
“Sakit….“ Tak seberapa sakit fisik ini, yang lebih sakitnya karena ia memaksaku dengan kehendaknya sendiri.
Ia bahkan tidak mempertimbangkan, bahwa aku pasti kesakitan jika ia melakukannya tanpa merang****ku lebih dulu. Ia dokter, ia pasti paham tentang ini. Tapi ia tega melakukannya pada istrinya sendiri, ia menyakiti istrinya sendiri, ia seperti tidak sayang pada istrinya.
“Kau serius sakit kah, Dek?“ Bang Ken langsung meloloskan miliknya, kemudian ia meluruskan kedua kakiku.
Ia mengambil sebuah bantal, untuk ditempatkan di bawah pahaku. Kemudian, ia menyingkap perutku dan menekan beberapa titik di sana.
“Kau benar hamil, Ria. Kau hamil sama siapa?“
Tangisku langsung terhenti, aku memandangnya tidak percaya. “Menurut Abang, aku hamil anak siapa?“ Aku menunjuk kepalanya, agar ia berpikir.
“Menurut ukuran, keknya baru trimester pertama, sekitar lima atau delapan mingguan. Tadi aja, kau bawa laki-laki ke sini. Di masa bulan lalu Abang pulang juga kok, bisa jadi kau bawa masuk dia kan?“
Astaghfirullah.
Ia suamiku dan ia menuduhku hamil dengan laki-laki lain? Otaknya tidak waras, atau bagaimana?
“Aku tanya, jawab jujur. Kenapa Abang nuduh aku hamil dengan laki-laki lain? Padahal jelas aku bersuami dan kita rutin melakukannya.“ Aku ingin menguak alasannya mengapa ia memberiku pil KB darurat.
“Yaaa…. Karena kau ikut KB. Kau tak mungkin hamil anak Abang, Abang udah hitung waktu dengan tepat.“
Kan? Akhirnya ia mengatakannya sendiri.
“Jahat!“ Aku tersenyum getir, dengan mengusap air mataku.
“Jadi jelas kau tak mungkin hamil anak Abang. Kau terus terang aja sama Abang, kau hamil sama siapa. Abang bantu cari jalan keluarnya, kalau memang laki-laki kau tak mau tanggung jawab.“
Ia berbicara apa?
“Iya benar, laki-laki aku tak tanggung jawab. Udah, Abang pulang aja. Kita udahan aja.“ Aku mencoba bangkit, kemudian meraih celana kulotku.
Aku mampu menghidupi anakku sendiri. Ia punya ibu yang bodoh sepertiku, tapi anakku jangan sampai tahu jika ayahnya sejahat itu.
“Kau serius, Ria?“
Aku melirik ke arahnya, aku tidak percaya setetes air mata menetes dari mata kanannya. Kemudian, ia segera menghapus air matanya tersebut.
__ADS_1
“Iya, serius!“ Aku akan terima keputusanku sendiri ini. Aku tidak sudi, memaksa suamiku mengakui anaknya sendiri.
Jika ia percaya dan benar-benar suamiku, ia tidak akan percaya jika ucapanku itu benar. Nyatanya, ia pun menuduhku berselingkuh dan hamil dengan laki-laki lain. Padahal, hanya bersamanyalah aku melakukan hubungan ini.
“Kau mau ke mana, Ria?“ Suaranya bergetar lirih.
Aku muak dengan dirinya.
Setelah ia melakukan tindakan yang tidak bisa aku terima, ia bertambah membuatku luka karena ia tidak mengakui perbuatannya sendiri. Bagaimana jika anakku tahu, jika ayahnya meragukan tentang kesahan dirinya yang tumbuh di rahimku.
“Ini rumah Abang.“
Aku akan benar-benar memilih untuk hidup tanpanya.
Rasanya benar-benar menyakitkan, lebih dari aku dipisahkan darinya. Bahkan, hampir memicu dendam tumbuh di hatiku karena pertanyaannya yang begitu ringan kelaur.
“Ria….“ Suara bass-nya bergetar hebat.
Air mata buaya!
“Kau bisa bilang, laki-laki kau siapa. Kalau memang kau tak punya jalan keluar untuk nuntut dia tanggung jawab, Abang bisa bantu kasih kau obat biar kau haid lagi.“
Apa???
“Biar aku usahakan sendiri, Bang.“ Aku bergerak untuk mengambil beberapa pakaianku.
Maksudnya apa, ia ingin aku menggugurkan benihnya sendiri?
“Rumah tangga kita gimana?“ Aku berbalik badan menghadapnya.
“Mau gimana lagi?“ Suaranya menurun, kemudian ia menggosok wajahnya. “Abang terima kalau Adek minta pisah. Terus gimana? Abang bingung harus gimana? Itu bukan karena Abang.“ Ia membenahi miliknya yang sudah layu, kemudian memasukkannya ke dalam celananya.
Jika memang aku seperti yang ia tuduhkan, lalu ia mencintaiku. Benarkah, ia akan tetap sulit menerima kehadiran anakku dengan laki-laki lain meski ia mencintaiku? Lalu bagaimana dengan mereka yang menikah dengan janda beranak?
Aku merasa salut pada papah Adi yang membesarkan dan membiayai bang Givan dengan tulus. Ternyata, tak semua laki-laki menerima anak wanitanya dengan laki-laki lain.
“Oh gitu! Bukan karena orang ya, Bang? Kalau kek gitu, aku pamit.“ Aku mengambil pakaian asal, serta dokumen-dokumen milikku.
__ADS_1
“Kau bisa tetap tinggal di sini, Ria. Mintalah Abang bantu masalah kau, kalau kau memang tak mampu selesaikan sendiri. Jangan sampai kau pulang dalam keadaan hamil, keluarga kau pasti kecewa.“
Apa itu alasannya menunda kehamilanku? Aku tidak tahu juga, karena ia tak mengatakan alasan di balik ia memberiku pil KB itu. Namun, secara logika ia berkata seperti itu karena ia menganggap anakku ini anak di luar nikah dan aibku.
“Ini, Bang.“ Aku memberikan semua kartu ATM dan debit atau semacamnya, yang ia berikan padaku untuk digunakan olehku setiap hari.
“Ria, kau bisa pakai.“ Ia menahan kartu itu berpindah padanya.
“Tak, aku trauma disamperin Abang.“ Aku menaruh kartu tersebut di atas nakas, dengan aku mengambil ponsel milikku.
“Ria, Abang maafkan kesalahan kau. Abang sadar diri, stamina Abang tak seperti yang kau harapkan. Kita masih bisa tukeran kabar, kau tak perlu minder kek gini.“
Apa isi otaknya?
Aku tidak minder, aku kapok memiliki hubungan dengannya. Ia memberikan pengalaman terburuk selama aku mengenal laki-laki.
Aku tak menghiraukannya. Aku membawa ranselku dan keluar dari kamar, tidak lupa aku mengenakan jaket parasut oversize nan tebal ini, dengan pasmina juga. Tujuanku adalah hotel, karena aku belum memiliki tempat tinggal lain untuk waktu yang lama.
Pendidikanku harus benar-benar berhasil. Aku ingin menjadi pembisnis, agar karirku dan pendapatanku bisa menghidupiku dan anakku.
Aku tidak memikirkan bagaimana nanti, bagaimana jika aku pulang. Karena yang aku pikirkan saat ini, adalah tentang kesehatanku dan kesehatan bayiku. Esok pagi aku akan bolos sekolah lagi, untuk mengecek kondisiku.
Aku masih demam tinggi saat ini, ditambah dengan rasa nyeri di intiku dan perutku. Bang Ken seperti psikopat, yang dengan tega menyakiti tanpa belas kasih.
Setelah tahu ia seperti ini, aku tidak akan pernah respect lagi pada dirinya. Meskipun ia adalah ayah dari anakku, tapi aku pastikan anakku sendiri tidak akan pernah mengenal siapa ayahnya. Aku takut anakku merasa malu, karena memiliki ayah yang jahat dan tak berhati itu.
Tipu dayanya amat tersusun rapi, strateginya menjurus untuk tidak dicurigai. Ia pun, begitu pandai mengalihkan perhatian dari permasalahan yang ada. Ia bukan panutan yang patut dicontoh anakku.
Hotel yang aku pijak saat ini, cukup jauh dari apartment milik bang Ken. Aku ingin ia tidak mencariku dan tidak bisa mendeteksi keberadaanku.
Aku langsung meringkuk di tempat tidur hotel. Sulit untuk tidak menangis, karena kemarin aku memusatkan kebahagiaanku padanya. Kini, semudah itu semesta memberiku kenyataan pahit dan membukakan mataku tentang bagaimana aslinya.
Itu sangat bertubi-tubi. Ia berinteraksi dengan bersenang-senang bersama Riska, pulang dalam tidak membawa surat-surat untuk peresmian pernikahan kami. Ditambah ia berbohong, ia pun menuduhku berselingkuh dan hamil dengan laki-laki lain.
Jadi begini, laki-laki yang aku cintai?
...****************...
__ADS_1