
“Dari mana, Dek?“ tanyanya lembut, dengan mencoba merangkulku.
Adek ya? Hmmm, aku harus selalu mengingat ini. Agar aku tidak mudah untuk terbawa pesonanya lagi.
Aku harus menanamkan kenyataan pahit ini di pikiranku, agar aku tidak mudah tergoda dengan bang Ken lagi. Bang Ken adalah laki-laki b*******, yang hanya memanfaatkan tubuhku saja.
“Aku mau ngomong serius, Bang.“ Aku menarik tangannya, kemudian mengajaknya untuk duduk di kursi teras.
Semangat, Ria. Sirnakan laki-laki tak berfaedah ini dari kehidupanmu!
“Kita ngobrol di kamar aja, sambil baring-baring.“ Bang Ken mengusap-usap bahuku. Entah dari kapan ia merangkulku, karena aku tidak fokus padanya saja. Pikiranku terbagi dalam susunan kalimat, yang aku lontarkan padanya.
“Kita di sini aja.“ Aku tidak mau sekamar lagi dengannya.
“Kenapa sih? Putus sama Keith kah?“
Kalaupun memang kebenarannya aku putus cinta dengan Keith, ya perusaknya dirinya. Bang Givan yang menggaji Keith, ia enak sekali main memberhentikan tugas Keith begitu saja. Lain ceritanya, jika Keith di sini tidak dibayar. Nyatanya kan, Keith di sini itu karena dibayar.
“Abang tau kalau aku dan Keith tak pernah ada hubungan. Tapi kalau boleh saran, baiknya Abang tak perlu ikut campur tentang hubungan seseorang terlalu jauh. Apalagi, kalau memang bukan ruang lingkup Abang. Abang pun di sini tamu, sedangkan Keith di sini digaji bang Givan. Selain dia harus ngurus perusahaan bang Givan yang di sini, dia pun diminta untuk menjaga penghuni rumah ini. Kau tak berhak sarankan dia untuk pergi, dengan alasan ada kau di sini. Kau cuma tamu, kau tak digaji. Kau harus paham batasan kau di sini, Bang!“ Aku menekan-nekan dada bidangnya dengan telunjukku.
“Oh, kalau begitu….“ Ia mengusap-usap bulu dagunya. “Ya udah, Abang jadi penghuni rumah ini aja.“ Ia melirikku dengan tersenyum manis.
Sial! Dia menggoda sekali!
“Kalau keadaannya begitu, biar aku ambil apartemen dekat kantor aja. Aku tak mau terlalu dekat dengan Abang, yang cuma kerabat jauh aja. Aku ada hubungan ipar dengan bang Givan, tapi tidak dengan kau. Abang pun harus tau batasan Abang di sini, siapa Abang dan status Abang untuk aku.“
Salah tidak ya teksku?
__ADS_1
“Aku jaga kau, Ria. Kita adik kakak.“ Ia mencengkram erat kedua lenganku.
Bulshit!
“Adik kakak tak begini, Bang. Aku tanya sama Abang deh….“ Aku memperhatikan wajahnya dengan lekat.
“Tanya apa?“ Ia malah memutuskan pandangan kami.
Aku teringat dengan pesan dari bang Givan. Jika klien memutuskan pandangan saat berbicara serius, tandanya ia menyanyikan sesuatu tentang kondisi perusahaannya.
“Abang mau tinggalkan Putri, terus kita nikah?“ Biarlah aku berbicara seperti ini, aku ingin tahu kesungguhannya.
Ia memasang pandangan kaget yang tak biasa. Hanya sekilas, ia berani memandangku. Kemudian, ia memalingkan kembali pandangannya ke arah pelataran rumah.
“Bukan masalah Abang harus ninggalin siapa. Tapi, Abang tak sejalan dengan harapan kau.“ Ia berbicara lirih, dengan menundukkan kepalanya.
Ia menggeleng lemah. “ Kita tetap jadi adik kakak aja, biar Abang bisa selalu jagain kau.“
Definisi menjaga itu bagaimana? Ia menela*j*n*iku itu, apa disebut menjaga? Apa karena ia tidak memaksakan kehendaknya padaku? Atau, karena ia selalu ada di dekatku ini?
Lama-lama, aku ingin mencekiknya.
“Jagain gimana tepatnya? Jujur aja, fungsi Abang menjaga itu untuk apa? Terus, titik mana yang Abang jaga? Apa karena merasa dekat sama aku, jadi berpikir bahwa Abang jagain fisik aku? Atau, lebih tepatnya Abang jaga keberadaan laki-laki lain yang coba dekati aku? Biar aku tak ada yang berani dekati.“ Aku merasa yang terakhir adalah hal yang benar.
“Kau tak ngerti, Ria.“ Ia menggelengkan kepalanya, kemudian melihat ke arah lain.
“Ya makanya kita ngobrol berdua ini, biar aku ngerti.“ Aku mencoba menengahi kami dulu, sebelum aku benar-benar membentengi diriku dari laki-laki tersebut.
__ADS_1
Lihatlah! Ia hanya diam, dengan memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak mengatakan apapun, ia tidak merespon apapun. Sepertinya, memang ia ingin ketegasan dariku.
“Bang, mulai hari ini aku tak mau ada kedekatan apapun di antara kita. Aku merasa dirugikan, aku merasa disepelekan dan tidak diuntungkan. Gimana, kalau Abang fokus ke Putri aja? Terus, Abang coba dekati Bunga sama Putri. Itu bisa jadi kegiatan yang lebih berguna untuk masa depan Abang, ketimbang Abang pepet aku tak jelas begini. Aku udah putuskan akhiri kedekatan aku sama Keith, bukan karena Abang. Aku pun putuskan akhiri kedekatan aku sama Abang, bukan karena Keith atau adanya laki-laki lain. Aku pengen fokus benahi diri aku dan dewasakan pikiran aku, agar aku siap menikah dengan laki-laki lain. Mungkin, masanya aku siap. Aku bakal minta dijodohkan, dengan laki-laki yang sesuai dengan harapan bang Givan untuk jadi kepala keluarga aku.“ Aku mengatakan hal seperti ini, agar bang Ken tidak salah paham seperti Keith. Karena tadi, Keith berpikir aku meninggalkannya untuk bang Ken.
Sama sekali tidak seperti itu. Aku benar-benar ingin laki-laki yang siap untuk serius denganku, bukan memeluk salah satu baj***** yang seperti mereka berdua. Bodohnya lagi, aku kalah dan pasrah karena perasaanku.
Aku pun tidak mengerti, kenapa aku begitu pasrah dengan laki-laki yang hanya menginginkan tubuhku saja. Aku meraba hati dan perasaanku, ternyata penyebab kepasrahanku adalah perasaanku sendiri.
Aku baru mengerti, kenapa banyak perempuan hamil di luar nikah di luar sana. Mungkin, karena laki-lakinya membujuk dan karena cintanya perempuan memasrahkan seluruh jiwa dan raganya.
Ini terdengar lebay, tapi coba kalian pahami bahwa ini adalah fakta terbesar tentang perempuan.
Sekalian seiring disakiti, banyak perempuan di luar sana yang memperhatikan laki-laki tersebut karena cintanya. Yang sudah berumah tangga pun, beralasan kasihan anak. Namun, sebenarnya adalah karena kita begitu mengutamakan perasaan kita sendiri.
Semoga, aku tidak terlampau menjadi perempuan yang egoisnya tinggi karena cintaku pada laki-laki manapun. Aku tetap harus memiliki harga diri, bukannya merendahkan diri karena cinta.
Ternyata seperti ini ya jadi seorang perempuan?
Apa kehidupan perempuan dewasa di luar sana lebih kompleks? Bagaimana perasaan ini harus tetap bertahan, jika luka terus diberikan? Atau, dipaksa bertahan karena keadaan? Maksudku, karena menyadari bahwa diri ini tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup tanpa laki-lakinya.
Aku yakin, kehidupan setelah menikah bukan tentang cinta melulu. Tapi aku pun yakin, kehidupan setelah menikah pun membutuhkan cinta dari pasangan juga. Ditambah lagi, ada buah hati yang harus kami pikirkan nantinya.
Ehh, sampai mana tadi? Kenapa bang Ken diam saja? Ia mengantuk, atau sengaja menulikan telinganya?
“Abang!“ Aku menarik dagunya, agar ia menghadap padaku.
...****************...
__ADS_1