Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD227. Nomor telepon dalam tisu


__ADS_3

"Gavin lagi ke kamar mandi." Aku yang panik lebih dulu. 


"Nanti aja, Jeng. Kalau mereka udah di sini. Ada perlu-perlu penting, ngomong aja ke Papah karena Gavin sama Cali kan masih walinya Papah." Aku melihat wajah papah Adi menoleh ke arah kiri. Mungkin di sana, Ajeng berada di sebelah papah Adi. 


"Pengen ketemu Gavin, Pah." Suara Ajeng menurun sedih. 


Aduh, ada yang kangen suamiku. 


"Gavin udah beristri, Ajeng! Kau mau apa? Papah keberatan kalau kalian mau ngomongin tentang kalian lagi, udah habis itu masanya." Nada suara papah Adi naik satu oktaf. 


"Bukan tentang aku dan dia, Pah. Tapi ada yang perlu aku sampaikan ke dia langsung."


Arghhhhhhh, aku sudah negatif thinking. 


"Aku jauh-jauh dari Brasil ke sini, Pah. Ongkosnya bukan main, aku ngumpulin dulu demi bisa datang ke sini," lanjut Ajeng kemudian. 


"Ya ini kan Papah sampaikan, Gavin udah punya kehidupan sendiri, dia punya kesibukan sendiri, dia tak bisa nemuin kau kapan kau butuh." Posisi kamera dari bawah, jadi aku bisa melihat jakun dan dagu papah Adi. 


"Ya udah, alamat Gavin di mana? Gimana kalau aku samperin Gavin aja, kalau Papah ngomongnya gitu?"


Ajeng ini kenapa? Mau membahas apa? Apa saat perdebatan di sana, belum benar-benar terselesaikan semua? 


"Papah tak punya hak untuk kasih tau itu. Mana nomor telepon kau aja sini, Papah kasih ke Gavin kalau dia memang ngizinin kau datang ke sana. Dia pasti kirim alamatnya, biar kau bisa datang ke sana."


Arghhhh…. Aku takut suamiku gatal, kemudian iseng menghubungi Ajeng masa aku tertidur. Aku takut sekali, karena suamiku suka akan hal iseng-iseng berhadiah. 


"Ya udah, Pah," sahut Ajeng kemudian. "Ini nomornya aku tuliskan ke tisu, aku permisi mau ke bang Givan dulu."


Aku tidak bisa melihat Ajeng, aku hanya bisa melihat wajah papah Adi dari bawah. Namun, suara Ajeng aku bisa mendengar dengan jelas. 


"Ya." Baru papah Adi menunduk melihat ke arah kamera. 


"Obrolin ke Gavin. Kata Papah sih, udah aja pulang sementara. Nanti panenan, Papah kirim orang Papah ke sana. Papah ada ladang jahe juga di sana, ada orang Papah yang urus di sana. Daripada nanti Ajeng ke sana, bisa-bisa dia sering nyamperin Gavin ke sana. Kasian juga gitu kan? Katanya sampai ngumpulin ongkos dulu. Ongkosnya pun tak main-main, sampai sih dua puluh tiga juta tuh. Itu seingat Papah dulu, Dek." Gambar wajah papah Adi terlihat jelas kembali. 


Kirei bersuara, ia ingin melihat layar ponsel yang tengah aku genggam ini. Wajah Kirei memenuhi kamera, papah Adi sampai terkekeh kecil. 

__ADS_1


"Telinga kau kek indikator mood kau, Dek. Kalau marah, merah warnanya. Lagi damai, warna kulit. Lagi kedinginan, ngebiru." Jokes bapak-bapak yang meledek anakku ini membuat aku terkekeh geli. 


Kirei menggaruk layar ponsel dengan ujung jarinya, air liur menetes menerpa layar ponsel itu. Wah, wah, wah. Sudah tidak aman ini. 


"Nanti aku ngobrol dulu sama Gavin ya, Pah?" Aku ingin menyudahi panggilan video ini, agar Kirei menyudahi acara membasahi layar ponsel itu. 


"Boleh, boleh. Ya udah, Dek. Dadah, Kirei." Papah Adi melambaikan tangannya. 


Panggilan terputus, kemudian muncul wallpaper ponsel Gavin. Foto pernikahan kami, dengan dua anak perempuan di pangkuan kami. Foto ini penuh perjuangan, karena Cali sudah cosplay menjadi jaranan dulu masa itu. 


Yah, tahu sendiri lah. Ia merangkak ke sana ke mari, lepas terus ketika dipangku ayahnya. 


Suara shower yang menyala, sepertinya Gavin tengah mandi. Aku menyembunyikan ponsel Gavin dari Kirei, kemudian aku mengalihkan perhatiannya dengan mainannya sendiri.


Aku tidak mengerti, kenapa anak-anak lebih excitednya pada ponsel. Mereka seolah tahu, ada banyak macam-macam hiburan di ponsel. 


Ia merengek, berusaha mencari keberadaan ponsel yang aku sembunyikan. Ingusnya keluar, tangisnya terbatuk-batuk. Kasihannya dia ini, obat dari dokter nyatanya tidak mampu menyembuhkan batuk pileknya. 


"Udah nelponnya?" Gavin keluar dari pintu kamar mandi, dengan handuk melilit di pinggangnya. 


"Ke minimarket yuk? Ayah mau beli variasi untuk Ibu, Ayah lagi turun moodnya." Gavin m mengincar pipi Kirei. 


"Variasi apa?" Aku memperhatikannya dengan bingung. 


Ia menarik tanganku yang terbebas dari menahan beban bobot Kirei, kemudian ia membawa tanganku untuk menggenggam sesuatu di balik handuk. Mataku melebar, mendapat benda kenyal itu. Sedangkan ia tertawa renyah, dengan membuka lemarinya. 


"Mau diapain maksudnya?" Aku masih tidak mengerti. 


"Dipakaikan sarung. Pengen sesuatu yang baru gitu, keknya ada agak bosennya."


Sungguh, nyesek sekali mendengarnya.


"Aku tak bosan sama Abang." Aku sudah baper saja. 


Ia menoleh ke arahku, dengan mengenakan kaosnya. Ia tersenyum, kemudian mencium pipiku. 

__ADS_1


"Aku pun tak begitu juga. Cuma pengen sensasi baru gitu, Yang." Ia mengusap pipiku dengan ibu jarinya. 


Apa bedanya? Sama juga maksudnya. 


"Nginep di OYO kah? Kirei jadi kameramen." Ia terkekeh dengan menoleh ke arah Kirei yang sibuk menggosok hidungnya sampai ingus rata di wajahnya. 


"Aduh, anak Ayah. Berobat lagi yuk, Dek? Pasti pusing kepalanya ya? Ingusnya sampai begitu." Gavin menyeka wajah Kirei dengan tisu basah yang baru ia ambil. 


Tangis Kirei terdengar kembali, aku segera membawanya keluar rumah agar ia merasa sedikit lega.


"Ayah sisiran dulu nih, bentar," ujar Gavin dari dalam rumah. 


Anak rewel, mantan istri suamiku menunggu di sana, suami terus terang bosen sensasinya. Hufttt, ketika baru tenang dan nyaman. Ada saja konflik yang menghampiri. 


"Nih, aku bawa obatnya. Kita coba mampir ke rumah sakit dulu, biar dapat obat bagus. Terus pulangnya baru ke minimarket deh." Ia menunjukkan obat sirup milik Kirei. 


Ada mobil papah Adi yang dibawa ke sini. Gavin melangkah ke arah mobil tersebut, kemudian membukakan pintu untukku. 


"Nanti sih, Bang. Belum rapi aku ini, belum lipstikan juga." 


Sekalinya ingin keluar, ia siap sendiri saja. Langsung mandi, berdandan dan langsung ke kendaraan. Tidak memikirkan bagaimana persiapanku dan Kirei. 


"Cepat tuh." Ia berjalan menghampiri dan mengambil Kirei. 


"Bawa perlengkapan Kirei juga, jangan lupa jaket Kirei." Ada saja requestnya. 


"Oke." Aku kembali ke dalam rumah. 


Mamah mertua, kali ini aku tak mendengarkan saranmu. Karena anak laki-lakimu ini memiliki kecemasan berlebih pada cucumu yang sakit, rumah sakit menjadi pilihan meski obat belum habis. 


Dalam perjalanan, Kirei sudah terlelap dengan mulut yang masih bekerja menghabiskan susu formula dalam dotnya. Ia mungkin nyaman, jika tertidur sambil berjalan-jalan begini. Karena di rumah, ia rewel sekali dan tidak mau tertidur. 


"Jadi gimana baiknya? Papah ngomong apa aja?" Gavin langsung membahas tentang mantan istrinya. Ada rasa penasarannya rupanya. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2