
Sebuah Lamborghini Veneno melaju kencang pada jalanan yang legang. Tak ada bangunan bertingkat apalagi gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi selain pohon-pohon pinus yang tumbuh disisi kiri dan kanan jalan yang bisa tertangkap oleh iris hazelnya.
Dalam hatinya. Viona terus bertanya-tanya kemana Nathan akan membawanya. Sudah lebih dari tiga puluh menit mereka berkendara, tapi belum ada tanda-tanda jika mobil yang sedang Nathan kemudikan akan segera tiba ditempat tujuan.
Dan karna tidak ingin mati karna penasaran, akhirnya Viona pun memutuskan untuk bertanya langsung pada suaminya. "Oppa, sebenarnya kita mau kemana sih? Perasaan dari tadi tidak sampai-sampai," tanya Viona kebingungan.
Nathan menoleh dan menatap sekilas wanita disampingnya. "Kau akan segera mengetahuinya," jawab Nathan, datar. Dan tidak ada lagi pertanyaan yang keluar dari bibir Viona, wanita itu memilih diam seraya menatap keluar.
Mobil yang Nathan kemudikan mulai memasuki khawasan yang disisi kiri dan kanan jalan penuh dengan bunga-bunga yang tumbuh dengan suburnya. Dan jauh di depan sana. Tampak sebuah gerbang yang menjulang tinggi dengan papan nama 'Xi' yang terpajang tak jauh dari gerbang tersebut.
Pintu gerbang terbuka ketika mobil Nathan sudah semakin mendekat. Dua pria yang berjaga di gerbang utama langsung membungkuk melihat kedatangan Tuan Mudanya.
Nathan kembali melajukan mobilnya dan masih sekitar tiga puluh meter untuk tiba dibangunan utama.
Terlihat dua pria berpakaian formal menghampiri mobil Nathan kenudiab membukakan pintu untuk mereka berdua. Semua orang yang ada di sana membungkuk hormat pada Nathan dan hal itu tentu menimbulkan sebuah tanda tanya besar dibenak Viona.
Dalam hatinya, Viona terus bertanya-tanya rumah siapa ini dan apa tujuan Nathan membawanya kenari? Lalu kenapa semua orang begitu hormat padanya, apakah ini adalah markas baru Nathan? Tapi rasanya tidak mungkin.
Viona melihat seorang pria tua namun penuh wibawah menuruni tangga dengan ditemani seorang laki-laki seumuran dengan Henry. "Cucuku, Kakek senang kau datang. Kemarilah, biarkan Kakek memelukmu," seru Kakek Xi seraya merentangkan kedua tangannya dan hendak memeluk Nathan, tapi sayangnya ditolak oleh pria dingin tersebut.
"Sebaiknya jangan menjatuhkan harga dirimu di depan anak buahmu dengan bertingkah konyol," sinis Nathan dengan nada dingin.
Kakek Xi mencerutkan bibirnya, dia menyesal kenapa sifat buruk Lucas harus nenurun pada putranya. Jika diperhatikan Nathan seperti Lucas dalam versi muda, bahkan wajah mereka sangat mirip dan nyaris terlihat kembar, hanya warna matanya saja yang berbeda.
Kemudian pandangan Kakek Xi bergulir pada Viona. "Cucu durhaka, ngomong-ngomonh siapa wanita cantik ini? Apa dia kekasihmu?" tanya Kakek Xi penasaran.
"Ck, Pak Tua!! Apa kau buta, jelas-jelas dia sedang hamil. Namanya Viona dan dia istriku," jawab Nathan sedikit ketus.
Kakek Xi hanya bisa mengelus dada. Berbicara dengan Nathan sepertinya memang membutihkan kesabaran yang ekstra. Dia terlalu dingin dan mulutnya setajam silet. "Ais, jadi ini cucu menantuku. Cucu menantu, sebaiknya tidak usah hiraukan suamimu yang mirip kutub utara ini. Bagaimana kalau Kakek bawa kamu berkeliling dan melihat-lihat Mansion ini?" usul Kakek Xi dengan mata berbinar-binar.
"Tidak!!" Nathan menarik Viona untuk kembali berdiri disampingnya. "Aku kesini hanya ingin memperkenalkannya padamu, dan karna urusan di sini sudah selesai. Sebaiknya kami pergi sekarang," ujar Nathan.
"Hanya begitu saja? Yak!! Bocah Kutub, kenapa kau tidak berperasaan sama sekali eo? Kau sangat-sangat kejam, begini-begini aku ini Kakekmu, Kakek kandungmu. Dan hanya kau satu-satunya keluarga yang Kakek miliki, setidaknya tinggalah disini selama beberapa jam saja. Dasar cucu durhaka!!"
Nathan mendesah berat. "Baiklah, tidak lebih dari satu jam!!" ucap Nathan final. Dan Kakek Xi langsung bersorak saking bahagiannya. Bahkan dia sampai menjatuhkan harga dirinya di depan anak buahnya.
__ADS_1
Dan Park Yoong yang selama ini selalu bersama Kakek Xi, baru pertama kali melihat tuannya bisa tersenyum selebar itu dan bertingkah tak biasa. Karna Kakek Xi yang dia kenal selama ini adalah sosok yang tegas dan selalu mengutamakan harga dirinya. Tapi hari ini dia sungguh sungguh bersikap berbeda.
"Cucu mentantu, ayo biar Kakek tunjukkan beberapa tempat di Mansion ini." Ucap Kakek Xi yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona.
"Baiklah Kakek,"
"Nathan, kamar mendiang orang tuamu berada di lantai dua. Kau bisa kesana untuk lebih mengenal mereka," ucap Kakek Xi yang kemudian beranjak dari hadapan Nathan.
Nathan mendongakkan kepalanya, pandangannya tertuju pada sebuah pintu bercat putih yang berada diantai dua. Nathan melangkahkan kakinya menuju lantai dua.
Nathan sangat penasaran seperti apa rupa mendiang Ibu dan Ayahnya ketika masih muda sampai-sampai Kakek Xi mengatakan jika dia dan Xi Lucas memiliki wajah yang sangat mirip.
Dengan perasaan tak yakin. Nathan membuka pintu di depannya. Hawa dingin langsung terasa ketika pintu terbuka. Nathan melangkahkan kakinya memasuki kamar tersebut. Setelah menghidupkan penerangan dalam kamar tersebut. Nathan melihat beberapa foto tergantung di dinding.
Nathan mendekati foto tersebut. Tangannya yang gemetar dia arahkan pada foto itu lalu merabanya. Jantungnya serasa meledak dan dadanya terasa sesak. Rasanya seperti ada ribuan benda-benda tajam yang menghujam jantungnya dengan seketika.
"Kenapa kita harus bertemu setelah kau tiada, kenapa aku harus tau semua kebenaran itu disaat kau berada di alam yang berbeda?" Nathan mendongakkan wajahnya, cairan-cairan bening mulai berjatuhan dari pelupuk matanya yang kemudian membasahi sisi wajah kanannya.
"Kau sangat cantik. Pantas saja jika bajingan itu begitu menginginkanmu. Aku bangga karna terlahir dari rahim wanita sehebat dirimu, Mama,"
Nathan melihat secarik kertas dan setangkai mawar yang telah mengering tergeletak di atas nakas samping tempat tidur berukurang king size tersebut. Nathan mengambil kertas yang tampak usang itu dan membacanya.
Bunga yang indah ketika bermekaran. Menampakan kesan anggun dan elok dalam setiap helai kelopaknya. Membuat siapa saja akan terkagum-kagum saat melihat keindahannya.
Bunga keabadian…
Keabadian disetiap janji yang diucapkan. Keabadiaan tanpa ada satu orang pun yang akan menghianatinya. Keabadian yang akan tetap terekam jelas dalam ingatan setiap orang yang mendengarnya….
Bunga mawar merah. Melambangakan keabadian disetiap helainya. Tanpa ada satu hal pun yang harus diragukan karna mereka saling mencintai. Mencintai hingga maut memisahkan raga mereka, jika saja tak ada satu orang pun yang mengkhianatinya…
Mengkhianati cinta abadi.
__ADS_1
Cinta yang tulus tanpa meminta balasan apapun karena kebahagiaan akan terasa jika kita tak pernah menuntut balasan…
Seperti cintaku padamu, yang tidak akan terkikis oleh ruang dan waktu...
Karna kau adalah satu-satunya cinta yang aku inginkan dalam hidupmu, jika di dunia ini kita tidak mungkin bisa dipersatukan maka aku berharap kita akan bersatu dikeabadian*.
Teruntuk suamiku tercinta....
Saranghae...
Nathan merinding membaca surat itu. Sepertinya itu adalah surat yang Ibunya tinggalkan sebelum Doris Lu membawanya pergi. Nathan mengepalkan tangannya dan mata kanannya berkilat tajam. Dalam hatinya dia bersumpah akan menemukan Doriso Luu dan menghabisi pria itu dengan kejam.
"Pa, Ma, aku bersumpah. Aku akan menemukan mereka dan dengan tanganku sendiri aku akan menghabisinya. Setiap tetes darah, duka dan air mata. Aku akan menukar semua itu dengan nyawanya, aku bersumpah!!"
-
Langit senja menjadi objek yang dipandangi Senna sore ini. Ia mengikuti saran Henry dan Viona untuk mengambil cuti beberapa hari. Di hari pertama ia libur kerja, Senna tidak pernah menyangka bahwa rumah yang sudah ia tempati beberapa tahun belakangan ini. Terasa sepi, dingin dan hampa.
Pagi ini, seperti biasa sarapan bersama Henry, Rio dan sikembar Satya dan Frans. Mereka saling bertukar cerita, tidak lama, sebelum kembali hening. Setelah ketiga pemuda itu pergi sekolah dan Henry berangkar kerja. Senna mengelilingi mansion berlantai tiga itu, dan baru menyadari betapa luasnya tempat tinggal mereka.
Rumah yang ditempati lima orang, memang lebih terasa hidup dengan suara canda tawa tapi tetap saja dia merasakan kekosongan di dalam hatinya.
Senna memasuki kamar Rio, menatap lekat-lekat kamar bernuansa merah maroon dengan beberapa garis putih. Buku-buku tebal yang tersusun rapi dengan beberapa pajangan foto masa kecil putra dan kedua adik angkatnya.
Setelah itu Senna memasuki kamar Nathan, dengan keraguan di awal. Mata hitamnya memandang kamar dengan nuansa biru itu. Kamar itu terasa dingin, berbanding jauh dengan warna kamar yang seharusnya membuat suasana terasa hangat.
Senna menghampiri tempat tidur king size tersebut, mengusap pelan tempat tidur yang terasa dingin itu sebelum matanya tertuju pada sebuah figura. Sebuah foto dimana dirinya memeluk Nathan kecil sambil tertawa lebar. Senna tersenyum sendu, dulu adiknya itu begitu polos.
Senna menyeka aur matanya yang memgalir deras dari pelupuknya. Rasa takut seolah menggenggam erat hatinya, dadanya serasa sesak seperti terhimpit batu besar. Senna takut Nathan akan menjauh darinya, Senna takut Nathan akan meninggalkan mereka setelah mengetahui kebenaran tentang masa lalunya.
Jangankan benar-benar dibenci oleh Nathan, membayangkannya saja sudah membuat Senna sangat ketakutan. Dia benar-benar takut kehilangan Nathan untuk selamanya.
-
Bersambung.
__ADS_1