
"Yang benar aja, Pah. Masa iya mau dijodohkan sama anak sendiri, yang jelas lebih muda lagi. Mana kan, kalian tau sendiri gimana buruknya Ria?" Bang Ken melirik sekilas padaku.
Ia seperti memiliki dendam padaku, secara tidak langsung ia seolah mengatakan bahwa aku adalah perempuan yang buruk. Oke, aku tidak merasa suci juga. Tapi ia seharusnya tahu, bahwa ia tidak berhak mengatakan hal seperti itu.
"Siapa yang jodohkan? Tak berharap juga untuk Gavin bawakan menantu dekat-dekat ini. Tapi, kalau memang mereka ada keseriusan ke arah itu ya baiknya didukung. Karena jejaknya nikah siri semua, udah pasti bakal lebih nekat dari sebelumnya." Papah Adi sesekali memperhatikan gerakan cucunya, meski ia tengah berbicara dengan bang Ken.
"Dia masih istri aku, Pah." Bang Ken cenderung ngotot.
"Terserah kau berpendapat aja, Ken." Papah Adi seolah tidak peduli dengan ucapan bang Ken.
Kurang ajar memang! Bang Ken membanting sendok makannya ke piring, kemudian ia berjalan keluar dari dapur ini.
"Aku pulang duluan," serunya kemudian.
Kentir, memang!
"Aduh… Ck, nih anak makin melengkung aja." Abi Haris geleng-geleng kepala.
"Maaf ya, Kak? Maaf ya, Bang?" Tante Salwa seperti tidak enak pada mamah Dinda dan papah Adi.
"Tak apa, kami udah tau watak dia." Mamah Dinda menanggapi santai, dengan menyendokkan makanan ke mulutnya.
Aku tidak mengerti pikiran pak tua Ken yang masih merasa seperti ABG itu. Apa ia benar tengah merasakan puber kedua? Tapi kenapa menjeratnya para gadis-gadis muda? Eh, tapi memang om-om berduit pun mengincarnya daun muda. Tapi jika diingat, Hala tidak mudah lagi, hanya memang belum menikah. Saat ia datang ke keluarga ini, bahkan usiaku baru enak bekas tahunan kalau tidak salah dan ia sudah menjadi wanita dewasa. Saat ruko ibuku sudah jadi dan saat Ceysa sudah dilahirkan.
"Kita baiknya pulang secepatnya kah? Atau tunggu masalah ini selesai?" Abu Haris menunda acara makannya.
Oh, iya. Kirei bersama Mariam, mereka di kamarnya dan ada Gibran di dalam. Pintunya tertutup, jadi aku sungkan untuk membawa Kirei keluar. Tapi sepertinya sih, mereka tengah bersenda gurau bersama karena terdengar gelak tawa renyah dari dalam.
Aku jadi teringat lagi problem rumah tangga Gibran. Apa memang orang-orang yang baru menikah itu langsung diberi ujian? Gibran stay di rumah orang tuanya katanya, meski istrinya tinggal di rumah mertua dari Gibran. Yang artinya, mereka tidak romantis dan tidak selalu bersama.
Aku dan bang Ken ya hanya bertahan beberapa bulan saja, karena sifat kami yang seperti ini. Ditambah lagi, saat ada konflik tidak ada yang menengahinya. Tidak ada orang tua, yang mencoba melerai permasalahan kami. Kami jauh dari keluarga, orang tua, bahkan dari saudara. Tidak ada yang tahu bahwa kami menikah, jadi wajar saja tidak ada yang menengahi permasalahan kami.
"Pulang aja tak apa, Ria tetap di sini biar aman. Aku pun di rumah aja, jadi bisa kontrol keadaan." Mamah Dinda menuangkan air putih.
__ADS_1
"Neeee… Neeee…" Anak kecil itu bersuara lantang juga.
"Hm, ya. Apa, Dek?" Mamah Dinda menoleh ke arah cucunya yang duduk di lantai tersebut.
"Au…" Anak satu tahun itu menunjuk gelas di tangan neneknya.
"Sini." Mamah Dinda melambaikan tangan, kemudian Cali mendekat ke arah neneknya.
Biarpun aktif seperti itu, ia tetap ada telinganya. Tidak seperti Ra, yang diam saja ketika disuruh ke sini atau apa. Tapi ketika ia berbicara, ia ingin seluruh orang meladeninya. Aku musuh sekali dengan anak kakakku yang satu itu, puncaknya saat ia memukul kepalaku dengan kotak kontainer kecil yang berisikan balok susun.
Sungguh, rasa sakitnya membuatku selalu waspada jika didekati Ra. Anak itu sudah galak, ditambah ringan tangan. Padahal, didikan ayahnya ini keras. Kalian tahu kan bagaimana didikan militer ala bang Givan? Ya kira-kira setimpal juga seperti sifat kasar dan nakal dari seorang Ra.
Setelah membantu berbenah meja makan, aku pamit untuk mandi. Tak ketinggalan juga, aku langsung berhias sedikit. Kemudian, aku meladeni Kirei yang sudah keluar dari kamar Mariam dan Gibran.
Bau parfum keduanya, sampai berpindah ke tubuh Kirei. Pasti Kirei diciumi habis-habisan.
"Kenapa kau, Nak?" Aku memperhatikan Kirei dengan heran. Karena ekspresinya seperti menahan senyum geli.
Lalu ia bersuara, setelah memasang ekspresi seperti itu. Ia girang, di tengah-tengah keluarga yang hebring ini. Senangnya hatiku, karena belum seratus hari tapi Kirei sudah bisa merespon. Kaki dan tangannya pun bergerak tidak beraturan, dengan hidung yang naik-naik seperti menakut-nakuti seseorang.
"Ada Ghifar, Ria." Mamah Dinda melongok ke pintu kamarku yang terbuka setengah.
"Iya, Mah." Aku mengangkat Kirei dan membawanya keluar kamar kembali. Padahal, baru saja aku membawanya masuk ke dalam kamar.
"Kirei sini, main sama Kak Cali." Papah Adi mengambil Kirei dariku, saat aku hendak melewatinya yang duduk di ruang keluarga.
Lihatlah, Kirei ikut gembiranya saja seperti Cali.
"Sini, Dek." Suara bang Ghifar seperti berada di ruang tamu.
"Mau ke ibu, Pa." Itu suara Ra. Gawat, anakku bisa dibuat adonan olehnya.
"Nanti sama kak Ria, tunggu sini."
__ADS_1
Aku? Ah, bang Ghifar ini.
Benar saja, aku diminta mengantar Ra ke ibu oleh bang Ghifar. Anak itu terlihat kalem di depan ayah asuhnya, mungkin bang Ghifar banyak merubah kebiasaan anak itu. Tapi ia malah mencubit punggung tanganku, kala aku menggandengnya untuk mengantarkannya ke ruko ibu.
"Nakal!" Aku menarik tanganku.
"Biarin! Dasar kak Ros!" Ia menyipitkan matanya sini.
Suka-suka ia sajalah. Karena pada akhirnya aku menggandengnya lagi untuk sampai ke ruko ibu. Aku khawatir ia berlari sesuka hatinya, lalu tidak sadar ada motor yang melaju.
Aku kembali ke rumah, setelah mengatakan pada ibu bahwa ada bang Ghifar menungguku di rumah dan akan memberi pekerjaan untukku besok. Ibu berjanji untuk ke rumah mamah Dinda esok, untuk membantu menjaga Kirei. Katanya, ia ingin mengajak Kirei bermain seharian bersama anak-anak mbak Canda. Entahlah, diizinkan tidak oleh mamah Dinda. Karena aku membaca, Kirei seperti tidak diizinkan lepas dari jangkauan mereka, atau keluar dari rumah ini. Seolah ada bahaya yang mengancam.
"Gimana, Bang?" Aku duduk di sofa lain, yang berhadapan dengan sofa yang bang Ghifar duduki.
"Jadi asisten owner aja ya? Nih, yang harus kau pelajari untuk besok." Bang Ghifar mendorong berkas itu ke hadapanku.
Harus kuat melihat tulisan yang seabreg plus pemahaman dalam waktu cepat juga.
"Asisten Abang berarti?" Aku menarik berkas tersebut dan memandangnya.
"Iyes." Bertambah dewasa, ia semakin mirip dengan papah Adi.
"Kak Dewi?" Aku bingung dengan salah satu orangnya yang selalu berada di dalam ruangan bang Ghifar itu. Hebatnya lagi, mereka tidak pernah ada geger menyukai satu sama lain.
Kak Dewi pernah pindah ruangan di depan ruang kerja bang Ghifar, tapi saat aku keluar dari pabrik tersebut, kak Dewi memindahkan mejanya lagi ke dalam ruangan.
"Ada juga, kau asisten dan dia sekretaris. Asisten satu di luar, kerja gantiin posisi Abang. Asisten dua kau, bantu Abang cek kerjaan dan segala macam. Abang sering pulang soalnya, kadang pergi ke Bali urus usaha Abang yang lain." Intinya, aku mirip dipekerjakan seperti orang kepercayaan.
Hei, aku yang adik iparnya saja terikat kerja dengan tanda tangan materai di keluarga ini. Jika ada kebocoran dokumen atau semacamnya, aku bisa menjadi tersangka juga.
"Udah feeling juga Abang mau anteng di rumah ini sih." Aku membolak-balikan dokumen ini.
Lihatnya, ia tertawa lepas. "Biar kau ada kerjaan."
__ADS_1
Hm, aku merasa tak enak hati jadinya. Aslinya, memang tidak ada lowongan pekerjaan untukku. Tapi bang Ghifar buang-buang uang untuk mempekerjakanku.
...****************...