
"Mah, pamit tidur di ibu ya?" Gavin menggendong Kirei yang sudah tertidur.
"Memang udah diberesin kamar atasnya, Ria?" Mamah Dinda memandangku yang masih makan nasi beserta lauk pauknya.
"Udah, Mah. Pakaian, barang-barang, punya aku, Gavin sama Kirei ada di sana dan di sini." Aku menelan makananku dulu.
"Oh, ya udah." Mamah Dinda akhirnya mengangguk.
"Nanti ke sana sendiri ya, Riut?" Gavin membawa tas bayi berukuran kecil.
Tadi aku mengisinya dengan keperluan bayi, charger ponselnya dan minyak wanginya.
"Ya." Aku mengangguk dan melirik ke arah jam dinding.
Baru pukul tujuh malam, ia sudah buru-buru pindah kamar. Siang, ia molor terus. Aku jadi curiga jika begini.
"Dek…. Gavin tak kasar kah?" Papah Adi berbisik-bisik dengan menyenggol lenganku.
"Ish, kepo Abang tuh." Mamah Dinda melirik tajam.
Beliau pun kepo tadi, tapi memang suaminya tidak tahu.
"Tapi tak melenceng dari ketetapan agama kan, Dek?" Papah menyenggol lenganku lagi.
Beliau tidak peduli teguran istrinya.
"Tak, Pah. Aman aja." Aku menyempatkan tersenyum, sebelum menyendokkan nasi lagi ke mulutku.
"Syukurlah, pergaulan luar negeri soalnya tuh. Jadi, Papah ada takut-takutnya."
Malah menurutku, tidak ada gaya luar negeri sama sekali. Ia memukul part belakangku hanya sekali, masih dikatakan wajar karena tidak memb*** buta.
"Yang kasar tuh Abang, anak-anak sih tau norma kehidupan."
Aduh, aku yang malu mendengar mereka saling menyindir.
"Masa iya? Kan bisa disetel, tergantung mood dan permintaan." Suara genit Gavin ternyata didapatkan dari ayahnya.
Gavin bisa disetel tidak ya? Masa aku harus selalu menangis memohon untuk diberikan kesempatan keluar, tiap kali berhubungan?
"Mulut!" Mamah Dinda berurat kesal.
__ADS_1
"Biarin!"
Ternyata, tua itu seperti kembali ke mode anak kecil. Lebih baik aku cepat ikut Gavin deh, daripada menjadi wasit keributan mulut mereka.
Aku segera cuci tangan, mencuci piring kotor yang belum dicuci. Kemudian, langsung mengambil ponselku dan pamit.
Mudah, selesai. Mereka tetap seperti biasa, meski sudah menyandang status sebagai mertua. Tidak ada yang berubah, mereka tetap bersikap biasa padaku selalu menantu barunya.
Sudah gerimis, pantas saja Gavin buru-buru membawa Kirei dulu. Eh, ada sebuah motor yang lampunya tersorot ke arahku. Sampai akhirnya, motor itu berhenti di depanku.
Bang Ken dan Bunga.
"Dari mana, Bunga?" Aku menyapa anaknya tentunya.
"Abis main ke bunda, aku kangen biyung." Bunga memamerkan senyum.
Bunga masih di mbak Canda. Katanya sih, awal-awal memang diminta kembali. Tapi setelah tiga hari, Bunga dan pengasuhnya kembali ke pondok biyung. Entah benar atau tidak, alasannya rindu biyung. Padahal, biyungnya pasti tidak rindu.
"Ohh, iya. Udah gerimis tuh, cepatlah." Aku menengadahkan tanganku ke langit.
"Ria…. Kau kek sakit. Kau kecapean?" Aku tidak menyadari, jika bang Ken tengah memperhatikanku.
"Ya kecapean resepsi aja biasa."
"Dadah, Bunga. Kirei nangis keknya." Aku langsung melipir dan masuk ke dalam ruko yang masih buka ini.
Entah apa yang ada di pikiran bang Ken, Cavin pasti kurang suka tadi. Ibu ternyata menginap di rumah mbak Canda, jadi kami hanya bertiga dengan anak.
"Cukup anaknya yang suka senyum-senyum! Jangan sok ramah, tak pantas betul!" bentak Gavin, setelah aku masuk di kamar atas milik mbak Canda dulu.
Kagetnya aku ini, baru masuk langsung dihadiahkan bentakan.
"Orang Bunga yang nyapa." Jelas aku membels diri.
"Orang! Orang! Orang! Malu-maluin aja!" Yang jadi masalah itu bukan Bunga, aku yakin. Tapi ayahnya Bunga dan ayahnya Kirei.
"Tak ngapa-ngapain juga." Aku berjalan ke arah ranjang. Kirei tengah mendengkur dengan bantal yang melindunginya.
Aku kembali ke arah suamiku yang tengah membenahi pintu balkon. Aku menepuk pundaknya, dengan menyunggingkan senyum.
Ia marah, urat Riyana kentara sekali.
__ADS_1
"Maaf lah." Aku langsung memeluknya.
"Aturan tuh langsung pulang, bilang Kirei nangis atau gimana." Suaranya melembut kembali.
Syukurlah jika amarahnya tidak sepanjang ayahnya Kirei.
"Iya, iya. Lain kali aku bakal gitu kok." Aku mengusap-usap pipinya.
"Minta pijit dulu, terus aku mau ke bang Givan." Gavin merebahkan tubuhnya di atas karpet berbulu.
"Oke." Aku langsung mengambil minyak telon.
"Serius pakai minyak telon? Aku macam bayi kah?" Ia memandang ke arah tanganku, saat hendak memijat punggungnya.
Ia doyan minta pijat. Sore hari setelah mandi, ia minta pijat juga di bagian betis. Sekarang ia tidak memakai baju dan tengkurap, jadi aku pikir ia ingin pijat di bagian punggung.
"Capek sekali sih, pakai tukang pijat aja." Aku mulai memijat punggungnya.
"Biar kau ada fungsinya aja."
Huft….
"Ehh, gimana kerjaan di bang Ghifar? Belum resign kan? Mau resign atau mau lanjut?" tanyanya kemudian.
"Memang boleh?" Karena aku tahu, keluarga Riyana selalu melarang istrinya bekerja.
"Boleh, kalau bisa bagi waktu. Misal pagi, urus sarapan. Giling baju, biar aku yang jemur. Mandiin Kirei, siapin baju aku yang udah disetrika. Urus menu makan siang aku, biar tak makan makanan mamah terus. Terus berangkat kerja, Kirei sama aku sampai sore. Kau balik, mandikan Kirei, bersih-bersih kamar, urus baju kering, urus menu makan malam. Terus, malamnya layanin aku. Aku maunya rutin tiap malam, mumpung aku masih muda dan masih jago. Tua sedikit, nanti pasti aku ngurangin sendiri frekuensinya."
"Ya udah, jadi ibu rumah tangga aja. Dikira masak tak lama kah?" Aku langsung memutuskan, setelah pekerjaanku disadarkan olehnya.
Itu tidak mencangkup semua pekerjaan rumah tangga padahal. Tidak membersihkan rumah, tidak cuci piring dan lain sebagainya. Itu pekerjaan pokok yang dikerjakan istri-istri di sini meski mereka memiliki tenaga ART.
Ia tertawa geli. "Aku masih ngasih kebebasan loh, terserah tuh. Lumayan kan, seminggu kerja. Nanti di Lampung, pure jadi IRT karena aku tak punya ART di sana. Baju aku setrikaan semua ya? Kecuali dalaman dan celana jeans. Baju sehari-hari, baju kerja, atau baju tidur, pokoknya harus setrikaan semua. Pakai anti bakteri kalau nyuci, kulit aku sensitif. Jangan lupa pakai pewangi kalau nyetrika ya? Satu lagi, seprai ganti setiap dipakai berhubungan suami istri ya? Laundry tak apa, kalau keringat kita ngenain bed covernya. Terus, baju kerja habis di ladang gitu dipisah ya? Harus dikucek dulu, atau disikat dulu. Karena sering ada tanahnya. Aku mampu bayar ART, tapi tak mau kalau anak tak diurus tangan kau sendiri. Toh, baru satu Kirei ini. Kalau udah punya bayi lagi, baru aku mikirin baby sitter. Kalau memang nanti ada ART, kamar kita, baju kita, makanan kita, tetap kau yang urus. Jangan sampai ART tau aib kamar kita. Satu lagi, kalau pakai ART tak puas berhubungan di luar kamar loh. Nanti mainnya cuma di kamar aja." Ia mengusap-usap telapak kakiku.
Ujung-ujungnya hal mesum yang dipertimbangkan.
"Udahlah! Dibabat sendiri aja dulu, anak aku baru satu ini. Kalau Cali ikut, pasti aku butuh baby sitter dan ART." Pikirku, aku masih mampu mengerjakan semuanya sendiri.
"Cali tak mau ikut, biar aku yang penuhi kebutuhannya. Jangan batasi uang aku untuk anak-anak dan keponakan, karena kau tau sendiri kalau kak Canda tak menerima upah atas kasih sayangnya untuk Kirei. Jadi aku balas kebaikan mereka ke anak-anaknya aja. Keuangan tetap aku yang pegang, karena rencana aku untuk nambah ladang itu masih banyak. Nanti besok aku ambil uang, aku kasih sepuluh juta untuk atur segalanya. Kalau habis, boleh minta lagi. Belanja, kebutuhan Kirei, kebutuhan kau dan listrik dari uang itu. Kalau sisa, ya simpan untuk tabungan sendiri. Tapi tak mungkin kurang kan? Kak Canda aja tak sampai sepuluh juta sebulan."
Sensitif sekali aku ini, kenapa juga ia harus membandingkan dengan mbak Canda? Aku harus menjelaskan detail, biar melek kebutuhan.
__ADS_1
...****************...