
"PAMAN!!!"
Tubuh pria itu terhuyung ke belakang karna terjangan Viona yang sangat tiba-tiba. "Setelah berabad-abad Paman terdampar di Eropa akhirnya hari ini kembali juga ke Asia. Paman, aku sangat merindukan Paman," Viona menutup kedua matanya begitu juga dengan pria itu.
"Paman juga merindukanmu... gadis kecilmu," balas pria yang dipanggil paman oleh Viona sambil mengeratkan pelukkannya.
Sungguh betapa dia sangat merindukan wanita muda dalam pelukkannya ini. Sudah lebih dari 6 tahun mereka tidak bertemu dan akhirnya dia bisa memeluknya lagi.
Viona melepaskan pelukannya. "Paman, ada yang ingin aku kenalkan padamu." Viona menghampiri Nathan dan membawa suaminya itu kehadapan pamannya. "Paman, perkenalkan ini Nathan Oppa suamiku. Oppa, perkenalkan ini Hans William, dia adalah Paman durhakaku karna sudah menelantarkanku selama bertahun-tahun dan membiarkan dirinya terdampar di Eropa tanpa ingat kampung halamannya. Dia adik Ayah dan satu-satunya keluargaku yang tersisa," ujar Viona panjang lebar.
Glukk...
Susah payah Hans menelan salivanya saat melihat tatapan Nathan yang begitu tajam dan mengerikan. Meskipun hanya melalui mata kanannya, tapi itu lebih dari cukup untuk membuat Hans seperti berada di dunia lain. Hidup selama lebih dari 40 tahun, ini pertama kalinya Hans bertemu dengan orang yang memiliki tatapan seperti Iblis. Rasanya dia seperti sedang mengikuti acara uji nyali.
"Oppa, jangan menatapnya seperti itu. Kau membuat Paman Hans takut," tegur Viona sedikit terkekeh. "Paman, maaf ya. Suamiku memang seperti ini orangnya." Bisik Viona.
Nathan mengulurkan tangannya yang kemudian di sambut oleh Hans. "Aku Nathan Lu, senang bertemu denganmu,"
"Ya Tuhan, kau Nathan Lu yang itu? Maksudnya, bisnisman muda yang sedang menjadi perbincangan hangat karna kesuksesannya diusia muda?" Hans menatap Nathan tak percaya.
Viona segera memeluk lengan Nathan yang tertutup kain hitam kemejanya itu sambil memasang wajah angkuhnya. "Iya dong, bukankah aku sangat hebat Paman, karna bisa meluluhkan hati CEO muda nan tampan tapi terkenal dingin dan arogan ini," Viona membanggakan diri. Sedangkan Nathan hanya bisa mendengus seraya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya.
"Sebaiknya kita pulang sekarang. Kasihan Pamanmu, pasti dia lelah setelah menempuh perjalanan jauh," kata Nathan dingin.
"Oppa benar. Baiklah kita pulang sekarang. Paman, ayo."
.
.
.
"Taooo, apa yang kau lakukan? Kau kemanakan susu hamilku?"
Baru saja tiba di rumah tapi kegaduhan langsung terjadi. Viona mengeluarkan suara lumba-lumbanya setelah menyadari jika susu hamilnya yang tadinya masih banyak kini hanya tersisa seperempat dari isi sebelumnya. Dan tanpa melakukan penyelidikkan sekali pun tentu Viona sudah tau siapa tersangka utamanya, karna hanya dia satu-satunya orang di rumah itu yang berani mencari masalah dengannya.
"PANDA SIALAN! KELUAR KAU!!" teriak Viona menuntut. "YAKK!! PANDA, AKU TAU KAU TIDAK TULI JADI KELUAR SEKARANG SEBELUM AKU MENGGANTUNGMU HIDUP-HIDUP!" teriak Viona sekali lagi.
Dan sosok yang dia teriaki pun akhirnya muncul juga. "Nona Boss, sebenarnya kau ini kenapa sih? Apa pagi ini kau salah minum obat makanya kau terus berteriak tidak jelas seperti ini?"
"Diam kau!!" bentak Viona menyela ucapan Tao. "Pokoknya aku tidak mau tau, kau harus mengganti susu hamilku jika tidak ingin aku gantung hidup-hidup,"
"Tidak mau!! Nona Boss, kenapa kau ini sangat kejam dan pelit padaku sihh? Padahal aku hanya meminta sedikit saja, tapi kau langsung marah-marah. Lagi pula siapa suruh jika rasa susu hamil itu lebih nikmat dari susu biasanya. Aku 'kan jadi tergoda,"
"Dasar Panda sinting, aku tidak mau tau. Pokoknya kau harus menggantinya, titik!! Tanpa koma,"
"Tidak mau!!"
"Harus!!"
"Tidak mau!!"
"Harus!!"
"Tidak mau... Tidak mau... Tidak mau..!"
"Pokoknya harus dan aku tidak mau tau," Viona mengibaskan rambut panjangnya dan pergi begitu saja.
Nathan hanya bisa menghela nafas berat melihat perdebatan antara Tao dan Viona. Ini bukan pertama kalinya dia melihat mereka berdua terlibat dalam perdebatan sengit semacam itu. Dan Nathan benar-benar tidak habis fikir dengan Tao, bagaimana bisa dia selalu membuat masalah yang endingnya membuat Viona marah-marah dan mengeluarkan berbagai sumpah serapahnya.
Perhatian Nathan sedikit teralihkan karna kedatangan seseorang. Raut wajahnya tetap datar, mata kanannya melirik dingin pada sosok pria yang berdiri disampingnya. Dan suasana hening seketika menyelimuti kebersamaan kedua pria berbeda usia tersebut.
"Aku tidak menyangka jika gadis kecilku yang sangat manja dan cenggeng itu kini telah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik dan elegan. Lebih mengejutkan lagi karna dia sudah menikah dan akan segera memiliki anak. Aku sungguh merasa malu," ujar Hans dengan tatapan yang tertuju pada Viona. Tatapannya sedikit kosong dan tersirat penyesalan disana.
"Kenapa dulu kau meninggalkannya dan membiarkannya hidup sendiri dalam derita?" Nathan menoleh, membuat dua mata berbeda warna itu bertemu dan saling mengunci.
__ADS_1
Hans tersenyum miris. "Sangat panjang ceritanya, dan pada saat itu aku tidak memiliki pilihan lain selain harus meninggalkannya. Dan semua itu semata-mata aku lakukan karna aku peduli padanya," tutur Hans.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak bisa memberitaumu sekarang. Aku pasti akan memberitaumu di saat aku benar-benar merasa siap."
"Hn, terserah. Sebaiknya kau istirahat saja. Kau terlihat lelah, pelayan sudah menyiapkan kamar untukmu istirahat. Kau bisa tidur di sana selama kau berada disini," ujar Nathan.
Nathan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan pergi begitu saja Meninggalkan Hans yang masih tetap bergeming dari posisinya. Hans tersenyum, meskipun di luar terlihat dingin dan mengerikan, tapi sebenarnya Nathan adalah pria yang hangat dan penuh perhatian. Dan Hans bisa merasakan itu.
"Terimakasih karna sudah memberikan kebahagiaan yang melimpah dalam hidup Viona. Aku merasa lega karna gadis kecilku mendapatkan pandamping hidup seperti dirimu. Nathan Lu, hanya padamu aku bisa mempercayakan gadis kecilku. Karna aku percaya kau bisa membahagiakannya."
.
.
.
"Oppa, apa kau tidur?"
Viona menghampiri Nathan yang sedang berbaring sambil menutup mata kanannya. Kemudian Nathan menurunkan lengan yang menutupi sebagian wajah tampannya lalu membuka kembali mata kanannya.
"Tidak, aku hanya sekedar menutup mata saja. Ada apa?"
Viona menggeleng. "Tidak ada apa-apa," jawabnya. Tapi tidak dengan sorot mata dan raut wajahnya. Dan Nathan tau jika ada sesuatu yang Viona inginkan darinya.
Nathan bangkit dari posisi berbaringnya. Posisinya dan Viona saling berhadapan. "Sekarang katakan, kau ingin apa?"
"Tribal, apa Oppa tidak sadar jika sudah terlalu lama menyembunyikan tribal itu dariku," gerutu Viona sambil menekuk wajahnya.
Dan sudah Nathan duga. Memang karna tribal. Nathan melpaskan kemeja lengan panjangnya dan menyisahkan singlet abu-abu gelap yang mengikuti lekuk tubuhnya. Melihat tribal yang begitu dia rindukan membuat wajah murung Viona kembali berseri.Viona langsung meneluk lengan Nathan dan mencium tribalnya berulang-ulang.
"Apa sekarang kau merasa puas?" Viona mengangguk.
Nathan mendengus geli. "Oppa berjanji. Dan bisakah sekarang kau diam dan berbaring saja dengan tenang. Aku benar-benar lelah Sayang, aku akan tidur sebentar,"
"Kalau begitu aku akan tidur bersama Oppa, aku juga mengantuk,"
"Hn, baiklah," dan sentuhan Nathan pada kepalanya segera menghantarkan Viona menuju alam mimpinya. Dan lagi pula masih ada dua jam menuju makan malam.
-
Brugg...
"Yakk!! Di mana matamu saat berjalan? Apa kau tidak melihat jika aku ada di depanmu?" amuk Shion pada seorang gadis yang tidak sengaja bertabrakkan dengannya.
Gadis itu mendesah berat. "Cantik-cantik tapi bodoh. Jelas-jelas orang berjalan itu menggunakan kaki, bukan mata! Karna mata itu untuk melihat bukan untuk berjalan," tegasnya menerangkan.
"Sialan kau, beranu sekali kau menyebutku bodoh!! Apa kau tidak tau siapa aku?"
"Tentu saja aku tau, karna kau adalah wanita bodoh nan idiot yang tidak ada pintar-pintarnya,"
"Yakkk! Sudah bosan hidup kau rupa-" kalimat Shion terpotong oleh ulah seorang pemuda yang tiba-tiba menabrak punggungnya hingga tubuh Shion terdorong ke depan. Wajahnya masuk ke dalam mangkuk sup pengunjung cafe yang ada didepannya.
"Ahh. Panas... panas, mataku perih. Yakk!! Kenapa kalian hanya diam saja? Dan apakah kalian semua buta, cepat tolong aku," amuk Shion pada para pengunjung lain yang hanya melihat saja tanpa ada yang berniat menolongnya.
"Aduh, Nak. Kasian sekali kau ini, mari Kakek bantu," seru seorang kakek tua yang entah dari mana datangnya tiba-tiba ada di depan Shion. "Ya Tuhan, wajahnu belepotan seperti itu. Biar Kakek membersihkannya." Ucapnya seraya mencelupkan sapu tangan miliknya pada air kobokan.
"Yakkk!! Pak tua! Apa yang kau lakukan Kau fikir mukanku ini apa? Sampai-sampai harus kau cuci dengan air kobokan bekas orang lain," amuk Shion pada kekek tua itu yang sebenarnya adalah Satya.
"A-Aduh, Nak. Maaf, Kakek terlalu panik jadi tidak sadar di mana Kakek mencelupkan kain ini. Ka-Kalau begitu Kakek akan mengelapnya lagi dengan air putih ya,"
"Tidak perlu!! Sebaiknya aku ke toilet saja." Shion beranjak dari hadapan si kakek itu dan hendak pergi ke toilet, tapi tanpa sengaja wig yang dia pakai malah tertarik kemudian terlepas, bodohnya Shion tidak menyadarinya.
Semua orang saling berbisik dan menggunjingkannya. Bahkan ada satu di antara orang-orang itu yang mengambil fotonya kemudian mengunggahnya ke media sosialnya.
__ADS_1
"Sial, kenapa hari ini aku begitu sial." Shion terus saja menggerutu, bahkan ia menghiraukan berbagai tatapan orang-orang yang ada di sekitarnya. Setibanya di toilet Shion di buat risih oleh tatapan orang-orang yang ada disekelilingnya. Mereka menatapnya seolah-olah dirinya adalah sampah atau penyakit masyarakat yang sangat meresahkan. "Apa lihat-lihat," sinis Shion marah.
"Nona, rambut botak sepertimu itu apa sedang menjadi trent terkini. Kekeke, lihatkah betapa menggelikannya dirimu itu,"
"A-Apa maksudmu?" buru-buru Shion bercermin. Kedua matanya membelalak melihat wig yang dia pakai tidak menempel lagi pada kepalanya. "Aarrkh, kenapa akhir-akhir ini hidupku begitu sial!! Viona Lu, lihat dan tunggu saja. Aku pasti akan membalasmu!!"
-
"Mama, Paman, kami pulang!!"
Suara Rio yang lantang menggema memenuhi hampir diseluruh penjuru ruangan, membuat dua tuan rumah tampak berdatangan menghampiri ketiga pemuda yang hampir satu minggu ini tidak pernah pulang. Senna dan Henry sama-sama tidak tau dengan kesibukkan apa yang sebenarnya mereka lakukan di luar sana.
"Astaga, sebenarnya kalian dari mana saja? Satu minggu menghilang kemudian pulang dalam keadaan yang menggelikan seperti ini. Segera pergi ke kamar kalian dan benahi penampilan yang menggelikan ini," omel Senna pada tiga pemuda dihadapannya.
"Baik Nunna//Mama," jawab ketiganya dengan kompak.
"Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan di luar sana? Sampai-sampai tidak pulang selama satu minggu, dan saat pulang muka mereka malah seperti dakocan," keluh Senna sambil menggelengkan kepala.
"Aku juga penasaran. Tapi lucu juga melihat mereka seperti itu,"
"Lucu apanya, malah menggelikan yang ada." Ucap Senna dan berlalu.
Lagi-lagi Henry terkekeh, membayangkan tingkah ajaib ketiga pemuda itu terkadang membuat perutnya mules sendiri. Sampai-sampai Henry tidak ingin mereka cepat dewasa supaya dia bisa selalu melihat tingkah-tingkah menggemaskan mereka yang ajaib.
-
Matahari tak lagi bersinar cerah. Sejauh mata memandang, hanya warna kelabu di dapat. Angin senja berhembus lembut, membelai kulit putih sepasang suami-istri yang sedang terlelap.
Tak ada gelak tawa maupun suara-suara. Sunyi.
Hanya suara jarum jam dinding yang menjadi bukti bahwa waktu masih berjalan. Lambat, seperti ritme di dalam detak jantung mereka
.
.
Nathan terbangun saat merasakan nyeri yang luar biasa pada mata kirinya. Susah payah ia bangkit dari berbaringnya dan merubah posisinya menjadi duduk. Punggung dan kepalanya bersandar pada sandaran tempat tidur. Mata kirinya terus saja berkedut nyeri.
Sebelah tangannya terus menekan mata kirinya yang tiba-tiba terasa nyeri dan ngilu. Rasanya seperti terkeba hantam bogem mentah. "Sial, ada apa lagi dengan mata sialan ini," geram Nathan setengah berbisik.
Nathan mencari obat pereda rasa sakitnya yang Viona letakkan di atas nakas samping tempat tidur kemudian meminumnya. Obat itu bekerja lumayan cepat. Sakit pada mata kirinya sedikit mereda dan tidak sengilu sebelumnya.
Tiba-tiba Nathan merasakan sesuatu yang hangat melumuri telapak tangannya. Kemudian dia menurunkan tangan itu dari mata kirinya dan darah segar tampak pada telapak tangannya.
Dengan gerakkan pelan. Nathan turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Setelah memastikan darah pada sekitar mata itu bersih, Nathan segera menutupnya dengan perban yang sudah menyatu dengan plaster. Noda merah langsung merembes pada permukaan kasanya.
"Oppa, matamu berdarah lagi," kaget Viona saat dia bangun dan mendapati mata kiri Nathan yang sudah tertutup oleh perban. "Duduklah di sini, biar aku memeriksanya. Aku takut jika ada jahitannya yang terlepas," kata Viona. Cemas terlihat jelas pada raut wajahnya.
Nathan menggeleng, tangannya menggenggam tangan Viona yang terasa sedikit dingin. "Tidak perlu, mataku sudah baik-baik saja sekarang. Sebaiknya sekarang kau mandi dan setelah ini kita turun dan makan malam sama-sama. Mungkin juga pamanmu juga sudah lapar," ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Viona.
"Oppa benar, baiklah aku mandi dulu," ucap Viona.
Nathan menakup sisi wajah Viona, satu kecupan dia daratkan pada keningnya. Wanita itu tersenyumlebar. Segera Viona turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Tubuhnya sudah terasa lengket semua karna keringat.
-
Bersambung.
Visual Hans William...
Visual Shion Choi..."
__ADS_1