Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 91) "Keguguran Dan Koma"


__ADS_3


Riders, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya ETERNAL LOVE (CINTA TERLARANG IBLIS DAN PUTRI LANGIT) tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗🤗


-


"Bagus sekali, selanjutnya aku serahkan padamu dan Adrian,"


Zian memutuskan sambungan telfonnya dan menyeringai tajam. Rencana awalnya berjalan seperti yang dia harapkan. Zian berani bersumpah jika saat ini Derby sedang panik setengah mati karena saham perusahaannya yang terus mengalami penurunan.


Zian akan menghancurkan pria itu secara perlahan-lahan. Zian tidak ingin melakukannya dengan terburu-buru dan membuat permainannya menjadi terkesan membosankan.


Dan dengan tangannya sendiri, Zian akan mengambil kembali semua harta milik mendiang kakeknya yang diambil paksa oleh ayah Derby. Zian tidak akan membiarkan pengorbanan kakeknya berakhir sia-sia.


"Aarrkkhhh...Perutku!!"


"Luna,"


Zian berlari menaiki tangga menuju lantai dua di mana kamarnya dan Luna berada. "Luna," kedua mata Zian membelalak melihat Luna bersimpuh di lantai sambil memegangi perutnya. Peluh tampak pada keningnya dan mimik wajahnya menunjukkan jika dia sedang kesakitan. Dan darah segar tampak mengotori lantai kamarnya yang terlapisi marmer.


Zian menghampiri Luna kemudian meraih kepalanya ke dalam pelukannya. "Oppa, sakit!!" jerit Luna sambil mencengkram kuat tangan Zian. Zian tidak tau apa yang terjadi pada Luna. Padahal beberapa saat yang lalu dia masih baik-baik saja. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba Zian menemukan Luna bersimbah di lantai dalam keadaan yang begitu memprihatinkan.


"Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit," Zian mengangkat tubuh Luna dan segera membawanya ke rumah sakit. Zian tidak ingin kehilangan keduanya terlebih-lebih Luna. Luna adalah segala-galanya bagi Zian dan dia tidak ingin sampai kehilangannya.


-


Zian duduk dengan gusar di depan ruang UGD. Dia tidak tau bagaimana keadaan Luna dan janin dalam rahimnya saat ini karena belum ada satupun petugas medis yang keluar dari dalam sana. Dalam hatinya Zian terus berdoa semoga tidak ada hal buruk sampai menimpa istri dan calon bayi mereka, meskipun kemungkinannya hanya beberapa persen saja.


CKLEKK...


Zian segera berdiri saat mendengar suara decitan pintu di buka. Terlihat seorang pria lengkap dengan jas putihnya keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Zian memastikan.


Dokter berkebangsaan Korea itu terlihat menghela nafas panjang. "Istri Anda dalam keadaan kritis, dia kehilangan banyak darah dan saat ini mengalami koma,"


Tubuh Zian sedikit terhuyung. Salah satu tangannya bertumbuh pada tembok disamping kanannya. "Lalu bagaimana dengan janin di dalam rahimnya?" tanya Zian sekali lagi.


"Janinnya tidak selamat. Istri Anda keguguran. Sebenarnya sejak awal janin dalam rahim istri Anda mengalami masalah, kami sudah menyarankan supaya dia menggugurkan janin itu, tapi Istri Anda menolaknya dan bersikeras untuk mempertahankannya. Kami sudah melakukan semaksimal mungkin untuk keselamatan Ibunya, dan apa yang kami takutkan akhirnya terjadi juga." Tutur Dokter itu panjang lebar.


JLEDERR..


Rasanya seperti disambar petir di siang hari. Hati Zian hancur berkeping-keping. Entah bagaimana caranya dia harus memberitahu Luna ketika dia bangun nanti jika janin di dalam rahimnya tidak selamat. Zian tidak sanggup melihat Luna hancur mengingat jika anak itu adalah impiannya selama ini.


-

__ADS_1


Tubuh tinggi nan kekar tersebut bergetar samar, isakan halus keluar dari mulutnya. Tidak akan ada yang menyangka jika seorang Zian Qin yang selama ini di kenal dingin dan minim ekspresi akan menangis begitu pilu. Ia merasa gagal sebagai seorang suami.


Andai saja jika ia peka sebagai seorang suami, mungkin istrinya tidak akan mendapatkan musibah seperti ini. Andai saja Luna memberitahunya dari awal, pasti hal semacam ini tidak akan terjadi.


"Sayang, aku mohon bangunlah. Buka matamu, Luna. Kau bilang kau mencintaiku dan akan selalu berada di sisiku. Tapi kenapa kau tidak bangun juga," bisik Zian pilu, membuat Viona yang setia berdiri di sisi yang lain ranjang tempat Luna berbaring.


Viona terus diam sambil meneteskan air matanya.Wanita itu menangis dalam pelukkan Nathan. Nathan menatap Zian dengan tatapan tak terbaca. Sepanjang ia mengenal Zian. Nathan tidak pernah melihat sosok dingin itu terlihat sedih apalagi menangis seperti ini. Dan situasi Zian saat ini mengingatkan Nathan pada insiden yang terjadi beberapa tahun yang lalu.


Zian yang selama ini di kenal dengan Ambisinya yang besar dalam mendapatkan apapun yang ia inginkan begitu kuat, namun penilaian itu hancur saat orang yang dicintainya dalam keadaan tak berdaya. sosok cantik tersebut adalah kelemahannya. Leonil Luna.


"Jika saja aku tau sejak awal. Pasti aku bisa lebih menjagamu lagi. Buka matamu dan jangan tidur terus seperti ini. Apa kau tidak merundukanku? Luna, aku mohon bangunlah," mohon Zian.


Tubuh lemah Luna tetal tidak memberikan reaksi sedikitpun, wajah yang selalu terlihat merona dan senyum cantik yang selalu terukir di bibirnya mendadak hilang digantikan dengan wajah pucat seperti mayat hidup.


"Zian, hentikan. Apa kau lupa dengan ucapan dokter! Dia harus istirahat! Dan jangan mengguncang tubuhnya seperti itu. Dia akan kesakitan!" nasehat Reno. Namun tidak ada respon dari Zian. Zian mengabaikan ucapan Renom


Nathan memandang Zian iba. "Lebih baik tenangkan dirimu, Luna akan baik-baik saja. Dia adalah wanita yang kuat,"


Lagi-lagi Zian tidak menjawab, ia bergerak mencondongkan tubuhnya dan mencium kening istrinya penuh sayang. Selang oksigen tersambung ke hidung Luna, membuat Zian kembali menangis. Hatinya menjerit.


BRAAK


Reno terlonjak kaget karena suara pintu yang dibuka sekasar itu. Ingin rasanya ia meneriaki orang tersebut, namun nyalinya mendadak menciut setelah tahu siapa pelakunya.


"Zian, bagaimana keadaan Luna,"


Zian menggeleng kemah. "Dia masih belum sadarkan diri, Luna dalam keadaan koma," jawabnya.


Tuan Qin langsung menghampiri putranya yang tampak rapuh itu kemudian memeluk tubuh Zian dan mencoba memenangkannya. "Jika saja aku bisa lebih menjaganya, pasti hal semacam ini tidak akan terjadi," tutur Zian


"Jangan bicara seperti itu, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Tuan Qin lembut.


"Luna keguguran.. Dan dia koma.."


Deg...


Tuan Qin dan Kalina tersentak kaget mendengar bagaimana keadaan Luna saat ini."Selama ini janin Luna bermasalah. Dokter sudah menyarankan padanya supaya dia menggugurkan janin itu namun Luna menolaknya. Dia bersikeras untuk tetap mempertahankannya, meskipun dia tau resikonya sangat besar. Dia ingin bayi itu bisa lahir dengan selamat. Namun apa yang Dokter takutkan malah menjadi kenyataan, janin itu tidak mampu bertahan," tutur Zian.


Semua terkejut setelah mendengar penjelasan Zian. Kalina langsung menangis, namun ia segera menghapusnya. Bagaimanapun ia harus terlihat kuat di depan putra sambungnya yang sedang terpuruk. "Bagaimana aku harus mengatakan pada Luna jika anak yang begitu dia impikan telah tiada,"


"Semuanya akan baik-baik saja. Kau bisa jelaskan dengan pelan-pelan pada Luna, pasti dia akan mengerti meskipun nantinya dia akan sulit menerima kenyataan pahit tersebut,"


Tuan Qin menepuk pelan punggung putranya."Kau tahu Nak, mungkin kalian berdua belum diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk memiliki seorang anak. Tapi Ayah yakin suatu saat nanti kalian akan diberi satu atau tiga. Jangan sedih, kau harus kuat di depan istrimu. Anggap ini pelajaran baru untuk kalian berdua, ini adalah ujian hidup. Kau harus yakin Luna akan bangun dan melihatmu lagi,"


"Papa benar. Mungkin benar aku memang harus lebih sabar lagi, dan lebih menjaga istriku," ucap Zian lirih.

__ADS_1


Nathan tersenyum haru melihat adegan live dibdepan matanya. Ayah dan anak yang saling menguatkan satu sama lain. Nathan seketika teringat pada ibunya yang saat ini telah tenang di surga. Nathan merindukannya, meskipun saat ini wanita itu sudah tidak bisa terlihat oleh matanya. Namun wanita itu akan selalu ada dihatinya.


-


Waktu terus berjalan. Tidak terasa satu bulan Luna terbaring koma. Zian tidak tau apa yang membuat Luna betah untuk tidur begitu lama padahal dokter mengatakan jika tidak ada yang salah dan dia dalam keadaan baik-baik saja.


"Zian, kau harus istrahat. Kau sudah berjaga seharian penuh. Pergilah, kami akan menunggunya." Seru Viona yang baru saja tiba dan melihat Zian yang sedang duduk termenung sambil menggenggam tangan Luna.


"Sebentar lagi." Kata Zian dingin tanpa memandang kakak iparnya tersebut.


'Sifat itu kembali lagi dalam dirinya semenjak kejadian itu.' Batin Nathan sambil menatap Zian iba.


"Zian, apakah harus setiap hari kami memberi taumu untuk istrahat? Kau juga harus memikirkan dirimu. Luna akan sedih melihatmu seperti ini!!" Kata Luna berusaha tenang dan sabar menghadapi sikap keras kepala adik iparnya tersebut.


"Kau tidak perlu khawatirkan aku." Kata Zian yang masih tak bergeming di tempatnya.


Cukup sudah kesabaran Luna menghadapi Zian selama satu bulan ini, dan kesabarannya telah sampai pada puncaknya. Dengan geram Viona menarik bahu Zian dan memaksa pria itu untuk berdiri sehingga kini tepat menghadap wanita itu. Viona mencengram kerah kemeja Zian dan menatapnya tajam .


"Viona!" tegur Nathan melihat sikap brutal istrinya.


"Berhenti bersikap menyebalkan brengsek! Berhenti bersikap seolah-olah adikku telah tiada!" ucap Viona penuh amarah yang kemudian dia luapkan pada Zian yang hanya menatapnya kosong. Semakin marah Viona padanya, semakin memuncak rasa ingin memukul seseorang selama beberapa bulan sulit belakangan ini semakin sulit untuk di kendalikan.


Viona benar-benar tidak tau harus berbuat apa pada Zian yang begitu keras kepala. Ia tau semuanya adalah musibah yang datang pada mereka, ia cukup tau dengan jelas bila Zian begitu menyayangi adiknya. Tapi Viona begitu kesal dengan sikap pria itu yang menyiksa dirinya sendiri di hadapan adiknya yang kini terbaring koma sudah selama satu bulan ini. Dan semenjak kejadian itu, tawa dalam kedua keluarga benar-benar berakhir.


Zian menyentak tangan Viona dan melepas cengkraman tangan Viona pada kerah bajunya. Sesak, sudah sesak semenjak satu blan belakangan ini.


"Jika kau terus mencengkramku begitu kuat, kau bisa membunuhku. Aku tak berniat untuk mati di tangan siapapun, karena aku harus menunggu Luna bangun." Kata Zian dingin tanpa ada emosi ataupun intonasi dalam setiap kata yang di ucapkannya.


"Berapa kali lagi harus aku katakan padamu, berhenti bertingkah menyebalkan Zian Qin. Berhenti bersikap seolah-olah jika Luna telah tiada, berhenti bertingkah seolah-olah kaulah yang paling tersiksa. Kau fikir kau saja yang menyayanginya? Kau fikir hanya kau saja yang merasa kehilangan atas apa yang menimpanya. Jika kau tak mau mendengar dan menurutiku saat ini, maka akan ku pastikan Viona di pindahkan ke negara lain tanpa sepengetahuanmu. Akan ku pastikan kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi." Ucap Viona sungguh-sungguh menatap Zian marah.


Zian menatapnya tak suka dengan kata-kata kakak iparnya itu. "Apa maksudnya ancaman itu? Coba saja berani sentuh Luna, aku akan membunuh siapapun itu termasuk dirimu." Zian mengepalkan tanganku kuat-kuat dan memberikan tatapan membunuh pada Viona. Bahkan dia tidak peduli jika nantinya akan berhadapan dengan Nathan. Saat ini hatinya benar-benar kalut.


Nathan mendesah berat. "Viona hanya mencoba untuk menggertakmu. Mengertilah, kau juga harus istrahat Zian. Luna tidak akan bangun jika kau seperti ini, dan jika Luna mengetahui kau kacau selama satu bulan terakhir ini, apa menurutmu ia akan baik-baik saja? Luna mungkin akan mengutuk dan menyalahkan dirinya sendiri karena sikapmu saat ini." Nasehat Nathan pada Zian yang membulatkan mata lebar-lebar mendengar nasehat Nathan.


Zian menggeleng. Ia tidak ingin jika hal itu sampai terjadi. Itu tak boleh terjadi. Zian menggulirkan pandangannya dan menatap Sendu seorang wanita yang terbaring dengan selang infus dan alat bantu pernafasan di ranjang itu. Seseorang yang tak menampakan lagi coklat indahnya selama 1 bulan ini. Seseorang yang membuat dunia ku kosong dengan menghilangnya dia.


"Kembalilah, Luna." Kata Zian menatap sendu istrinya tersebut. Zian kemudian mengambil jasnya yang tersampir di kursi tempat ia duduk menemani Sakura tadi dan berjalan keluar.


"Tolong jaga Luna sampai aku kembali." Kata Zian begitu sampai di dekat pintu.


"Tak perlu kau minta. Dia adikku kalau kau lupa." Kata Viona sarkastik pada Zian.


Nathan memperhatikan Zian yang saat ini melihat padanya. Lingkaran hitam di bawah mata, rambut acak-acakan dan pakaian yang jauh dari kata rapi, membuat dia merasa iba pada. Nathan menganggukan kepalanya kemudian Zian berjalan keluar dengan perlahan dalam diam.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2