Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD85. Drama Elang


__ADS_3

Aduh, bagaimana ini? Aku takut sendiri, tapi aku takut disalahkan jika menceritakan pada bang Givan.


Tapi, aku ragu. Masa iya benar bang Ken mencari keberadaanku? Untuk apa serepot itu, jika bertanya langsung lebih enak?


Apa ia tidak ingin gerak langkahnya dipahami keluarga? Apalagi, ia masih belum berubah.


“Nih, Dek. Abang ada banyak uang cash. Tadi abis nuker, katanya nuker di toko lebih mahal daripada tukar Bank.“ Bang Givan menyerahkan uang dengan nilai mata uang yang di sini.


“Ya, Bang. Makasih.“ Pikiranku bercabang ke mana-mana.


“Sama-sama. Nanti ya Abang urus uang jajannya, soalnya ditransfer otomatis itu dari Bank, bukan Abang sendiri. Jadi, setiap tanggal satu pasti masuk nilai yang Abang khususkan untuk kau itu. Tak cuma ke rekening kau, ke rekening ibu, ke rekening beberapa orang yang kerja di rumah Abang juga.“ Bang Givan duduk di hadapanku.


Aku manggut-manggut mengerti, aku pernah mendengar program Bank seperti itu. Minimal harus memiliki sepuluh pekerja setahuku.


Kami mengobrol, hanya seputar cerita tentang anak-anak bang Givan saja. Ia terlihat begitu bahagia, menceritakan tentang kisah anak-anaknya. Ayah yang sayang dengan anak-anaknya, ayah yang begitu menyayangi keluarga kecilnya.


“Dika udah hubungi Abang, dia katanya ada di mes sekitar bandara.“ Bang Givan menunjukkan ponselnya.


“Kalau Abang ngerasa dia orang baik, gimana kalau langsung lamaran aja?“ Bang Givan tersenyum lebar padaku.


Pikiranku merumit, aku tidak ingin bersama Dika. Aku masih berharap KENANDRA orangnya, BUKAN Dika.


“Lihat nanti aja deh, Bang. Tiga puluh lima tahun dia ini.“ Aku malah menarik alasan yang konyol.


“Yang empat puluh dua tahun, kau doyan. Solot kau makan batangnya.“ Mulut bang Givan terdengar kasar menurutku.


Entah itu sebenarnya perlu tidak dalam sebuah hubungan. Tapi percaya atau tidak, aku tidak pernah meng**** miliknya.


Bukan karena aku tidak bisa, aku bahkan memiliki ilmu untuk itu. Hanya saja, ia bahkan tidak mengizinkan jika aku terlalu lama menggenggam dan memainkan miliknya. Ia tidak suka, jika miliknya dipegang dan disentuh olehku. Entah apa alasannya, karena aku bisa melihatnya yang kelabakan.


Jadi, jelas tidak benar perkataan bang Givan itu. Aku bahkan tidak pernah memakan batang yang bang Givan maksudkan.


“Tak lah, Bang.“ Aku meregangkan ototku.


“Tak apanya?! Paham kali! Tak usah nepis.“ Bang Givan seperti kesal, ia meninggalkanku sendirian di sini.


Jika ia masih kesal dan marah dengan bang Ken, ia tidak perlu membahas apapaun tentangnya. Bukan malah sedikit membahas, ia langsung emosi begitu.


“Anak siapa itu?“ Aku kaget melihat Gavin menggendong anak laki-laki.


Wajahnya memerah, ia menarik air hidungnya. Suaranya kentara sekali.


“Elang.“ Ia menghadapkan wajah elang padaku.


Aku cukup akrab dengan Gavin dan Ajeng. Aku dulu selalu berkunjung di kamar penginapan yang Ajeng tempati. Bahkan, aku tidur bersama Ajeng, jika Gavin berhalangan pulang dan lebih memilih pulang ke orang tuanya.


Menurutku, Ajeng orang yang baik. Ya memang, suka bocor ketika bercerita, kurang bisa menjaga rahasia.

__ADS_1


“Hallo, Ganteng.“ Aku bangkit dan menghampiri Gavin yang menggendong Elang.


Elang tersenyum padaku, kemudian ia langsung mendekap Gavin lebih erat. Ia mengajakku bercanda rupanya.


“Anak ganteng, udah besar kau.“ Aku langsung menggelitiki Elang dari belakang.


Ia tertawa lepas, dengan lebih erat memeluk Gavin. Ia sudah seperti anak kandung Gavin menurutku.


“Yah, Yayah, Yayah….“ Elang berteriak, terlihat ia meminta pertolongan pada Gavin.


“Kasih tau Aunty dong, kalau Elang udah bisa jalan.“ Gavin merunduk dan melepaskan Elang dari dekapannya.


“Ma Yayah, Yayah….“ Elang menggantung di Gavin seperti koala.


Itu menggelikan.


“Sama Aunty, main.“ Aku mencoba mengajaknya.


Elang menggeleng, ia bertahan untuk menggantung pada ayah sambungnya itu. Eh, entah apa Gavin disebutnya. Tapi setahuku, tidak ada mantan ayah sambung. Entah Gavin dan Ajeng kembali, atau mereka masih berpisah. Aku tidak tahu pasti juga.


“Ma Yayah….“ Elang merengek dan enggan lepas dari Gavin.


“Yayah mau sama yayah Ipan, Bang. Abang ikut? Nanti takut lagi.“ Gavin berbicara pada anak yang ia dekap ulang tersebut.


Elang benar-benar tidak mau lepas dari Gavin.


Gavin menggeleng, wajahnya terlihat stress sekali. Bahkan, ia tidak tersenyum sedikitpun.


“Cuma ikut main sebentar aja, nanti juga diantar lagi. Dia minta ikut aku, cuma tak mungkin ayah ibunya terima, aku orang lain,” lanjutnya kemudian.


Benar juga sih.


“Cuma Cali anak aku katanya. Tapi, anak aku tak pantas juga ia buang di teras. Dia tak ngerasain, gimana sakit hatinya aku buah hati aku dibuang di teras.“ Kekesalan dan amarahnya jelas begitu terlihat.


“Terus kau mau balas dengan buang Elang di teras juga kah?“ tanganku kemudian.


Gavin menggeleng. “Aku bukan binatang.“ Setelah mengatakan itu, ia berjalan ke ruangan lain dengan Elang yang masih berada di dekapannya.


Dalam sendiri ucapannya ini, Gavin pasti begitu sakit hati dengan Ajeng. Sampai-sampai, ia mengatakan hal yang seperti itu.


Aku tertawa geli, saat Elang kabur dengan panik. Dengan bang Givan yang melangkah cepat seperti mengejarnya.


Ia berteriak histeris, kemudian langsung memeluk kakiku. Dasar, pak wanya itu agak-agak gila.


Bang Givan terbahak-bahak, melihat Elang mencari perlindungan dengan menyibakkan dress midiku ini. Untungnya, aku menggunakan celana strecth panjang. Jadi, bukan kulitku yang terlihat. Melainkan, celana strecth yang aku kenakan.


“Kenapa sih kau? Yayah Ipan tak galak juga.“ Bang Givan terkekeh dengan mencoba mengeluarkan Elang dari dalam dress midiku.

__ADS_1


Bang Givan tidak membenci anak-anak, meski ia benci orang tuanya. Ia tidak akur dengan bang Ken, tapi Bunga masih dalam asuhan dan didikan kasih sayangnya.


“Embiiii….“ seru Elang, dengan memeluk salah satu kakiku.


“Zombie? Mana zombie?“ Gavin muncul dan berjalan ke arah kami.


Ia mengerti bahasa anak-anak.


“Yah Pang, embiiii….“


Aku tertawa geli, mendengar kalimat yang keluar dari mulut Elang.


“Udah kek papa Ghifar kau, manggil Yayah Ipan pakai sebutan Pang.“ Bang Givan memaksa untuk menggendong Elang yang bisa dikeluarkan dari dalam dress midiku.


Anak ini, ada-ada saja.


“Atut….“ Elang menutupi wajahnya sendiri, ketika tubuhnya terangkat dan didekap bang Givan.


“Gemas sama kau. Ikut Yayah Ipan pulang aja yuk? Yayah kekurangan anak laki-laki untuk diternak. Jadi anak Yayah Ipan aja yuk?“ Bang Givan mencium kepala Elang.


Elang masih menutupi wajahnya, jadi sulit untuk mencium pipinya. Lagi pula, ada-ada saja dengan bang Givan ini. Segala, ia ingin menernak anak laki-laki.


“Buatlah satu lagi anak laki-laki, Bang.“ Aku merasa, mbak Canda pun tidak akan keberatan untuk dihamili kembali oleh suaminya.


“Tak mau, nanti aja anak kau. Abang tak tega hamilin mbak kau lagi.“ Bang Givan mencoba menurunkan tangan Elang.


“Jadi, Abang mau hamili Kak Ria aja? Adiknya kak Canda?“ Gavin membulatkan matanya.


Bang Givan menoleh ke arah Gavin. “Sialan kau!“ Ia terkekeh kecil.


Aku tahu, maksud bang Givan adalah keponakannya dariku. Bukan aku hamil dengannya dan memberinya anak laki-laki.


“Berapa lama kita di sini, Vin? Abang kangen kakak ipar kau.“ Bang Givan menyerahkan Elang yang masih menutupi wajahnya ketakutan itu pada Gavin.


“Aku baru dua hari kumpul sama Abang, masa Abang pulang?“ Aku kira, mereka bakal seminggu di sini. Jadi, aku bisa berkumpul bersama beberapa keluarga ini lebih lama.


Ya hanya dua orang memang, tapi kehangatan suasananya begitu terasa. Aku benar-benar tidak merasa kesepian di tengah-tengah mereka.


“Aku udah siapin tiketnya besok, Bang. Nanti, Kak Ria balik ke Sao Paolo, kami pun balik ke Indonesia.“ Gavin menoleh ke arahku.


“Tuh, kan?“ Aku memasang wajah kecewa.


“Bang Keith mau nikah, Kak. Aku udah atur jadwal, biar ada rehatnya dulu sebelum ke Lhokseumawe hadiri pernikahan kak Shauwi dan bang Keith,” jelas Gavin kemudian.


Orang kepercayaan yang beruntung. Sampai keluarga besar Riyana menyempatkan untuk hadir.


Hm, Keith dan Shauwi. Beruntungnya kisah cinta mereka.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2