
“Lah, dulu aku pernah bilang kan? Kalau, nanti kita udah dewasa. Aku datang ke rumah dengan mental yang udah berani, untuk lanjutkan hubungan kita dulu. Memang selama ini kau tak harapkan aku datang kah? Aku ingat terus janji aku sendiri loh, Dek. Di mana kau minta udahan terus, karena aku tak mau datang ke rumah. Kan aku janjiin begini, Dek.“
Sialan! Aku kira itu janji remaja saja, rupanya ia masih ingat sampai dewasa. Jika usiaku sekarang dua puluh lima, ia berarti sudah berusia dua puluh delapan tahunan. Setahuku pun, ia belum pernah menikah juga.
“Kau tak nungguin aku datang? Kau ganti-ganti pasangan terus selama tak sama aku?“ Ia berani menyentuh tanganku.
Aku tidak mengerti pada ibu. Ia sering membersihkan tamu laki-laki datang dan berduaan hanya denganku, eh waktu pada mbak Canda juga begitu. Yang terpenting untuk ibu, ya di dalam rumah. Apa ia tidak mengerti, berbuat mesum tidak membutuhkan waktu yang lama?
“Mana ada pasangan. Sekalinya ada, bang Givan pelototin terus.“ Aku teringat saat aku menjalin hubungan dengan operator kendaraan besar di Kalimantan. Setiap aku menemani bang Givan turun lapangan, ia selalu memperhatikan si Kumis tipis dengan mata nyalang.
Rasanya, ingin kucolok matanya itu.
“Tadi bang Givan ada di bawah, malah diam aja.“
Apa itu tandanya lampu hijau? Eh, tapi bang Givan kan seringnya melarang secara halus. Dengan mengatakan, bahwa aku masih kekanak-kanakan dan tak pernah akur dengan anak-anaknya. Itu adalah salah satu contoh terampuhnya, untuk membuat laki-laki yang menginginkanku menjauh.
Aku menarik tanganku yang masih digenggam olehnya, sayangnya ia menggenggam cukup erat. Ia tidak mengizinkan tanganku untuk terlepas dari genggamannya.
Arman ini Aceh mix Bogor, berkulit kuning langsat dengan tubuhnya yang tinggi lurus sepertiku. Maksudnya, ia tidak gagah atletis. Ia cuma menang tinggi saja. Entah mengapa, jika melihat laki-laki yang tidak atletis, aku merasa tidak aman karena dia terlihat tidak bisa menjagaku dengan ototnya. Kasarnya, jika dikepung preman ia tidak bisa berkelahi. Itu yang ada di pikiranku.
“Dek, tak mau kah nikah sama aku?“
Cekik saja aku, banting saja aku!
Aku dilarang berpacaran tanpa tujuan, kini datang tujuan tanpa berpacaran. Kalau ia memiliki waktu untuk work out saja, mungkin aku akan mempertimbangkan niatnya. Tapi aku yakin, berjualan pun ia sudah repot.
“Kita tukeran nomor WA aja dulu, kita jalin komunikasi lagi. Masalah nikah, itu ada di tangan bang Givan. Aku tau dia bukan wali aku, tapi restunya menurutku udah seperti restu almarhum ayahku. Aku tau dia pengen yang terbaik untuk aku, dia selalu mengusahakan aku untuk mendapat kelayakan sesuai standarnya, termasuk suami. Bukan tentang dananya, tapi kualifikasi lainya. Kau paham kan, Bang? Kalau rumah tangga ini tak cuma cukup tanggung jawab dalam hal pendanaan, tapi perhatikan dan agamanya.“ Katakanlah aku pandai beralasan.
“Oh, iya. Aku paham maksudnya kok. Ini nomor HP aku.“ Ia menunjukkan layar ponselnya.
__ADS_1
“Bentar, aku ambil HP dulu.“ Aku teringat ponselku yang penuh dengan notifikasi itu tergeletak di atas ranjang.
Aku mengabaikan pesan dari Keith dan bang Ken, aku langsung menghapus notifikasi dan berjalan ke ruang keluarga kembali. Aku duduk di samping Arman kembali, dengan menyalin nomor ponsel yang Arman sebutkan.
Dulu ia tidak berani merangkul dan menggenggam tanganku. Setelah menggenggam tanganku tadi, kini ia memiliki kemajuan merangkulku. Bahkan, ia menaikan kembali hijabku yang merosot ke bahu.
“Abang di Banda ngontrak kah ikut saudara?“ tanyaku setelah mengirimkannya pesan asal, agar nomorku masuk ke nomornya.
“Ngontrak, kost-kostan gitu. Satu kamar, dapur kecil dan satu kamar mandi. Kalau lagi ada kerjaan di sana, mampir tak apa.“
Lalu aku akan direbahkan di atas kasur busanya, kemudian ia menemaniku beristirahat. Umumnya laki-laki, sudah terbaca. Hukum syariat itu, hanya contoh kecil mereka yang ketahuan saja. Aku yakin, banyak kasus perzinahan yang tidak diketahui.
“He'em.“ Aku tersenyum padanya.
Dulu memang aku pernah suka padanya. Tapi, sekarang sudah biasa saja. melihatnya tersenyum seperti ini, itu tidak membuatku berbunga-bunga.
“Subuh nanti aku ke terminal, aku balik lagi ke Banda Aceh.“
Aku mencium bau-bau ia meminta kecupan kenang-kenangan. Apalagi, tangannya menyibak hijab di bagian telingaku dan ia seperti memperhatikan telingaku sejak tadi. Laki-laki pasti mengerti, jika telinga adalah titik sensitif wanita.
“Kak Ria….“ Tangis kejar langsung masuk ke lantai dua ini.
Arman cepat-cepat melepaskanku, ketika bang Ken menurunkan Bunga di ujung tangga. Wajahnya datar, ia memperhatikanku dan Arman begitu intens. Aku seperti tengah ketahuan berselingkuh, sorot matanya tidak ramah sama sekali.
“Nanti aku hubungi ya? Aku permisi dulu.“ Arman langsung buru-buru pergi.
Memang tidak enak rasanya diperhatikan begitu intens seperti itu, risih dan seolah tengah menyudutkan posisi kita yang salah.
“Oke, ati-ati, Bang.“ Aku tersenyum ramah saat Arman pergi.
__ADS_1
Lihatlah, anak perempuan yang tadi kutinggalkan dalam keadaan tidur. Kini sudah memelukku erat, dengan tubuhnya yang naik ke pangkuanku.
“Abang langsung ambil penerbangan?“ Aku belum lama sampai, lalu ia datang juga ke kampung ini.
Ia langsung merundukkan punggungnya, kemudian meraup bibirku dengan kasar. Aku mendorongnya cepat, karena anaknya ada di pangkuanku. Namun, ia memaksa dan malah membelitkan l*dahnya.
“Ughmmm….“ Aku ingin berbicara, tapi begitu sulit.
“Ayah, awas!“ Posisi Bunga terhimpit, aku pun merasa anak itu sulit bergerak.
Barulah, duda panas itu menegakkan punggungnya lagi. Ia tetap dalam sorot datar dan dinginnya padaku. Ia tidak menghapus sisa saliva kami yang membasahi area mulutnya.
Aku segera menghapus rasa basah yang keluar dari area bibirku. Rakus dan kasar, aku berpikir ia tidak bisa memposisikan wanita dengan semestinya.
“Kau liburkan pengasuh Bunga, kau yang harus tanggung jawab urus Bunga sampai pengasuhnya datang. Abang stay di rumah umi, datang kalau kau perlu Abang.“ Ia pergi meninggalkan lantai dua rumah ini begitu saja.
Sialan! Aku diminta untuk menjadi baby sitter anaknya! Masalahnya, tidak masalah kalau aku dijadikan istri. Ini masalahnya, hubungan dengannya pun aku tak menjalin.
“Terus Abang pengen apa?! Pengen nyantai sama pacarnya itu?!!“ Aku ingin membunuhnya sekarang.
Aku murka, karena anaknya ia tinggalkan di sini. Lalu ia berlalu pergi begitu saja. Aku tahu, ia ke sini pasti diikuti dengan Putri yang beralasan ingin menengok Jasmine.
“Kau lebih baik urus Bunga, daripada pacaran sama bujang tadi!“ Ia enggan berbalik badan ke arahku.
Egois sekali dia ini! Dia pun akan enak-enakan dengan Putri, sementara aku mengurus anaknya.
Tidak bisa! Aku tak akan membiarkannya menikmati waktunya dengan Putri, aku akan menjadi penghalangnya jika Bunga tidak bisa menghalangi ayahnya dan pacar ayahnya.
...****************...
__ADS_1