Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD230. Telepon lagi


__ADS_3

"Ajeng minta ngomong sama kau, Dek." Mbak Canda membuatku shock. 


"Sama aku apa sama Gavin? Ini kan HP Gavin." Aku melirik suamiku. 


Aku takut, jika mantan istri suamiku agresif seperti ini. 


"Ya gitu sih sebenarnya, tapi kan Mbak tak mau buat kau ribut." Ia terkekeh kecil. "Ada Mbak kok, Mbak speaker," lanjutnya kemudian. 


Aku memandang suamiku lagi. Aku tidak ingin menyampaikan hal ini, aku sedikit tidak ridho ia berbicara dengan mantan istrinya yang Ajeng dengan sengaja tidak ingin aku tahu. Kalau memang ia ingin berbicara padaku, harusnya ia menghubungi langsung. 


"Aku lagi di jalan, Bang," ujar Gavin tanpa tahu siapa yang menghubunginya. 


"Hallo." Suara Ajeng terdengar, tapi jelas Gavin tak bisa mendengarnya karena aku tidak mengaktifkan speaker dalam panggilan ini. 


"Ya hallo, Gavin lagi nyetir, Jeng," sahutku kemudian. 


Aku terus memandang Gavin. Aku tahu Gavin langsung menoleh, kala ia mendengar aku menyebut nama Ajeng. Tapi wajahnya biasa saja, ia fokus menyetir dan memandang lurus ke depan kembali. 


"Bisa minta dia nepi dulu?"


Wow, penting sekali rupanya. 


"Yang, nepi dulu kata Ajeng." Aku mengusap lengan atas suamiku. 


"Ngomong sama kau aja, tanggung bentar lagi sampai minimarket terdekat."


Aku harap semoga Ajeng mendengar ucapan Gavin. 


"Waaaaaa……" Kirei mencoba menarik kemeja panjang ayahnya. 


"Apa, Cantik?" Gavin sempat menoleh dan tersenyum pada Kirei. 


Suara Kirei itu kuat dan ngebas, seperti siap digurah. Seperti plong gitu suaranya. 


"Matikan aja dulu, Mbu. Kita mau belanja."


Aduh, aku melupakan jika panggilan telepon masih tersambung. 


"Hallo, Jeng." Aku fokus mendengarkan suara di dalam panggilan telepon. "Kata Gavin, dimatikan dulu." Aku merasa tidak enak pada Ajeng sebenarnya. Tapi aku ada tidak ridhonya, karena Ajeng tidak menginginkan perantara mengobrol atau kehadiranku. Ia malah langsung ingin berbicara dengan Gavin saja. 

__ADS_1


"Oh, nanti ditelpon balik kah?"


"Tak tau, kita lagi di luar soalnya. Bisa jadi kita di luar lama, atau lebih cepat." Aku berbicara dengan hati-hati. 


"Ya udah, minta tolong bujuk Gavin biar bisa pulang ya, Kak?" Harapan Ajeng besar sekali, terdengar dari suaranya. 


"Iya nanti aku ngomong." Aku melirik suamiku lagi. 


"Makasih ya, Kak? Ya udah, aku matikan panggilan teleponnya." Seketika itu juga, panggilan telepon terputus. 


Aku memasukkan ponsel Gavin ke tas milikku, berikut dengan obat Kirei yang berada di dasbor. Agar ketika turun, tidak ada barang yang kelupaan di mobil. 


"Dah nih, sampai deh di minimarket." Gavin menepikan kendaraan dan memarkirkan dengan rapi.


Baru masuk minimarket, ia langsung menunggu ke jejeran tak pomade dan parfum laki-laki. Tapi ia tidak fokus di barisan itu, melainkan pada barisan paling atas. Di mana, alat kontrasepsi berbagai rasa dan pilihan ada di sana. Ada juga beberapa merek gel pelumas berbagai ukuran. 


"Belanja gih, Kirei sama Ayah aja, biar Mbu bebas milih." Ia tersenyum lebar. 


Di balik senyumnya itu, ada kondisi di mana aku harus pasrah karenanya. Ayah sambungnya Kirei sedang berusaha mengusir rasa jenuh, dari hubungan ranjang kami. 


Memang terdengar nyesek, kala ia mengatakan dengan jujur. Namun, jika ia hanya diam dan tidak mengatakan. Tentu hubungan kami yang akan jadi taruhannya. 


"Boleh, terserah. Susu hamil pun boleh." Ia melucu. 


"Ayah harus berusaha lebih keras lagi." Aku memberinya semangat. 


"Oke, nanti dikerasin." Ia menahan tawanya. 


Dasar mesum! 


Aku langsung mengambil keranjang, kemudian beralih di jejeran rak sebelahnya. Aku sesekali menengok mencari keberadaan mereka, karena khawatir aku ditinggalkan di minimarket ini. 


Aku selalu mengecek tanggal kadaluarsa dari setiap produk. Kadang aku memilih tanggal yang masih jauh, dengan mengambil produk di susunan paling belakang. Sebenarnya masih aman juga jarak kadaluarsa, tapi aku lebih memilih yang lebih lama saja. Untuk jaga-jaga, jika aku tidak berniat menggunakannya dalam waktu dekat. 


Setelah di mobil, Kirei meminta susunya kembali. Sedikit repotnya di sini jika anak mengkonsumsi susu formula, karena harus diberi jarak untuk pemberian obat. Jika ASI, ya boleh langsung diberi juga. 


"Pengen." Ia mengusap-usap paha bagian dalamku. 


Frekuensi hubungan suami istri masih begitu sering. Ia menganggur seperti ini, malah siang-siang aku sering digarap. Ketika aku haid pun, ia tetap ingin dikeluarkan menggunakan caranya sendiri. Tentunya, tidak melakukan secara langsung pada milikku yang sedang berdarah-darah. 

__ADS_1


"Apa alasannya mendadak pengen pakai sarung?" tanyaku kemudian. 


Kirei sudah payah, padahal ia belum minum obat. 


"Tengok film abis Subuh tadi." Alasan yang tergolong biasa. 


Jika ia melakukan denganku, tapi bayangannya ke film dewasa. Jujur, aku merasa tersinggung. Ia pasti membayangkan tubuh indah seperti pada di film itu, kala melakukan denganku. Tapi aku tidak ingin mencari ribut, dengan membahas hal ini. Toh, itu sudah hubungannya dengan Tuhannya. 


"Cantik ya modelnya?" Getir rasanya mengucapkan hal ini. 


"Heem, tapi biasanya udah tak asli semua. Ini itu, biasanya pakai silikon. Aku suka yang asli, kecil begini tak apa kalau asli." Ia mulai iseng lagi, dengan cara mencolek dadaku. 


"Hm, ngeledek." Aku melirik ke arah Kirei yang berada di dekapanku. Susu dalam dotnya sudah hampir habis. 


"Serius. Aku memang suka ngelirik ke yang besar-besar, tapi kalau dipikir tuh, yang besar kan pasti tak muat sekepal tangan. Jadi pasti susah meganginnya." Ia menunjukkan telapak tangannya. 


Aku terkekeh mendengar ucapannya. 


"Aku beli tomat kecil dulu ya?" Ia berhenti di depan toko sayur yang buka sampai malam. 


Pertokoan, menjual bumbu dapur dan apapun yang menjadi rempah. Sayur pun ada, disimpan di freezer seperti freezer es krim. 


"Oke." Aku menunggu di mobil yang masih menyala. 


Aku melihatnya tak membeli banyak, mungkin setengah kilo. Tomat kalau tidak cepat dimasak, tentu akan cepat busuk. 


Sesampainya di rumah, ia langsung mengajakku sholat berjamaah dan langsung mengajakku ke tempat tidur setelah sholat. Humor kecil seperti biasa terlebih dahulu, sampai akhirnya terjadi pertempuran dengan menggunakan pelindung yang permukaannya tidak rata. 


Jangan bertanya rasa, karena pada akhirnya ia melepaskan juga. Katanya, seperti terlindung sesuatu dan tidak hangat. Lagi pun, ia sendiri yang menginginkan hal ini. 


Sampai sore harinya, aku mencurigainya tengah bercakap-cakap dengan seseorang di telepon. Ia berada di teras rumah, dengan suaranya yang lirih. 


Sejak tadi siang aku takut, jika suamiku berbicara dengan mantan istrinya di belakangku. Suamiku pun nampak tidak peduli saat siang tadi, apa ketidakpeduliannya itu pura-pura? Ketika aku sibuk memasak, ia malah menggunakan kesempatan itu. 


Karena ia mencurigakan sekali. Jika ia bertelepon dengan pengepul atau pedagang yang akan membeli hasil jahenya, bicaranya kuat sekali. Jika sekarang, ia seolah ingin agar aku tidak mendengarnya. 


"Nelpon sama siapa, Yang?" Aku memberanikan diri untuk mendekatinya. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2