
Aku tak percaya, jika bang Ken seperti itu dalam bersikap. Pantas saja, bang Givan masih melarang. Karena bang Ken tak pernah mencoba akrab dengan bang Givan.
“Ya udah, Bang. Tak perlu marah-marah.“ Aku tak ingin mendengar emosinya meluap seperti itu.
“Ya udah, ngobrol sama Dika. Bilang aja, mau tanggal berapa jadi lamarannya?“
Jika Dika sudah diberi alamat sini, aku tidak bisa menahannya selain menerima kedatangannya sebagai tamu. Aku khawatirnya Dika memotret kebersamaan kita, lalu mengirimkannya pada bang Givan. Kemudian, bang Givan mengirimkannya di grup keluarga. Atau, bang Givan menunjukkan pada keluarga yang tengah berkumpul bersama. Yang aku takutkan, karena bang Ken menjadi salah satu anggota grup Adi's Bird itu.
Aku khawatir ia kalap, kemudian mendadak menceraikanku. Aku mudah berpikiran buruk, karena bang Ken suka asal jeplak saja ketika berbicara dengan emosinya. Meski aku paham itu adalah emosinya, tapi kalimat talak dari mulut laki-laki kan tetap sah.
Aku tak akan menghapus pesan dari bang Givan, agar dijadikan bukti jika bang Ken marah karena melihat foto yang mungkin akan dipotret Dika. Entah kenapa, aku memiliki feeling seperti ini karena Dika suka mengumbar foto. Setiap penerbangannya pun, ia selalu memotret kesibukannya di tempatnya berada. Entah di dalam bandara, atau di dalam pesawat.
Esok harinya, aku datang ke tempat kursus seperti biasa. Aku belajar seperti biasa, sayangnya aku tidak bisa keluyuran karena sopir pribadi sudah menunggu di depan gerbang tempat kursus.
Tumben.
Aku langsung membatalkan janjiku dengan Hana, aku pun menawari Hana untuk ikut menumpang di mobil ini. Sayangnya, Hana menolak. Ia tetap berencana untuk datang ke tempat yang ia inginkan.
“Saya tak minta dijemput, Pak,” ucapku setelah duduk di bangku belakang.
“Ada mas Dika nunggu, Kak. Saya diminta untuk jemput,” jawab sopir ramah.
Mobil ini sudah melaju perlahan. Hm, rupanya benar-benar datang laki-laki itu. Aku harus beralasan apa, jika ia menanyakan bahwa nomor ponselku sulit dihubungi? Aku tidak pandai berdalih masalahnya.
Semalam pun, bang Ken sudah memberi kabar bahwa ia berada di rumah mamah Dinda. Ia mengalami perubahan waktu tidur, karena perbedaan waktu yang sangat terasa.
Bagaimana tidak panik coba?
“Hai, Ria,” sapa Dika, yang menungguku di teras rumah.
“Hai….“ Aku mengulas senyum samar.
“Bang Givan, jam delapan malam di sana.“ Ia langsung mengajakku untuk masuk ke dalam panggilan video.
Aduh, benar kan? Langsung kan?
“Baru sampai kau?“ Wajah bang Givan terlihat penuh di layar ponsel.
“Ya, Bang.“ Aku mengulas senyum juga di layar ponsel Dika.
__ADS_1
“Aku capek, Mah! Aku udah jujur, harus jujur gimana lagi?!“ Lantangnya suara yang aku kenal itu.
Terlihat bang Givan menoleh ke belakang. “Rendahin ya suara kau! Yang kau bentak-bentak itu ma aku!!“ seru bang Givan.
“Biarin, Van.“ Mamah Dinda terdengar menimpali santai.
“Sini coba, kau mencurigakan karena pindah-pindah tempat terus. Gerak tubuh kau itu, tak mengisyaratkan pengakuan kau. Kau bisa duduk, terus sini ngobrol.“ Mamah Dinda memberi suara tegas, sepertinya itu untuk bang Ken.
Brakhhhhh….
Seperti suara pintu yang ditendang.
“Pintu Papah!!!“ pekik papah lepas.
Perkumpulan pemilik suara keras terdengar.
“Mamah cuma tanya, Ken. Kau tak perlu ngamuk. Daripada ngamuk, mending sini duduk ngobrol. Papah kau galak, kau main tendang-tendang pintu aja. Bisa-bisa surat keterangan duda kau digadaikan untuk beli pintu baru.“ Suara mamah masih santai.
Aku sampai mengambil alih ponsel Dika. Kemudian, aku duduk di kursi teras untuk memahami suasana yang terjadi di sana.
“Matikan aja, Dek. Nanti lagi video callnya.“ Bang Givan sempat menoleh kembali ke arah kamera.
Ponsel seperti diletakkan asal, karena pemandangan yang aku dapat hanya langit-langit rumah saja. Terlihat juga sandaran sofa, yang sepertinya ponsel ini diletakkan di sofa.
“Tantrum kau?! Kek balita! Balik kau sana! Kau ganggu di sini.“ Suara keras bang Givan seperti mengejek seseorang.
“Kau yang pulang, A*****!“ Bang Ken memekik lepas.
Ada apa sih? Aku khawatir, deg-degan dan penasaran.
“Hah! Hah! Hah! Berantam sana! Sana ke luar dua-duanya!“ Suara keras papah Adi mendekat. Sepertinya, keberadaan papah dekat dengan ponsel.
“Biarin, Bang. Ken suruh ngoceh.“
Herannya aku di sini, karena suara mamah Dinda seperti santai tanpa ketakutan. Kok bisa ia stay cool di tengah-tengah keributan anak-anaknya yang hampir gelut seperti itu.
“Ngoceh tak, jebol pintu Abang. Jati tua loh pintu samping itu, Dek. Hm, stress Abang nih.“
Aku melihat sedikit kepala papah, yang kemungkinan ia duduk di dekat ponsel bang Givan.
__ADS_1
“Kau tak perlu tarik-tarik aku, Bodoh!!!“ maki bang Givan seperti penuh dengan emosi.
“Kau kek KERBAU soalnya! Ma aku ngasih perintah, kau tak ada dengarnya! Aku cucuk hidung kau sini, terus aku pakaikan tali. Tulinya udah macam tanduk kerbau, pantas kau dicucuk sekalian kalau telinga macam tak terpakai lagi!“ Ngeri jika mendengar tutur kata keturunan mamah Dinda.
Kasar ya kasar, pedas ya pedas, tajam ya tajam. Tapi tergantung situasi dan kondisi, mereka tidak melulu seperti itu. Jika tengah bergurau, ya humornya tinggi sekali. Jika tengah menasehati, ya disertai tutur kata lembutnya juga.
“Jangan dorong-dorong, Ken. Ingat! Ingat! Kalian saudara. Anak Givan banyak juga, bisa penuh pantai asuhan kalau anak-anak Givan langsung daftar serentak.“
Aku melongo saja mendengar ucapan mamah Dinda.
Ya ampun, ya ampun, ya ampun.
“Mah, lebur aja lagi itu sulungnya! Jadikan air lagi, terus kunyah aja terus masukin ke lambung.“ Aku mendengar suara bang Ken mendekat.
“Gila kau! Air Hendra itu, bukan air Gue. Main t****-t***n aja!“
Aku cekikikan mendengar suara papah Adi. Absurd begini, ada saja yang melucu di situasi seperti ini.
“Dodol, Abang!“ Mamah Dinda terkekeh geli.
“Ya itu, aneh-aneh aja. Givan jadi air lagi, Abang balikan dia ke Hendra.“ Tanggapan papah Adi di luar nalar.
Bang Givan terkekeh kecil. “Awas ya? Papah aku tandain.“
Layar ponsel tiba-tiba gelap, sepertinya bang Givan menduduki ponselnya. Karena tadi sempat terlihat gambaran tubuhnya, sebelum akhirnya layarnya gelap.
“Ria, sini. Aku udah beli-beli makanan, udah aku pindahkan ke piring. Aku ada beli bakso juga loh.“
Aku mengalihkan pandanganku ke arah pintu, Dika berdiri di sana dengan tatapan bahagia. Jadi, dari tadi ia tak ada di sampingku? Pasti ia berpikir, untuk tidak mengganggu obrolanku dengan keluargaku. Jadi, ia melipir pergi dan menyibukkan dirinya dengan makanan-makanan yang ia bawa itu.
“Ya, Dik.“ Aku menyentuh layar ponselnya sampai kembali ke beranda awal.
Wallpapernya adalah fotonya bersama ibunya. Aku berpikir Dika adalah seorang laki-laki yang mengutamakan ibunya, seperti contohnya anak-anak mamah Dinda. Tapi mereka pun, tidak pernah mengesampingkan istri-istri mereka.
“Ria, kau udah tau kan kedatangan aku ke sini untuk apa? Gimana, kalau kita buat perayaan tukar cincin pribadi dan hanya kita yang tau aja? Selanjutnya, kan aku bakal langsung bilang ke keluarga kau.“ Dika berkata dengan senyum lebarnya.
Menambah rumit hidupku saja.
...****************...
__ADS_1