
Jangan lupa baca juga new novel Author ya ISTRI KONTRAK CEO DINGIN tinggalkan like dan komentnya juga 🙏🙏🙏
-
CKITTT...
Nathan menggerem mendadak saat tiga mobil menghadang laju mobilnya. Beberapa pria terlihat keluar dari mobil yang ditumpang masing-masing dan kemudian menghampiri mobil Nathan.
Dua diantaranya langsung menggedor kaca mobil Nathan sambil mengacungkan senjata, memberikan ancaman dan berbagai umpatan kasar keluar dari bibir mereka karna Nathan tak juga turun meskipun mereka sudah memintanya.
"Astaga, siapa lagi sih mereka? Kenapa harus mencari masalah di saat seperti ini coba? Apa mereka tidak tau jika aku sedang lapar," gerutu Viona yang merasa tertanggu dengan kemunculan mereka.
"Apapun yang terjadi nanti, jangan coba-coba untuk keluar!!" ucap Nathan memperingatkan.
"Aku tidak janji dan lihat situasinya bagaimana, lagi pula mana mungkin aku diam saja jika melihat-"
"Tetap tidak, dan jangan mendebatku!!" tegas Nathan menyela ucapan Viona, membuat ibu hamil itu mencerutkan bibirnya, kesal karna Nathan mengomelinya.
"Boss, sepertinya mereka sudah bosan hidup," ucap Tao yang kebetulan satu mobil dengan Nathan dan Viona. Bukan hanya Tao saja, tapi Bima juga. "Bagaimana kalau kita ajak mereka berolahraga sebentar supaya badan mereka tetap sehat dan bugar?" usul Tao.
"Kau saja, aku tidak ikut," Bima menyela cepat. "Aku tidak ingin jika muka tampanku ini sampai lecet karna terkena pukulan mereka. Apalagi setelah jutaan won yang aku keluarkan sebagai biaya perawatannta. Jadi aku akan di sini saja bersama Viona," tagas Bima.
Tao menggeleng. "Tidak bisa, Hyung!! Kau harus ikut turun dan menghadapi mereka. Lagian mau dipermak berapa ribu kali pun, kalau jelek ya tetap saja jelek. Jadi jangan banyak alasan, sebaiknya kita turun sekarang dan hadapi mereka,"
"Tidak mau!!" kata Bima menegaskan. Pria itu menggeleng kuat. "Pokoknya aku tidak mau, aku akan di sini saja. Nathan saja tidak masalah, bukankah begitu kaw--- OMO! Kemana perginya iblis itu?" heran Bima.
"Kau buta ya, jelas-jelas Nathan Oppa sudah turun sedari tadi dan sedang menghadapi mereka!!" sinis Viona menyela ucapan Bima.
Mata Bima lantas membelalak saking kagetnya. "Benarkah? Huee, kenapa dia malah maju sendiri?? Nathan Lu, aku datang!!!" seru Bima dan bergegas keluar dari mobil Nathan.
Tao mendengus berat. "Dasar penjilat, jelas-jelas tadi tidak mau dan memintaku melakukannya sendiri, tapi sekarang malah maju lebih dulu dari aku. Dasar tiang gila," gerutu Tao seraya turun dari mobil Nathan. Tao segera bergabung dengan mereka berdua.
Dan perkelahian sengit pun tak dapat terhindarkan lagi. Nathan tak segan-segan melepaskan tembakkannya dan melempar senjata tersembunyinya pada setiap orang yang berusa untuk menyerangnya.
Pukulan, tendangan, tembakkan, bantingan sampai suara mirip tulang patah dan teriakkan-teriakkan kesakitan mewarnai jalannya perkelahian. Tao tak kalah sadisnya dari Nathan. Jika Nathan menggunakan pistol dan belati, maka Tao hanya menggunakan pistol saja.
"Hoek...,'
Bima nyaris saja muntah di tengah perkelahian ketika melihat bagaimana cara Nathan menghabisi orang yang berhasil melukai lengannya. Pria itu menancapkan belatinya pada perut orang tersebut kemudian menariknya kebawah hingga organ dalamnya sedikit terurai. Dan kelengahan Bima segera dimanfaatkan oleh lawan untuk memukulnya.
Bughh...
"Kkyyyaa....!! Wajah tampanku!!" teriaknya histeris. Hidung Bima berdarah dan sepertinya patah. "Yakk!! Beraninya kau menyentuh bagian wajahku!!" teriak Bima penuh emosi. Bima memukul dan menendang pria itu berkali-kali sebelum akhirnya terkapar ditanah setelah lutut Bima menghantam sosinya dengan keras. "Nah, itulah akibatnya jika berani membuat wajah tampanku lecet." Sinis Bima pada pria itu.
Dan setelah hampir 10 menit. Perkelahian pun selesai dan sudah bisa dipastikan siapa pemenangnya. Semua dihabisi dan hanya satu orang yang dibiarkan tetap hidup. "Kembalilah pada bossmu dan katakan padanya jika sebaiknya tidak usah mencari masalah jika tidak ingin hidupnya sengsara," pria itu pun segera berdiri dan berlari secepat yang dia bisa.
"Oppa,"
Tubuh Nathan terhuyung kebelakang karna terjangan Viona yang sangat tiba-tiba. Nathan mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan Viona.
Viona mengangkat wajahnya dari pelukkan Nathan. "Aku lega kau baik-baik saja dan hanya mendapatkan luka ringan dilenganmu. Sebaiknya kita pulang sekarang dan obati lukamu di rumah," ucap Viona yang kemudian di balas anggukan oleh Nathan.
Kali ini Tao yang mengemudikan mobilnya. Viona melarang Nathan untuk melanjutkan mengemudi lagi dan dia menurutinya. Selain itu Nathan juga sangat lelah hari ini.
"Antarkan dulu aku kerumah sakit, sepertinya hidungku benar-benar patah," histeris Bima karna luka pada hidungnya.
__ADS_1
Tao mendengus geli dan dengan terpaksa dia mengiyakannya. "Huft, okelah,"
-
"BOCAH!! BERHENTILAH MENGIKUTIKU KARNA AKU BUKAN IBUMU!!"
Sandora sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Bagaimana tidak, harinya yang semula baik-baik saja seketika menjadi hancur karna ulah seorang pemuda. Dia tidak tau dari mana datangnya pemuda berkacamata kuda, bertompel dan berambut klimis tetsebut.
Sedari tadi pemuda itu terus mengikutinya dan memanggilnya Ibu, dan hal itu jelas membuatnya sangat terganggu. "Hiks, Ibu sangat jahat. Sudah menelantarkanku sejak aku bayi dan sekarang malah tidak mau mengaluiku. Apa karna aku ini item, jelek, bergigi mancung dan dekil? Sejelek-jeleknya aku, aku tetaplah Anak Ibu!!"
"Bukan!! Kau bukan anakku, jangan bermimpi terlalu tinggi untuk bisa menjadi anakku. Sebaiknya pergi sana dan tinggalkan tempat ini!! Aku muak melihat muka jelekkmu itu!!"
"HUAAA!! IBU JAHAT, IBU BENAR-BENAR JAHAT!!" dan tangis pemuda itu pun pecah seketika dan hal itu membuat Sandora menjadi sangat panik karna semua mata kini tertuju padanya. Dia bingung harus bagaimana sekarang. "HUAA,,, IBUKU SANGAT JAHAT!! DIA TIDAK MAU MENGAKUI ANAKNYA SENDIRI KARNA DIA JELEK DAN DEKIL SEPERTIKU. HUAAA, AKU DI TELANTARKAN LAGI!!"
"Yakkk!! Berhenti menangis dan meraung, bocah!! Aku benar-benar bukan Ibumu karna aku tidak merasa pernah melahirkanmu!!" tegas Dora dengan suara sedikit meninggi.
Pemuda itu yang pastinya adalah Rio, dia terus menangis dan meraung seperti bayi. Rio terus-terusan memegangi pakaian yang Dora kenakan dan tidak mau melepaskannya.
Seorang wanita yang penampilannya mirip dengan peramal tiba-tiba menghampiri mereka berdua. "Nyonya, kau akan mengalami sebuah kesialan yang amat sangat berkepanjangan karna sudah menelantarkan seorang anak yang tidak berdosa,"
"Yakkk...! Jangan bicara sembarangan, memangnya siapa yang menelantarkan siapa? Lagi pula bocah ini benar-benar bukan anakku!! Dia hanya memgaku-ngaku saja!!" tegas Dora menjelaskan.
"Nyonya, selamat menikmati kesialan Anda. Saya permisi dulu,"
"Yakk...!Wanita aneh, jangan pergi kau!!" teriak Dora. Dora hendak mengejar wanita peramal aneh itu, tapi tiba-tiba..... Aaahhh," Dora terjatuh dengan tidak elitnya karna terpeleset kulit pisang yang di buang sembarangan.
Kedua mata Dora membelalak ketika dia merasakan sesuatu yang lembek dan basah pada pantatnya. Ragu-ragu Dora menoleh dan.... "KOTORAN ANJING!!!"
.
.
.
"Paman, kau lihat wanita itu tadi? Sepertinya dia benar-benar sengsara. Aku benar-benar puas." Ujar Rio. "Eh tapi Paman, bagaimana bisa tiba-tiba kau muncul disana seperti jailangkung?" heran Rio.
"Karna kami adalah Pamanmu, jadi kami tau jika kau sedang dalam kesulitan," jawab Frans.
"Jahahaha...Paman, kalian menang yang terbaik dan aku bangga di sebut sebagai tiga sekawan anak Iblis. Bukankah itu sangat keren, hahaha,"
Entah kenapa Rio begitu bangga dan bahagia karna di sebut sebagai tiga sekawan anak Iblis oleh orang-orang yang sudah menjadi korban kenakalan dan kejahilan mereka bertiga.
"Aku lapar, bagaimana kalau kita berangkat sekarang?" usul Satya.
Rio dan Frans saling bertukar pandang sambil tersenyum lebar. "Setujuuuu!!" dan keduanya menjawab dengan kompak. Mobil mewah itu pun segera melaju kembali pada jalan raya....
-
"Nah selesai,"
Sebuah perban membebat lengan kiri Nathan yang tidak sengaja terkena sabetan senjata tajam dari lawannya ketika berkelahi tadi. Beruntung tidak ada luka lain lagi menghiasi tubuhnya, dan itu satu-satunya luka yang Nathan dapatkan.
"Oppa, aku akan menyiapkan makan malam dulu. Sebaiknya kau mandi dulu setelah ini kita makan malam sama-sama. Oya, malam ini aku ingin melihatmu memakai leather vest dan tanktop putih. Oke, jangan protes. Karna aku ingin sekali melihatmu memakainya,"
Nathan mendengus berat. Lagi-lagi Viona memaksakan kehendaknya dan jika tidak dituruti pasti dia akan merajuk dan mengancam lagi. Dan Nathan tidak memiliki pilihan lain selain menuritinya dari pada Viona harus mogok makan yang akibatnya akan buruk untuk janin dalam perutnya.
__ADS_1
Nathan merasa jika semakin hari Viona semakin menjadi-jadi. Tak jarang dia membuatnya kerepotan karna permintaan-permintaan anehnya. Dan Nathan tidak tau jika orang hamil bisa begitu merepotkan dan menyusahkan.
Dan meskipun demikian, tapi Nathan tidak pernah merasa keberatan untuk melakukan apapun yang Viona minta, asalkan itu masih normal dan tidak terlalu ekstrime.
Viona mengangkat wajahnya dan senyum di bibirnya menggembang lebar. Nathan mau mengabulkan permintaannya. CEO tampan nan dingin itu tetap terlihat tampan meskipun style yang dia pakai agak sedikit serampangan. Sebuah jeans hitam, tanktop putih press body yang dibungkus leather vest yang senada dengan warna celananya.
Wanita itu meletakkan spatulanya kemudian menghampiri Nathan. "Wow... A**mazing, Oppa lihatlah betapa tampan dan panasnya dirimu. Ya Tuhan, aku benar-bebar terpukau melihatnya." Ujar Viona dengan mata berbinar-binar.
Nathan menarik Viona hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukkannya. "Bagaimana? Apa sekarang kau merasa puas, hm? tanya Nathan kemudian mencium singkat bibir Viona.
Viona mengangguk. "Ya, aku sangat puas."Jawabnya. Jari-jari lentiknya Viona gerakkan diatas benda hitam bertali yang menutup mata kirinya. "Aku sangat menyukai penampilanmu yang seperti ini Oppa, liar tapi menakjubkan."
"Tapi aku tidak bisa berpakaian seperti ini sepanjang waktu dan di saat-saat tertentu. Aku harap kau mau mengerti dan bisa memahaminya. Aku pasti akan berpenampilan seperti ini di saat aku tidak bekerja,"
"Tidak masalah, asalkan saat bersamaku Oppa tidak menyembunyikan tribal ini dariku," ucap Viona sambil menggerakkan jarinya di atas tribal yang menghiasi lengan kanan Nathan.
"Seperti keinginanmu, Sayang," dan selanjutnya bibir Viona sudah berada dalam pagutan bibir Nathan.
Tak hanya sekedar menciumnya, tapi Nathan juga memberikan pagutan kecil pada bibir ranumnya. Kedua mata Viona tertutup sempurna dan kedua tangannya mengalung pada leher Nathan.
Ciuman yang awalnya begitu lembut seketika berubah menjadi ciuman panas yang menuntut. Lida* mereka saling bergulat dengan panasnya. Kedua tangan Nathan membingkai wajah Viona sedangkan tangan Viona mengalung pada leher Nathan.
Sadar kekuatan kaki Viona hanya tersisa beberapa persen lagi. Nathan segera merubah posisi mereka dan menempatkan Viona di atas meja.
Kedua mata Viona membelalak saat melihat kedatangan Henry dan Tiffany. Pasangan suami-istri itu hanya bisa terbengong-benggong melihat apa yang tengah dilakukan oleh Nathan dan Viona.
Buru-buru Viona mendorong tubuh Nathan hingga ciuman mereka terlepas. Viona menjadi kikuk sendiri. "O-Oppa, Fanny kalian di sini?" seru Viona dan segera turun dari atas meja.
Kedua pipinya tampak memerah. Viona merasa jika dirinya mirip dengan seekor kucing yang kedapatan sedang mencuri ikan. Nathan hanya bisa mendesah berat.
Dia merutuki kedatangan mereka berdua di saat yang tidak tepat. "Ck, kenapa kalian harus datang segalah sih, mengganggu saja," gerutu Nathan seraya berjalan menuju ruang keluarga.
Henry dan Tiffany terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Sepertinya mereka benar-benar datang di saat yang tidak tepat. "Maaf kami tidak tau jika kalian berdua sedang betciuman," sesal Henry merasa tidak enak.
Viona menggeleng. "Tidak apa-apa, Oppa. Kalian tidak mengganggu kok, hehehe." Viona menjadi kikuk sendiri. Dia merasa tidak enak pada Henry dan Tiffany. Henry meninggalkan Tiffany di dapur bersama Viona sedangkan dia menghampiri Nathan yang sepertinya masih sangat kesal padanya.
Lagi-lagi Henry menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sekali lagi Gege minta maaf karna sudah datang di saat yang tidak tepat."
"Lupakan. Tumben kau kemari di jamegini?"
"Tiffany merindukan Viona," jawabnya.
Dan selanjutnya kebersamaan mereka hanya di isi keheningan. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir kakak beradik tersebut. Henry bingung harus bagaimana memulai perbincangannya dengan Nathan, sungguh Henry benar-benar merasa tidak enak padanya.
"Nathan, Gege-"
"Sudahlah Ge, untuk apa dibahas lagi? Toh tidak penting juga. Aku yang ciuman tapi kenapa malah kau yang terlihat seperti maling yang tertangkap basah oleh warga?" heran Nathan menyela ucapan Henry.
"Habisnya Gege merasa tidak enak padamu, hehehe,"
"Ck, dasar Naga China," cibir Nathan dan meninggalkan Henry begitu saja.
Henry hanya bisa mengusap dada. Dia seperti mendapatkan mimpi buruk hanya karna berhadapan dengan Nathan. Dan terkadang Henry merindukan sosok adik yang hangat dan penuh perhatian.
-
__ADS_1
Bersambung.