
Mata Hazelnya menatap jauh kedepan. Pandangan yang tak terpatahkan itu tidak pernah berganti. Angin dingin pagi yang serasa menusuk tulang, bagaikan tak berarti di pikiran wanita itu. Suara kicauan burung yang mulai terdengar memasuki telinga si pemilik rambut coklat tersebut, dan ia tersenyum tipis.
Dan inilah yang selalu Viona tunggu...
Matahari yang mulai terbit dari arah timur, mulai memasuki penglihatan Viona. Sinar matahari yang agung mulai terlihat dan membuat wanita itu menyipitkan matanya. Rasa hangat sinar matahari mulai memudarkan rasa dingin pagi tersebut. Awan yang tidak begitu banyak, membuat pemandangan langit semakin lebih indah dari hari berawan biasanya. Langit biru bagaikan lautan tanpa ujung.
Viona menarik nafas yang dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Senyum yang masih terlukis diwajahnya tidak pernah luntur atau berubah. Perasaan bahagia yang saat ini ia rasakan telah menghapus semua kebimbangan yang telah terpendam jauh di dalam hatinya.
"Vio, apa yang kau lakukan di sini?" tegur Nathan seraya berjalan menghampiri Viona.
Wanita itu menoleh kebelakang dan tersenyum tipis. "Oppa, kau sudah bangun?" ucapnya yang kemudian disambut sebuah ciuman lembut oleh Nathan.
Viona mengalungkan kedua tanganya pada leher Nathan, sebelah tangan Nathan melingkari pinggang ramping Viona dan menariknya lebih dekat. Jarak diantara mereka terbunuh sepenuhnya.
Nathan terus memagut bibir Viona, atas dan bawah secara bergantian. Alih-alih menolak, Viona malah menikmati ciuman itu. Lidahnya mengobrak-abrik isi dalam mulut Viona, mengabsen deretan gigi putihnya dan sesekali Nathan mengajak lidah Viona menari bersama. Ciuman itu berlangsung cukup lama, dan Nathan benar-benar mengakhiri ciumannya saat Jessica kehabisan nafasnya.
"Oppa, apa kau free hari ini?" tanya Viona.
"Hn, memangnya kenapa?"
"Bisakah temani aku berbelanja bulanan? Persediaan bahan makanan di rumah senakin menipis,"
Nathan mengangguk seraya mengusap rambut panjang Viona. "Segeralah bersiap, aku akan menunggumu di luar," Viona mengangguk.
"Baiklah,"
-
Terlihat seorang pria berdiri di depan rak buah yang bersebelahan dengan rak sayur-sayuran. Pria itu terlihat tampan meskipun hanya memakai t-shier putih polos press body berlengan pendek yang melekat pas ditubuhnya dibalut vest abu-abu berkombinasi hitam dan jeans ketat berwarna hitam pula.
Tak jauh dari tempat pemuda itu berdiri, terlihat seorang gadis berparas jelita yang sibuk memilih buah-buahan segar.
"Apel atau jeruk??"
Viona menunjukkan dua buah ditangannya pada Nathan yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Wanita itu berdiri didepan rak yang penuh dengan buah-buahan segar dan disamping rak buah terdapat rak sayur hijau. Nathan terlihat melipat kedua tangannya sambil memperhatikan dua buah yang ada ditangan Viona, dan wanita itu masih setia menunggu jawaban sang kekasih.
"Aku rasa keduanya tidak buruk!!" jawab Nathan pada akhirnya. Viona tersenyum lalu memasukkan kedua buah itu kedalam plastik.
"Bisa membantuku memilihnya??" Nathan beranjak dari tempatnya dan menghampiri Viona.
Pria itu berdiri disamping Viona, membantu sang istri memilih buah yang masih segar dan manis. Selain jeruk dan apel. Viona juga memasukkan anggur hijau dan anggur merah, pisang serta semangka kedalam troli belanjanya. Tak ketinggalan sayur mayur seperti tomat, wortel, kol, buncis dan jamur.
__ADS_1
Mereka berdua sedang berada dipusat perbelanjaan saat ini.
Viona membutuhkan bahan makanan dan buah-buahan untuk mengisi kulkas yang hampir kosong. Wanita bermarga asli William itu dapat memakluminya mengingat jika seluruh penghuni rumah itu adalah pria. Tidak hanya sayur dan buah-buahan saja. Viona juga memasukkan telor dan daging kedalam daftar belanjanya. Tak ketinggalan bumbu-bumbu, kecap manis, saus tomat dan saus pedas, serta minyak sayur.
Disaat Viona sibuk memilih cemilan yang akan dia beli. Nathan berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil beberapa kaleng soda yang kemudian ia masukkan kedalam troli belanja.
Dan setelah berkeliling hampir 3 jam, akhirnya mereka mendapatkan semua yang dibutuhkan.
Dua kantong besar kini berada digenggaman Nathan, awalnya Viona hendak membantu suaminya itu untuk membawa semua belanjaan tersebut namun ditolak tegas oleh pria berdarah China tersebut. Keduanya berjalan beriringan menuju parkiran. Nathan memasukkan semua belanjaan Viona ke dalam bagasi mobilnya.
"Setelah ini kau ingin kemana lagi?" tanya Nathan. Saat ini keduanya berada di dalam mobil.
Tampak Viona berfikir, namun detik berikutnya wanita itu menggeleng. "Entah, kemana pun asal jangan langsung pulang!!" ujarnya.
Tanpa banyak berfikir, Nathan segera menyalahkan mesin mobilnya. Dan dalam hitungan detik. Mobil sport hitam itu melesat jauh meninggalkan area parkiran mall.
"Viona apa yang kau lakukan?" kaget Nathan kemudian menarik lengan Viona saat wanita itu mengeluarkan setengah tubuhnya sambil merentangkan kedua tangannya. "Turun Vio, itu berbahaya!!" kata Nathan sekali lagi.
"Tenanglah Oppa, aku tidak akan terjatuh kok," kata Viona meyakinkan.
"Viona turun," geram Nathan dengan nada menuntut. Wanita itu mendesah berat.
Tanpa perlawanan, Viona pun menuruti permintaan Nathan. Alih-alih duduk manis dijok samping Nathan, Viona malah merebahkan tubuhnya dan menggunakan paha Nathan sebagai bantalan kepalanya. Nathan mendengus geli melihat kelakuan sang istri. Ia sungguh tidak menyangka bila Viona akan semanja itu padanya. Tapi Nathan menyukainya.
Tidak sampai 1 menit, Viona sudah terlelap dalam mimpinya. Wabita itu terlihat sangat lelah, Nathan menepikan mobilnya dan membetulkan posisi Viona agar wanita itu merasa nyaman. Nathan tersenyum tipis, dipandanginya wajah Viona mulai dari mata kemudian hidung dan terakhir bibir ranumnya. Diusapnya bibir itu, bibir yang terasa begitu manis dan menjadi candu untuk Nathan sejak awal kisah mereka dimulai.
Dibelainya wajah cantik sang istri dengan penuh kelembutan, dan betapa beruntungnya Nathan karna memiliki istri secantik dan berhati malaikat seperti Viona. Tak ingin mengusik tidur Viona, Nathan menghidupkan kembali mesin mobilnya. Dan dalam hitungan detik, mobil itu melesat jauh, membelah jalanan meninggalkan keramaian kota.
.
.
Suara deburan ombak terdengar indah bersama hembusan angin yang memecah keheningan disore yang tenang. Langit begitu cerah dan matahari bersinar cukup terik membuat hawa disekitar terasa panas.
Samar terlihat siluet laki-laki bersurai coklat terang berdiri ditepi pantai, memandang hamparan luas laut biru yang membentang bak primadani yang menyejukkan mata. Angin menyapa melalui sentuhannya. Rambut coklat terangnya rerus berkibar karna terjangan angin nakal.
Bagaikan sebuah kaleidoskop, manik coklat-nya memantulkan warna-warni menakjubkan dari sang Raja siang. Camar berterbangan diangkasa luas yang berhiaskan gumpalan-gumpalan putih yang berarak. Nathan menghela nafas kala molekul-molekul oksigen dengan aroma laut yang khas memenuhi paru-parunya.
"Oppa," seru Viona.
Denting suara bagai lonceng yang berkaur di telinga membuat Nathan menoleh dan mendapati sosok wanita berparas jelita berdiri dengan anggunnya. Surai coklat panjangnya berkibar, begitu pula dengan dress putih tulang yang membalut tubuh rampingnya. Nathan beranjak dari posisinya dan menghampiri Viona.
__ADS_1
"Kau sudah bangun?"
"Berapa lama aku tertidur? Dan kenapa kau tidak membangunkanku??" tanya Viona sambil sesekali mengucek matanya.
"Kau terlihat lelah, jadi aku tidak tega untuk membangunkanmu!!" tutur Nathan.
Viona menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil celingukan. "Ngomong-ngomong kita ada dimana?? Kenapa aku seperti mendengar deburan ombak!!" katanya kebingungan, Nathan memicingkan mata kanannya. Sepertinya Viona masih belum sadar jika saat ini ia tengah berdiri diatas pasir pantai, sampai akhirnya...
Byurrrr!!!
Deburan ombak mengalihkan perhatiannya. Mata hazel itu pun berbinar seketika setelah menyadari dimana kini ia berada "Kyyyyaaaaaa!!! Pantai!!" serunya kegirangan.
Mengabaikan Nathan yang berdiri didepannya, kemudian Viona berlari menuju bibir pantai dan mulai bermain-main dengan air. Nathan mendengus geli melihat tingkah kekanakan istri cantiknya itu. Saat ini wanita itu tengah bermain-main dengan ombak, Viona berdiri dibibir pantai, namun saat ombak datang wanita itu malah berlari menjauh sambil terkikik geli merasakan pasir pantai yang serasa menggelitik kaki telanjangnya.
Tak ingin melewatkan moment itu, Nathan mengeluarkan ponselnya dan mengabadikannya dalam sebuah video. Pria itu tersenyum puas setelah mendapatkan hasil yang sangat sempurna. Rasanya masih sulit untuk Nathan percaya jika Viona telah kembali ke dalam pelukkannya. Lima bulan perpisahan mereka membuat Nathan merasa hancur. Bahkan dia sempat kehilangan arah dalam hidupbya tanpa kehadiran Viona disisinya. Tapi semua kembali seperti sedia kala saat tiba-tiba wanita itu muncul dan mewarnai kembali hidupnya.
Nathan memasukkan ponselnya kedalam saku celananya dan kemudian menghampiri Viona. Dan kedatangannya langsung disambut oleh aksi jahil Viona.
"Viona, apa yang kau lakukan?" Viona terus mencipratkan air laut ke tubuh dan wajah Nathan. Dan aebagai tersangka utama, bukannya merasa bersalah, Viona malah tertawa terbahak-bahak. Tidak hanya sekali saja, Viona melakukannya sampai berkali-kali. "Vio sudah, kau membuat pakaianku basah!"
"Tidak adil jika cuma aku sendiri yang basah! Oppa, kau haeus basah juga" ujar Viona lalu menjulurkan lidahnya.
"Kau harus menerima hukumannya Nyonya Lu!!" kata Nathan sambil menarik lengan Viona membuat wanita itu jatuh kedalam pelukannya.
"Memangnya hukuman seperti apa yang akan kau berikanku, hm?" Viona mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan, mata mereka saling mengunci.
"Inilah hukumanku!!!" Nathan memiringkan kepalanya dan menyatukan bibir mereka, menciumnya dengan singkat. "Terimakasih karna sudah kembali ke dalam peluklanku, Sayang. Kau tidak tau bagaimana hancurnya diriku tanpamu. Terimakasih karna sudah hadir dan memberi warna baru dalam hidupku. Saranghae!!"
Nathan menarik bahu Viona dan merengkuh wanita itu kedalam pelukannya. Sudut bibir Viona tertarik keatas menciptakan lengkungan indah diwajah cantiknya. Viona mengangkat kedua tangannya membalas pelukan Nathan.
"Kau adalah impian terindahku, Vi. Aku fikir memilikimu hanyalah sebuah angan-angan saja dan sebuah mimpi yang tidak akan pernah bisa terwujud. Kau adalah anugerah yang Tuhan berikan untukku, terimakasih Sayang, karna sudah hadir dan melengkapi hidupku. Aku memang bukan pria baik-baik, aku bukan tipe pria yang romantis tapi aku akan berusaha untuk menjadi suami yang selalu bisa kau andalkan. Aku akan menjaga dan melindungimu, saranghae Viona Lu!!"
Nathan melepaskan pelukannya, dibelainya wajah cantik Viona. Jari-jari besarnya menarik tengkuknya dan menyatukan bibir mereka. Nathan menekan tengkuk Viona untuk semakin memperdalam ciumannya. Nathan terus memagut bibir Viona, menyalurkan semua yang dia rasakan melalui ciuman tersebut. Dan melalui ciuman tersebut Nathan ingin menyampaikan betapa besar rasa cintanya untuk Viona.
Nathan memeluk Viona setelah mengakhiri ciumannya. "Aku akan memelukmu seperti ini, karna kau adalah takdir yang aku inginkan," bisik Nathan.
"Sudah hampir petang, sebaiknya kita pulang!!" Viona mengulum senyum tipis dan mengangguk. Wanita itu menerima uluran tangan kemudian keduanya berjalan beriringan meninggalkan pantai yang mulai gelap.
-
Bersambung.
__ADS_1
Untuk para pembaca setia novel ini, maaf ya kalau novelnya kurang memuaskan dan ceritanya terkesan membosankan. Tapi Author selalu mencoba memberikan yang terbaik disetiap babnya dan update tepat waktu dua kali sehari secara rutin dan berharap pembaca tidak pada kabur.
Selalu dukung Author dengan meniggalkan like dan koment sesuai alur cerita biar Authornya makin semangat buat lanjutin ceritanya sampai akhir 🙏🙏🙏 Karna satu like dan dukungan kalian sangat berharga buat Author remahan biskuit sepertiku.