areanya, ia berada ditempat ini bersama Nathan karna dia adalah tipe orang yang setia kawan dan Bima tidak tau hal gila apa yang akan sahabatnya itu lakukan saat ini. Bima sangat mengenal Nathan dengan sangat baik, meskipun kepribadiannya terlihat tenang namun sebenarnya Nathan adalah pria yang sangat berbahaya dan mengerikan....
Mencari masalah dengan Nathan sama saja dengan bunuh diri, dan hanya orang bodoh yang berani membuat masalah dengan Iblis sepertinya.
Nathan merogoh saku kanan mantel hitamnya dan mengeluarkan sebuah benda berbentuk persegi. "Ini adalah kawan kecilku yang sangat berharga, dia akan ikut berpesta bersama kita malam ini dan akan menjadi senjata terampuh untuk menghancurkan cacing-cacing Ardinata kepar** itu." Nathan menunjukkan benda kecil itu pada Bima dengan tatapan super dingin andalannya.
Mata hitam Bima memandang dengan seksama benda yang dipegang oleh Nathan dan membiarkan otaknya berfikir sejenak.
"Memangnya untuk apa benda itu?" tanyanya penasaran.
"Benda ini adalah virus-"
Bima memotong ucapan Nathan dan tertawa mengejek. "Virus kau bilang? Bocah TK saja juga tau jika itu adalah memory card yang berjenis micro SD."
__ADS_1
Dengan geram Nathan memukul kepala Bima dengan topinya dan menatapnya tajam. "Dengarkan dulu, bodoh!! Aku belum selesai menjelaskan."
Bima mengusap kepalanya yang baru saja dipukul Nathan "Hehehe! Maaf, baiklah lanjutkan penjelasannya Tuan jenius."
Bima mendengarkan dengan seksama setiap penjelasan Nathan meskipun beberapa kalimatnya tidak bisa ia mengerti, Bima hanya manggut-manggut saja. "Bagaimana? Kau sudah mengerti?" tanya Nathan pada Bima.
Bima tersenyum meyakinkan kemudian menjawab. "Tidak." Rasanya Nathan kehabisan kesabarannya menghadapi sahabat jangkungnya ini, bungsu Lu itu menarik nafas panjang dan menghelanya. "Ano, bisakah kau menjelaskan sedikit lagi padaku?"
"Ini adalah virus hasil karyaku, dan aku mengemas virus ini dalam empaty software yang kemudian kugabungkan dalam antivirus di dalam operasi sofeware ini. Virus ini tidak akan menyebar kemana-mana, dengan kata lain hanya berada di sofeware buatanku yang aku ringkas dalam micro SD. Virus ini akan membantuku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan."
Jari-jari Nathan kembali menari dengan lincah diatas keyboard laptop-nya. Disampingnya, Bima mengangga melihat aksi yang dilakukan olehnya Nathan. Nathan kembali melanjutkan pekerjaannya dan hanya dengan satu kali sentuhan saja, virus buatannya mengacaukan semua sistem di perusahaan itu dengan sangat brutal.
Data-data yang Nathan butuhkan muncul dengan sendirinya membuat seringainya semakin lebar dan selanjutnya yang perlu dia lakukan hanyalah meng-copy data itu kedalam card yang sudah dia siapkan. Bukan hanya sistemnya saja yang kacau namun juga saham dalam perusahaan ini akan turun dengan sangat drastis, dan sudah dapat dipastikan jika perusahaan akan mengamai kebangkrutan hanya dalam hitungan hari persis seperti yang Nathan inginkan.
Bima hanya bisa menganga dan melebarkan matanya selebar-lebarnya melihat aksi singkat yang dilakukan oleh sahabatnya itu yang jauh berada di luar jangkauan pemikirannya.
"Ini gila, yang kau lakukan benar-benar gila Nathan Lu. Bagaimana kau bisa melakukan hal semacam ini dengan sangat singkat? Bukankah memindahkan virus itu membutuhkan waktu dan langkah-langkah tertentu? Dan kau...? Sungguh, kau memang laki-laki yang sangat luar biasa Tuan Muda Lu!! Aku bangga menjadi sahabatmu." ucap Bima tanpa berkedip sedikit pun, ia semakin mengagumi kejeniusan Nathan.
Nathan melihat jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya dan tersenyum tipis. "Sudah selesai, ayo kita pergi. Sepertinya kasurku sudah sangat merindukan untuk segera aku tempati." ucapnya seraya bangkit dari posisnya.
"Yes pulang, aku juga sudah sangat lelah dan ngantuk berat." Nathan tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan gedung tersebut.
'Inilah akhir dari kejayaanmu, Derry Adrinata!!'
Ting...
Nathan menghentikan langkahnya karna dentingan pada ponselnya yang menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Raut wajahnya berubah dan auranya terlihat gelap. "Kau tetaplah di sini dan tunggu sampai Kai tiba. Aku ada urusan mendadak," ucap Nathan dan pergi begitu saja. Bahkan dia tidak menghiraukan teriakkan Bima yang memintanya supaya tidak ditinggal sendirian.
"Yakk!!! Rusa gila!! Kenapa aku benar-benar ditinggalkan?"
-
Bersambung.
Terimakasih buat para riders yang setia baca novel Author. Maaf kalau bab kali ini lebih pendek dari biasanya. Author lagi sakit jadi gak bisa mikir terlalu panjang 🙏🙏🙏 Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like komentnya ya setelah membaca 🙏🙏
__ADS_1