
"Udah ah, aku kerja dulu. Kau resek betul nih!" Aku menarik satu berkas yang paling bawah. Sedangkan ponselku, aku sandarkan di tasku.
"Nanti pap ya? Setengah badan deh, aku tangen toel-toel kau." Memang dasarnya mesum.
"Aku pasang setengah badan aja sekarang, terus kau screenshot." Aku tidak mau repot sebetulnya.
"Hmm, bergaya seksi gitu loh." Gavin benar-benar cabul.
"Datanglah sendiri, Vin! Tengok aku di sini sendiri! Jangan buat aku repot pap-pop-pap-pop!" Aku tidak biasa seperti itu, Gavin merepotkan sekali.
"Oke, nanti kita cek in ya? Kau tak mau kan nikah sama aku? Aku kasih cicip aja gitu tuh." Gavin melunjak. Rasanya, aku ingin mencekiknya. Tapi, aku takut pada ibunya.
"Kalau mesum, udah mesum langsung aja! Tak usah mesum online begini, mending tengok film dewasa aja sekalian sana! Aku mau nikah tak sama kau, ya tergantung perjuangan kau dong. Kau mau, kau niat, kau pengen rumah tangga sama aku, ya usahakan segalanya. Toh kalau aku respect sama usaha kau, aku pasti usahakan untuk bisa sama-sama sama kau." Mulutku langsung lancar saja belum berbicara.
"Ohh, oke. Awas ya kalau nolak usaha aku, kau bakal benar-benar aku cicipi!" ancamnya seperti yang iya akan dilakukan.
"Silahkan, tinggal ngadu ke ma kau!" Aku mencoba tidak takut dengan ancamannya. Padahal, aku pun aslinya tidak berani asal mengadu. Takutnya, aku yang disalahkan.
"Ma aku percaya ke anaknya kali." Anaknya pun begitu percaya diri.
"Ya tak apa, ke mbak Canda, ke bang Givan." Ini kubuku.
"Mereka tau kali, kalau kau yang gatal. Apalagi, tengok pusaka keturunan produk pribumi asli." Sombongnya ternyata didapat dari mamah Dinda. Soalnya, setahuku papah Adi tidak sombong deh.
"Memang gimana produk pribumi asli?" Kemarin aku hanya melihat kepalanya saja.
"Timun suri, kalau pribumi asli provinsi ujung ini."
Hah? Benarkah? Timun suri itu, yang ramai di bulan puasa saja kan? Bentuknya besar-besar, panjang dan padat. Mirip seperti jenis pepaya california, tapi bentuknya lebih besar timun suri. Timun suri saat aku tinggal di luar negeri, memang bentuknya bulat-bulat kecil, ada pula yang tidak ada bijinya. Tapi timun suri di sini, memang bentuknya besar dan panjang semua.
Aku paham sih, apa yang dibahas oleh Gavin ini. Bukan buah khas, tapi pusaka keturunan dari ayahnya.
"Udah biasa kali." Miliknya ayahnya Kirei pun seperti itu.
__ADS_1
"Masa? Yakin?" Ia membenahi kerah kemejanya.
Ia berladang, usahanya adalah ladang jahe. Entah beberapa hektarnya, tapi katanya sih sudah sukses.
"Iyalah, kemarin kan pasti tak keras." Ia sok tahu sekali.
"Pernah tengok sendiri kah?" Aku tersenyum meledek, dengan mulai menyimak isi dokumen ini.
"Tak lah, kira-kira aja karena udah tua."
Tidak benar apa yang ia katakan. Milik bang Ken tetap keras, kecuali memang sangat sensitif sekali. Ia pun tidak bisa dipaksakan lebih dari satu kali sehari, waktunya pun relatif singkat. Jadi, seperti diambil intinya saja.
Memang ada pemanasan. Tapi saat melakukan, ia langsung bergegas membuat perempuan naik tinggi. Setelah itu, aku lekas dibuat keluar kemudian gantian dirinya. Ya seperti mengejar keluar saja, bukan menikmati waktu hangat kami bersama.
"Sok tau! Aku kerja dulu ya? Nanti gampang malam lagi ngobrolnya." Aku sudah mulai nyaman fokus pada pekerjaanku.
Tut, tut, tut, tut….
Aku melirik ke arah layar bagian atas ponselku, tidak ada notifikasi panggilan masuk. Wah, sepertinya dari nomor Gavin.
"Siapa yang nelpon?" Aku tahu, panggilan tersebut masuk ke nomor telepon Gavin.
"Safa."
Apa itu nama perempuan? Teman dekatnya? Atau pacarnya sekarang? Sepertinya, aku pernah mendengar nama itu disebutnya dua kali.
Siapa Safa sebenarnya?
Aku langsung memutus panggilan video ini, karena aku mulai berpikir bahwa ia sudah memiliki pasangan dan ingin tetap macam-macam denganku. Ya, sekarang aku lebih berpikir negatif karena kejadian kemarin.
Aku mengatur napasku, mencoba membuang semua pikiran buruk ini. Agar aku lebih ringan dalam bekerja, juga tidak tertekan dengan pikiran negatif yang menghampiriku.
Malamnya, kami chatting sampai aku tertidur. Pembahasan kami ngalor ngidul, tidak ada yang jelas dan terang. Ya benar-benar hanya bercanda dan seperti mendekatkan diri saja.
__ADS_1
Kebiasaan chatting dengannya, terjadi sampai datang masa gajianku. Sungguh, bang Ken tidak pernah datang untuk menjamin Kirei. Alhamdulillahnya, orang-orang terdekatku tidak menutup mata untuk kebutuhan diapers Kirei.
Sekarang, aku tengah membuat daftar belanja bulanan. Jika tidak begini, aku akan lupa. Saat membantu mbak Canda berjualan dulu pun, aku selalu mencatat barang-barang yang harus aku beli.
"Pakai hitungan, jangan terlalu boros. Givan udah tak jamin uang bulanan untuk kau lagi, jadi kau cuma ngandelin hasil gaji kau." Mamah Dinda tidak tahu, nama balikan dari Givan itu sering mengirimkan uang dengan barter fotoku.
Foto apa?
Foto setengah badan dengan kerudung kerudung sakaratul maut katanya. Ia ingin aku berfoto, dengan kerudung yang tidak menutupi dada, alias kerudung yang begitu mencekik di leher.
Berapa upah foto tersebut?
Tidak begitu mahal, hanya tiga ratus sampai lima ratus ribu. Lumayan untuk jajan di kantin kantor lah.
Jual diri dalam foto aku ceritanya. Hanya untuknya itu pun, karena ia ribut saja. Aku tidak minta upah juga, tapi ia yang memberi. Itu pun, ia bersumpah tidak menyebarkan pada siapapun. Entahlah, aku percaya saja pada anak mamah Dinda itu.
"Diapers, dikira-kira aja. Coba beli yang isi enam puluh, kalau tak ada ya belinya dua pack. Kalau tak sampai ketemu kau gajian, nanti papah kasih." Mamah Dinda menunjuk tulisan diapers yang berada di bagian paling atas.
"Oke, Mah." Aku memperjelas isi diapers yang dibutuhkan.
"Susu beli yang kotak sedang aja, kalau sekilo takut terlalu lama habis. Yang sekiranya habis satu minggu tuh." Mamah Dinda mengoreksi daftar belanjaan nomor dua.
Aku langsung memperjelas tulisan ukuran susu formula yang akan aku beli. "Beli berapa, Mah?" tanyaku kemudian.
Aku bingung mengira-ngira, karena susu Kirei benar-benar dijamin papah Adi. Aku tidak tahu menahu, karena mereka tidak bilang jika susu Kirei sudah habis. Saat aku akan membuat susu untuk Kirei di malam hari, sudah ada susu formula yang baru saja. Aku pernah membeli juga saat aku pulang kerja, tapi di rumah sudah ada stock juga. Alhasil, aku yang mendapat gerutuan papah Adi agar aku menggunakan uang dengan bijak karena aku belum mendapatkan bayaran.
"Tiga aja, nanti papah tambahkan kalau kurang." Mamah Dinda masih membaca satu persatu list belanjaan ini.
Sampai datang di garam, beras dan segala macam. Mamah Dinda pun memiliki aturan untuk jumlah yang harus aku beli. Diminta untuk membeli beras ukuran sepuluh kilogram, sebanyak dua karung. Untuk makanku di sini satu karung, untuk di ibu satu karung. Padahal aku makan di sini, aku ingin di sini yang dua puluh lima kilo, tapi tidak boleh.
"Mau belanja sekarang kah? Ikut dong."
Hah? Datang dari mana dia? Tiba-tiba ada di belakang sofa ruang keluarga yang aku duduki bersama mamah Dinda saja.
__ADS_1
...****************...