
"Shion kembali, dan dia menanyakan tentang dirimu. Dia bilang sangat merindukanmu,"
Gerakkan tangan Nathan terhenti setelah mendengar ucapan Bima. Pria itu mengangkat wajahnya dan menatap datar sahabat jangkungnya tersebut. Nathan mendesah berat. "Lalu kenapa? Apa aku harus menenuinya, terus memeluknya dan mengatakan jika aku juga merindukannya?" Nathan kembali mengoreskan tinta hitam itu pada beberapa dokumen yang belum selesai dia tanda tangani.
"Bukan begitu maksudku, ada baiknya jika kau menceritakan tentang Shion pada Viona. Katakan padanya jika kau pernah memiliki kekasih yang meninggalkanmu dan sekarang dia kembali. Jangan sampai terjadi kesalahpahaman diantara kalian karna wanita itu,"
"Untuk apa? Bukankah aku dan Shion sudah lama berakhir? Shion hanya bagian dari masa laluku dan hal itu tidak akan pernah berubah,"
Bima mendesah berat. "Nathan, kau mengenal Shion orang yang seperti apa bukan? Bagaimana jika dia tiba-tiba datang dan berusaha untuk mengacaukan rumah tanggamu dan Viona? Dia sangat marah saat aku mengatakan jika kau sudah menikah dan memiliki istri. Nathan, jujur saja aku merasa cemas. Aku takut Shion akan melakukan hal yang tidak-tidak pada Viona dan janinnya," ujar Bima panjang lebar.
Nathan terdiam mendengar penuturan Bima. Apa yang Bima katakan memang ada benarnya juga, Nathan merasa cemas.
Shion sendiri adalah mantan kekasih Nathan. Mereka menjadi sepasang kekasih ketika masih kuliah dulu. Usia Shion hanya terpaut satu tahun dari Nathan, Shion lebih tua dari Nathan. Shion adalah gadis pertama yang Nathan kencani, mereka berpacaran selama satu tahun. 7 tahun yang lalu Shion pergi meninggalkan Nathan tanpa mengatakan apa-apa, apalagi sebuah salam perpisahan. Dan sampai detik ini Nathan tidak pernah tau apa alasan Shion meninggalkan dirinya.
"Apa saja yang dia katakan padamu?"
"Tidak ada. Shion hanya mengatakan jika dia sangat merindukanmu dan dia ingin bertemu denganmu,"
"Aku akan mengurusnya, kau tidak perlu cemas. Bisakah kau tinggalkan ruanganku sekarang juga? Keberadaanmu di sini hanya mengganggu pekerjaanku," ujar Nathan tanpa menatap lawan bicaranya.
Bima mendengus kesal. Lagi-lagi dirinya diusir. Jika yang ada dihadapannya bukan Nathan, pasti Bima sudah memakinya habis-habisan. "Dasar Rusa Kutub menyebalkan, baiklah aku akan keluar sekarang." Sambil menghentakkan kakinya kesal. Sambil berkomat-kamit, Bima meninggalkan ruangan Nathan. Sedangkan bungsu Lu itu hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala.
"Dasar Bocah," desis Nathan dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
.
.
Jam dinding sudah menunjuk angka 12 siang, tapi Nathan masih belum bergeming sedikit pun dari kursi kerjanya meskipun dia tau jika ini sudah masuk dalam jam makan siang.
Mungkin Nathan akan melewatkan makan siangnya lagi mengingat jika masih banyak dokument yang belum dia tandatangani.
Tokk... Tokk...
Ketukan singkat pada pintu dan kedatangan seseorang di ruangannya mengalihkan perhatian Nathan dari tumpukkan dokumen didepannya. Sosok.Viona datang sambil menenteng sebuah kotak makan yang di bungkus kain sutra bermotif bunga. "Oppa," seru Viona seraya melangkahkan kedua kakinya secara bergantian dan berjalan menghampiri Nathan.
Nathan meletakkan pulpennya seraya bangkit dari duduknya. "Sayang, kau di sini? Kenapa tidak menelfon dulu jika kau mau datang?" sebuah pelukkan hangat dan kecupan singkat langsung menyambutnya.
"Bagaimana aku bisa menghubungimu jika ponselmu saja tidak aktif. Oya, aku membawakanmu makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" usul Viona sambil mengunci iris kanan milik Nathan.
Nathan tersenyum tipis. Jari-jari besarnya mengacak kepala coklat Viona dengan lembut. "Baiklah, Sayang." Jawabnya.
__ADS_1
Dan sepanjutnya makan siang mereka lewatkan dengan tenang. Nathan menyantap makan siangnya dengan lahap begitu pula dengan Viona. Nathan beruntung memiliki istri yang memiliki paket lengkap seperti Viona.Tidak hanya cantik dan baik hati, tapi Viona juga sangat pandai memasak.
"Oppa, bagaimana rasanya?" tanya Viona dengan begitu antusias.
"Seperti biasa, masakkanmu memang yang terbaik," Nathan tersenyum.
"Benarkah?" Viona tampak begitu antusias mendengar jawaban Nathan. Nathan mengangguk. "Sudah aku duga, masakkanku memang yang terbaik. Kekeke," Viona terkekeh setelah memuji dirinya sendiri.
"Dasar kau ini," sekali lagi Nathan mengacak rambut coklat Viona. "Astaga, kenapa cara makanmu masih seperti bocah," keluh Nathan melihat makanan yang menempel di sudut bibir Viona.
"Ah, mungkin saking lahapnya jadi belepotan,"
"Ya sudah, cepat habiskan makan siangnya. Ada hal penting yang ingin aku katakan padamu."
Viona meletakkan sumpitnya melihat raut wajah Nathan yang tiba-tiba serius. "Hal penting? Tentang apa?" tanya Viona penasaran.
"Habiskan dulu makan siangmu, kita bicara setelah ini,"
Viona mendesah berat. "Huft, baiklah,"
.
.
.
"Oh staga, ini adalah berita yang sangat liar biasa. Rasanya aku masih tidak percaya jika suamiku yang dingin dan seperti kutub ini ternyata pernah berkencan sebelumnya. Aku fikir Cherly adalah satu-satunya wanita yang pernah kau kencani, ternyata kau sudah pernah berkencan sebelumnya," ujar Viona panjang lebar.
"Kau tidak marah?" Nathan menatap Viona tak percaya.
"Untuk apa? Bukankah dia adalah bagian kecil dari masalalumu yang sudah kau lupakan? Cemburu juga tidak ada gunanya. Kau sudah tidak mencintainya lagi, jadi apa yang perlu aku cemburui?"
Nathan meraih bahu Viona dan membawa wanita itu ke dalam pelukkannya. "Terimakasih sudah mempercayaiku, Sayang. Aku berjanji, aku tidak akan mengecewakanmu." Ucap Nathan sambil menutup mata kanannya.
"Bukankah kita memang harus saling mempercayai? Aku selalu mempercayaimu, Oppa. Dan aku yakin kau tidak akan pernah mengecewakanku,"
Nathan semakin mengeratkan pelukkannya. Sungguh beruntung dirinya memiliki istri seperti Viona. Dan Nathan tidak akan pernah menodai janji suci pernikahan mereka. Nathan akan selalu menjaga hati dan kepercayaan Viona serta melindungi dirinya dari siapa pun yang hendak menyakitinya. Karna Viona bukan hanya sekedar pendamping hidup bagi Nathan, tapi dia adalah permata dalam hidupnya.
"Kau tidak kembali ke rumah sakit?"
"Senna Eonni mengomeliku dan memintaku untuk mengambil cuti lagi, jika aku masih keras kepala dia akan memecatku dan tidak akan mengijinkanku untuk bekerja lagi," Viona menekuk wajahnya. "Oppa, bagaimana jika kau bicara dengan Senna Eonni supaya dia-"
__ADS_1
"Tidak," Nathan menyela ucapan Viona. Pria itu mendesah berat. "Kali ini aku sependapat dengan Senna Nunna, kau memang harus mengambik cuti. Dan kali ini aku tidak ingin di bantah lagi!!" tegas Nathan.
Viona mencerutkan bibirnya. "Aish, kenapa kau malah ikut-ikutan Senna eonni, dasar menyebalkan, tidak berhati. Baiklah aku mau ngambek dulu," Viona mempoutkan bibirnya dan membuang muka ke arah lain.
Melihat Viona yang begitu menggemaskan membuat Nathan tidak tahan untuk tudak mencium bibirnya. Nathan menakup wajah Viona dan langsung menyergab bibir ranumnya. Tidak ada penolakkan dari Viona, wanita itu justru terlihat menikmati ciuman Nathan.Dan Nathan selalu memiliki cara ampuh untuk menghadapi istrinya yang sedang ngambek dan merajuk ringan seperti tadi.
"Tetap di sini, aku akan menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat. Kita pulang sama-sama," ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Viona.
-
Bukan Rio, Frans dan Satya namanya jika tidak membuat onar dan membuat orang lain emosi. Hari ini giliran Dora yang menjadi korban kejahilan mereka. Rio berperan sebagai anak culun yang selalu mengaku-ngaku sebagai anak yang Dora buang.
"Ibu, aku datang. Aku merindukan Ibu," seru Rio dan langsung memeluk Dora.
"Yakk!! Apa yang kau lakukan, berhenti memelukku karna aku bukan Ibumu!!
"Apa yang Ibu katakan? Aku adalah anakmu tapi kenapa Ibu tidak mau mengakuiku, hiks. Memangnya apa salahku pada Ibu, hiks. Kenapa Ibu tidak mau mengakuiku? Huaaa...."
Tiba-tiba Rio menjatuhkan diri pada lantai sambil menangis sejadi-jadinya. Dan kini mereka menjadi pusat perhatian, semua orang saling berbisik-bisik membicarakan Dora. Ada yang menyebutnya sebagai wanita jahat dan tak berhati. "Hiks, pasti Ibu malu memiliki anak sepertiku karna aku ini jelek dan cupu. Tapi bagaimana pun wujudku aku adalah anak Ibu, darah daging Ibu."
"Aku pasti akan mengakuimu, tapi masalahnya kau memang bukan anakku!" tegas Dora yang mulai kehilangan kesabarannya.
"Ada apa ini?" tiba-tiba datang seorang kakek tua yang menghampiri mereka. Kakek tua itu sebenarnya adalah Satya yang sedang menyamar. "Hei, Nak. Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau duduk di bawah?"
"Hiks, aku sedang meratapi nasibku yang malang ini, Kek. Semua orang begitu jahat padaku karna aku ini jelek, bertompel dan cupu. Aku sering di sebut sebagai anak Alien yang buruk rupa. Apa aku seburuk itu, Kek? Sampai-sampai Ibuku sendiri tidak mau mengakuiku, hiks... Aku sangat sedih, huaaa."
"Apa benar itu, Nyonya? Kau mengabaikan dan menelantarkan anak kandungmu sendiri? Astaga kenapa kau begitu jahat? Sebagai seorang Ibu tidak seharusnya kau mencampakkannya hanya karna dia jelek dan cupu," Satya memarahi Dora habis-habisan sambil sesekali mendorong keningnya hingga kepalanya terhuyung kebelakang. "Kau seharusnya bisa lebih bertanggung jawab sebagai seorang Ibu. Seharusnya kau itu menyayanginya bukan malah menelantarkannya!!"
"Yakk!! Pak tua, sebenarnya kau siapa dan kenapa kau malah ikut campur. Aku memang bukan Ibunya, dia itu penipu,"
"Hei Nyonya, di mana hati nuranimu sebagai seorang Ibu? Bagaimana bisa kau menelantarkannya di saat dia membutuhkanmu di sisinya."
"Benar, kau sangat jahat. Wanita sepertimu tidak seharusnya memiliki anak,"
"Aku sebagai wanita ikut merasa malu karna kelakuan burukmu!!"
"Yakk!! Kenapa kalian semua malah mengadiku," amuk Dora pada semua pengunjung Cafe yang ikut mengomentarinya.
"Ibu, ada apa ini?"
"Shion?"
__ADS_1
-
Bersambung.