
"Iya, Bu. Sesuai kek yang saya ceritakan. Mohon pengertiannya Ibu, biar bisa lebih kontrol keadaan. Kita semua pengen tau responnya, dengan seolah kami yang pura-pura tak paham dengan keadaan Ria. Kita main drama, seolah kami tak tau fakta sebenarnya. Kita pengen tau tanggapan Ken dan kita pengen tau cara apa yang Ken ambil. Kalau memang akhirnya Ria yang harus merugi, Ibu yang ikhlas aja karena Ria pasti bisa cover keadaannya dengan bantuan kami. Asal Ibu tau aja, biarpun Ken Saya anggap anak angkat. Tapi anaknya, tak pernah Saya anggap cucu angkat atau cucu sepupu. Ibu harus tau, kalau Saya pun ingin yang terbaik untuk cucu-cucu Saya. Jangankan Kirei, yang jelas-jelas anak dalam pernikahan. Key yang disebut anak tak jelas aja, Saya usahakan agar hidup dan masa depannya bisa mulia. Bukan karena dia adalah anak biologis dari anak sulung Saya, tapi Saya mandangnya dia adalah cucu Saya dan kerabat dekat Saya. Ibu tau, Canda yang orang lain aja tak pernah kami lepas dia setelah dia lepas dari Givan. Jangankan Ria, yang dari kecil udah ngabdi dan patuh dengan kita." Bukan hanya sekedar kalimat penenang, aku merasa ucapan mamah Dinda ini mengandung arti yang besar.
"Makasih, Mah. Saya cuma nyesel, kenapa nasibnya harus begini." Kirei nampak berontak, kala ibu menangis lebih lepas dan memeluknya.
Kirei adalah makhluk hidup, dia bukan boneka. Ia mengerti keadaan yang kurang nyaman, meski ia adalah seorang bayi.
"Udah terjadi, Bu. Makanya kenapa Saya berulang kali bilang ke anak-anak, untuk tidak menekankan anak-anak mereka yang tengah mulai mengolah emosinya. Makanya kenapa Saya biarkan cucu-cucu Saya berekspresi dan tumbuh dengan apa adanya, karena Saya takut mereka tumbuh di bawah tekanan dan juga ketakutan akan amarah kita. Khawatirnya, mereka tumbuh jadi seorang anak yang penuh ambisi dan susunan rencana yang membuatnya beruntung saja. Berulang kali juga Saya nasehati Givan, untuk tidak melarang Ken nikahin Ria. Tapi Givan malah buat jarak, yang ia pikir tak mampu dijangkau oleh Ken. Gelar spesialis aja, begitu cepat diraihnya, apalagi mudahnya memperdaya seorang perempuan. Itu bukan hal sulit untuk Ken, itu bukan ujian terberat untuk Ken. Saya udah tau gimana karakter anak itu, tinggal Saya ikutin aja maunya ini ke arah mana. Kalau dia ketahuan Saya nikahin Ria, meskipun dosa, Saya bakal tetap campuri rumah tangga mereka kek rumah tangga Gibran sama Mariam. Bukan karena Saya orang tua yang kepengen campuri, tapi sifat dasar mereka semua yang sama-sama keras dan berharap pasangannya mengalah. Sampai akhirnya tak ada yang mengalah, kan mereka yang menyesal sendiri."
Sungguh, sedikit rumit memahami seorang Ken. Tapi mamah Dinda mampu membacanya. Jika mamah Dinda berupaya menuruti keinginan bang Ken, sudah pasti aku harus siap menjadi korbannya secara berulang.
"Saya khawatir Ria dan cucu Saya terganggu seumur hidup dan tak bisa meraih kebahagiaannya." Ibu melamun dengan menggoyang-goyangkan tangannya yang masih menggendong Kire.
"Saya berpikir begitu juga, waktu Saya ambil keputusan untuk pisah dengan ayah kandungnya Givan. Tapi tak begitu sulit keadaannya, masa kita ketemu orang yang tepat untuk diri kita. Tak begitu mengganggu kondisinya, setelah beberapa waktu kita ikhlaskan untuk dilewati dengan kerumitan." Mamah Dinda tersenyum menenangkan.
"Saya tak yakin, Mah. Saya tau hati anak Saya lemah semua." Ibu tertunduk lesu dengan memperhatikan wajah Kirei. Entah apa yang ia pikiran, seolah begitu sulit untuk dimengerti.
"Ria masih punya kakak, iparnya pun peduli sama dia. Ibu jangan khawatir terlalu jauh, kami semua tak akan lepas tangan begitu aja. Ibu harus yakin dan do'akan, kalau anak Ibu mampu melewati masa tersulitnya." Mamah Dinda mengusap-usap lengan ibu.
Ibu mengangguk samar, kemudian menoleh pada mamah Dinda. "Saya percayakan ke Mamah dan keluarga kalian."
"Makasih, Bu. Tolong bantu dengan doa dan support Ibu ke Ria."
Mereka berpelukan terlihat mendamaikan hatiku dan menguatkan hatiku.
__ADS_1
"Nenek…. Yayah Ra mana???!"
Kirei yang tengah disangga oleh ibu langsung tidak stabil menahan kepalanya. Matanya melebar kaget, hingga sedetik kemudian tangisnya langsung lepas terdengar.
Ya ampun, Kirei. Mendengar suara cempreng Ra saja dia menangis. Apalagi, jika mendengar suara menggelegar milik ayah kandungnya.
"Dijual!" jawab mamah Dinda dengan memasang wajah judesnya.
Hei, baru menyadari aku sekarang. Jika Ra begitu judes seperti wajah mamah Dinda, meski wajahnya teduh tapi aslinya dia tidak benar-benar alim.
"Masa iya? Ada yang mau memang? Yayah Ra kan galak." Ra langsung duduk di sebelah neneknya tanpa canggung karena keberadaanku dan ibu.
Aku dan Ra benar-benar musuh. Kami tidak pernah akur, karena anak itu begitu menyebalkan. Tangannya begitu ringan, aku selalu menjaga jarak karena pukulannya begitu terasa menyakitkan.
"Itu kan kata biyung sama Nenek aja. Kata mama, papa, umi, abi, ma, abu, bapa, meme kan yayah Ra jelek, galak, sombong. Tapi aku tetap cinta, soalnya yayah Ra baik ke Ra." Ra memegang kedua pipinya.
"Terserah kau, Dek." Mamah Dinda melirik cucunya, dengan menyandarkan punggungnya.
"Telpon yayah Ra sih, Nek." Ra langsung memeluk tubuh neneknya.
Ia pandai merayu seperti mbak Canda.
"Boleh. Ambil HP Nenek gih di kamar." Mamah Dinda mengusap-usap kepala Ra yang bertudung.
__ADS_1
"Oke." Ra langsung girang dan bergerak cepat.
Tak lama kemudian, rumah ini begitu ramai dengan cucu-cucu mamah Dinda. Aku sampai berpindah ke kamar atas, karena Kirei sulit tertidur di tengah keramaian.
Rumah yang tadinya begitu rapi, dalam sekejap langsung acak-acakan dengan lantai yang berpasir. Tangisan bersahutan, gelak tawa riuh terdengar, taman kanak-kanak kalah ramainya dengan suasana di sini.
Drtttt…
[Minta saudara Abang ke sini, Dek.]
Ada pesan masuk dari bang Givan.
[Ya, Bang.]
Kenapa ya bang Givan tidak langsung menghubungi keluarganya? Apa karena saudaranya sibuk semua? Sehingga bang Givan khawatir mengganggu mereka semua.
Setelah beberapa saat aku menghubungi mereka semua, aku tidak menyangka langsung datang kabar duka lewat pengeras suara di masjid setempat.
Belum saja beliau tahu, bahwa ia memiliki seorang cucu dariku. Namun, nyawanya diambil kembali oleh Yang Kuasa begitu cepat. Belum aku memohon maaf dan saling memaafkannya, tapi ia begitu cepat meninggalkan kami.
"Mamah mana, Dek?" tanyaku pada Mariam.
"Mamah udah ke sana, udah di rumah kak Ahya. Bang Ken katanya pingsan tak bangun-bangun, Kak. Baru pulang dari rumah sakit sama jenazah tante Sukma, bang Ken langsung pingsan terus menerus. Aku disuruh pulang tadi, pas jenazah datang. Pemakaman udah disiapkan sama papah, tinggal tunggu bang Ken bangun aja," jawab Mariam dengan membawa handuk ke arah kamar mandi.
__ADS_1
...****************...