
Aku pangling melihat Gibran pagi ini, ia terlihat lebih besar. Maksudnya, terlihat gagah berisi. Kemarin memang sudah gagah, tapi sekarang ia semakin terlihat berisi.
“Belum tidur aku, Mah.“ Ia sudah selesai menyantap makanannya, ketika aku datang ke dapur.
“Tidurlah.“ Mamah Dinda sibuk berkutat di depan kompor. Sedangkan ada seorang ART, yang sibuk berkutat di depan wastafel cuci piring.
Ini masih subuh, sekitar jam lima pagi. Gibran mengepal kertas bekas bungkus sarapannya, ia tidak makan buatan sini. Alasannya, mungkin karena memang belum matang.
“Mau susu otot dulu, Mah. Tolong buatin.“ Ia cengengesan.
“Udah sebesar itu, Bran. Mau sebesar apa? Deddy Corbuzier?“ Bang Givan melirik ke arah adiknya.
Bang Givan pun memang gagah, hanya saja hanya sekedar aktor film. Sedangkan Gibran, memang lebih sedikit besar masa ototnya.
“Badan aku kebanting, Mariam gendut betul sekarang. Linu nanti kalau dia pangku, kalau aku kalah badan.“
Yang tadinya aku mau tidak tertawa pun, akhirnya tertawa juga. Mariam memang berbadan besar, umumnya ibu hamil.
“Nih.“ Mamah Dinda menyajikan susu tinggi protein itu di hadapan Gibran.
“Bang, semalam aku sama abu di sana tuh. Agak lain suasana di sana, mana dekat sawah kan?“ Gibran mulai membuka obrolan dengan bang Givan.
“Ck…. Ngobrol kau sama b******!“ Bang Givan melirik adiknya sinis.
Gibran tertawa kecil. “Serius aku, Bang. Sama abu aku sempat kabur, karena bau bakaran singkong. Tak ada asap, bau bakaran singkong kencang betul. Jadi jam setengah duaan itu, kita ke warung kopi dulu.“
Bang Givan tidak suka cerita seram. Apalagi, cerita tentang hantu.
“Pesawat mendarat.“ Papah Adi muncul dengan menggendong Cala yang tengkurap di atas tangannya.
Ia tertawa lepas, dengan langsung diambil alih oleh ayahnya.
“Anak Ayah ini? Iya? Kangen Ayah ya?“ Bang Givan teralihkan dengan anaknya.
Ketika aku pergi, Cala masih merah. Sekarang, ia sudah bisa merespon ayahnya. Ia adalah bayi satu tahun yang menggemaskan, wajahnya tegas seperti ayahnya, dengan sorot mata yang terlihat seperti marah. Ia memiliki wajah judes, berekspresi seperti marah. Tapi lihatlah, ia sekarang pun tertawa lepas dengan garis bibir yang tertarik ke atas.
“Yah….“ Ia mencium pipi ayahnya.
“Iya, kenapa?“ Bang Givan mencium pipi anaknya.
Interaksi yang membuatku iri.
__ADS_1
“Kak, ini nangis.“ Mariam datang membawa Kirei.
Mariam mengambil alih Kirei sejak jam empat Subuh tadi, sejak suaminya datang. Aku tidak mengatakan apapun pada mereka, mereka pun tidak bertanya apapun tentang identitas Kirei dan pernikahanku.
“Adek bayi tuh, Dek.“ Bang Givan menunjuk Kirei yang kini berada di dekapanku.
Kirei haus, sedangkan ASIku benar-benar dikuras semalaman olehnya. Aku bergerak untuk membuat susu formula Kirei, sampai akhirnya Kirei diambil alih sementara oleh papah Adi.
“Berapa bulan ini, Van?“ Papah Adi menyangganya di depan tubuhnya.
“Dua bulan setengah lah, keknya sih. Pas usia lima puluh harian kami berangkat dari Brasil, singgah ke tiga negara transit dan rehat beberapa hari kurang lebih dua puluh harian deh. Sampai hari ini, ya mungkin ada tujuh puluh tiga harian.“
“Iya, udah bisa tegak tuh kepalanya. Sering-seringlah begini, dia bukan bayi lagi ini tuh.“ Papah Adi pun menyandarkan kepala anakku di dadanya, dengan sesekali menyangga rahang bawah Kirei. Kirei seperti dalam posisi duduk, ia pun terlihat nyaman.
“Kek kenal mukanya, tapi di mana gitu?“ Gibran mengusap-usap dagunya.
“He'em, aku juga kek familiar. Kek bayi lama gitu.“ Mariam duduk di sebelah suaminya.
Mariam benar-benar rupa wanita modern. Bangun tidur, bahkan ia tidak repot di dapur. Bangun tidur, ya membeli makanan di luar. Mamah dan papah pun tidak mempermasalahkan itu, membiarkan anak dan menantunya hidup dengan sesuka hatinya.
Gibran pun sama, ia tidak komplain dengan istrinya. Ia malah sama seperti istrinya. Pahamilah bang Ken, aku pun ingin rumah tangga yang seperti anak muda itu.
“Belum, sholat udah.“ Mariam cekikikan sendiri.
“Jalan-jalan lah di halaman belakang, aku mau tidur.“
Aku terganggu dengan kemesraan mereka. Bang Ken sulit bermesraan denganku, ketika tidak ingin meniduriku.
“Sama Ayang dong.“ Mariam memeluk lengan suaminya.
“Ini susunya.“ Aku menghampiri papah Adi yang tengah menggendong Kirei.
“Sini, sini. Papah duduk, sok kau pegangin.“ Papah Adi duduk di kursi makan, Kirei masih berada di posisi yang sama.
“Kurus sekali kau, Dek.“
Aku melihat ke arah papah Adi, aku tidak tahu beliau tengah memperhatikanku.
“Hamil juga gemuk pipinya aja, kena mental itu keknya. Untungnya, bayinya sehat-sehat aja,” tambah bang Givan yang masih memangku putri bungsunya.
“Tinggal di sini aja nanti, ibu ditemani ART juga di rumah. Biar terkontrol sama Papah, makanan biar terurus sama Mamah. Nanti kalau Kirei udah tiga bulanan, barulah kau tinggal-tinggal untuk kerja. Sekarang, kau fokus sehatkan dulu hati dan tubuh kau.“ Beliau mengusap-usap kepalaku yang bertudung.
__ADS_1
Aku selemah ini, aku bahkan masih mudah menangis ketika dibuat sedikit terharu seperti ini. Kirei sampai melongo saja memperhatikan aku, ketika aku menangis di dekatnya di pelukan papah Adi.
“Ikut saran Mamah kau, pura-pura tak ngerti aja. Biarin Ken merasa bersalah sendiri. Kita urus sama-sama Kirei, ini pelajaran terbesar untuk hidup kau.“ Papah Adi berkata lirih, sampai bass-nya terdengar jelas di telingaku.
Aku mengangguk samar, aku masih mencoba memberikan Kirei susu formula dengan dot dengan aku juga berada di pelukan papah Adi.
“Serius?“ Suara Gibran seperti kaget.
“He'em, kau diam aja. Biar nanti Papah yang urus.“ Pernyataan bang Givan mencuri perhatianku.
Membahas apa mereka?
“Makanya aku sih pas ngeflek ditolong dia itu kek ada takutnya, Bang. Aku tak mau lepas dari Gibran, aku pegangin tangan dia terus,” tambah Mariam kemudian.
“Ya itu sih, memang kau yang butuh suami kau.“ Bang Givan membenahi kerudung anaknya.
Percayalah, anak-anak bang Givan sudah benar-benar diislamkan sejak dini. Bahkan, Ra pun sudah terbiasa berhijab meskipun masih tinggal bersama bang Ghirar.
“Serius aku, Bang. Kek matanya itu jahat gitu loh, kek mau ngapain aku gitu. Lihat ke muka, terus kek srettttt melirik ke dada. Agak lain aku rasa. Perasaan, kakak ipar aku laki-laki semua. Kok, keknya pandangan Abang ipar yang satu itu agak tak sopan.“ Mariam menceritakan pengalamannya dengan gerakan tubuhnya juga.
“Masa, Yang?“ Gibran memperhatikan istrinya, kemudian membenahi kerudung istrinya agar tak menampakkan rambut istrinya.
“He'em, agak lain tuh. Dari Bang Givan sampai ke bang Gavin, tak ada mereka curi-curi pandang tak sopan. Makanya aku tak mau betul, pas dia mau cek keadaan jalan lahir aku gitu. Aku ribut rumah sakit aja, karena malah khawatir diobok-obok dia. Pikiran aku negatif aja.“ Mariam bercerita begitu serius.
“Menantu baru kau, jangan sok kenal abang ipar ya?“ Mamah Dinda baru menimbrungi dengan gurauan kecil.
“Iya, kau tak tau abang-abang ipar kau yang lain jejak nikahnya lebih dari satu kali juga,” tambah papah Adi seperti menakut-nakuti Mariam.
“Ayang sih jangan ya? Satu kali aja, sama aku aja.“ Mariam malah memeluk suaminya.
“Iya kau mandi, sana berhias. Tak nurut, tak aku kasih uang dapat kerja samalam.“
“Jalur ngancam dikeluarkan.“ Papah Adi tertawa terbahak dengan mencium pipi Kirei.
“Badeg kau! Kek Cendol. Ehh, mana juga itu kakak ipar kau?“ Bang Givan menoleh ke arah pintu akses dapur.
“Masih tidur, Bang,” jawaban Mariam membuat rahang bang Givan terjatuh.
Keluarga ini memang paling bisa menghiburku dan membuatku merasakan manisnya kasih sayang dan kehangatan mereka.
...****************...
__ADS_1