Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 52 "Trio Kembali Beraksi"


__ADS_3

Jangan lupa mampir di new novel otor ya para pembaca yang budiman Istri Kontrak CEO Dingin. Jangan lupa tinggalkan like dan koment setelah membaca 🙏🙏🙏🙏


-


Sudah satu bulan Leo merasakan ketenangan hidup karna tidak ada gangguan dari trio pembuat onar. Selama satu bulan belakangan ini, Leo bisa tidur dengan nyenyak dan ia juga tidak perlu berteriak-teriak seperti orang kesetanan karna ulah ketiga pemuda itu. Malam ini Leo tengah menikmati waktu luangnya untuk bertemu dengan Cherly guna membahas mengenai rencana mereka untuk memisahkan Nathan dan Viona.


Saat ini Cherly dan Leo sedang berada di salah satu cafe di kota Seoul, mereka bertemu di sana selepas Leo pulang dari kantornyal "Tentang rencana kita, menurutmu bagaimana?"


"Aku rasa tidak terlalu buruk, dan aku peringatkan padamu jangan sampai melukai Viona sedikit pun. Jika kau melanggar perjanjian kita, aku tidak akan segan-segan untuk membunuh mantan kekasihmu itu."


"Itu bukan masalah, asalkan yang kita lakukan saling menguntungkan. Toh jika kita membuat drama ini sehalus mungkin tidak akan ada yang terluka kecuali batin mereka. Aku akan membuat Nathan Oppa membenci istrinya sendiri dengan begitu pasti dia akan membuang wanita itu. Itulah saat yang paling tepat kau datang sebagai seorang pahlawan, kau berpura-pura prihatin dan merasa sedih atas apa yang menimpanya. Pasti wanita itu akan luluh padamu dan akhirnya kembali kedalam pelukkanmu, dan aku pun akan melakukan tindakkan yang sama."


"Ternyata kau cerdik juga ya, tidak di sangka selain licik kau juga pintar dalam hal semacam ini."


"Kau meremehkanku? Aku lebih cerdik dan licik dari yang kau tau, Tuan Aedinata!! Aku rasa urusan kita sudah selesai, baiklah... aku pergi sekarang." Ucap Cherly seraya bangkit dari duduknya.


Tapi tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seseorang hingga membuatnya dan orang itu sama-sama terhempas kelantai


"Yakk!! Di mana matamu saat berjalan? Apa kau tidak melihat jika ada aku didepanmu?" amuk Cherly pada orang itu yang ternyata juga perempuan.


"Enak saja menyalahkanku, jelas-jelas kau yang salah. Lagi pula di mana ada orang jalan pakai mata? Di mana-mana orang jalan itu pakai kaki, cantik-cantik tapi bego." Orang itu memaki Cherly habis-habisan dan perdebatan mereka kini menjadi pusat perhatian semua pengunjung cafe.


"YAKK!! Kau sudah bosan hidup ya? Apa kau tidak tau siapa aku ini?"


"Tau." gadis itu menjawab cepat.


"Kau adalah wanita busuk yang suka merusak rumah tangga orang lain. Aku mendengar semuanya yang kau bicarakan dengan pria bermata itu bahkan aku juga sudah merekamnya." gadis itu menunjukkan sebuah rekaman pada Cherly. "Dan aku berencana untuk menyerahkan pada laki-laki bernama Nathan itu, kebetulan keluargaku mengenalnya." lanjutnya dengan senyum penuh kemenangan. "Kecuali jika kau mau melakukan negosiasi denganku."


"Jangan main-main denganku, cepat berikan rekaman itu padaku." Cherly mengulurkan tangannya pada gadis didepannya.


"Tidak mau." Dengan cepat, gadis itu menyembunyikan rekaman tersebut didalam tasnya. "Jika kau menginginkan rekaman ini kau harus membayarnya dengan harga yang sangat mahal, tapi jika kau tidak mau, aku bisa menjualnya pada Tuan Nathan. Dia pasti mau membayar dengan harga yang sangat mahal."


"Berapa uang yang kau inginkan?" sahut seseorang dari arah belakang. "Aku yang akan membayarnya."


"Kau yakin?" Leo mengangguk. "Tidak banyak kok, hanya 1 milyar won." Jawab gadis itu menyeringai.


"APA!! KAU SUDAH GILA?" teriak Cherly dengan suara meninggi.


Gadis itu mengangkat bahunya acuh "Baiklah jika tidak mau, aku tidak akan memaksa. Aku akan membawa rekaman ini pada Tuan Nathan saja, dia kan sangat kaya raya dan memiliki banyak uang. Uang segitu aku rasa bukan masalah untuknya." Gadis itu beranjak dan hendak pergi namun segera ditahan oleh Leo.


"Oke aku akan memberikan uang itu padamu. Ini cek yang sudah aku tandatangani kau bisa menulis sendiri nominalnya. Dan sekarang berikan rekaman itu padaku," gadis itu tersenyum lebar dan memberikan rekaman tersebut pada Leo.


Tanpa membuang waktu, gadis itu segera pergi dan meninggalkan mereka berdua. Gadis itu melambaikan tangannya seraya berteriak. "Hyung, Nunna terimakasih atas bonusnya. Tapi sayangnya rekaman yang asli masih ada padaku. Dan untuk uangnya sekali lagi." Ujar gadis itu yang ternyata adalah Frans yang menyamar.


Di sana juga ada Satya dan Rio yang melambaikan tangannya pada mereka berdua sambil tersenyum penuh kemenangan.


Mata Leo sontak membelalak, buru-buru ia memutar rekaman tersebut. Bukan percakapannya dengan Cherly melainkan nyanyian konyol ketiga pemuda itu. Leo benar-benar naik darah di buatnya. Kedua tangannya terkepal kual


"BOCAH SETAN! KEMBALIKAN UANGKU."


-

__ADS_1


"KKYYYAAA!!! Sekarang kita kaya raya," seru Rio histeris.


Ketiga pemuda itu baru saja ketiban durian runtuh setelah mengelabuhi Leo dan Cherly. Bagaimana tidak, mereka mendapatkan uang secara cuma-cuma dan jumlahnya tidak main-main. 1 Milyar Won, tentu itu adalah jumlah yang sangat fantastis.


Kamar ketiga pemuda itu di penuhi dengan barang-barang mewah dengan harga selagit. Mulai dari ponsel terbaru yang super canggih sampai dalaman pun ada. Dan sedikitnya 300 juta won yang sudah mereka habiskan untuk berbelanja dan hura-hura.


"Paman, lalu sisa uangnya kita gunakan untuk apa?" Rio menghentikan kegiatan menghambur-hamburkan uang-uang itu dan menatap bergantian kedua paman kecilnya dengan pandangan bertanya.


Keduanya mengangkat bahu. "Entah, kita juga tidak tau." Jawab keduanya dengan kompak.


"Bagaimana kalau kita serahkan saja pada paman Nathan atau paman Henry. Mungkin ditangan mereka uang-uang ini bisa berguna," usul Rio.


"Aku tidak setujum," Satya menyahut cepat. "Kau sudah bosan hidup ya? Bisa-bisa Nathan hyung menggantung kita bertiga hidup-hidup. Kau seperti tidak mengenal dia saja. Lebih baik uang-uang ini kita simpan untuk kita sendiri saja. Lumayan untuk menyewa kucing-kucing liar. Kan kita bisa bermain trio, dan jangan lupa kita membutuhkan segudang pengaman sebagai stok. Kita tidak mungkin tidak menggunakan pengaman saat melakukannya bukan," lanjutnya menuturkan.


Rio dan Frans saling bertukar pandang kemudian berseru kencang. "Setuju!!"


Dan sementara itu....


Di tempat dan lokasi berbeda. Leo harus menerima amukan ayahnya karna kebodohannya. Mereka baru saja kehilangan uang yang sangat besar karna ulah tiga bocah ajaib yang tidak bisa diragukan kenakalannya. Derry benar-benar tak habis fikir dengan putranya itu, bagaimana bisa dia begitu bodoh sehingga mudah dikibuli oleh mereka bertiga.


"CUKUP AYAH!!" bentak Leo marah. "Berhenti menyalahkanku, kau fikir dirimu itu paling hebat? Lalu bagaimana denganmu ? Mana hasilnya, bukankah sebelumnya kau sesumbar bisa menangani mereka bertiga? Tapi apa? Orang-orang yang kau sewa malah masuk rumah sakit jiwa!!"


Ya itu benar... Orang-orang yang Derry kirim untuk menghabisi ketiga pemuda itu malah dikabarkan masuk rumah sakit jiwa semua. Derry tidak tau apa yang sudah mereka lakukan pada orang-orangnya sampai-sampai mereka bisa mengalami depresi dan gangguah mental berat.


"Ayah tidak mau tau, pokoknya kau harus mendapatkan kembali uang-uang itu dalam waktu dekat. Perusahaan kita sedang dalam masalah dan kau dengan bodohnya menyerahkan uang sebanyak itu pada bocah-bocah Iblis itu secara cuma-cuma. Jika tidak bisa maka jual saja rumahmu ini," sontak Leo mengangkat wajahnya dan menatap sang Ayah tak percaya. "Ayah pergi dulu."


Leo bangkit dari duduknya dan menghancurkan benda apapun yang ada disekelilingnya. Leo benar-benar marah dan diselimuti emosi. Dia bersumpah akan membalas mereka semua, Leo tidak akan melepaskannya.


"Nathan Lu, tunggu saja. Aku pasti akan menghancurkanmu!!"


-


Bima yang notbainnya adalah maniak Bulgogi dan Ramyeon akhirnya menyelesaikan potongan daging terakhir kalinya.


Tanpa rasa bersalah sedikit pun karna sudah membuat Nathan mengeluarkan banyak uang hanya untuk membayar semua makanannya. Bima menunjukkan cengiran khasnya sambil mengucapkan terimakasih pada sahabat karibnya itu yang bersedia mentraktir dirinya.


Tanpa peduli tatapan tajam Nathan yang serasa menusuk punggungnya, Bima berjalan keluar meninggalkan cafe sembari mengusap perutnya yang sedikit membuncit akibat kekenyangan meninggalkan Natha yang tengah membayar makan siang mereka.


Dengan wajah masam terlampau kesal. Nathan meninggalkan cafe tersebut. Jika saja Nathan tidak memandang Bima sebagai sahabat terbaiknya, pasti dia sudah melemparkan pria jangkung itu keluar cafe sejak beberapa waktu yang lalu.


Seakan tuli, Nathan menghiraukan teriakan Bima yang sejak tadi terus memanggilnya. "Yakk!! Rusa kutub, kenapa kau meninggalkanku? Dan apa-apaan ini? Kau mengacuhkanku, eo?" tanya Bima ketika sudah berjalan sejajar dengan Nathan.


Tidak ada jawaban dari Nathan, laki-laki itu hanya diam seraya menatap Bima tajam. "Ayolah, Sobat. Jangan seperti ini. Kau tau sendiri bukan, jika aku tidak bisa mengontrol nafsu makanku saat sudah berhadapan dengan Bulgogi dan Ramyeon."


"Pantas saja kau bodoh." ucap Nathan sedikit kesal.


Bima yang disebut bodoh oleh Natban terlihat kesal. Ia benar-benar tidak terima kalau dibilang seperti itu, meskipun kadang-kadang ia merasa sedikit lambat dalam hal berfikir. "Jangan sebut aku bodoh, hanya saja Tuhan tidak memberiku otak jenius sepertimu." bantah Bima seraya mencerutkan bibirnya.


"Heeehhh!! Jadi kau mengakui kalau kau itu memang bodoh." ujar Nathan dengan seringai tipis yang terpatri dibibirnyal "Dan berhentilah memasang wajah seperti itu, karna itu malah melihatmu terlihat semakin bodoh."


"Yakkk!!!" teriak Bima memekik.

__ADS_1


Rasanya Bima ingin sekali menelan Nathan hidup-hidup. Ia tidak tau kenapa Tuhan harus mempertemukannya dengan orang seperti Nathan yang memiliki sifat sedingin kutub utara, arogan dan bermulut tajam. Dari sekian banyak orang yang mencoba untuk menjalin sebuah persahabatan dengan Natha, hanya Bima satu-satunya yang dapat bertahan dengan sikap dinginnya.


Meskipun kata-katanya sering kali membuatnya kesal dan emosi, namun Bima tetap tidak bisa meninggalkannya. Ia merasa nyaman bersahabat dengan Nathan, dan sikap mereka yang saling bertolak belakang justru membuat persahabatan mereka saling melengkapi.


Bagi Nathan, Bima bukan hanya sekedar sahabat saja. Baginya Bima adalah saudara, seberapa menyebalkannya laki-laki jangkung itu. Namun Bima tetaplah sahabat Nathan yang paling berharga, dan begitu pula sebaliknya.


"Nathan. Aku dengar dari Henry hyung kau tengah mempersiapkan sebuah kejutan besar untuk, Derry Ardinata. Memangnya rencana apa yang kau miliki untuk bajing** tua itu? Aku sangatlah penasaran, bisakah kau memberitauku tentang rencana itu?"


Nathan menggeleng dan menyela cepat. "Tidak," jawabnya, membuat senyum antuasias di bibir Bima pudar seketika.


Tanpa menghiraukan Bima yang terlihat komat-kamit tidak jelas karna rasa kesalnya. Nathan berjalan semakin menjauh dan sosoknya kemudian menghilang dibalik pintu ruang kerjanya.


Tidak berselang lama, pintu ruangan tiba-tiba dibuka dari luar dan menampilkan sosok Bima. Raut wajahnya tidak lagi menunjukkan jika dia sedang dalam keadaan kesal. Bima berjalan tenang menghampiri Nathan yang tengah duduk santai di sofa ruang kerjanya.


"Ada apa, Nat? Aku perhatikan akhir-akhir ini kau selalu memegangi mata kirimu dan beberapa kali aku lihat kau selalu memakai kaca mata. Apa matamu bermasalah?"


"Hn, sepertinya pengaruh dari pukukan keras yang aku alami satu tahun yang yang lalu. Kau ingat bukan saat kita dikepung dan dikeroyok oleh anak buah Jonas? Saat itu mata kiriku sempat mengalami cidera parah akibat pukukan benda tumpul, tapi untungnya hal itu tidak berakibat fatal pada penglihatanku. Tapi akhir-akhir ini mata kiriku sering merasa lelah dan kadang sedikit mengabur saat melihat sesuatu, itulah kenapa aku lebih sering memakai kaca mata." Tuturnya panjang lebar.


"Kau sudah membahasnya dengan Viina? Dia adalah seorang dokter pasti dia memiliki solusi untuk masalahmu ini." Nathan mengangguk samar.


"Dia menyarankan agar aku melakukan operasi, karna menurutnya hanya itu satu-satunya cara." ujar Nathan.


"Dan kau menyetujuinya?" tanya Bima memastikan. Nathan mengangguk sebagai jawabannya.


"Mungkin dalam waktu dekat." jawabnya.


Nathan memang tidak bisa membiarkan masalah pada mata kirinya terus berlarut-larut. Ia akan segera melakukan operasi untuk mengembalikan inderanya agar kembali normal. Dan Nathan akan membahas masalahnya lebih lanjut lagi dengan Viona dan Senna.


Dering pada ponselnya mengalihkan perhatian Nathan. Nathan mengambil ponselnya dan nama Viona tertera pada layar ponselnya yang menyala terang. Tak ingin membuat wanitanya menunggu terlalu lama. Nathan segera menerima panggilan tersebut.


"Ada apa, Sayang?"


"Oppa, apa malam ini kau lembur lagi? Aku ingin makan malam bersamamu,"


"Tidak Sayang, baiklah aku akan pulang lebih awal. Kau tidak perlu memasak, kita makan malam di luar saja."


"Bukan ide buruk, ya sudah aku tutup dulu telfonnya. Miss you Oppa,"


"Aku juga merindukanmu, selalu,"


Nathan memutuskan sambungan telfonnya dan tersenyum tipis. Setelah musibah menyakitkan yang menimpa dirinya dan Viona. Kini Nathan bisa sedikit bernafas lega. Viona sudah sembuh dari keterpurukannya dan melupakan kesedihannya. Kini wanita itu bisa menjalani kembali hidupnya dengan normal. Meskipun terkadang Nathan masih merasa cemas, tapi dia mencoba untuk tetap berfikir positif.


"Sampai kapan kau akan tetap di sini? Pergi sana,"


Sontak Bima mengangkat kepalanya dan menatap Nathan tak percaya. "Kau mengusirku?" Bima menunjuk dirinya sendiri.


"Hn,"


"Yakk!! Dasar sahabat menyebalkan, baiklah aku pergi sekarang, bye." Bima berbalik badan dan pergi begitu saja. Nathan mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah sahabat jangkungnya itu.


Nathan menutup dikumentnya kemudian beranjak dari duduknya. Pandangannya kemudian bergulir pada jam yang menggantung di dinding, pukul 14. Nathan menyambar jasnya dan melenggang meninggalkan ruang kerjanya. Nathan memutuskan untuk segera pulang dan menemui Viona karna dia berjanji akan pulang lebih awal.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2