
"Biarin, yang penting bisa cari duit. Yang urus anak kan istri." Ia melirikku sinis.
"Bang Givan aja bisa urus anak, padahal dia juga cari duit." Aku kembali mengambil potongan jengkol ini dari wadahnya.
"Ya udah lah, ada pengasuh ini."
Kocak.
Kok begitu pikirannya? Ada pengasuh katanya?
"Ya masa punya anak terus, tapi tak bisa urus anak. Malu lah." Aku ingin tahu pola pandangnya mengenai anak-anak.
"Keknya pasti bisa, mamah aja tiap punya anak itu keurus kok. Cuma kan, aku ke Cali ini kan jarang ketemu. Ditambah, aku ini gemas betul sama dia. Dulu dia tak berdaya seusia Kirei, aku gendong dia bawa dia terus ke rumah mamah. Aku ini lama tak balik, terakhir balik itu belikan dia sepeda roda tiga di usianya delapan bulan, pas kak Canda itu sakit lah. Terus ke siniin, tak pulang-pulang karena ada garapan tanah baru. Jadilah dia begitu, udah kek mau dimakan. Tapi tuh gemes betul lihat dia ngelawan, ingat tikus yang dikejar-kejar kucing tuh. Lucu-lucu gimana gitu." Ia senyum-senyum sendiri.
Anaknya disamakan dengan tikus yang dikejar kucing.
"Masa dia benar-benar takut sama kau, kau tak akan sebut dia lucu lagi loh." Aku hanya menakut-nakuti.
"Ya masa sampe besar? Tak mungkin lah, apalagi aku ini sering pulang. Kau aja ke anak kau cuma mandiin pagi sama nyusuin." Ia melirikku.
Ia menyamakannya dengan aku. Aku kan jelas-jelas bekerja, aku pun tak memiliki tulang punggung untuk memenuhi kebutuhanku.
__ADS_1
"Kan aku kerja. Kemarin aku tak kerja sih, sama aku terus lah. Meski aku tak keibuan, bisa aku ini urus anak sendiri." Meski dibantu dengan orang di sekitar juga.
"Iya, anak aku kau tak bisa urus." Ia melongok ke dalam wadah jengkol.
"Iya tak bisa, makanya jangan bawa aku jadi istri kau." Aku cuma nyolot bohongan.
Buktinya, masa kemarin itu Cali mendekat padaku. Memang anaknya aktif, jadi ia tidak mau digendong-gendong seperti Cala. Menggendongnya itu, seperti memaksanya untuk mau. Intinya, ia lebih suka dibiarkan sendiri.
"Apa hubungannya? Aku butuh kau kan untuk temani aku tidur." Senyum mesumnya keluar.
Sungguh aku trauma dengan seorang duda yang tak membawa anaknya untuk masuk ke pernikahan barunya, takutnya seperti bang Ken kemarin. Jangankan anaknya, ibunya pun tak tahu menahu kalau ia menikahi dan memiliki anak dariku.
"Ya tak lah, mana ada s**s habis butuhnya."
Hah?
"Vin, kau tau tak sih kalau rumah tangga itu permasalahannya kompleks? Kita tak melulu akan ngelakuin s**s, tapi ada kehidupan lain yang harus balance juga." Aku mengelap jariku ke tisu kering, karena aku tidak biasa memakan jariku sendiri untuk membersihkan bumbu.
"Tau, kau kira aku tak pernah berumah tangga? Ada permasalahan ekonomi, ada tentang pengertian, ego, keluarga, sosial dan segala macam. Maksudnya, aku kan belum menjalani sama kau. Jadi, kau tak bakal tau gimana caranya aku mengasihi kau dan menggenggam kau. Aku tak mau kenal lebih dekat, aku tak mau berpacaran, karena dengan begini aja aku udah hilang sadar." Ia menegakkan duduknya dan mengarahkan pandangannya padaku.
Aku tetap tak mempercayainya. Ia kurang matang untuk berumah tangga, aku khawatir rumah tangganya seperti permainan untuknya.
__ADS_1
"Jejak kau tak bagus, Vin. Kemarin pun, katanya kau talak istri kau lewat telepon. Aku sulit percaya sama kau." Aku bersedekap tangan dengan memandangnya.
"Iya memang, aku talak karena dia bawa datang suaminya ke Brasil bersama. Tapi aku belajar dari semua itu, aku belajar kalau keinginan perempuan itu kuat dan memaksa. Permasalahan awalnya sih cuma karena tak kunjung diresmikan, jadi begitu kompleks dan dia berpikir bahwa aku menyepelekannya. Pas ditanya, dia seolah tersakiti betul dengan tindakan aku. Dari situ aku paham, kalau keinginan perempuan itu keras. Masalah masa lalu kau gimana, aku tau mamah aku aja dulunya janda. Janda tak buruk, tergantung siapa yang menggenggam. Ajeng pun sama, dia tak buruk, dia istri yang cerdas dan pandai atur keuangan. Cuma karena salahnya aku nikah tanpa izin orang tua, aku nyeselnya di situ. Jadi kek serba bingung," ungkapnya kemudian.
Jujur, aku masih mengambang tentang sejarahnya kemarin. Apa yang ia ucapkan, begitu tak jelas menurutku. Aku tidak mengaku diriku suci juga, tapi aku ingin tahu titik permasalahan terbesar di pernikahannya kemarin.
"Aku masih tak percaya kau dan kau tak jelas, Vin." Aku menghela napasku.
"Aku pun bingung kemarin, makanya aku minta bantuan bang Givan. Tanpa bang Givan bantu, tanpa kak Canda asuh Cali. Mungkin, aku sama anak udah mengering bersama di kamar yang kau tempati itu. Aku mikirin setiap hari alasan Ajeng tega taruh Cali di luar, aku mikirin tiap waktu tentang Ajeng yang bawa pulang mantan suaminya ke Brasil. Aku bertanya-tanya, tentangnya yang setega itu dengan anaknya sendiri. Aku pun terpikirkan juga, masanya aku talak dan dia lanjut mengandung tapi tak ada pembelaannya sekali dengan talak yang aku kasih. Maksudnya aku tau dia ngandung gitu, tapi kenapa dia bawa pulang mantan suaminya dan nerima aja masanya aku talak. Alasannya sepele, karena dia tak pernah dituruti masanya dia minta resmikan. Aku udah bawa pulang dia, kau pun tau kan, Kak? Tapi mamah sama papah lagi punya masalah di rumah. Aku pun tetap sampaikan ke mereka, kalau aku naksir janda. Mereka banyak tanya, tentang status jandanya Ajeng ini. Aku terus terang, kalau dia belum resmi. Aku dilarang untuk sama Ajeng, aku banyak dinasehati untuk itu. Tapi gimana, Ajeng udah aku nikahi masa itu. Mau tak mau, aku tutupi dia sementara karena aku takut mamah dan papah lebih marah lagi." Inilah anak mamah Dinda dan papah Adi, sifat kerasnya akan kalah jika pada orang tuanya sendiri. Mereka menyanjung tinggi keputusan orang tua mereka, bahkan mengesampingkan keputusannya yang sudah ia ambil.
"Setelah itu tuh, dia gimana?" Aku menyimak dengan baik ceritanya.
"Setelah itu aku nyesel, inilah buah bohongi orang tua, buat dari tak nurut orang tua. Bang Givan aja kaget, karena pemikiran Ajeng itu terlalu kuat untuk dirinya sendiri. Alasannya bawa pulang mantan suaminya pun, biar mantan suaminya jamin uang bulanan untuk anak sulungnya. Karena ayahnya Elang ayah kandungnya Elang katanya. Udahlah, suka-suka dia aja. Kesal aku kalau ingat itu, dibuat aku gila dengan sikapnya."
Masalah seperti itu pun, membesar dan bisa berakibat fatal rupanya. Aku belajar dari ceritanya juga, ternyata ego masing-masing pasangan itu sulit dimengerti. Ditambah dengan, pengaruh izin orang tua, komunikasi dan pengertian.
Perceraian itu bukan pasti berasal dari orang ketiga saja, atau orang tua. Tapi, pihak pribadi masing-masing pun bisa memicu perceraian. Rumah tangga itu serumit itu, lalu kita tidak bisa mengurainya, akhirnya perpisahan jalan keluarnya.
Dengan masa laluku yang pernah bercerai, masa lalunya yang pernah bercerai, apa kita bisa mengarungi rumah tangga kembali dengan luka masing-masing? Aku takut Gavin selalu membawa permasalahan kita ke orang tua, karena ia merasa seperti ini sebab tidak patuh pada orang tua. Aku pun takut, talaknya mudah keluar dengan sifatku yang seperti ini.
...****************...
__ADS_1