
“Operasi.“
Jawaban itu membuatku tak percaya. Jadi, zaman sekarang keperawanan bisa dibuat? Oh, iya. Dia dokter bedah, jadi pasti tahu yang begini-begini. Atau, bisa saja aku nanti dijadikan kelinci percobaannya dalam membuat keperawanan palsu.
“Iya mau? Abang bakal cover segalanya. Abang minta maaf, Abang tak senagaja.“ Ia mengusapi air mataku sampai tak tersisa.
Aku tetap tak mendapatkan keadilan darinya. Aku tetap tak mendapatkan keuntungan darinya. Yang jelas, aku tetap tidak dimuliakan olehnya.
“Tak usah, Bang.“ Aku bangkit dan memunguti pakaianku.
Sepedih ini kah hilang perawan? Atau, pedihnya karena mulut bang Ken? Aku merasa, ia semakin tidak mencerminkan mode laki-laki baik.
Entah hanya bohong atau rayuan belaka. Jujur, aku mengharapkan janjinya untuk menikahiku. Tapi, bahkan untuk kebohongan saja ia tidak menginginkannya.
“Mau ke mana? Sini Abang bantu.“ Ia mengikutiku, ketika aku bangkit setelah berpakaian.
“Tak usah.“ Aku meraih ponselku dan berjalan ke arah kamar mandi.
Persetan dengan setan. Rupanya, setannya ada di sampingku. Dasar memang namanya setan. Ia mengejutkanku tentang keberadaannya, setelah aku selesai dari dalam kamar mandi ia muncul ada di depan kamar mandi.
“Kau tak apa, Dek? Sini Abang cek dulu.“ Wajah khawatirnya entah bohong atau tidak.
“Tak apa.“ Aku menjawabnya datar dan meninggalkan tempat ini.
Aku ingin merubah sikapku padanya, aku ingin tahu bagaimana responnya jika aku berubah dengan kejadian ini. Aku lelah menangisi harapanku agar ia mau mencintaiku. Kali ini, aku akan menarik ukur perasaannya saja. Aku ingin membuatnya bertekuk lutut padaku, bahkan memohon pernikahan sendiri denganku.
Jika memang aku tidak mampu untuk melakukannya, aku akan mengusahakannya meski dengan mengadu pada bang Givan. Aku akan membuat konflik drama, di mana aku paling tersakiti nantinya. Aku akan memutar balikan fakta, hingga benar-benar semua kesalahan ada di tangannya.
Oke, boleh saja kali ini aku kalah. Oke, boleh saja kali ini aku ditipu daya olehnya. Aku akan menunjukkan bahwa dirinya kalah baku tipu, dengan seorang yang ahli menipu. Aku akan benar-benar mempelajari segala sisi dan wataknya, aku akan memahami semua makna tentang arti kehidupannya, agar aku menang atas apa yang ia lakukan hari ini padaku.
__ADS_1
Bukankah pemenang adanya di akhir perjalanan? Tidak ada pemenang di awal start, tapi ketika sampai di garis akhir.
Diamku ini, aku sudah menerapkan selama satu bulan keberadaan kami di sini. Aku mencoba menikmati keterbatasan di tempat ini, dengan mempelajari ilmu bisnis untuk kemajuan perusahaanku nanti.
Aku masih serumah, aku masih satu tempat, bahkan aku sering satu ranjang dengannya. Aku pura-pura tidak tahu, jika ia berbaring di ranjang yang sama denganku. Aku pura-pura sudah pulas, ketika ia mendekatiku.
Sampai, akhirnya kali ini ia mengutarakan perbedaan sikapku padanya. Ia menyadari, jika aku berubah.
“Dek, Putri udah Abang putuskan. Bahkan, Abang udah blok nomor dia. Tapi kenapa kau masih diam aja, di mana kekeliruan Abang kali ini? Apa mau kau, biar kita bisa kek dulu lagi?“
Melakukan hal mesum maksudnya, begitu?
Ck, aku sudah mual-mual dengan pemahamannya tentang freechild itu. Ia hanya ingin berbuat, tanpa mau ada tujuan positif ke depannya.
“Aku bosan sama Abang,” jawabku datar.
Aku sudah mulai mengulur, tinggal nanti aku akan menariknya di waktu yang sudah tepat. Bukankah, permainan ini lebih seru dibandingkan jika aku harus mengemis cintanya melulu?
“Terus tujuan untuk sama aku itu buat apa? Cuma buat tetap ada di samping aku kan? Bukan untuk kita sama-sama kan? Ya kan? Kan? Kan? Jadi, ya udah. Biarkan aku mandiri dengan diri aku sendiri.“ Aku menarik tanganku dan beralih untuk membenahi ranjangku.
Bangunan belakang, atasnya sudah dibongkar perlahan. Untuk sekat agar binatang tidak masuk ke ruangan yang kami tempati, bang Ken menggunakan lemari pajangan berukuran besar menjadi penutup ruang tamu yang kami tempati ini.
Bangunan yang masih utuh, hanya sebuah kamar tamu yang ada kamar mandi dalamnya. Dengan sebuah ruang tamu, yang tembok belakangnya menggunakan penyekat lemari itu. Untuk sementara, sampai kami mendapatkan kontrakan terdekat untuk kami tempati. Sementara, rumah ini dirobohkan dan dibangun ulang.
Untuk perusahaan yang tengah dibangun. Rupanya, itu adalah sebuah bekas sarang walet yang sudah tidak dihuni oleh walet lagi. Hanya peremajaan bangunan, diganti apa yang rusak dan dibuat sekat untuk menjadi ruangan-ruangan kantor. Sementara, bagian belakang dibiarkan berukuran besar untuk keperluan produksi.
Ia sudah menyiapkan semuanya, karena rupanya ia sudah memiliki bangunan kosong. Jadi, tidak memakan banyak biaya meski keluar modal juga.
Benar-benar cerdik.
__ADS_1
“Mau kau gimana, Ria?“ Suaranya naik, dengan ia pindah duduk ke rahangku.
Kami tidur di ranjang yang berbeda, meski di satu ruangan yang sama. Ya memang, sama saja bohong. Tapi, setidaknya aku bisa lebih mengamankan diriku sendiri.
“Tak mau gimana-gimana. Kita cuma rekan bisnis.“ Aku menyusun bantal yang sudah aku tepuk-tepuk.
Hanya satu yang aku takutkan, yaitu ular. Apalagi, kami tidur tidak menggunakan ranjang. Kami hanya menggunakan kasur saja.
“Kita lebih dari itu, Dek. Aku yakin kita bisa sama-sama, cuma kita butuh kesepakatan untuk pernikahan kita nanti. Kalau kau sepakat tentang freechild itu, kita buat perjanjian di notaris dengan materai. Kalau Adek…..“
Aku memangkas ucapannya. “Tak perlu. Aku tak pengen nikah sama Abang kok.“ Aku menyadari perubahan sorot matanya.
“Kenapa? Apa alasannya? Bukannya kemarin kau mohon-mohon?“ Ia bergeser tempat untuk lebih dekat denganku.
“Alasannya, ya udah ikhlas aja.“ Percaya atau tidak, sejak saat itu, sampai sekarang aku tidak melakukan sentuhan fisik ke arah bercumbu.
Aku rela keluar dari rumah beralasan ingin membeli makanan meski malam hari sekalipun, jika aku merasa bahwa tatapannya sudah ke arah hal itu. Aku cukup paham sekarang gerak-geriknya, ketika membutuhkan pelepasan. Bahkan, beberapa kali aku pura-pura tertidur. Namun, nyatanya aku menyaksikan live show kegiatan laki-laki dewasa yang kesepian.
“Dek, Abang kasian sama Adek.“ Ia menyentuh kedua bahuku.
Kasian katanya? Tapi, ia menikahiku dengan merampas hak-hakku untuk mendapatkan keturunan. Sampai-sampai, ia berencana membuat perjanjian tertulis agar aku bersalah jika ingkar dan malah hamil anaknya.
“Kalau kasian, Abang turutin tanpa aku memohon.“ Aku melepaskan tangannya dari bahuku.
“Iya, ayo kita nikah. Tapi, kita buat surat perjanjian dulu.“
Nah kan? Ia luluh juga. Namun, aku tentu tidak mau. Pernikahan macam apa itu, kenapa menggunakan perjanjian segala?
“Tak perlu, Bang. Tak perlu buang-buang biaya untuk nikahin aku. Abang fokus aja untuk vasektomi. Kan mending begitu kan? Daripada ribut untuk nikah, mending ambil tindakan untuk vasektomi aja. Atau sekalian untuk kebiri aja? Ya kan? Jalan keluar terbaik kan? Kebiri, selesai.“ Aku mengadu telapak tanganku sejajar dan mengayunkannya.
__ADS_1
...****************...