Istri Kecil MR. Arogant

Istri Kecil MR. Arogant
BAB 78 "Kebrutalan Nathan"


__ADS_3

Keesokan harinya Viona mengajak Daniel pergi jalan-jalan. Bocah itu terlihat begitu bahagia, senyum manis tak pudar sedikit pun dari wajah polosnya.


Tidak hanya mengajaknya pergi jalan-jalan saja, tapi Viona juga membelikan banyak pakaian, sepatu dan mainan untuk anak itu.


Daniel merasa senang tapi juga merasa tidak enak karna harus merepotkan Viona lagi, dan lagi. "Daniel, bagaimana dengan yang ini? Sepertinya kemeja dan celana ini cocok untukmu," Viona mengambil kemeja dan celana itu lalu menempelkan pada tubuh kecil Daniel kemudian melemparkannya pada Tao. "Ahh, itu juga bagus. Daniel kemarilah, Bibi ingin kau mencoba yang ini juga." Seru Viona begitu antusias.


"Bibi, aku rasa sudah cukup. Sudah terlalu banyak yang kau belikan untukku. Lagi pula kasihan Paman Tao, sepertinya dia sangat ketepotan membawa semua barang-barang yang kau ambil,"


"Jangan cemaskan dia, dia itu adalah pria yang sangat kuat. Jika hanya sebanyak itu dia tidak akan kerepotan. Jangankan hanya 50 helai pakaian, satu toko saja dia kuat membawanya,"


"Benarkah?"mata Daniel tampak berbinar. Viona mengangguk. "Wah, Paman Tao ternyata sangat kuat," puji Daniel sambil mengacungkan jempolnya.


"Kau ingin melihat Paman Tao melakukannya?" tanya Viona seraya melirik Tao dari ekor matanya. Wanita itu terlihat sangat puas melihat wajah terkejut Tao. "Jika kau ingin melihatnya Bibi bisa memintanya untuk melakukannya,"


Daniel menggeleng. "Tidak perlu Bibi, kasian Paman Tao. Aku tidak ingin jika dia sampai pingsan karna kelelahan,"


"Bocah saja tau, kenapa Nona Boss tidak?" sindir Tao yang langsung mendapatkan delikkan tajam dari Viona.


"Diamlah kau, Panda!!!" Tao mencerutkan bibirnya.


"Nona Boss jahat. Kalau mau balas dendam kira-kira dong,"


"Diam atau aku akan meminta supaya Nathan Oppa memecatmu," ancam Viona sambil berkacak pinggang dan menunjuk hidung Tao.


Tao menggeleng. "Jangan, kalau aku dipecat dari pekerjaanku. Lalu bagaimana aku bisa menghidupi dua kucing liarku,"


"Makanya, sebaiknya kau diam saja. Baru kali ini aku melihat ada bawahan yang begitu durhaka sama majikannya," sinis Viona dan pergi begitu saja. "Daniel, kau mau beli ice cream tidak? Bagaimana kalau kita sekarang kita makan ice cream? Bibi tau di mana kedai ice cream yang enak," usul Viona yang membuat mata Daniel berbinar. Mengingat jika ini baru pertama kalinya dirinya makan ice cream.


"Bibi, aku mau,"


"Oke, kita lets go . Tapi sebelum pergi, kita bayar dulu semua belanjaan ini," Daniel mengangguk.


Sedangkan Tao hanya bisa mendengus berat. Dengan langkah berat dia mengikuti Viona dan Daniel yang berjalan mendahuluinya. Dan apa yang Tao alami hari ini merupakan sebuah pembalasan dendam dari Viona karna dia sudah menghabiskan susu hamilnya beberapa hari yang lalu.


-


Nathan terbangun oleh suara ponselnya yang tak henti-henti berdering. Perlahan dia membuka matanya dan mendapati sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong. Sosok Viona tak lagi berbaring di sana. Jam berapa sekarang, batinnya. Diambilnya ponsel yang ia letakkan di atas nakas samping tempat tidurnya. Ternyata telepon dari Kai. Tanpa bertanya lebih lanjut pun Nathan sudah tau kenapa Kai sampai menghubunginya.


"Shit!" umpatnya sambil mencengkram kepalanya yang serasa ingin pecah. Mata kirinya kembali berdenyut nyeri.


Saat hendak keluar kamarnya, Nathan melihat pelayannya sudah berdiri di depan pintu dengan membawa baki yang berisi sarapan untuknya.


Pelayan itu membungkuk lalu berkata, "Sebelum pergi, Nyonya memberikan pesan supaya kami tidak membangunkan Anda, Tuan."


"Lalu dimana Nyonya sekarang?"


"Beliau pergi bersama pengawalnya juga anak laki-laki bernama Daniel Lee. Nyonya bilang hendak membelikan pakaian untuk anak itu,"


"Kau boleh pergi,"

__ADS_1


Pelayan itu membungkuk dan meninggalkan Nathan begitu saja. Nathan mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Viona. "Kenapa kau memerintahkan pelayan untuk tidak membangunkanku? Aku terlambat untuk meeting penti pagi ini." Cerca Nathan ditelepon.


Suara Viona yang bak sebuah lonceng langsung menyerbu pendengaran Nathan. "Aku melihat wajahmu sangat lelah dan Oppa sepertinya tidur dengan nyenyak. Oppa, sekali-kali kau harus mengistirahatkan tubuhmu, sekali saja terlambat pergi meeting tidak membunuhmu 'kan?"


Nathan mematikan ponselnya dengan perasaan sedikit kesal. Ia memijat-mijat keningnya berusaha mengingat apa yang terjadi sampai-sampai dirinya bisa tidur begitu lama. Dan Nathan mengingat semuanya.


Nathan menghela nafas. Semalam muncul kilasan penggalan-penggalan memory tentang masa lalunya, ia ingat bahwa ia bermimpi tentang kenangan masa kecilnya. Rekaman memory itu terputar di otaknya seperti sebuah pazzel.


Nathan menghidupkan mesin mobilnya, dan dalam hitungab detik mobil sport mewah yang Nathan kendarai melesat kencang meninggalkan mansion mewahnya.


.


.


Nathan sedang memeriksa file-file yang harus ia tanda tangani ketika Kai masuk ke dalam ruangannya dan memberitahu bahwa ada seseorang yang menunggunya di Lobby.


Nathan memicingkan matanya. "Siapa?"


"Saya juga tidak tau, Tuan. Yang jelas dia adalah seorang pria," jawab Kai.


Begitu keluar lift Nathan langsung disambut suara nyaring Max yang menggema di seluruh penjuru ruangan.


"Sobat...." Max langsung merentangkan kedua tangannya siap memeluk Nathan, tapi sayangnya dia segera menghindar. Sehingga yang Max peluk adalah ruang hampa.


Max mencerutkan bibirnya. Dia sudah menduga bila Nathan akan menolak untuk berpelukkan dengan dirinya. Padahal dia adalah seorang sahabat yang sangat setia, baik hati dan memberikan kehangatan sinar mentari pada hidupnya yang kelabu. Yaa, sifat Max memang bisa menggambarkan dari sinar mentari yang selalu menghangatkan dan menggembirakan.


"Pagi ini, aku tidak memberitaumu dan Bima karna ingin memberikan sebuah kejutan pada kalian berdua. Tapi sepertinya apa yang aku harapkan sangar berbeda jauh dari kenyataan, jika saja itu Bima. Pasti dia akan langsung memelukku lalu berkata hyung aku merindukanmu, lama tidak bertemu kau semakin tampan saja. Tapi sayangnya yang aku temui bukan Bima tapi kau, kau tidak berubah sedikit pun. Dingin dan bermulut tajam,"


Nathan hanya memutar matanya jengah mendengar ocehan Max yang sepanjang rel kereta.


BRAKK...!!


"HYUNG,"


Perhatian keduanya teralihkan karna kemunculan Bima yang sangat tiba-tiba. Keduanya langsung memulai dramanya. Mereka saling berpelukkan dan menangis haru, sedangkan Nathan hanya menatap keduanya dengan tatapan horrornya.


"Sebaiknya kalian berdua lanjutkan saja. Aku masih ada urisan," Nathan menyambar jasnya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Bima dan Max berdua diruangannya.


-


Hari beranjak sore. Matahari mulai tenggelam di ujung barat. Langit yang semula cerah perlahan menggelap dengan gradasi warna merah dan ungu yang mendominasi. Didepan sebuah bangunan mewah di khawasan Seoul


Seorang telah berdiri di depan gerbang mansion mewah yang di huni oleh pria yang merupakan salah satu dari empat pemimpin besar dalam organisasi Black Devil.


Orang itu memakai sebuah topi hitam, masker dan jubah panjang yang berwarna hitam pula.Jika dilihat dari dari postur tubuhnya, ia bisa diduga kalau dia adalah seorang laki-laki. Ia memegang pistol ditangan kirinya. Sebuah pedang dengan dibalik jubah panjang hitam dengan posisi menyilang di bagian belakang dengan gagang mencuat di bahu sebelah kanannya.


Pria itu tampak berjalan dengan tenang memasuki gerbang yang dijaga oleh beberapa keamanan. Para penjaga berteriak begitu melihat gerak-gerik mencurigakan. Laki-laki yang diteriaki bergerak cepat, berlari ke para penjaga yang telah bersiap dan langsung menerjang mereka, menghabisinya dengan sangat brutal.


"Siapa di sana!" teriak salah seorang pengawal.

__ADS_1


Sementara yang lain melihat ada yang tidak beres, mereka telah mencabut senjata masing-masing dan menuju tempat di mana asal keributan itu berasal.


Pria misterius yang baru datang itu berlari dan bergerak sangat cepat. Dan dalam hitungan detik saja dia sudah berada ditengah-tengah para penjaga yang berkumpul dan siap-siap menembak.


Dorr!… dorr!…


Beberapa keamanan rubuh setelah peluru dari pistol di tangan pria misterius itu menembus dada, kepala dan perut mereka. Penjaga yang lain juga tak luput dari tebasan pedang dari pria misterius itu yang bertindak secara brutal. Dalam waktu singkat, hampir semua keamanan itu sudah dirobohkan, ada yang terkena sabetan pedang dan yang lainnya terkena tembakan peluru. Dan hebatnya, semua peluru yang dia lepaskan mengenai titik vital atau mematikan seperti di jantung dan otaknya.


Seorang penjaga menyadari kalau mereka butuh bantuan, laki-laki itu segera berlari ke pos untuk membunyikan alarm tanda bahaya. Tapi naas bagi laki-laki itu, sebelum mencapai tujuan ia telah roboh terkena sebuah lemparan pisau dari jarak jauh.


Pria misterius melangkah menyusuri lorong apartemen. Ternyata, di beberapa tempat ia mendapati beberapa pengawal. Tentu dengan mudah ia menghabisi mereka, tanpa suara keributan yang bisa mengundang para penjaga lain. Dia melakukannya dengan sangat cepat.


Pria misterius itu terus melangkah hingga ia sampai di depan pintu utama. Ia melihat beberapa penjaga masih siaga di depan pintu masuk utama Mansion. Dengan sigap ia menghabisi para penjaga tersebut tanpa keributan, karena penyerangan yang ia lakukan secara tiba-tiba dan sangat cepat sehingga tak ada kesempatan bagi mereka untuk menghindarinya.


Laki-laki itu berhenti sejenak didepan pintu utama. Laki-laki misterius itu hanya bisa mendengus, ia mengamati pintu yang didepannya, pintu itu terbuat dari bahan berkualitas yang sudah pasti tidak memungkinkan untuk didobrak begitu saja.Dan selain itu, pintu itu juga dipasangi kunci kombinasi angka yang rumit serta sidik jari. Dengan kata lain, ia harus menunggu sampai penghuni itu keluar dengan sendirinya.


Laki-laki itu teringat kalau penjaga keamanan tadi memegang sebuah alarm peringatan. Dan dia sedang bertaruh dengan pikirannya sendiri, apakah alarm itu bisa sampai pada si tuan rumah? Apakah dia bisa menyelesaikan misinya dengan mulus, atau justru akan mengundang pengawal lain. Ia sudah mengambil keputusan, ia siap jika seandainya tombol alarm yang ia tekan justru memanggil para pengawal lainnya. Ia kemudian menekan tombol alarm dan menunggu yang akan terjadi, pengawal yang datang bergerombol atau penghuni apartemen yang menjadi targetnya keluar.


Sesuai harapan, targetnyalah yang keluar dan dia terlihat seperti pria lemah tanpa pengawal-pengawalnya. "Apa yang sebebarnya-" ucapan pria tegap berusia awal tiga puluh tahun itu terhenti saat sebuah mulut pistol telah menempel pada keningnya.


Kedua matanya membelalak melihat penampilan orang yang berdiri didepannya. Belum sempat melakukan sesuatu ia telah rubuh, ternyata pria berjubah panjang dan miterius itu telah menembak dahinya dan mengorok lehernya.


Pria misterius itu berlalu begitu saja tanpa peduli dengan korbannya, dari jauh ia masih mendengar teman kencan korbannya berteriak histeris melihat pria itu terkapar dalam keadaan yang sangat mengenaskan.


-


"Oppa," Viona berseru sambil melambaikan tangannya melihat kedatangan Nathan.


Viona yang sudah pergi sejak pagi tidak pulang dan memutuskan untuk melanjutkan jalan-jalannya. Dia hanya ingin membuat Daniel merasa bahagia, dan entah sudah berapa tempat yang mereka datangi hari ini. Seperti pusat perbelanjaan, wahana bermain, kedai ice cream dan masih banyak lagi.


"Hallo Paman," sapa Daniel sambil membungkukkan tubuhnya. "Paman Nathan terlihat lelah, duduklah," Nathan menepuk kepala Daniel.


"Kau bersenang-senang hari ini?" Daniel mengangguk.


"Ya sudah, sebaiknya sekarang kita pulang. Bibi Viona juga terlihat sangat lelah,"


"Baiklah Paman, aku akan satu mobil dengan Paman Tao saja. Bibi tidak keberatan bukan?"


Viona menggeleng. "Tentu saja tidak, ya sudah kita pulang sekarang," Daniel mengangguk.


Nathan menahan pergelangan tangan Viona saat wanita itu hendak melangkah pergi. Viona berbalik, posisinya dan Nathan saling berhadapan. "Ada apa, Oppa?" tanya Viona sambil menakup sisi wajah Nathan. Nathan menggeleng, pria itu tidak memberikan jawaban apa-apa dan malah membawa Viona ke dalam pelukkannya.


"Oppa, sebenarnya ada apa?" tanya Viona sedikit kebingungan.


Nathan menggeleng. "Tidak apa-apa, aku hanya merasa lelah saja. Dan biarkan aku memelukmu sebentar saja," Viona mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan Nathan. Nathan menutup matanya, sebenarnya bukan hanya tubuhnya saja yang terasa lelah tapi juga otaknya.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2