Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 67) "Cemburu"


__ADS_3


Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ISTRI CANTIK MAFIA KEJAM tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗🤗


-


Zian menghentikan taxi yang melintas, hari ini mereka pergi tanpa membawa kendaraan karna mereka ingin menikmati sore hari dengan berjalan kaki. Rencananya mereka berdua ingin pergi ke Hongdae untuk melihat pertunjukkan music yang di mainkan oleh para musisi jalanan.


Dan sebelum pergi ke Hongdae, Zian berencana untuk mengunjungi rumah lamanya dan bertemu teman-temannya. Akhir-akhir ini dia jarang sekali bertemu dan berkumpul bersama mereka karna kesibukan masing-masing dan hanya sesekali saja mereka saling berkomunikasi melalui panggilan telfon. Kecuali Reno yang memang bekerja pada Zian.


Sebelum pergi ke tempat tujuan, mereka berdua menyempatkan diri untuk mampir kesebuah mini market untuk membeli berbagai jenis makanan seperti mie instan, kornet, daging , telur dan salmon segar, buah-buahan serta beberapa jenis sayuran dan tidak ketinggalan beberapa makanan ringan.


Luna berjalan dan memilih apa lagi yang perlu ia beli, dan karna sibuk memilih-milih snack dan tidak melihat kedepan tiba-tiba saja?


Bruggg...!!!


Tanpa sengaja Luna bertabrakan dengan pengunjung lain hingga membuat beberapa snack yang ada di genggaman wanita itu jatuh berserakan di lantai, orang itu buru-buru membantu Luna memungguti snack-snack itu.


"Nona... maaf saya tidak sengaja, kau tidak apa-apa 'kan?" tanya orang itu memastikan, kemudian dia menyerahkan snack-snack tersebut pada Luna. "Ya," Luna mengangkat wajahnya, mata hazelnya bersiborok dengan mata hitam orang itu yang ternyata adalah seorang pria.


"Luna," pekik kaget pria itu setelah melihat rupa wanita yang tidak sengaja bertabrakan dengannya.


"Maaf, tapi sepertinya kau salah orang," Ucapnya.


Buru-buru Luna beranjak dan meninggalkan pria tersebut termasuk troli yang hampir penuh dengan barang belanjaannya. Namun sepertinya pria itu tidak mempercayai begitu saja. Ia pun berdiri dan mengejar Luna.


"Luna, tunggu," seru pria itu menghentikan langkah Luna dengan menahan pergelangan tangannya.


"Apa yang kau lakukan? Bukankah aku sudah bilang jika aku tidak mengenalmu, jadi pergilah.. Kau sangat menggangguku!!"


Sementara itu...


Zian meletakkan minuman bersoda yang ia ambil dari lemari pendingin ke dalam troli belanjaan Luna saat melihat sang istri berlari keluar dengan di susul oleh pria yang sama sekali tidak ia kenal. Zian meninggalkan troli tersebut dan bergegas keluar untuk menyusul mereka berdua. Pri Itu mempercepat langkahnya karna tidak ingin kehilangan jejak mereka berdua.


"Luna, tunggu....!!"


Zian menghentikan langkahnya dan bersembunyi di balik pohon saat melihat orang itu berhasil menyusul Luna. Zian ingin tau apa yang mereka bicarakan dan hubungan seperti apa mereka miliki di masa lalu.


"Lepaskan." pinta Luna dengan nada rendah namun suaranya terdengar tidak bersahabat.


"Tidak, sebelum kau mengatakan kenapa kau menghindariku? Jauh-jauh aku kembali dari Inggris dan beginikah tanggapanmu setelah bertemu kembali denganku? Apa kau tidak merindukanku, Luna-ya." ucap laki-laki itu sambil maju dua langkah dan berdiri tepat di depan Luna. "Aku merindukanmu," bisik laki-laki itu lalu memeluk Luna.

__ADS_1


Gyuttt....!!!


Zian menggepalkan kedua tangannya melihat istrinya di peluk oleh laki-laki lain. Matanya berkilat tajam penuh amarah. Ada rasa sesak menghimpit dadanya. Luna memang tidak membalas maupun berusaha melepaskan pelukan itu. Luna membuka kembali matanya yang sebelumnya tertutup dan di saat itu ia melihat siluet pria yang tidak baginya asing berdiri di balik pohon tempat laki-laki itu memeluknya.


"Oppa," lirihnya bergumam.


Bruggg...!!!


Luna mendorong tubuh laki-laki itu hingga terhuyung kebelakang. Luna berlari menyusul Zian sambil menyeruhkan nama laki-laki itu. "Zian tunggu," Namun teriakan Luna tidak di hiraukan sama-sekali oleh Zian.


Zian terus berjalan tanpa berniat menghentikan langkahnya. "Oppa, tunggu!" pinta Luna sambil menahan lengan Zian.


Glukkk...!!


Susah payah Luna menelan salivanya melihat tatapan Zian yang penuh intimidasi. "Sudah malam, sebaiknya kita pulang." kata Zian lalu melepaskan genggaman tangan Luna dan menghentikan taxi.


Luna terpaku melihat sikap dingin Zian padanya hingga tanpa terasa buliran-buliran air mata jatuh membasahi matanya. "Sampai kapan kau akan berdiri di sana seperti orang bodoh?" sampai suara dingin Zian yang berkaur di telinganya menyadarkan Luna dari lamunannya.


Wanita itu mengangguk dan masuk kedalam taxi itu.


Sepanjang perjalan pulang, tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir Zian. Pemuda itu terus menatap keluar melalui jendela taxi yang terbuka. Dan ketika Luna hendak menyentuhnya, namun Zian justru menarik tangannya dan memindahkannya. Luna hanya bisa tertunduk sedih.


"Kau marah padaku? Oppa, dengarkan dulu penjelasanku." ucap Luna parau seperti menahan tangis.


Setibanya di ruang tengah, Luna berpapasan dengan Zian yang keluar dari kamar mereka sambil menenteng bantal dan sehelai selimut. Pemuda itu sudah menanggalkan rompi denim dan t-shirt putihnya. Dan menggantinya dengan singlet hitam.


Lagi-lagi air mata kembali mengalir dari pelupuk mata Luna. Luna berbalik badan dan menyusul Zian, pemuda itu buru-buru menutup matanya saat melihat kedatangan Luna. "Pergilah kekamar dan segeralah tidur." pinta Zian tanpa menatap lawan bicaranya.


"Jangan seperti ini, aku mohon. Setidaknya dengarkan penjelasanku dulu, karna aku dan dia-"


"Kalau memang tidak ada apa-apa ya sudah, untuk apa di bahas lagi." kata Zian dingin. Pria itu menyela ucapan Luna.


"Tidurlah di kamar, jangan tidur di sini. Kau bisa sakit, Oppa." lirih Luna parau.


Namun ucapan Luna sama sekali tidak di indahkan oleh pemuda itu. "Baiklah jika kau tidak mau, aku juga akan tidur di sini." kata Luna lalu duduk di sofa di depan sofa yang Zian gunakan untuk berbaring. Pemuda itu mendengus kasar. Bangkit dari posisi berbaringnya dengan pandangan ia gulirkan pada Luna.


"Kita tidur di kamar saja." Luna tersenyum tipis kemudian mengangguk.


Yang terlihat selanjutnya oleh mata cokkat Luna hanyalah punggung Zian yang tertutup singlet abu-abunya. Luna mengulurkan tangannya menyentuh bahu tegap suaminya.


"Aku mengatakan yang sebenarnya, Oppa. Aku dan dia tidak memiliki hubungan apa-apa. Ketika di luar negeri, aku memang pernah dekat dengannya, dia teman baikku tapi hubungan kami merenggang sejak aku menolak perasaannya. Aku menghindarinya sejak dia menyatakan perasaannya padaku, aku tidak menduga jika dia akan menyusulku ke Seoul. Sungguh, pertemuan itu tidak terduga." ujar Luna dengan suara paraunya.

__ADS_1


Luna tetap tidak merespon, kedua matanya tetap terbuka, kilatan tajam masih terlihat jelas dari sorot matanya.


Luna menghela nafas panjang, wanita itu membalik posisi berbaringnya. Matanya terus mengeluarkan air mata, Luna terisak dalam diam.


Dan Luna berharap saat esok ia bangun semuanya akan kembali baik-baik saja. Perlahan mata coklat itu terpejam dan dalam hitungan detik wanita itu terbuai dalam mimpinya.


-


Rasa heran menghinggapi perasaan Simon dan para hyungnya saat melihat sikap Luna dan Zian yang sepertinya sedang melakukan peran dingin.


Kesedihan juga Simon lihat terpancar dari sorot mata coklat Luna. Merasa penasaran, Simon pun menghampiri Luna yang sedang duduk sendiri di ruang tengah. "Nunna, kau baik-baik saja? Apa kau dan, Zian hyung sedang berteng-"


"Apa aku terlihat baik-baik saja, Mon?" Luna menyela cepat ucapan Simon dengan nada sedikit meninggi. "Jelas-jelas aku tidak baik-baik saja." lanjutnya dengan suara parau.


Dan teriakan keras Luna menyita perhatian beberapa pria yang sedang berkumpul di ruang tamu termasuk Zian. Semua orang bangkit dari posisi duduknya lalu menghampiri Luna dan Simon yang sedang berada di ruang tengah. Wanita itu menekuk lututnya dan membenamkan wajahnya, bahunya bergetar naik turun, isakan pilu mulai terdengar.


"Monmon, apa yang kau lakukan pada, Luna nunna?" tanya Adrian melihat Luna yang sedang menangis.


Buru-buru Simon menggelengkan kepalanya sambil mengangkat tangannya."Tidak-tidak, bukan aku yang membuat, Luna nunna menangis. Tadi aku hanya bertanya dan tiba-tiba, Luna Nunna berteriak kemudian menangis." jelas Simon.


Meskipun saat ini Zian masih marah pada Luna, namun ia paling tidak tahan ketika melihat wanita itu menangis. Zian menghela nafas, dia melangkahkan kakinya dan menghampiri Luna. Zian menarik bahu Luna dan membawa sang istri ke dalam pelukannya.


Dalam pelukan Zuan, tangis Luna pecah. Wanita itu mencengkram kaus abu-abu yang Zian kenakan. Bahkan Luna tidak peduli jika pakaiannya itu akan kusut karena ulahnya. Pakaian Zian terasa basah di bagian dadanya.


"Maaf." lirih Luna berbisik.


Suaranya sangat pelan namun masih tertangkap jelas oleh telinga Zian. Zian tidak memberikan jawaban apa-apa.


Saat di rasakan mulai tenang, Zian melepaskan pelukannya, jari-jarinya menghapus air mata Luna. "Kita pulang," kata Zian yang segera di balas anggukan oleh Luna.


Zian berdiri di ikuti Luna yang berdiri di sampingnya."Kalian sudah mau pulang?" tanya Adrian.


Luna mengangguk. "Besok aku akan berkunjung lagi, kami pulang." kata Luna dan berlalu begitu saja.


Simon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia memiliki firasat buruk dengan keadaan Zian dan Luna saat ini. Ia berani bersumpah jika mereka berdua sedang bertengkar, tapi yang menjadi pertanyaannya? Apa masalahnya, dan tugas Simon saat ini adalah menyelidikinya.


"Hyung mau menjadi Detektiv?" tawar Simon pada Adrian.


"Bocah? Apakah kau juga memikirkan apa yang aku fikirkan?" tanya Adrian pada Simon. Simon mengangguk.


Reno dan Seho saling bertukar pandang. Mereka berdua tidak tau rencana apa yang tengah di susun oleh Simon dan Adrian. Namun mereka berharap agar mereka berdua tidak melakukan sesuatu yang aneh-aneh.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2