
…….Sulit untuk masalah kek gini ini, makanya kenapa Abang pernah coba dekati perempuan yang punya keahlian psikolog. Tapi nyatanya, dia tak mau menerapkan dan ngertiin sifat Abang. Malah, selalu buat emosi aja. Dari awal Abang mutusin, sampai sekarang dia buat risih aja. Abang sampai bayar orang yang ngerti akun sosmed gitu, karena dia buat khusus IG kami dan isinya foto mesra kami. Abang tak masalah sekarang, karena belum ada istri. Tapi gimana kalau nanti Bunga paham dan Nemu akun itu? Citra Abang sebagai seorang dokter pun jadi kurang baik. Lebih bisa dimaklumi dokter tatoan, daripada dokter yang ahli zina. Tak membanggakan juga dokter yang kuat minum, tapi lebih tak pantas disebut malaikat penolong kalau pasien kami tau gimana buruknya kami sebagai seorang manusia yang berprofesi bak malaikat penolong.“ Dari suaranya, terdengar sekali bahwa emosinya naik kembali.
Ia gampang sekali emosian.
“Putri maksudnya?“
Ia langsung mengangguk mantap. “Nih.“ Ia menunjukkan layar ponselnya. “Belum berhasil diblok sama orang Abang, karena keamanannya ke Gmail Putri, jadi nanti ketahuan Putri.“ Ia menunjukkan sebuah akun bernama Putri Kenandra.
Benar-benar gila, bahkan ada foto bang Ken tengah menj**** pelipis Putri. Pengikutnya pun banyak, mungkin karena foto-foto syur ini. Mereka mencari bahan untuk c*** mereka.
“Mesra betul.“ Entah kenapa rasanya begitu menyakitkan melihatnya berfoto mesra bersama perempuan lain.
Aku tidak tahu pasti, berapa lama mereka menjalin hubungan. Namun, aku tahunya bang Ken tidak semesra seperti bersamaku. Ia pun, mengaku jika tidak pernah berhubungan badan.
Tapi, foto-foto ini seolah menampilkan hal-hal yang tidak dilihat oleh pandangan umum. Yang artinya, bisa saja bang Ken hanya menutupi aibnya dariku agar namanya tetap baik.
“Tak semesra Abang ke Adek.“ Ia langsung menarik ponselnya. “Waktu pacaran, dia tak buat akun ini. Setelah putus ini, dia kek sengaja nyebar aib sendiri. Semoga aja, para dokter senior tak tau. Bisa hancur reputasi Abang.“ Ia menggosok wajahnya sendiri.
“Tujuannya apa?“ tanyaku yang memang tidak mengerti sifat Putri dengan baik.
“Ya bumi hangus. Dia tak bisa dapatkan, harusnya orang lain pun tak bisa dapatkan. Dia sengaja ngerusak reputasi Abang, karena dia pengen Abang yang hangus di sini,” jelasnya yang mudah aku pahami.
Oh, ternyata seperti itu ya?
“Memang masih komunikasi tak?“ Aku memperhatikannya dari samping. Ia sedikit pucat, aku khawatir kondisinya memburuk.
__ADS_1
Provider di sini, hanya mampu menggunakan satu jaringan saja. Agak gila bukan? Provider biruku, kalah dengan provider merah. Bang Ken menggunakan provider merah, jadi dari awal dia tancap gas terus sinyalnya. Aku memiliki dua kartu sekarang. Karena aku enggan berganti kartu, tapi untuk data seluler aku menggunakan provider merah.
“Abang tak respon, tapi memang dia hubungi terus.“ Kini ia menunjukkan isi dalam aplikasi chattingnya.
Tidak ada nama perempuan lain, semuanya nama laki-laki. Tapi, bisa saja kan oa chatting dengan perempuan yang disimpan olehnya dengan nama laki-laki? Hanya Putri, nama kontak perempuan dalam histori chattingnya.
“Mau lihat.“ Aku ingin tahu, seberapa ia ingin terbuka padaku.
Dari pengakuannya tentang emosinya tadi, berarti memang ia memiliki masalah dengan emosinya. Ia ingin mendapatkan perempuan yang memiliki ahli psikolog, ia maksudkan agar perempuan itu bisa membantunya mengontrol emosinya dan mengerti akan dirinya yang memang sulit untuk mengatur emosinya.
Dalam artian, ia ingin seorang perempuan yang bisa menenangkan dan mengendalikan emosinya. Karena, ia pun tidak ingin dalam kondisi yang seperti itu. Bisa jadi, ia sendiri takut terkena gagal jantung atau serangan jantung. Atau, ia pun memang tidak ingin jadi manusia yang menakutkan seperti itu.
Aku mengerti, meski ia tidak menjelaskan secara gamblang. Aku bukan Canda Pagi Dinanti, yang harus diberitahu secara detail.
Apa aku bisa ya menenangkan amukannya? Tapi bagaimana, jika aku malah menjadi sasarannya? Terang saja, aku malah takut melihatnya seperti itu. Bahkan tak sekali saja, pikiranku berkeliaran tentang bang Ken yang malah kesurupan.
Kok ada ya manusia seperti ini? Hei, jenis Ananda Givan yang cemburuannya besar. Ia menggunakan kode khusus dalam ponselnya, ya meski istrinya tahu pasti kodenya.
Tanpa pertimbangan khusus, aku langsung membuka isi pesan chatnya dengan Putri. Benar, tidak ada balasan dari bang Ken. Melainkan, Putri yang malah spam chat.
Apa aku mampu bersaing dengan Putri?
[Ken, kau yang minta aku tapi kau yang buang aku gitu aja.] Pesan itunya menarik perhatianku.
Iya sih, seperti habis manis sepah dibuang.
__ADS_1
“Apa Abang pernah berhubungan badan sama Putri? Dilihat dari foto Abang, kesannya Abang kek mesra begitu.“ Aku bertanya sangat berhati-hati, aku khawatir malah membangkitkan emosinya lagi.
“Tak pernah penetrasi, petting aja.“
Sepertiku dengan Keith. Jadi, hanya sebatas dia dikeluarkan dan aku dikeluarkan. Ya, hanya sebatas pemanasan saja.
“Masa iya?“ Aku memicingkan mataku.
“Iya, tak pernah. Jujur aja, Abang itu sulit berhubungan badan dengan orang baru. Abang cenderung lebih mudah, kalau berhubungan dengan mantan. Karena, kek tak segan lagi gitu.“ Ceritanya terpenggal-penggal beberapa kali.
Berarti benar kah, jika ia ini selalu meminta jatah pada mantannya?
“Ke kak Novi juga kah?“ Aku tahu drama percikan perceraian bang Ghifar dan kak Novi, ya bang Ken lah penyebabnya.
“Dulu sama Novi pun tak sampai hubungan badan. Pernah petting aja, karena memang cuma teman datting, bukan benar-benar pernah ada hubungan khusus. Mungkin bisa dibilang, teman tapi mesra gitu lah. Tak lama juga dekat sama Novi ini, karena Abang berat ke Riska. Gimana ya? Meskipun Novi cantik luar biasa, tapi bikin laki-laki segan gitu. Karena mikirnya, blasteran pasti gaya hidup wah. Mana kan, Abang masa itu masih beban keluarga. Abang masih dokter praktek dan Abang juga ngumpulin dana untuk pendidikan spesialis. Jadi, mikir untuk nikahin pacar sendiri atau perempuan yang begitu cantik pun tak ada. Masih jauh pikiran untuk menikah masa itu. Agak nyesel juga sih, malah jadinya tekat punya anak.“ Bang Ken bercerita dengan fokus dan lancar, berarti ia tidak berbohong.
Berarti, antara bang Ken dan kak Novi itu seperti aku dan Keith kan? Teman ngedate, teman tapi mesra.
“Kalau ke Riska. Eummm…. Ya hampir selalu minta jatah. Alasan nengokin anak, Abangnya juga nengokin ilalangnya,” lanjutnya seperti ragu-ragu.
Bukan ia berbohong, tapi ia terkesan tidak enak hati untuk mengatakannya.
“Bukannya hubungannya tak baik? Kok bisa minta jatah? Gimana caranya?“ tanyaku beruntun.
Ia melirik ke arahku, dengan tersenyum manis. Senyumnya begitu memikat, plus menarik perhatian. “Begini caranya……” Ia merangkulku dan duduk lebih dekat denganku.
__ADS_1
...****************...