Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD232. Kabar duka


__ADS_3

"Ya hallo, Bang." Bang Ghifar yang menelpon kali ini. 


"Eummm, bisa pulang tak ya? Untuk antar…." Bang Ghifar seperti ragu mengatakannya. 


"Antar siapa, Bang?" Di pikiranku adalah Ajeng lagi. Bang Ghifar meminta kami pulang, untuk mengantar Ajeng sekaligus menyelesaikan sesuatu dengan Ajeng di sana. 


"Antar kak Riska ke peristirahatan terakhirnya."


Blank. 


Mataku terbuka lebar dan seketika berair. 


"Innalillahi." Bibirku langsung bergetar. 


Aku tidak menyangka ending takdir kak Riska seperti ini. 


"Sekarang masih di Malaysia, bang Givan lagi pergi ke sana untuk atur kepulangannya. Mau dikebumikan di pemakaman keluarga kita, kalau di Malaysia kasihan sendirian kata papah. Jadi, kalian bisa pulang tak besok pagi tuh? Entah kapan jenazahnya datangnya, karena baru betul meninggal. Langsung bangun semua nih kita dapat kabar ini, bang Givan langsung cepet-cepet titip-titipin anak istrinya, terus dia pergi ke sana katanya. Sekarang kita ada di rumah bang Ken, lagi beres-beres tempat biar ada ruang untuk banyak orang melayat." 


Aku langsung menatap Gavin. "Bang, kak Riska wafat." Suaraku sudah parau. 


"Innalillahi. Ya udah, kita besok pulang. Dibawa pulang kan?" Gavin langsung memberikan keputusan. 


Aku mengangguk samar. 


"Ya udah, gitu aja ya? Abang lagi mindahin sofa." Terdengar juga beberapa interupsi orang agar sofa ditempatkan di gudang. 


"Ya, Bang." 


Kenapa bisa seperti ini? Apa ia mendapat hantaman dari bang Ken? Aku berpikir seburuk ini, karena tahu tabiat bang Ken. 


"Adek berasa kalau bunda kenapa-napa? Ayah Ken kacau di sana ya? Jadi Adek rewel, iya?" Givan menimang Kirei seperti bayi. 


"Ayah Ken duda lagi, kasihan ya? Semoga tak rebut Adek sama Mbu dari Ayah, nanti bisa kak Cali yang rewel karena Ayah yang kacau." Ia berbicara dengan menggunakan kontak mata dengan Kirei. 


Kirei merengek kembali, ia menolak dalam posisi itu. Ia langsung menegakkan kepalanya, lalu memeluk leher ayahnya. Ia seolah mengisyaratkan, bahwa dirinya ingin berada dalam dekapan ayahnya saja. 


"Tidur, Bu. Besok repot, jaga kesehatan."

__ADS_1


Subuhnya, aku terbangun dan melihat Kirei pulas di atas dada ayahnya. Gavin tak mengenakan baju, mereka berdua banjir keringat karena memang tak menyalakan kipas angin karena kondisi Kirei yang tengah flu. Mereka sama-sama mendengkur. Bahkan air liur Kirei membanjiri dada ayahnya, karena ia bernapas dengan mulutnya. Mulutnya terbuka terus kala tertidur dalam kondisi flu. 


Entah sejak kapan mereka pulas bersama, tapi aku seperti melihat ayah kandung dan anak kandungnya. Seperti papah Adi dan bang Givan. Mungkin Kirei pun merasa bahwa Gavin seperti ayah kandungnya, tapi jelas firasatnya tajam pada ayah kandungnya yang tidak dekat dengannya. 


Aku membeli sarapan, aku tidak memasak karena perkakas harus bersih ketika rumah ditinggal. Saat aku tengah makan sarapan, aku membangunkan suamiku untuk sholat Subuh terlebih dahulu. 


Apa komentar melihatku makan sepagi ini? 


"Mantap." Ia memasang wajah meledek. 


"Pesan tiket belum sih?" tanyaku kemudian. 


"Udah, jam delapan pagi penerbangan." Ia membenahi posisi Kirei yang berpindah ke kasur. 


"Oke." Tidak terlalu pagi, aku yakin waktunya cukup untuk menyiapkan Kirei. 


"Jangan bawa baju lagi, Bu." Ia berjalan ke arah kamar mandi. 


"Oke." Aku belum mendapatkan kabar selanjutnya tentang kepulangan kak Riska. 


Rasa peduli bang Givan besar juga, ia langsung bertolak menuju Malaysia untuk membantu kepulangan jenazah kak Riska. Mungkin ia paham, jika bang Ken pasti sangat lemah dan pikirannya sangat tumpul sekarang. 


Penerbangan lima jam sepuluh menit kami tempuh. Kirei merengek seperti biasa, untungnya Gavin mau menimang di dalam pesawat. Ia pasti menjadi pusat perhatian, mungkin orang banyak salut pada dirinya. Karena Kirei jika denganku, malah semakin menjadi merengeknya. 


Bahkan ada yang menyarankanku untuk memberi Kirei susu secara terus menerus. Kirei tidak rewel karena haus atau lapar, tapi karena ia merasa tidak nyaman di dalam penerbangan dan juga keadaannya pun sedang tidak fit. 


Kadang orang lain sok tahu tentang keadaan anak kita, padahal kita lebih tahu bagaimana keadaan anak kita sendiri. Setiap Kirei merengek, penumpang tersebut memintaku untuk membuatkan susu atau menyusui Kirei katanya. 


Bisa-bisa turun pesawat Kirei mendadak gemuk, karena digelonggong susu terus. 


Penyambutan yang membuatku badmood. Ajeng yang membukakan pintu rumah, karena pintu rumah mamah Dinda terkunci dari dalam. 


"Kelonin Kirei, Mbu. Rebahan dulu sebentar, nanti ke sana aku." Gavin seolah tidak melihat keberadaan Ajeng. 


Ia nyelonong masuk, tanpa memperdulikan Ajeng yang menyambutnya di pintu. 


"Makasih. Mamah mana?" Aku mencoba menyapanya dengan wajah ramah. 

__ADS_1


Wajahku penuh tipu-tipu. 


"Mamah di dapur, dari semalam keluar masuk dari pintu samping aja. Soalnya, Cala sama Cali juga Elang ada di sini."


Ajeng lebih pendek dariku, tapi ia lebih berisi dariku. Badannya itu seperti mbak Canda, kecil dan padat. 


Benar, Cali langsung heboh dengan ayahnya. Kirei langsung menangis lepas, kala melihat Cali dipaksa digendong oleh ayahnya. Aku kaget seketika, kala Kirei malah memukuli kepala sendiri melihat ayahnya mengajak kakaknya. 


"Hei, Adek." Aku menahan tangannya. 


Duh, aku takut ia memiliki gangguan tumbuh kembang karena ia melakukan respon tersebut. 


"HEI! HEI!" seru Gavin dengan berjalan ke arahku. 


Mungkin ia sempat melihat Kirei yang tengah memukuli kepalanya sendiri. 


Ia menurunkan Cali, kemudian langsung berjalan cepat ke arah kami. "Jangan gitu, Adek. Tak boleh! Jangan pukul diri sendiri, pukul Ayah aja. Kan Adek marahnya sama Ayah." Gavin langsung mengambil alih Kirei. 


Manja sekali Kirei, ia langsung bersembunyi di leher ayahnya. Ia menguasai ayahnya dari kakaknya, untungnya kakaknya juga tidak dekat dengan ayahnya. 


"Anak sendiri tak dibawa, anak orang dibawa-bawa."


Loh, kok mulutnya seperti itu? 


"Apa tadi?!" Gavin mengorek telinganya dengan jari kelingkingnya. 


Ia berbalik badan dan berjalan ke arah kami kembali, setelah melangkah tiga langkah ke depan. 


"Anak sendiri dikasihkan ke kakaknya, tapi malah pelihara anak tiri."


Pelihara katanya? 


"Ya biar sekalian menderita dong anak kau itu! Udah dibuang ibunya, dibuang ayahnya juga biar seimbang."


Aku tidak mengerti apa maksud Gavin mengatakan hal itu. 


"Karena aku pikir, sama ayahnya itu dia tak bakal disia-siakan." Ia berseru di depan wajah Gavin. 

__ADS_1


Aku tidak pernah berbicara selantang itu pada suamiku. Apalagi, suamiku bermulut tajam. Aku yang malah kena mental, mendapatkan balasan dari ucapannya. 


...****************...


__ADS_2