Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
Season 2 (Bab 99) "Merindukan Papa"


__ADS_3


Riders tercinta, jangan lupa baca juga ya new novel Author yang judulnya DIPAKSA MENIKAHI TUAN MUDA CACAT tinggalkan like koment juga. 🙏🙏🤗


-


Malam sudah semakin larut namun Luna masih belum juga bisa menutup matanya. Berkali-kali Luna mencoba untuk tidur namun selalu tidak bisa. Sedangkan Zian sudah tidur sejak beberapa jam yang lalu.


Pandangan Luna kemudian bergulir pada jam yang menggantung di dinding, dan waktu sudah menunjuk angka 01.00 dini hari.


Luna menyibak selimutnya dan berjalan ke arah balkon. Tangan mungilnya membuka pintu balkon dan udara dingin segera menerpa tubuhnya yang hanya terbalut gaun tidur tipis berlengan panjang.


Luna menutup matanya dan mengirup dalam-dalam udara malam yang terasa begitu sejuk menyentuh kulitnya yang seputih porselen.


Bibir tipis yang biasa mengukir senyum itu tidak mengukir apa pun. Hanya sebuah garis panjang yang datar tanpa lekungan.


Luna mengangkat wajahnya,memandang ke arah langit malam layaknya warna hitam tanpa celah.


Kemudian Luna duduk di kursi panjang yang ada di balkon kamarnya. Sekali lagi dia menengadahkan kepalanya memandang langit yang terasa kelam dibanding malam-malam sebelumnya. Tidak ada satu pun bintang yang menghiasi langit yang gelap itu dengan kecantikannya, bahkan bulan pun terasa enggan menampilkan dirinya.


Awan gelap menyelubungi langit kota Seoul malam ini. Luna menghela nafasnya perlahan sambil mencengkeram gaun tidur ungu yang dia pakai tepat di depan jantungnya, dia mencoba mengurangi beban yang ada di dadanya itu. Terasa begitu sesak di dalam sana, terasa begitu sedih di dalam sana, dan terasa begitu rapuh di dalam sana.


Kembali Luna menengadahkan kepalanya ke langit, "Malam ini terasa kelam sekali," Ia menghela nafas berat, "Aku rindu papa, papa apa kabarmu di sana?" lirih Luna dengan suara parau.


Meskipun bertahun-tahun telah berlalu, jauh di dalam lubuk hatinya Luna masih belum percaya jika ayahnya telah pergi dari dunia ini dan meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Dan yang membuat Luna terkadang hilang akal adalah kematian ayahnya yang begitu tragis. Ya, tuan Leonil meninggal di tangan putra kandungnya sendiri yang pastinya adalah Dean.


Meskipun tuan Leonil bukanlah ayah kandung Luna, setidaknya dari dialah dia menemukan kasih sayang dan arti kehangatan seorang ayah.


Tuan Leonil selalu menyayangi Luna layaknya putri kandungnya sendiri. Tuan Leonil dan istrinya tidak pernah membeda-bedakan antara dirinya dan Dean yang merupakan anak kandung mereka. Dan karena itulah Luna begitu kehilangan dan hancur ketika tuan Leonil meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


Buru-buru Luna menghapus air matanya saat menyadari kedatangan seseorang. Wanita itu menoleh dan mendapati Zian berjalan menghampirinya.


"Apa yang kau lakukan di sini, Lun? Ini masih malam tapi kenapa kau tidak tidur?" tanya Zian.


"Aku tidak bisa tidur, Oppa. Tiba-tiba aku merindukan, papa." Ucapnya parau. "Andaikan papa masih ada, pasti aku tidak akan merasa seburuk ini," ujarnya.


Zian meraih bahu Luna dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Aku tau apa yang kau rasakan, Sayang. Tapi papa tidak akan tenang jika melihat putrinya terus-terusan larut dalam kesedihan seperti ini." Zian mengusap punggung Luna dengan gerakan naik-turun. Dagunya bersandar pada kepala coklatnya.


Luna mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke dalam manik abu-abu milik Zian. Zian tersenyum kemudian mengecup singkat bibir ranum Luna. "Sebaiknya kita masuk ke dalam. Udara di sini sangat dingin, kau bisa sakit apalagi dengan pakaian setipis ini," tuturnya.

__ADS_1


Luna menggeleng. "Tapi gendong," renggeknya sambil merentangkan kedua tangannya. Zian mendengus geli. Kemudian Zian menggendong Luna bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Kedua tangan Luna mengalung pada Zian. Bibirnya membentuk seringai nakal dan menggoda. "Oppa, bukankah udaranya sangat dingin. Bagaimana kalau kita melakukan sesuatu yang membuat kita bisa saling menghangatkan." Usul Luna sambil menggerlingkan matanya.


"Tapi tidak malam ini, Sayang. Aku benar-benar lelah," jawabnya. "Sebaiknya sekarang kita tidur," dan Luna hanya bisa mengangguk pasrah.


"Huft, baiklah." Jawabnya setengah kecewa."Padahal aku sangat ingin sekali," lanjutnya menggerutu.


Meskipun mendengarnya, tapi Zian pura-pura tidak mendengar apapun. Dan Zian hanya bisa mendengus geli mendengar gerutuan Luna karena keinginannya itu tidak di turuti.


-


"LEE SOOJIN, APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMARKU!!"


Derby terkejut bukan main ketika membuka matanya dan mendapati Soojin berbaring disampingnya. Alih-alih menjawab, Soojin malah menautkan bibirnya pada bibir Derby.


Wanita itu menyeringai. "Apa kau lupa seberapa liarnya kau semalam, Derby Qin."


"Apa maksudmu?" Derby menatap Soojin tajam.


"Aku sudah merekamnya dan kau bisa melihatnya sendiri tanpa harus aku menjelaskannya." Soojin meraih sprei yang kemudian dia gunakan untuk membungkus tubuh polosnya.


Derby membelalakkan matanya. Dia nyaris berteriak melihat apa yang semalam dia lakukan bersama Soojin semalam."Bagaimana? Kau masih ingin mengelak dan tidak mengakuinya?"


"Apa yang kau lakukan semalam, Lee Soojin? Pasti ini jebakanmu kan?"


Soojin menyentak tangan Derby dengan kasar dan menatapnya tajam. "Jangan sembarangan menuduh kau, Derby Qin!! Jelas-jelas aku yang paling di rugikan karena perbuatanmu itu. Lagipula kenapa kau harus marah, bukankah kita sama-sama di untungkan. Sudahlah, aku masih ada urusan. Sebaiknya aku pergi sekarang," Soojin memakai kembali pakaiannya dan pergi begitu saja.


Derby mendesah berat. Memang sangat sulit jika sudah berurusan dengan wanita ular seperti Soojin. Tak ingin terlalu memikirkannya. Derby beranjak dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


Dia ada pertemuan penting tiga puluh menit lagi dengan salah satu koleganya yang berasal dari Dubai. Dan Derby tidak ingin membuat koleganya sampai menunggu.


-


Burung-burung berkicauan menyambut datangnya hari baru. Matahari mulai menampakan jati dirinya di langit, cahayanya yang agung telah membumbung tinggi menuju cakrawala.


Menyalurkan sinarnya yang hangat pada sepasang insan yang masih terlelap itu melalui sela-sela jendela kamarnya yang tertutup tirai trasapan.


Membuat sosok pria berambut blode membalikkan badan-nya, membelakangi sang mentari. Dibuka perlahan mata abu-abunya, melihat ke arah sosok wanita yang sedang tertidur pulas dihadapannya, tak terganggu akan sinar matahari yang tengah menerangi ruangan itu.

__ADS_1


Pria itu tersenyum, lantas kembali memejamkan mata-nya, kali ini sambil memeluk tubuh ramping wanitanya dan merengkuhnya dalam kehangatan. "Oppa, apa kau sudah bangun?" kelopak mata itu terbuka perlahan dan memperlihatkan sepasang mutiara coklat yang menawan.


"Pagi, Sayang." Sapa Zian kemudian mengecup singkat bibir Luna.


"Pagi juga, Oppa. Jam berapa ini?" tanya Luna tanpa merubah posisinya.


"Hn, aku rasa baru jam 6. Memangnya kenapa, Sayang?"


Luna menggeleng. "Aku ada janji dengan Vio eonni dan Cherly. Rencananya hari ini kami bertiga mau pergi berbelanja bersama." Jawabnya.


Zian meraih dompetnya yang dia letakkan di atas nakas samping tempat tidurnya. Zian membuat sebuah Platinum Card yang kemudian dia berikan pada Luna. "Gunakan ini, beli apapun yang kau inginkan." Luna mendorong Card itu sambil menggelengkan kepala.


"Tidak perlu, Oppa. Uangku lebih dari cukup untuk berbelanja,"


Zian meletakkan Card itu di atas telapak tangan Luna. "Aku tidak suka penolakan, Nyonya Qin!!Lagipula uangku tidak akan habis jika hanya kau pakai untuk membeli beberapa helai pakaian tas, sepatu dan perhiasan. Belikan aku beberapa helai kemeja lengan panjang. Itung-itung untuk menggantikan kemejaku yang kau buang hari itu," Luna langsung memerah dan menunduk malu. Wanita itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ahh, memalukan sekali. Itu kan sudah lama sekali, tapi kenapa harus di bahas lagi, Oppa." Luna menutupi wajahnya dengan kesepuluh jarinya. Dia benar-benar malu.


"Sudahlah, aku mandi dulu," Luna segera melesat dan pergi ke kamar mandi. Sedangkan Zian hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya.


Perhatian Zian teralihkan oleh dering pada ponselnya. Zian beranjak dari posisi berbaringnya dan mendapati nama Reno menghiasi layar ponselnya yang menyala terang.


Mungkin ada hal penting yang ingin Reno sampaikan. Zian segera menerima panggilan itu. "Hn, ada apa kau menghubungiku pagi buta begini?" tanyanya to the poin.


"Apa kau sudah melihat indeks saham hari ini? Saham perusahaan Derby kembali mengalami penurunan drastis. Aku dengar ada hacker yang menyerang keamanan perusahaannya dan mencuri data-data penting perusahaannya."


Zian memicingkan matanya. "Benarkah?" Kemudian Zian membuka laptopnya dan memeriksanya sendiri. Ternyata benar apa yang Reno sampaikan. Pria itu menyeringai dingin.


"Kau benar, bagus sekali. Hanya tinggal satu langkah lagi semua akan kembali padaku. Hari ini kau tidak perlu ke kantor, aku ingin kau menyelidiki sesuatu. Aku akan mengirimkan rinciannya padamu," kemudian Zian memutuskan sambungan telfonnya.


Pria itu bangkit dari posisinya saat mendengar decitan suara pintu kamar mandi di buka dan terlihat sosok Luna keluar dari dalam sana hanya berbalut handuk yang menutupi setengah tubuhnya.


"Oppa, sebaiknya kau mandi dulu. Aku akan menyiapkan kopi dan Omelet untuk sarapan,"


Zian menahan pergelangan tangan Luna dan menggeleng. "Tidak perlu, aku tidak ingin kau sampai terluka lagi karena terlalu memaksakan diri. Sebaiknya kita sarapan di luar saja, bilang pada Vio Nunna dan Cherly jika kau menunggu di Playfood cafe," tutur Zian. Luna tersenyum kemudian mengangguk.


"Baiklah,"


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2