
[Lagi nuduh ceritanya?]
Aku sudah kepalang panas. Aku tidak membalasnya dengan kata-kata, tapi aku mengirimkan semua bukti foto-fotonya yang berada di hiburan malam. Foto yang kak Riska ambil dari belakang, video singkat saat dirinya meneguk minuman keras, ataupun fotonya bersama kak Riska dengan caption penyerta 'first support' itu.
Apa yang ia lakukan? Ia tidak merespon apapun. Apa ia merasa bersalah? Aku tidak tahu juga, tapi yang jelas ia tidak mengetikkan apapun setelah itu.
Coba bayangkan, ia membiarkanku berhari-hari hidup dengan pemikiran burukku sendiri. Efeknya, kini keadaan kesehatanku memburuk. Aku pun merasa, akhir-akhir ini aku jarang makan dan sering begadang tidak jelas. Aku sering memantau sosial media orang-orang yang aku curigai memiliki kedekatan dengan bang Ken, karena barangkali ia membuat story kebersamaan dengan bang Ken. Meski nyatanya tidak dan nyatanya aku buang-buang waktu saja, tapi tetap aku terus memburu informasi tentangnya.
Sosial media lamanya pun menjadi incaranku. Aku tidak lelah menscroll sampai ke postingan pertama, hanya untuk melihat komentar-komentar yang mengacu ke arah orang terdekatnya. Nyatanya, tidak ada. Ia seperti tidak memiliki teman dan tidak pernah menandai siapapun. Hanya kak Riska, satu-satunya yang aku bilang menjurus ke arah kedekatan dari pertemanan dan lebih dari teman bersama bang Ken. Ternyata, mereka mengenal sejak sekolah menengah atas.
[Hana, aku sakit.] Aku mengirimkan pesan untuk Hana.
Aku sampai tidak ikut kelas, karena keadaanku benar-benar tidak baik. Suhu tubuhku naik, aku mual, mataku pedas dan terasa lelah. Kaki dan tanganku begitu linu, seperti lelah habis melakukan pekerjaan berat.
[Maaf, Ria. Aku tak bisa datang, aku tengah berada di rumah orang tuaku di Panama. Di sini tengah acara pernikahan kakakku, aku harus menghadiri dan menambah suasana gembira di sini.]
Aku cukup kecewa mendapat balasan dari Hana. Kala aku melihat story WhatsApp milik Hana, ia memposting hingar bingar sebuah pesta di dalam ruangan. Nuansa warna putih dengan dikelilingi bunga-bunga yang amat banyak, menandakan sekali bahwa itu adalah sebuah pesta pernikahan.
[Ya, Hana. Tak apa.] Aku segera membalas pesan Hana, aku memaklumi alasannya.
Aku butuh seseorang yang datang dengan membawa seorang dokter, atau setidaknya aku diantar untuk berobat ke dokter. Karena aku sedang hamil, aku tidak berani meminum obat secara bebas.
Tapi aku memutuskan untuk bertanya kepada Alfonso tentang kontak dokter yang bisa diminta untuk datang ke rumah.
[Alfonso, kau punya dokter keluarga yang biasa datang ke rumah tak?] Aku mengirimkan pesan di waktu jam kuliah. Aku tahu, Alfonso tengah belajar sekarang.
Sekitar jam sepuluh pagi, Alfonso baru membalas pesan dariku. [Tak punya, Ria. Dokter umumnya tak seperti di drama telenovela, Ria. Mereka sulit diminta datang, meskipun pasien membutuhkan persalinan sekalipun. Orang yang bersalin saja, diminta datang ke rumah sakit untuk melakukan persalinan.]
Balasannya membuatku moodku semakin buruk saja.
[Kau cerewet, Alfonso!] Bukannya informasi yang aku dapat, tapi malah ocehannya.
[Datanglah ke rumah sakit dan sebutkan keluhan kau.] Balasnya kemudian.
__ADS_1
[Aku demam tinggi, Alfonso. Aku tak mampu datang sendiri ke rumah sakit, kaki dan tanganku sakit semua.] Akuku dalam pesan balasanku untuknya.
[Nomor seratus tujuh belas kan kamar kau? Nanti aku ke sana untuk antar kau ke rumah sakit.]
Laki-laki memang harusnya lebih simpel begini. Bukan banyak wacana dan ocehan seperti balasan pertamanya.
Ya sudahlah, Alfonso yang mengantar pun tak apa. Yang penting, keadaanku cepat tertangani dengan baik.
[Ya, Fonso.] Balasku cepat.
Aku tidak menyangka ia datang secepat ini, karena biasanya ia ada jam tambahan. Aku segera mengambil kerudung instan, untuk menemuinya.
Ia datang seorang diri, dengan masih membawa ranselnya. “Kau pucat sekali, Ria.“ Ia nyelonong masuk ke dalam apartemen milikku, kala pintu sudah dibukakan.
“Dari kemarin aku udah tak enak badan, baru mulai demam semalam tapi langsung tinggi.“ Aku menutup pintu apartemen yang selalu terkunci otomatis, kemudian aku memandang Alfonso yang sudah duduk di sofa ruang tamu milikku.
“Gantilah pakaian kau layaknya orang sakit. Terus aku antar ke rumah sakit.“ Alfonso memandang lurus ke depan.
Aku melirik ke arah pakaianku.
“Iya.“ Aku meninggalkannya untuk masuk ke dalam kamar.
Aku langsung duduk di tepian ranjang, karena kakiku amat linu karena dibawa berjalan tadi. Aku diam sejenak, agar kakiku terasa lekas nyaman. Setelahnya, aku mencari celana kulot dan sweater rajut. Aku merangkapnya dengan jaket parasut oversize nan tebal, kemudian aku mencari pasmina dengan tali di bawah dagu. Aku mual, jika mengenakan sesuatu yang membuat sesak seperti kerudung.
“Aku udah siap, Fonso.“ Namun, kakiku gemetaran. Aku langsung menahan tubuhku duduk segera di sofa terdekat. Sayangnya, sofa itu di dekat Alfonso.
“Ria, kau jangan mati di sini. Aku bakal kerepotan ngurus jenazah kau, aku non muslim, aku tak paham cara pemakaman menurut agama kau.“ Alfonso memegang lenganku.
Mual seketika.
“Alfonso, aku butuh air hangat.“ Keringat dingin langsung membasahi wajahku dan tubuhku.
“Ya ampun, Ria. Sabarlah sebentar.“ Alfonso bergerak cepat ke arah belakang apartemen.
__ADS_1
Aku menyeka keringatku berkali-kali, darah seperti turun dari kepalaku dan turun ke tubuhku. Napasku tidak nyaman, dengan langsung aku menarik kerudungku dan melepaskan jaket parasut tebal ini. Aku takut sesak napas.
“Fonso, aku mau muntah. Bisa tolong bawakan tempat sampah ke sini,” seruku dengan membaringkan tubuhku di sofa.
Ya ampun, aku kenapa?
Tanganku langsung dingin dan gemetaran seperti orang kelaparan. Aku tidak tahu Alfonso sedang melakukan akrobat apa di dapur, karena terdengar beberapa barang plastik yang terjatuh dan juga seperti ada sesuatu yang menabrak rak piring.
“Fonso!“ Sisa makananku seperti sudah berkumpul di leher.
Alfonso datang membawa panci dengan sedikit air di dalam panci tersebut. Ia langsung menaruhnya di samping sofa yang aku tiduri, tepat di bawah kepalaku.
“Muntalah di situ saja, tempat sampah menyatu dengan meja set. Aku tak paham cara lepasnya, kecuali bawa kantong sampahnya saja.“
Sudahlah, terserah ia saja.
Karena aku benar-benar muntah sekarang. Bodohnya ia lagi, ia menekan leher bagian belakangku seperti mencubitku, bukan memijatnya.
Aku menepuk tangannya. “Tolong ambilkan air hangat aja.“ Hidungku terasa pedas sekali.
“Oh, iya-iya.“ Ia langsung berlari ke belakang.
Manusia Fonso terbuat dari apa? Dia absurd sekali.
Aku kembali muntah, sampai hanya air berwarna kuning saja yang keluar dan itu pahit sekali. Lambungku benar-benar kosong tidak terisi makanan.
“Ya ampun, Ria. Kau sekarat ini, Ria. Telepon lah keluarga kau, atau mana nomornya biar aku hubungi.“ Alfonso menyodorkan air dalam gelas dengan asap yang mengepul.
“Diamlah, Fonso! Aku bisa benar-benar mati, kalau kau berisik.“ Aku menyeka air mataku yang menetes secara tidak aku sadari.
Klik….
Aku dan Alfonso menoleh ke arah daun pintu. Pin pada pintu itu seperti ditekan oleh seseorang dan kuncinya terbuka seketika. Kemudian, gagang pintu itu bergerak ke bawah seperti ditarik oleh seseorang. Lalu, pintu itu terbuka dengan menampakkan seseorang yang aku kenal.
__ADS_1
...****************...