
[Ada laki-laki yang datang ke kau, Ria?!]
Aku kaget, karena bang Ken tiba-tiba mengirimi pesan seperti ini. Sontak saja, aku langsung menyambungkan panggilan video padanya. Namun, sayangnya ia malah menolak panggilan dariku.
[Abang di rumah mamah, nanti Abang telepon kalau Abang lagi di kamar. Ini lagi kumpul sarapan.] Aku mendapat pesan lagi darinya, setelah panggilan videoku ditolak olehnya.
[Iya, Bang. Dia Dika pilot itu, dia udah pergi kok sejak siang.]
BTW, sekarang sudah pukul delapan malam. Waktu di Indonesia lebih cepat sepuluh jam dari sini, di sini belum tengah malam, di sana sudah pagi dan tengah pada sarapan.
[Kau terima kedatangannya?!] Setiap balasannya, terdapat tanda seru. Hal itu seperti ia menunjukkan emosinya yang ditekan, menurutku.
[Dia datang sendiri dengan alamat dari bang Givan. Entah konflik baru apa yang bakal Dika umbar di bang Givan, karena aku bilang ke Dika kalau aku udah tak V. Tapi itu semata-mata, karena aku benar-benar hindari dia dan hindari hubungan antara aku sama dia. Ternyata, laki-laki itu sama aja ya? Mereka pada buru keperawanan.] Aku yakin bang Ken pun tersinggung karena pesan ini.
[😁 Kecuali Abang.] Emoticon dalam balasannya, membuatku membayangkan dirinya berekspresi seperti itu.
[Sama aja! 😑] Balasku kemudian.
[Abang tak cari perawan, memang ketemunya Adek yang perawan. Kalau Dika buat masalah di sini, biar Abang yang bereskan.]
Ya harusnya seperti itu juga. Karena yang menghilangkan perawanku adalah dirinya, ia juga yang membuatku terbiasa dengan aktivitas dewasa itu. Sehingga, kini tak pernah aku rasakan lagi sensasi perih jika terguyur air saat mandi.
[Oke, Bang. Abang tenang aja, aku bisa jaga diri.] Aku sudah menguap di sini, ia baru akan memulai hari-harinya.
[Abang percaya kalau Adek terus terang. Jari ini Abang sibuk, Dek. Tapi Abang usahakan tetap kasih kabar ke Adek.]
Setelah mendapat balasan itu, aku izin tidur dan terlelap sampai pagi. Saat paginya, aku membuka ponsel dan mendapat kiriman foto banyak dari bang Ken. Ia memotret kesibukannya di sana dan benar jika ia tengah repot dan sibuk.
[Abang sekarang udah ada di Kalimantan.] Hanya itu pesan darinya, selebihnya hanya foto kesibukannya semua.
Aku bisa percaya padanya, jika ia mengirimkan banyak foto seperti ini.
[Aku baru bangun pagi, Bang. Abang tidur di mana?] Jam berapa ya sekarang di sana?
Di sini jam enam pagi, berarti di sana jam empat sore.
__ADS_1
Aku langsung bergegas, tidak menunggu balasan darinya. Sampai akhirnya aku selesai kursus dan aku baru melihat balasan darinya.
Ia membuat video pendek, ia pun berbicara dalam video tersebut bahwa dirinya ada di suatu hotel di daerah Samarinda. Ia tengah mempersiapkan beberapa mesin, untuk pengolahan kopi di pabrik kopi kami.
Aku selesai kursus jam sepuluh pagi, sekarang berarti jam delapan malam. Di kantin tempat kursus, aku melakukan panggilan video padanya. Cukup lama tidak terangkat, sampai akhirnya gambaran wajahnya terlihat juga.
“Hallo, Adek.“ Ia tersenyum lebar.
“Lagi apa, Bang?“ Aku menajamkan penglihatanku mengamati sekeliling kamar yang ia tempati itu.
“Tenang, sama Bang Danu.“ Ia mengarahkan kameranya pada seseorang yang duduk di tepian ranjang.
Ranjang kamar tersebut ada dua, dengan ukuran single bed. Ranjang tersebut berjauhan, yang satu dekat tembok dan satu ranjang lagi dekat jendela.
Aku mengenal bang Danu. Ia adalah orang kepercayaan bang Ken, yang dipinta untuk mengurus pabrik kopi yang belum jadi sempurna itu.
“Abang lagi apa?“ Aku mengulangi pertanyaanku.
“Habis mandi, Dek,” jawabnya dengan menyelipkan sebatang rokok di antara bibirnya.
“Kapan pulang?“ Aku meringis kuda, saat ia langsung menatapku dengan tatapan kaget.
“Hi Ria. You and Hana are invited to have dinner together at home. Today, is my parents' twenty-second wedding anniversary.“ Hai Ria. Kamu dan Hana diajak makan malam bersama di rumah. Hari ini, adalah ulang tahun pernikahan kedua puluh dua orang tua saya.
Aku tersentak kaget, kemudian mendongak menatap Alfonso yang ternyata berdiri di tempatku duduk ini.
Tiba-tiba ia merunduk dan berdadah heboh di depan layar ponselku. “Hello, Brother Givan. You can also come with Canda Pagi Dinanti's sister-in-law.“ Halo, Bang Givan. Anda juga bisa datang dengan kakak ipar Canda Pagi Dinanti.
“I'm not Givan, I'm Ria's husband.“
Aduh, tepuk jidat.
“Bang, dia orangnya bang Givan.“ Aku menutupi wajahku dengan satu tanganku.
“Hah? Serius?“ Bang Ken nampak panik.
__ADS_1
“Dia teman aku, kek Hana. Tapi dia akrab dengan bang Givan, dia pernah aku ajak ketemu bang Givan di Brasilia. Karena masa itu, sopir angkat tangan untuk berkendara nonstop. Jadi, aku ajak dia untuk gantian nyetir,” jelasku cepat.
“Kau tak bohong kan, Dek?“ tanya bang Ken kemudian.
“Is he really your husband, Ria?“ Apakah dia benar-benar suamimu, Ria?
Alfonso duduk di sebelahku.
“No, he was just joking. Have you told Hana in person?“ Tidak, dia hanya bercanda. Apa kau sudah memberitahu Hana secara langsung?
Aku menoleh padanya, dengan mengaduk isi cup minumanku dengan pipet. Eh, apa sebutannya?
“Not yet, I've contacted him, he said he's still taking care of the administration for the course.“ Belum, saya sudah menghubungi beliau, katanya masih mengurus administrasi untuk kursusnya.
“Dek, bilang dia untuk tak kasih tau ke Givan. Abang belum siap, Abang belum sempat urus surat-surat untuk peresmian di sana.“
Kenapa ya, kok aku merasa sedih mendengarnya belum mengurus surat peresmian pernikahan kami? Usahanya memang penting, karena menyangkut tentang pendapatannya untuk kebutuhan ekonomi kami. Tapi harusnya ia tak mengesampingkan tentang aku, tentang kami.
“Ya, Bang.“ Aku mencoba mengukir senyum untuk penyemangatnya.
“Excuse me, Ria. I want to take the menu list that is in front of your table.“ Permisi, Ria. Saya ingin mengambil daftar menu yang ada di depan meja Anda.
Aku langsung memberi jarak dan tempat untuk Alfonso.
“Dek, kau tak boleh pergi tanpa Hana. Nanti Abang hubungi Hana dari sini, untuk jaga kau dari teman laki-laki kau itu selama makan malam. Ya, Dek? Nurut sama Abang ya?“
Aku kembali memfokuskan diri ada ponselku. “Iya, Bang.“
“Bagus. Jangan pernah lepas hijab kau, pakai pakaian yang longgar dan jangan tarik perhatian laki-laki yang ada di pesta itu.“ Bang Ken memberikan pesan-pesan kembali.
“Iya, Bang. Abang tenang aja.“ Aku akan mencoba menjadi istri yang baik dulu.
“Abang trauma lihat Adek pakai dress mini masa di Singapore itu,” ujarnya kembali.
“Tapi Abang tak trauma lihat aku tanpa busana.“ Lihatlah, ia malah tertawa renyah.
__ADS_1
Aku harus terbiasa untuk patuh padanya dan mengikuti keinginannya. Di luar itu, maka akan menjadi dosaku sendiri.
...****************...