Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 109 "Hidup Shion Hancur"


__ADS_3

"Tuan Nathan. Anda disini," seru Danila begitu bahagia melihat kedatangan Nathan.


Danila menyeka air matanya dan berlari menghampiri Nathan. Namun langkahnya harus terhenti saat Nathan menodongkan senjata kearahnya. Ujung pistol Nathan menempel pada kening Danila. "Tu-tuan Nathan. A-apa maksudnya ini?" tanya Danila terbata-bata.


"Mungkin Viona bisa menggunakan cara halus untuk memperingatkanmu. Tapi tidak denganku. Aku menahannya dari kemarin untuk bisa segera meledakkan kepalamu karna Viona. Sebaiknya hentikan sekarang sebelum kau menyesal!!"


"Tuan Nathan!!" Danila menangis dan memeluk Nathan. "Hiks, kenapa Anda begitu kejam pada saya? Kenapa Anda tidak pernah sekalipun melihat saya yang begitu mencintai Anda. Apa karna saya bukan wanita yang terlahir dari keluarga yang berharta? Tuan Nathan. Saya mohon, biarkan saya disisi Anda,"


Brugg..


Nathan mendorong tubuh Danila hingga wanita itu terhuyung kebelakang. Punggung dan kepalanya berbenturan dengan tembok dengan sangat keras hingga menimbulkan benturan serta jerit kesakitan Danila. "Ahhh," Danila meringis dan berusaha melepaskan cengkraman Nathan pada rahangnya.


"Ini peringatan terakhir untukmu. Berhenti dan jangan mengganggu hidupku lagi, Viona terutama. Jika kau masih nekat, aku bisa melakukan hal mengerikan yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya. Ingat dan camkan itu baik-baik!!" Nathan melepaskan cengkramannya pada rahang Danila dengan sedikit menyentaknya. Pria itu berbalik dan pergi begitu saja.


"AKU TIDAK BISA BERHENTI APALAGI MELEPASKANMU!! TIDAK, TIDAK AKAN PERNAH. DAN WANITA ITU, AKU PASTI AKAN MENYINGKIRKANNYA!!"


Dorrr...


"Aahh," satu amunisi yang Nathan lepaskan menembus bahu kanan Danila dan membuat wanita itu meringis kesakitan. "Tuan Nathan, bahkan Anda sampai melukai saya hanya demi wanita itu. Tuan Nathan, apa artinya satu malam yang pernah kita lalui?" lirih Danila sambil berurai air mata.


Nathan menatap Danila dengan penuh kebencian. "Yang terjadi malam itu adalah sebuah kesalahan, jika bukan karna ulahmu dan Ibumu, aku tidak akan terjebak dan mengaulimu. Aku sangat menyesal kenapa malam itu bisa sampai lengah dan membiarkan kalian menjebakku. Jika aku tidak memandang Tuan Kang sebagai Ayahmu, pasti kau dan ibumu sudah aku habisi malam itu juga. Jadi berfikirlah dua kali sebelum membuat dan mencari masalah denganku!!" Nathan menatap Danila sekilas sebelum pergi dan meninggalkannya begitu saja.


"TUAN NATHAN!!"


"Ckckck, benar-benar wanita tak tau malu. Apa sebesar itu obsesimu pada suamiku? Kau sangat memalukan Danila Kang. Dan tindakkanmu ini mencoreng harga diri para wanita," ujar seorang wanita yang keluar dari kegelapan. Sosoknya terlihat jelas setelah dia berhadapan dengan Danila.


"VIONA ANGGELLA!!" teriak Danila pada wanita itu yang ternyata adalah Viona.


Dorr...


"Aaahh...!! Kakiku," jerit Danila setelah sebuah timah panas menembus kaki kanannya. "Kau...!"


"Aku sangat senang melihatmu tersiksa, dimataku itu begitu menyenangkan," Viona menyeringai.


"Dasar Iblis, tunggu dan lihat saja bagaimana aku akan menghancurkanmu!!" teriak Danila penuh amarah.


"Lakukan saja, karna aku tidak akan pernah membiarkannya!!" sinis Viona dan meninggalkan Danila begitu saja.


Viona tidak tau apakah Danila masih bisa bertahan atau tidak setelah dua timah panas menembus bahu dan kakinya. Tapi Viona tidak peduli. Hidup dan mati Danila tidak ada hubungannya dengannya.

__ADS_1


-


Shion berjalan tanpa arah dengan langkah sedikit terseok-seok. Keadaannya yang begitu mengenaskan membuat orang-orang yang berada disekitarnya menatapnya dengan pandangan Iba. Sekujur tubuhnya penuh luka, pakaian yang dia pakai robek disana-sini. Rambut yang dipotong secara acak hingga pitak.


Hidup Shion sudah hancur sekarang. Dia kehilangan harga dirinya sebagai seorang wanita setelah dikarak keliling kota dalan keadaan setengah bulat.


Shion berhenti di jembatan sungai Han. Dengan hati gamang wanita itu naik keatas pagar pembatas. Shion menutup rapat-rapat matanya dan air mata memgalir dari sudut matanya. Shion berencana untuk mengakhiri hidupnya. Dia merasa sudah tidak ada artinya tetap hidup, hidupnya sudah hancur dan tidak mungkin lagi untuk diperbaiki.


"Ibu, Ayah, tunggu aku. Aku akan segera menyusul kalian!!"


Ditengah hujan lebat yang mengguyur kota Seoul. Shion menceburkan tubuhnya kedalam Sungai Han yang berarus deras. Tubuh Shion perlahan tenggelam menuju dasar Sungai Han. Diantara hidup dan mati, Shion melihat seseorang berenang menghampirinya. Orang itu mengulurkan tangannya padanya dan yang terjadi selanjutnya hanyalah kegelapan. Shion tidak mengingat apapun lagi.


.


.


.


Shion membuka matanya dan kepalanya seperti terhantam bahu besar. Wanita itu menyapukan pandangannya kesegala penjuruh arah dan mendapati dirinya berada disebuah ruangan yang begitu asing. Aroma khas yang menyengat serta berbagai peralatan medis di samping ranjang inapnya. Itu artinya dirinya belum mati dan saat ini berada di... rumah sakit!!


Shion menoleh saat mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang. Seorang wanita berparas cantik berambut panjang terlihat menghampirinya. "Kau sudah sadar?" Tanya wanita itu setelah berhadapan dengan Shion.


"Karna aku ingin kau mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu pada Viona. Jika kau mati sekarang, maka Viona tidak akan mendapatkan keadilan."


"Kau, siapa sebenarnya kau?" tanya Shion sekali lagi.


"Aku, Tania Kim. Orang yang menyelamatkan Viona dari kejahatan yang kau lakukan padanya!!"


Degg..


Kedua mata Shion sontak membelalak. "Apa maksudmu? Viona masih hidup?" Shon menatap Tania tak percaya.


"Ya, dia masih hidup dan baik-baik saja sampai detik ini. Dan mulai hari ini kau adalah seorang Narapidana, pertanggungjawabkan semua kejahatanmu. Aku menuntutmu dan kau akan dipenjara selama dua puluh tahun. Jadi persiapkan dirimu!!" Tania beranjak dari sana dan meninggalkan Shion begitu saja.


Dan selepas kepergian Tania tangis Shion pun pecah. Dia menyesali semua perbuatannya. Dan jika saja dia tidak melakukan kebodohan, pasti hidupnya tidak akan sehancur ini. Disesali pun tidak ada gunanya, karna nasi sudah menjadi bubur. Dan dirinya memang layak memdapatkan hukumannya.


"Viona, maafkan aku,"


-

__ADS_1


"Ahh, lelahnya.."


Viona menjatuhkan tubuhnya pada kasur empuk kesayangannya. Setelah melakukan perjalanan panjang yang cukup melelahkan, ia dan Nathan akhirnya tiba di Seoul.


"Kau lelah?" tanya Nathan yang kemudian ikut membaringkan tubuhnya disamping Viona.


"Lumayan," Viona menoleh dan iris hazelnya langsung bersiborok dengan biner tajam milik Nathan.


Viona beranjak dari posisinya kemudian naik keatas tubuh Nathan, wanita itu meletakkan kepalanya di atas dada bidang suaninya. "Oppa, apakah kita bisa melakukannya? Aku menginginkanmu berada di dalam diriku," ucap Viona seraya menatap Nathan penuh harap.


"Kau menginginkannya?" Viona mengangguk. "Dan aku akan mengabulkannya," selanjutnya bibir Viona sudah berada dalam pagutan bibir Nathan.


Wanita itu menutup rapat-rapat matanya ketika Nathan merubah posisi mereka dengan menempatkan dirinya dibawah kungkungan tubuh kekarnya. Sebelah tangan Nathan membingkai wajah Viona sedangkan tangan satu lagi bermain dan menyusuri tubuhnya yang setengah terbuka. Dan entah sejak kapan kain-kain itu Nathan tanggalkan dari tubuhnya.


Bibir Nathan bergerak turun menuju leher jenjang Viona kemudian turun lagi menuju dadanya membuat desahan dan erangan berkali-kali lolos dari bibir tipis Viona. Malam yang terasa dingin bagi orang lain justru terasa panas bagi mereka berdua. Dan malam ini akan mereka habiskan untuk saling menghangatkan.


.


.


.


Hubungan yang dimulai dari sebuah kesalahan siapa yang menyangka bisa menjadi sebuah ikatan cinta yang begitu kuat. Nathan sadar sejak awal cintanya dan Viona adalah sebuah kesalahan. Bukan hanya satu tetapi lebih dari satu kesalahan. Ibarat pasir di pantai, mungkin sebanyak itulah kesalahan juga dosa pria ini. Tapi Nathan tak peduli.


Secara fisik Nathan memang sangat sempurna. Sekali lirik banyak wanita yang akan jatuh cinta padanya. Walaupun ada satu pengecualian, yaitu wanita yang sedang tidur di sampingnya.


Sepasang anak manusia itu tengah berbaring di atas ranjang king size mereka dengan tubuh polos tanpa busana. Bahkan sehelai selimut pun tidak ada yang melindungi tubuh mereka selain selimut tebal yang membungkus tubuh keduanya.


Entah sudah berapa kali mereka melakukan kenikmatan surgawi ini, tetapi yang jelas ini sudah bukan menjadi hal tabuh bagi mereka berdua. Mengingat hubungan mereka adalah sepasang suami-istri.


Nathan masih terjaga di atas ranjangnya. Ia memilih memandangi atap kamar yang polos dan tidak ada apapun di sana. Hanya lampu gantung yang seolah menjadi bulan dari kamar it


Ia mengambil sebatang rokok yang terletak di atas nakas. Kemudian ia nyalakan korek dan menghisap kuat rokok yang baru ia beli itu. Kini, kamarnya yang biasanya rapi dan wangi mendadak beraroma asap rokok di mana-mana.


Mata kanan Nathan terus menerawang ke atas. Dan hembusan nafas berkali-kali keluar dari sela-sela bibirnya. Digulirkannya pandangannya pada sosok yang sedang terlelap disampingnya. Nathan tersenyum tipis.


Nathan mengusap pipi Viona dengan jari-jari besarnya. "Kau adalah kekuatan terbesarku Viona Lu, jadi jangan pernah berfikir untuk meninggalkanku apapun yang terjadi. Karna hidupku tak akan berarti tanpa dirimu. Saranghae Viona Lu,"


-

__ADS_1


Bersambung."


__ADS_2