
“Yes, Mom.“ Mbak Canda mendekati mamah, kemudian membuka kain jarik yang menutupi wajah Kirei.
Sebenarnya sih, agar ia tidak kena air gerimis.
“Heh?!“ Mamah Dinda langsung menarik lengan mbak Canda sampai masuk ke dalam rumahnya. Aku mengikuti langkah kaki beliau, dengan membawa beberapa tas yang ringan saja.
“Huuuuu…..“ Mbak Canda seperti pura-pura menangis.
“Anak siapa ini?“
Ketika aku masuk ke dalam rumah, aku melihat mamah Dinda membantu mbak Canda melepaskan kain jarik yang digunakan untuk menggendong bayi Kirei. Di sana pun ada seperti kain jarik, hanya saja tidak memiliki motif, alias polos.
“Mas Givan hamili perempuan.“ Mbak Canda masih pura-pura menangis.
“Serius?!!“ Mata mamah Dinda mekar sempurna.
“Bersih-bersih dulu gih, Ria. Terus sana tidur, ASIin Kirei?“ Tiba-tiba bang Givan ada di belakangku.
“Kau hamili Ria, terus kau terbangkan Ria ke sana?!“ Mamah Dinda cenderung menuduh, bukan bertanya.
“Masa?“ Bang Givan malah berbalik tanya.
“Heh! Mamah nanya loh.“ Mamah Dinda mendekati bang Givan, kemudian ia langsung menarik baju kemeja anaknya.
Bang Givan menurut dan pasrah saja, saat kemeja bagian dadanya ditarik oleh ibunya. “Apa, Mah?“ Bang Givan selalu menautkan alisnya ketika dalam keadaan serius.
“Kau jangan aneh-aneh, Van.“ Bang Givan langsung mendapatkan suara tinggi.
“Apa memang yang aneh?“ Bang Givan terlihat bingung.
“Kata Canda, kau hamili Ria.“ Mamah Dinda menuduh anaknya dengan jelas.
“Loh? Kok kata aku? Aku kan tak bilang begitu.“ Mbak Canda bangkit dan mengayun Kirei di tempatnya.
“Bilang apa kau?“ Bang Givan memperhatikan istrinya.
“Mas Givan hamili perempuan,” jelas mbak Canda begitu santai.
“Ya memang kau laki-laki?“ Bang Givan semakin membuat keadaan bingung.
“Jangan buat pusing orang tua!“ Papah Adi masuk dengan suara sedikit lantang.
“Memang salahnya di mana, Mah? Yang aku hamili pun Canda terus. Pas awal malah berjuang setengah mati biar Canda hamil.“
__ADS_1
Aku merasa mas Givan sama-sama membingungkan seperti mbak Canda.
“Ini serius, Van! Ini anak siapa? Anak kau? Sama siapa?“ Mamah Dinda mencecar pertanyaan pada anaknya.
“Ohh….“ Bang Givan memperhatikan kami satu persatu.
“Anak Ria,” jawabnya kemudian.
Ia membuatku takut, karena mata mamah Dinda dan mata papah Adi menatapku tajam.
“Duduk, Pah.“ Mbak Canda menggeser posisinya berdiri.
Ia mempersilahkan papah Adi untuk duduk, sedangkan Kirei tetap berada di dekapannya. Timangan penuh sayang mbak Canda berikan sejak tadi.
Papah Adi duduk di sana, dengan pandangan yang mengarah padaku yang masih berdiri di dekat mbak Canda. “Kau pergi dalam keadaan hamil?“ Pertanyaan papah masih cenderung santai.
Aku terdiam. Tidak begitu ceritanya, aku tidak hamil ketika pergi.
“KAU PERGI DALAM KEADAAN HAMIL?!?“
Astaga.
Aku sampai tersentak kaget, dengan Kirei yang langsung menangis lepas. Papah Adi memang selalu begini ketika marah, aku selalu kaget mendengar suara lantangnya.
“Duduk! Tutupin pakai ini.“ Bang Givan menyampaikan kain tersebut di bahuku.
“Ya, Bang.“ Aku melepaskan dua kancing kemejaku.
Mbak Canda langsung memberikan Kirei padaku. Ia membantu menyusui Kirei di tengah keluarga seperti ini. Setelahnya, ia duduk di dekat suaminya. Aku duduk seorang diri di sofa single, aku bagaikan di sidang.
“Order makanan aja, Mas. Beli apa ya?“ Mbak Canda sudah mengoperasikan ponselnya dengan bergelayut pada lengan suaminya.
Keadaan sedang memanas, papah Adi tengah murka dan mamah tengah salah paham. Tapi, ia malah bisa-bisanya memikirkan masalah perut.
“Nasi goreng yang campur sama mie goreng tuh, Canda. Yang kau pernah buat itu, enak tau. Apa coba kau buat lagi aja?“ Bang Givan bersandar pada sofa, kemudian membawa istrinya dalam rangkulannya.
Mereka sama saja ternyata.
“Aku capek, Mas. Buatnya minggu depan aja.“ Padahal, agak pantas jika membuatnya esok saja. Tapi mbak Canda lebih memilih minggu depan. Tak apa lah, itu keinginannya.
“Dasar!“ Bang Givan meruap wajah istrinya dan terkekeh kecil.
“Van, udahi drama kalian. Tolong jelaskan! Mamah udah muak betul drama bayi ditelantarkan!“ tegas mamah Dinda membuatku gemetar.
__ADS_1
Aku akan dimaki apa?
“Anak Ria itu, Mah.“ Bang Givan mengusap-usap kepala mbak Canda yang asik memainkan ponsel.
“Iya tau, makanya dia nyusuin. Maksudnya, ini dia hamil karena siapa? Apa dia pergi itu dalam keadaan hamil?!“ Mamah Dinda semakin memberiku ketegangan.
“Anak Ken, Van?“ Papah Adi membubuhkan pertanyaan lain.
“Coba tanya ke Ria.“ Bang Givan menunjukku dengan dagunya.
Ia membuatku semakin sulit. Aku sudah takut, bukannya membantu menerangkan. Tapi, malah melemparkan padaku. Memang, aku yang menjadi objek yang dimintai penjelasan ini.
Kini, dua pasang mata orang tua tersebut menatapku serius. Aku dituntut penjelasan di sini.
“Anak aku, Mah,” akuku kemudian.
Helaan napas mamah Dinda terdengar jelas, padahal tempat kami berada itu cukup berjarak. “Kalian muter-muter aja! Mamah tau itu anak kau! Tanpa kau ngaku juga, Mamah udah tau, karena kau nyusuin dia. Cuma pokok permasalahan di sini adalah, kau hamil karena perbuatan siapa dan hamil anak siapa? Kau pergi dalam keadaan hamil? Atau kau baru hamil masa di sana?“
Aku menelan ludahku. Bagaimana ini? Kok aku semakin deg-degan.
“Hamil masa di sana, Mah.“ Anakku dalam pernikahan.
“Di sana? Sama pribumi sana? Atau orang Indonesia juga?“ Mamah Dinda bangkit, kemudian ia berjalan menghampiriku.
Ia mengintip wajah Kirei yang tengah menyusui, lalu ia menutupnya kembali. “Tak jelas wajahnya, karena lagi ASI.“ Mamah Dinda duduk di tempat suaminya, sedangkan suaminya bergeser ke tempatnya tadi.
“Orang Indonesia, Mah. Aku tak hamil sama orang sana,” terangku kemudian.
“Serius? Kau yakin? Kau korban pemerkosaan? Atau, kau mabuk di club malam?“
Obrolan sudah lebih santai, hanya saja aku tetap merasa dituntut untuk menjelaskan semuanya di sini.
“Iya, Mah. Aku serius dan aku yakin, Mah. Ini anak orang Indonesia, aku tak mabuk di club malam, aku pun tak jadi korban pemerkosaan.“ Aku menjawab lengkap, sesuai yang ia pertanyakan.
“Terus? Kau pacaran? Kau tinggal bersama di sana? Mamah bukan mau hakimi kau, Ria. Tapi Mamah perlu tau, karena ibu kau tak mungkin mudah mengerti keadaan kau tanpa penjelasan dari Mamah. Kau kan tau sendiri, ibu kau itu kolot.“ Mamah ada benarnya juga.
Tapi, apa harus mamah tahu jika aku memiliki keturunan dengan bang Ken? Bang Ken anak angkatnya, ia menganggap bang Ken adalah anaknya. Aku khawatir masalah meluas, jika aku bercerita bahwa aku menikah siri di sana dan aku hamil anak dari putra angkatnya. Yang artinya, anakku adalah cucu angkatnya.
“Aku tak tinggal bersama di sana, Mah. Anak aku, bukan anak hasil zina, Mah. Kirei anak dalam pernikahan.“ Aku tidak bisa berbohong, apalagi tentang fakta ini.
Tapi bagaimana setelah ini?
...****************...
__ADS_1