
“Tapi kau udah punya penghasilan, Keith. Aku udah kepengen punya suami.“
Ehh, mulutku tak bisa diatur.
“Aku belum siap, Ria. Kalau nanti kau masih sendiri masanya aku siap, kau bakal jadi perempuan pertama yang bakal aku lamar.“ Ia menggenggam punggung tanganku.
“Kapan, Keith?“ Aku butuh kepastian.
Ia menggeleng, ia melepaskan tanganku kembali. “Aku belum bisa mastiin, Ria. Yang jelas, masanya itu nanti kalau aku bisa lunasin rumah, furniture, kendaraan dan galeri aku udah ada kemajuan. Ilmu rumah tangga, pendanaan yang tak terduganya banyak. Aku harus punya persiapan untuk itu, minimalnya tabungan lah.“
Aku hanya diam, pemikiranku tidak sampai tentang pemikiran kritis Keith. Menurutku, ya jalani saja. Tak dijalani, ya tidak akan tahu bagaimana nanti kita menikah. Tidak perlu harus penuh persiapan seperti Keith, aku rasa itu hanya alasannya saja.
“Mau ambil kamar tak? Kangen aku tak?“ bisiknya tiba-tiba, saat aku terdiam.
Aku menggeleng cepat, aku tidak berminat melakukannya dengannya. Meski cara bang Ken sedikit kasar, entah kenapa aku malah terngiang-ngiang selalu. Sentuhannya benar-benar seperti memberikan sensasi yang lain, seolah langsung membakar rasa inginku sehingga kami semakin memanas.
“Kok bersemu gitu? Aku bantu keluarkan,” bisiknya kembali.
Duh, ampun. Hanya teringat akan sentuhan ayahnya Bunga saja, rupanya aku sampai bersemu merah.
“Tak usah, Keith. Aku lagi datang bulan.“ Aku hanya beralasan.
“Aku gosok aja.“ Keith mengisyaratkan seperti memutar sesuatu dengan jarinya.
“Aku tak perlu dikeluarkan, aku bantu kau aja,” tambahnya kemudian.
“Tak usah lah, Keith. Aku betul-betul tak nyaman kalau lagi haid tuh?“ Aku menggeleng berulang.
Sebenarnya, aku malah baru selesai haid ketika mengantarkan Bunga ke Malaysia tadi. Aku baru mandi suci sorenya, lalu malamnya aku mengantar Bunga ke Malaysia.
“Oh, ya udah.“ Ia terlihat tetap biasa saja, meski aku sudah menolaknya.
__ADS_1
“Nih, aku pesan tas dan sepatu ini sama Steva.“ Keith menunjukkan gambar pada layar ponselnya.
“Bagus, elegan dan berkelas.“ Komentarku, ketika melihat satu set barang branded tersebut.
“Tentu, kau selalu nampak pantas pakai model yang elegan begitu. Kau cantik, Ria. Kau menarik di mata laki-laki manapun. Jaga diri ya?“ Ia tersenyum lebar dengan pandangan tulusnya.
“Pasti.“ Aku membalas senyumnya.
Kamu menghabiskan seharian ini dengan banyak memakan makanan tradisional. Perut Keith jenis perut karet juga sepertiku, ia kuat makan banyak. Makanya kami selalu merasa klop jika wisata kuliner bersama di daerah manapun.
Setelah menghabiskan setengah hari untuk mencicipi makanan dan membungkusnya juga, kami langsung terjun ke salah satu swalayan terlengkap. Banyak yang aku beli di sana, tapi bukan barang-barangku saja yang Keith beli. Aku teringat dengan Bunga, dengan tanpa alasan aku membeli barang untuknya dengan Keith sebagai donaturnya juga. Aku yakin ayahnya mampu membelikan, hanya saja pasti ayahnya tidak bisa memantaskan style pakaian anak lima tahun itu agar terlihat cantik.
“Aku istirahat di rumah mamah Dinda, Ria. Aku tak diizinkan ambil penginapan, katanya udah di saja aja karena cuma sebentar. Kau datangi aku ke sana ya, kalau kau ada perlu sama aku tapi nomor aku sudah dihubungi. Baterai HP aku habis soalnya, Ria.“ Keith membantuku membawakan barang-barangku.
“Oh, ya udah. Aku bisa bawa masuk sendiri kok, makasih ya?“ Aku tidak mau ia membawakannya sampai ke kamarku. Teringat dengan pakaian kotorku yang masih tergeletak tak beraturan di kamarku, aku akan malu jika Keith tahu kebiasaan burukku. Aku hanya akan membereskannya, ketika akan tidur saja. Aku sudah mengusahakan untuk tidak melakukan kebiasaan burukku itu, tapi sudah seperti kebiasaan yang sulit dihentikan. Aku hanya tertib satu atau tiga hari saja.
Ke mana ya perginya ibu? Kenapa ia tidak ada di rumah terus? Meski sering kesal dan berdebat terus dengan ibu, aku selalu mencarinya ketika beliau tidak ada di rumah.
“Bu….“ panggilku ketika memasuki rumah mbak Canda.
Hanya kakak ipar yang tampan saja, manusia yang aku lihat ketika aku menginjak rumah mbak Canda.
“Di kamar, Dek.“ Bang Givan hanya memalingkan wajahnya ke arahku sejenak. Kemudian, ia fokus memandang layar laptopnya dengan serius.
Ia tengah bekerja dan ia tidak memiliki waktu untuk bekerja, karena istrinya seperti anaknya. Ya begitulah, mbak Canda sering rewel dan mengganggu suaminya tidak tahu waktu dan kesibukan.
Aku langsung masuk, melewatinya yang tengah tidak ingin diganggu tersebut. Meski ini adalah rumah gedong milik orang kaya, tapi lantainya jarang bersih, alias berpasir terus. Meski anak-anaknya sudah memiliki rumah sendiri-sendiri, tapi mereka berkeliaran bebas di sini. Ya namanya juga anak-anak, tidak yang besar ataupun kecil, jika sudah bergurau ya kadang lupa kakinya datang dari mana. Tanpa membersihkan kaku lebih dulu, kaki tanpa alas kaki itu langsung masuk ke dalam rumah. Begitu terus siklusnya, sejak aku baru memiliki dua orang keponakan saja, sampai sekarang sudah begitu banyak keponakan.
“Ibu….“ Aku merengek seperti anak kecil, ketika melihat keberadaan ibu yang tengah mengusap-usap pinggang mbak Canda.
Enak sekali menjadi mbak Canda, ia banyak yang sayang.
__ADS_1
“Eh, udah pulang kau? Dapat apa jalan-jalan tuh?“ Ibu seperti ibu-ibu pada umumnya.
“Dapat banyak. Pulang yuk, Bu?“ Aku tidak nyaman jika di rumah tidak ada ibu. Padahal, aku sering nginep di kantor atau di luar kota. Tapi tetap saja, ibu adalah tempatku pulang paling nyaman.
“Nanti, Ndhuk. Chandra lagi minta anterin ke minimarket, Biyungnya malas, jadi nanti sama Ibu.“ Ibu menyudahi untuk mengusap-usap punggung mbak Canda.
“Bu….“ Suara bujang tanggung sudah menggema.
“Iya, Bang,” sahut ibu dengan turun dari ranjang besar itu.
“Nih uangnya, Bu. Beli yang Ibu mau juga.“ Mbak Canda memberikan uang yang cukup tebal.
Sepertinya, Chandra ingin membeli beberapa keperluan pribadinya dan Ceysa untuk persiapan ke Singapore nanti.
“Iya, iya.“ Ibu melihat ke arahku yang masih berdiri dengan bersedekap tangan. “Kau temani Mbakmu dulu, Ndhuk.“ Ibu langsung bergegas melewatiku begitu saja.
“Iya, Bu.“ Aku berjalan ke ranjang dan menghempaskan tubuhku di sana.
Uhh, lurusnya pinggang ini.
“Dari mana sama Keith?“ tanya mbak Canda tiba-tiba.
“Jalan-jalan aja, beli barang. Kenapa, Mbak?“ Aku berbaring menyamping menghadap mbak Canda, kami berhadapan sekarang.
“Ditembak tak? Ngajakin nikah atau gimana?“ Matanya berbinar-binar, ketika ia menanyakan hal itu. Sepertinya, mbak Canda ingin tahu kemajuan hubungan kami.
“Mbak tau tak sih, Keith ini mikirin resiko hidup kita nanti setelah menikah. Dia mikirin biaya anak kami kelak, padahal kami belum berencana untuk menikah dan cepat punya anak. Dia pernah punya istri saat masa SMA, terus dia disindir terus karena tak bisa cari nafkah. Jadi dia merasa bahwa pernikahan adalah tanggung jawab, dia merasa belum mampu untuk menanggung sepenuhnya untuk ini dan itu.“ Aku meringkas cerita Keith.
Mbak tau mengerutkan keningnya dan menyatukan alisnya. “Kok kek bang…..
...****************...
__ADS_1