Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 122 "Topeng"


__ADS_3

Senja datang dan jingga terlihat menaungi arah barat daya. Piringan matahari membias jatuh menghilang di balik garis cakrawala.


Di sebuah ruangan yang sangat megah, seorang pria terlihat berdiri di depan dinding kaca dengan kedua tangannya tersembunyi di dalam saku celana bahannya. Pria itu hanya diam, menatap langit sore yang kelabu, menikmati pemandangan langit dikala senja tiba.


"Nathan-Kun,"


Perhatian Nathan sedikit teralihkan dari langit senja. Pria itu melirik kebelakang melalui sudut matanya, seorang wanita terlihat meliukkan tubuhnya menghampirinya. "Sedang apa kau disini?" tanya Nathan datar.


"Beginikah caramu menyambut seorang tamu? Dan aku datang kemari karna ingin bertemu denganmu,"


"Untuk apa?"


"Nathan-Kun, aku hanya ingin memberitaumu jika waktuku di dunia ini sudah tidak lama lagi. Aku...sekarat!"


"Lalu,"


Wanita itu, Yurinaka menundukkan kepalanya. Dia sedih dengan respon dari Nathan yang sepertinya tak peduli sedikit pun meskipun ia sudah memberitau Nathan jika dirinya saat ini dalam keadaan sekarat. "Tidak adalah sedikit simpatik dihatimu untukku? Bukankah kita sudah lama saling mengenal, bahkan kau sudah pernah menyelamatkan nyawaku beberapa kali. Apakah semua itu tidak ada artinya bagimu?" tanya Yurinaka dengan mata berkaca-kaca.


Nathan berbalik dan menatap wanita didepannya itu dengan datar. "Dengarkan aku baik-baik, Nona Yamamoto. Diantara kita tidak ada hal special, dan tidak akan pernah ada! Jadi jangan pernah mengharapkan apapun dariku, karna sampai kapanpun aku tidak akan pernah tertarik padamu!! Dan mengenai penyakitmu itu, sama sekali tidak ada urusannya denganku. Jadi percuma saja kau memberitauku, karna aku tidak akan peduli. Bahkan jika kau mati sekalipun!!" ujar Nathan.


Hati Yurinaka serasa seperti dicabik-cabik karna ucapan Nathan. "Nathan-Kun, kenapa kau begitu tega padaku?" lirih Yurinaka dengan mata berkaca-kaca.


"Yurinaka, pulanglah dan berhenti menggangguku mulai sekarang. Aku sangat sibuk sekarang!" Nathan beranjak kemudian menghempaskan tubuhnya di kursi dengan kasar. Pria itu tampak kesal pada sosok wanita berdarah Jepang tersebut. Yurinaka membuat moodnya hancur.


"Sekali ini saja, biarkan aku memilikimu. Aku mohon," pinta Yurinaka sambil merangkulkan tangannya pada Nathan dari samping. "Hanya kali ini saja, tidak bisakah kau mengabulkan keinginan kecilku ini, hm?" Yurinaka menatap Nathan penuh harap.


Nathan menyentak tangan Yurinaka dari bahunya dan mendengus kasar. "Hn. Aku sibuk." Jawabnya dingin.


"Hmmm … dasar Tuan workaholic. Atau begini saja? Bagaimana kalau kita bermain-main sebentar, hanya sebentar. Aku rasa itu tidak masalah?" bisiknya sensual di telinga Nathan. Mimik wajah Yurinaka berubah seketika, polos menjelma menjadi liar.


Nathan semakin terbakar emosi karna ulah Yurinaka yang menurutnya sudah sangat berlebihan itu. "Pergilah, Yurinaka. Kau sangat menggangguku," ujarnya dingin.


"Nathan-Kun.Kau sungguh-sungguh membuatku sedih," lirih Yurinaka namun tetap tak dihiraukan oleh Nathan.


Nathan mengakat wajahnya dan menyeringai sinis. "Aku tidak tau berapa banyak topeng yang kau pakai untuk menutupi sifat aslimu ini. Karna kebaikkanmu, kepolosanmu semuanya palsu. Dan aku tegaskan padamu, aku sudah memiliki pasangan jadi jangan menggangguku lagi!!"


"Aku tak peduli kau punya sudah punya pasangan atau belum. Sebaik apa pun dia, yang aku tahu kau akan selalu kembali kepadaku. Karna kau hanya boleh mencintaiku!!"


Tak ada tanggapan yang diberikan Nathan, ia lebih memilih fokus pada pekerjaanya. Dia terlalu malas mengurusi wanita seperri Yurinaka.


"Ekhem...!! Kenapa aku mencium aroma-aroma bibit pelakor disini," seru seseorang dari arah pintu. Sontak Yurinaka menoleh pada sumber suara begitu pula dengan Nathan. Sudut bibir Nathan tertarik keatas melihat kedatangan sang istri. "Oppa, aku datang," seru Viona dan berhambur memeluk Nathan. Bahkan dia tak ragu mencium Nathan terlebih dulu.


"Mau datang kenapa tidak bilang-bilang?" tanya Nathan setelah Viona melepaskan ciumannya. "Dan apa itu yang kau bawa?"


"Ah ini," Viona mengangkat bingkisan ditangannya dan menunjukkan pada Nathan. "Aku membelinya saat dalam perjalanan kemari, aku fikir kau lembur lagi malam ini makanya aku datang kemari. Dan makanan ini bisa kita makan sama-sama saat jam makan malam tiba,"


Nathan mengangguk. "Baiklah, terserah kau saja," ucapnya seraya membelai helaian panjang Viona yang tergerai.


Tubuh Yurinaka bergetar menyaksikan adegan tadi. Jadi, Nathan benar-benar sudah memiliki pasangan? Rasanya Yurinaka masih tidak percaya.


Perasaan tak suka merasukinya. Wanita itu menatap pasangan suami-istri penuh kebencian, terutama pada Viona. Yurinaka benci menjadi lemah seperti ini, ini bukan dirinya. Yurinaka Yamamoto tidaklah selemah ini.


"Kenapa kau masih di sini? Aku rasa kau tidak idiot dan tau dimana pintu keluarnya, jika aku jadi dirimu...Aku sudah pergi sejak tadi karna merasa malu, tapi sepertinya hal itu tidaklah berlaku padamu! Atau jangan-jangan urat malumu sudah putus ya?" tanya Viona meremehkan.

__ADS_1


"Yakk!! Berani sekali kau berkata seperti itu padaku!! Apa kau tidak tau siapa aku?" amuk Yurinaka pada Viona, wanita itu begitu menyebalkan dan membuatnya kesal setengah mati karna berhasil meremehkannya.


"Tau, tentu saja aku tau. Kau adalah Nona muda dalam keluarga Yamamoto yang memiliki banyak topeng yang tersembunyi dibalik wajah dan sikap polosnya. Apakah aku salah?"


"Kau... Ingat, ini belum selesai. Aku pasti akan datang untuk membalasmu wanita sialan,"


"Ya, silahkan saja dan aku sangat menantikannya. Oya, sebelum pergi aku memiliki sedikit kenang-kenangan yang akan selalu kau ingat, sehingga kau harus berfikir dua kali untuk melakukannya lagi!!"


"Yaaakk!! Sialan, apa yang kau lakukan? Rambutku, kau apakan rambutku? Beraninya kau menggunting rambutku dan membuat kepalaku pitak. Yakk!! Lepaskan dan hentikan, jala**!!" amuk Yurinaka karna tak terima Viona menggunting rambut panjangnya secara acak. Bahkan ada yang sampai pangkal rambutnya dan membuat kepalanya terlihat pitak.


"Inilah yang pantas diterima oleh wanita murahan sepertimu. Dan sepertinya kau akan menjadi korban selanjutnya karna berani menggoda suamiku, dan obat ini adalah hadiah terakhir dariku. Penawarnya ada padaku, dan kau hanya memiliki waktu satu bulan. Jika dalam waktu satu bulan kau tidak mendapatkan penawarna juga, jadi bersiaplah untuk mengalami hal terburuk!" tutur Viona panjang lebar.


Dan sementara itu. Nathan yang menyaksikan semuanya tak bereaksi sama sekali, bahkan dia tidak berusaha menghentikan Viona yang terlewat barbar. Nathan justru menikmati pertunjukkan yang diciptakan oleh istrinya yang begitu luar biasa. Nathan menyeringai. Dia suka gaya Viona.


"Kau!!! Tunggu saja bagaimana aku akan membalas dan menghancurkanmu, jalang sialan!!"


Brakk..


Yurinaka membanting pintu ruang kerja Nathan dengan keras. Saking kerasnya hingga menimbulkan suara dentuman yang begitu memekatkan telinga. Viona sungguh tidak habis fikir dengan wanita itu, dibalik wajah polosnya ternyata tersimpan topeng yang begitu mengerikan.


"Oppa, apakah pekerjaanmu masih banyak?"


"Ya, memangnya kenapa Sayang?" Nathan meraih tangan Viona kemudian menuntun wanita itu untuk duduk dipangkuannya. "Apa kau merindukan suamimu ini, hm?" Viona mengangguk.


"Bukan hanya aku, tapi Baby Xi juga. Dia bilang sangat merindukan Papanya,"


Nathan melerakkan pulpennya di atas meja kemudian mrengangkat tubuh Viona bridal style dan membawanya menujilu sofa. Jari-jarinya mengusap perut yang sedikit membuncit tersebut dengan penuh sayang.


"Hei Nak, bagaimana kabarmu hari ini? Papa harap kalian baik-baik saja. Lucas, Luna, tumbulah dengan baik di dalam sana. Papa dan Mama akan menunggu kalian dengan sabar,"


Nathan mengangkat wajahnya, dan pandangannya jatuh pada bibir ranum sang istri yang begitu menggoda. Nathan menakup wajah Viona dan mencium singkat bibirnya.


"Aku harus menyelesaikan pekerjaanku, sebaiknya kau istirahat saja jika merasa lelah, setelah selesai aku akan membangunkanmu," ucap Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona. Nathan melepas jasnya kemudian menakupkan pada tubuh Viona, satu ciuman mendarat mulus pada jidat wanita itu. "Saranghae," bisik Nathan kemudian beranjak dari hadapan Viona.


.


.


Tangan Nathan dengan lincah mengetik pada laptop yang berada di atas meja di hadapannya itu. Raut wajahnya begitu serius dan tak ada ekspresi sedikit pun pada wajah tampannya, datar. Sesekali tatapannya bergulir pada sosok wanita yang sedang terlelap di sofa, sudut bibir Nathan tertarik keatas.


Kai tak merasa heran meskipun melihat pamandangan langka yang tersaji saat ia memasuki ruangan tuannya itu. Memang jarang sekali Nathan bisa tersenyum selebar itu baik dirumah apalagi dikantornya, dan tentu saja Kai tau apa yang membuat senyum dibibir Tuannya tersebut bisa mengembang begitu lebar.


"Tuan, saya mau melaporkan-"


"Sst. Jangan berisik, Kai, nanti dia terbangun. Dia baru saja tidur," tegur Nathan.


Kai langsung membungkuk singkat. "Maafkan saya, Tuan." dan Kai segera memelankan suaranya.


"Hn, ada apa?"


"Mayer Corp. menyatakan ingin bergabung dengan kita pada proyek di Myungdoong."


Nathan menyeringai puas. "Bagus. Lim tua itu pasti tidak akan bisa tidur malam ini. Karna salah satu rekan bisnisnya memilih bergabung dengan kita. Urus semuanya Kai, malam ini kau mungkin lembur."

__ADS_1


"Baik Tuan, saya permisi dulu. Oh ya, Tuan. Nona Yurinaka berpesan sebelum dia pergi, jika dia akan-"


"Batalkan. Katakan padanya aku sibuk. Mulai sekarang tolak telepon dari wanita itu, dan jangan biarkan wanita itu masuk lagi kekantor ini,"


"Baik, Tuan."


-


Dora menghentikan mobilnua dihalaman luas rumah mewahnya. Wanita itu memicingkan matanya melihat sebuah mobil terparkir disamping tempat mobilnya.


Takut jika yang datang adalah seorang tamu penting. Buru-buru Dora masuk ke dalam, bukannya tamu penting melainkan tiga bocah yang selalu sukses membuatnya naik darah, bocah yang pernah membuatnya terjebak dirumah sakit jiwa selama hampir satu bulan lamanya.


"Kalian, sedang apa kalian ada dirumahku?" sinis Dora bertanya.


"Bibi, kau sungguh kejam sekali pada kami. Sudah lama tidak bertemu, beginikah caramu menyambut kami? Kami sangat merindukanmu," ujar Satya. Frans dan Rio mengangguk membenarkan.


"Apa-apaan ini? Kenapa banyak sekali sampah yang berserakkan di meja dan lantai? Dan dari mana kalian mendapatkan wine merah serta melon itu?" tanya Dora penuh selidik.


"Dari sana," dengan kompak ketiganya menjawab. Membuat kedua mata Dora membelalak saking kagetnya.


"APA? KALIAN MENGANBILNYA DARI DALAM KULKASKU? YAKK! BOCAH-BOCAH KURANG AJAR. BERANI SEKALI KAU MENGAMBIL RED WINE DAN MELONKU TANPA IJIN DARIKU, LALU MENGHABISKANNYA!! APAKAH KALIAN TAU BERAPA HARGANYA? DAN KARNA ULAH KALIAN BERTIGA, AKU MENGALAMI RUGI BESAR!!" amuk Dora pada trio kadal.


Ketiganya mengangkat bahunya dengan acuh. "Itusih derita Bibi, bukan derita kami!" jawab Frans acuh tak acuh.


"Keluar dari sini juga atau kalian akan mati!!"


"KAMI TIDAK MAU!" dan ketiganya menjawab dengan komlak.


"Lagi pula kami memiliki hak atas rumahmu ini, Nenek tua," ucap Rio dengan begitu bangganya. "Apakah kau tidak ingat? Tiga bulan yang lalu ketika di rumah sakit jiwa kau setuju untuk menandatangani sebuah berkas supaya kau bisa keluar dari sana? Ketika kami memintamu untuk membacanya lebih dulu kau menolaknya karna ingin segera keluar dari sana. Dan inilah isi dari surat perjanjian tersebut. Bahwa kau akan menyerahkan setengah hartamu dengan suka rela pada kami bertiga beserta rumah ini dan seluruh isinya.


Kedua mata Dora langsung membelalak saking kagetnya. "APA?" dan kemudian Dora jatuh pingsan hingga mengalami kejang. Alih-alih merasa prihatin, trio ajaib menyeret tubuhnya dan membawanya kekamar mandi. Rio menyalahkan air dan menciprakan sebuah hujan buatan agar semua lebih terlihat dramatis.


"Paman, bagaimana kalau kita pergi berpesta? Kita jemput Kakek Xi dan kita pergi ke club malam milik Paman Baim?" usul Rio sambil menatap kedua paman kecilnya secara bergantian. Satya dan Frans saling bertukar kandang dan...


"SETUJU..." Keduanya menjawab dengan sangat kompak. Ketiga pemuda itu pun melenggang keluar meninggalkan rumah milik Sandora Lim.


-


Yurinaka memegang segelas cocktail di tangannya dengan tidak berselera. Lagi-lagi Nathan menolaknya dan ini sudah yang kesekian kalinya. Bagaimana caranya agar dia bisa merebut hati pria itu? Selalu gagalbmeskipun dia berpura-pura sekarat dan menyakinkan pada semua orang jika dirinya benar-benar sakit termasuk orang tuanya.


Selama ini ia selalu menahan perih akibat cemburu setiap melihat Nathan menggandeng wanita lain. Dia selalu berusaha sabar. Nathan memang selalu dikeliling wanita di sekekitarnya. Siapa yang tidak tertarik padanya? meskipun Nathan tak pernah menunjukkan ketertarikkannya sedikit pun, tapi mereka semua tetap berinisiatif. Semua orang menganggap dialah wanita kesayangan Nathan. Dialah yang bertahan paling lama dengan keegoisan pria itu. Mereka adalah teman lama, Yurinaka pertama kali bertemu Nathan saat dia menyelamatkan dirinya dari penculikkan. Dan saat itu juga ia langsung jatuh cinta pada Nathan.


Mimpinya adalah berjalan menggunakan gaun pengantin putih dengan Nathan yang sedang menunggunya di depan altar. Sayangnya, hubungan mereka memang sangat rumit. Yang dia tau, Nathan tidak menyukai status dan komitmen, dia ingin semuanya berjalan begitu saja. Tapi apa yang terjadi sekarang, tiba-tiba Nathan memiliki seorang istri yang sangat cantik dan itu sangat menyakitkan bagi Yurinaka.


"Haaah … Nathan Lu. Apa kau tidak punya sedikit saja perasaan untukku?" suara Yurinaka terdengar sangat sendu dan putus asa. "Padahal aku begitu sangat mencintaimu,"


Suaranya menggema pada ruangan yang hening dan legang. Karna tidak ada siapapun di sana selain Yurinaka seorang diri, diam dalam keheningan suasana dengan berbalutkan suasana hati yang sedang gundah gulana tanpa akhir dan tanpa arah.


Yurinaka menggepalkan kedua tangannya. Matanya berkilat tajam penuh amarah. "Baiklah Nathan Lu, kali ini aku akan menggunakan kekuatan ayahku. Ayahku, Iruka Yamamoto pasti mau membantuku." senyum licik menghiasi wajahnya sekarang. Dan yang perlu Yurinaka lakukan sekarang adalah memghubungi sang Ayah. Dan Yurinaka yakin jika Ayahnya sudah turun tangan, maka tak ada yang tak mungkin terjadi. Nathan, pasti akan bertekuk lutut padanya.


Tapi satuhal yang tidak pernah Yurinaka pahami dari seorang Nathan, jika kekuasaan dan kekuatannya sekarang 1000X lebih besar dari sang Ayah. Dan berani masalah dengan Iblis seperti Nathan sama saja artiny Dengan bunuh diri.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2