Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD204. Dibuat menangis


__ADS_3

Benar katanya, terasa candu melihatnya dari bawah dengan kepasrahan seperti ini. Tatapannya dalam sekali, mulutnya sering terbuka dan bersuara amat mesra. Tangannya sesekali menyentuhku, meski akhirnya tergolek dengan kepasrahan kembali. 


"Kau pengen cobain mode slowly dari aku tak? Capek tak dari tadi di atas aja?" Suaranya mendadak serak-serak basah. 


"Tak, memang aku enak tak?" Memang sejak tadi aku sudah bekerja setelah memberi servis padanya. 


"Tak."


Aku ingin melaknat suamiku sendiri. 


Aku mendudukinya saja, kemudian aku memukul dadanya lalu bersedekap tangan. Mulutnya ribut saja, tapi masa iya aku tidak enak katanya? 


Ia terkekeh kecil. "Serius kah janda cuma bisa naik turun aja? Kemarin punya suami belajar apa aja?"


Suamiku menghancurkan moodku sendiri. 


Aku langsung turun dari atasnya, kemudian berbaring menyamping dan memunggunginya. Aku sadar diri kok, saat bersama bang Ken aku tidak bisa mendapatkan akses seperti itu, jadi mana bisa aku memiliki keahlian. 


"Servisnya oke, tapi geraknya kek anak baru kenal s**s." Ia memposisikan bagianku dan menikmatiku dalam posisi sendok tanpa malu. 


"Bodo amat." Aku memilih untuk memeluk guling. 


Biarkan dia bekerja sendiri. 


"Jangan bodo amat, jajan purel aku ini nanti."


Plak….


Aku memekik kaget mendapat tamparan di part belakangku, ditambah dengan laju gerakannya yang mendalam dan keras. Tubuhku sampai tersentak kuat, sampai seprai kasur menjadi alat berpeganganku. 


"Jangan buat mood kacau terus." Aku menarik lehernya, karena kepalanya condong ke depan. 


"Kenyataan. Harusnya tau dari dulu kali kalau mulut aku gini, tapi apa kau mau aku pura-pura muji? Itu bisa aja, tapi kau tak akan bisa buat aku senang." Ia mengincar leherku. 


Aku baru tahu, jika ada s**s yang dilakukan sambil mengobrol dan berdebat begini. 


"Tapi mood aku jadi turun." Detik setelah aku menyelesaikan kalimatku, ia langsung melepaskanku dan merubah posisinya. 


"Memang turun?" tanyanya dengan merentangkan kakiku. 


Tak ada otak! 


"Linu." Aku menyentuh pahaku.


"M shape." 


Lututku sampai menyentuh sprei. Aku baru kali ini diseperti inikan, sebelumnya hanya sebatas terbuka saja. 


"Ish! Kenapa berubah lagi? Bertahanlah M shape, aku mau kerja." Ia melepaskan miliknya yang tengah ia pegangin, saat kakiku berubah lagi. 


"Linu." Aku tidak biasa seperti ini. 


"Bentar." Ia menyelipkan kembali, barulah memposisikan seperti M shape itu. 

__ADS_1


Kenapa baru aku tau, mak? 


Baru tiga kali ia bergerak pelan, moodku sudah terkumpul kembali. Bukan hanya merem melek lagi, tapi aku yang membuat keributan di sini. 


"Jangan dikeluarkan!"


Hah? 


Permintaan macam apa itu? S**s kan itu yang dicari dan dituju, kenapa aku tidak boleh keluar? 


"Mana bisa." Aku menahan dadanya. 


"Aku mogok kalau kau keluar sekarang," ancamnya dengan berhenti bergerak. 


Aduh, terlanjur gila aku. 


"Bang, ayo sih gerak." Aku membelai dada bidangnya. 


"Jangan dikeluarkan." Ia menekan lututku kembali sampai menyentuh sprei. Kali ini permintaannya lebih halus, tapi tetap memaksa. 


"Aku tak tahan." Aku tetap menahannya seperti yang ia inginkan. 


"Jangan keluar sekarang. Aku mau bareng, tapi aku masih lama." Ia memandangku dengan mata yang terlihat amat berharap. 


Aku tidak boleh keluar, dengan ia yang masih lama? Ini konsepnya penyiksaan kah? 


"Aku mau nangis aja." Aku menekan ujung mataku. 


"Iya, tak apa. Tapi jangan keluar." Ia bekerja kembali. 


Gerakannya lambat sekali, sampai tekstur kulitnya begitu terasa dengan hangat yang dirasakan juga. Aku beberapa kali menggigit bibir bawahku, agar aku tidak amat berisik. Keringatku banyak sekali, panas dingin aku menahan gelombang yang ia transferkan. 


Ia memejamkan matanya, senyumnya terukir dengan suaranya yang keluar lepas. 


"Ini yang aku ingin, punya kau seolah mengejan ngusir aku." Ia tetap bergerak pelan dengan kepala yang mendongak ke atas. 


Apa yang ia rasakan memangnya, saat aku mengejan menahan untuk tidak keluar? 


"Lepasin dulu, tak tahan." Air mataku sampai berlinangan menerima sensasinya. 


Ibu mertua, ayah mertua, anakmu membuatku menangis kenikmatan di malam pertama. Apa yang kalian ajarkan, kelembutannya membuatku semakin pasrah diapakannya saja. 


"Dah lepas, kenapa?" Ia menarik lututku agar tidak dalam M shape kembali. 


"Udah di ujung betul." Aku mengusap milikku sendiri. 


Ia tertawa geli. Tanpa kasihan, ia mengatur posisi seperti tadi. 


"Hmm, mungkin aku sepuluh menit lagi." Ia melirik ke arah jam dinding. 


Hai, aku tidak bisa selama itu menahan. Bang Ken dulu tiga menit itu selesai. Aku dikeluarkan cepat, kemudian ia menyusul segera. 


"Lima menit lagi aja coba!" Aku menarik napasku dalam, saat merasakannya bekerja lagi. 

__ADS_1


"Bawel! Suka-suka Gue dong." Wajahnya disetel sombong. 


"Tapi aku mau keluar." Aku memejamkan mata rapat, dengan air mata yang meleleh ke mana-mana. 


"Udah nangis aja, tak apa."


Aku mendapatkan laki-laki jahat lagi, mak. Aku disuruh menangis terus di malam pertama. 


"Abang, Abang. Tolonglah." Aku mengusap punggung tangannya yang berada di lututku. 


"Aku suka begini, Bu. Ibu anteng aja, kan aku yang kerja juga." Ia mengusap air mataku. 


"Nanti besok-besok aku aja yang gerak." Daripada diminta untuk menahan agar tidak keluar. 


"Tak enak, ya aku lagi yang gerak. Belajar dong makanya, muter atau gimana gitu. Kek c*** sendiri rasanya tadi. Kalau begini kan, enakeun kan?" Ia menekan sampai dasar. 


Bagaimana aku tidak berisik? 


Bukan lagi meracau, suaraku lepas setengah berteriak. Beberapa kali ia menekan amat dalam, kemudian kembali ke mode slowly dari dasar ke permukaan kembali. 


Aku tidak bekerja, tapi aku yang ngos-ngosan setengah mampus. Bibirku sampai bergetar, dengan air mata yang sudah seperti banjir bandang. 


"Nangis terus, kasian duh. Padahal aku tak ngapain-ngapain, tak kasar, tak ngotot." Memang benar ya diucapkannya. 


"Boleh keluar deh, tapi dikit aja ya?" Ia menunjuk ujung jarinya. 


"Aduh, Abang. Mati aja aku ini." Aku meraup wajahku sendiri. 


"Senang tak sih? Kok nampak frustasi betul? Jadi sedih aku ini." Ditambah dengan ibu jarinya yang menggosok bijiku, dengan gerakan dalamnya yang dilakukan secara acak. 


Boro-boro menjawab, yang ada aku langsung berteriak histeris karena jebol seketika. Ia pun bisa mengerti, dengan menggerakkannya amat cepat dan kuat. 


Setelahnya, aku malah menangis lepas dan menarik lengannya agar memelukku. 


"Hai, tak apa. Tak bakal dimarahin, tak dosa juga. Aku kasar kah? Maaf ya?" Ia berbicara di dekat telingaku. 


"Aku pernah keluar sampai terkencing, tapi baru kali ini keluar sambil nangis. Rasanya otak kek lumpuh mendadak." Aku mengusapi air mataku, kemudian mencium pipinya. 


Laki-laki muda ini, ya ampun. 


Skill yang mematikan. 


"Aku coba kasih kenikmatan, jangan disamakan dengan menyiksa. Jangan terburu-buru, rileks dan nikmati biar tak terlalu banyak air mata yang keluar begini. Pulang-pulang mata sembab, kan aku yang malu disangka udah berbuat jahat." Ia menghapus air mata yang tersisa dengan jemarinya. 


"Aku tak bisa ngimbanginnya, itu terlalu wow." Aku melepaskan pelukanku, karena punggungnya kembali tegak. 


"Bisa, santai. Rileks aja, jangan dibuat menggebu-gebu gitu loh." Ia mengatur lututku kembali. 


"Aku gatal, gimana tak menggebu-gebu?!"


Lihatlah, ia malah tertawa lepas dan puas. Ia senang mendengar aku selemah ini atas pekerjaannya. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2