
“Siapa dia, Ria? Kakak ipar kau yang lain kah?“ tanya Alfonso, yang masih membawa gelas berisi air hangat.
“Dia pacarku,” jawabku lirih.
Wajah kaget Alfonso terpasang lucu. “Ish, besar sekali dia. Udah seperti kakak ipar kau si bang Givan itu.“
Memang uratnya tua.
“Kau simpan laki-laki di rumah kita, Ria?!“
Hei?
“Dia teman aku, aku sakit dan butuh pertolongan,” akuku cepat.
Bang Ken terlihat langsung murka. Ia bahkan menarik baju Alfonso dengan satu tarikan.
“Wow, wow, wow.“ Air hangat dalam gelas tersebut tumpah ke lengan Alfonso.
“Hei, Bang. Kita bisa ngobrol dulu, kau jangan salah paham.“ Alfonso memberikan gelas itu padaku.
Aku segera mengambil alih gelas tersebut, kemudian menaruhnya di meja.
Ia lama tidak ada kabar, rupanya ia dalam perjalanan ke sini. Sialnya untukku, karena ia datang di waktu yang tidak tepat.
“Bang, dia anak militer di sini. Dia pun orangnya bang Givan, Abang jangan asal tonjok aja.“ Aku bangkit dari dudukku, kemudian menahan tangan bang Ken yang masih mencengkeram kerah baju Alfonso.
Sayangnya, kepalaku langsung terasa berputar dan mataku kunang-kunangan. Aku langsung terduduk kembali, dengan memejamkan mata dan memegangi kepalaku.
“Ria, Ria….“ Aku mendengar suara paniknya.
“Biar aku ambilkan air hangatnya lagi.“ Aku mendengar derap langkah kaki menjauh, itu Alfonso yang kembali ke dapur sepertinya.
“Ria, kau kenapa?“ Bang Ken langsung merangkulku dan memeriksa dahiku.
“Aku tak enak badan, Bang.“ Aku masih memejamkan mataku.
__ADS_1
Mualku datang kembali.
Aku langsung merunduk dan mencoba memuntahkan apapaun yang tersisa di perutku. Bang Ken memijat tengkukku dengan nyaman, kemudian ia merapikan rambutku yang keluar dari ikatannya.
“Ini minumnya di meja, Ria.“ Aku mendengar suara Alfonso kembali.
“Ya, Fonso. Terima kasih.“ Aku meraih gelas tersebut, kemudian mencicipi air hangat itu sedikit.
Lumayan reda mual dengan air hangat ini.
“Aku pulang aja ya, Ria? Aku takut digantungkan di paku jam dinding.“
Aku langsung melirik ke arah bang Ken berada. Benar saja Alfonso ingin pulang, wajah bang Ken menyeramkan dengan sorot mata tajam membunuh.
Bang Ken sangat tidak sopan.
“Jujur aja, Ria. Abang tak percaya dia cuma teman kau,” lirihnya dengan masih menatap Alfonso.
Aku mencoba tidak menghiraukan ucapannya. Aku yang harusnya marah di sini, bukannya aku yang ditekan dan dituduh seperti itu.
“Oke, Ria. Maaf dapur kau jadi kacau. Aku pamit dulu.“ Ia tersenyum sekilas padaku, kemudian ia melangkah ke arah pintu.
Ia terdiam sejenak, kemudian berbalik badan memandang kami. “Bisa tolong bukakan pintunya? Karena keknya terkunci.“
Bang Ken langsung bergerak dan menghampiri Alfonso di sana. Tinggi badannya saja, Alfonso kalah dari bang Ken. Apalagi badannya, mungkin bang Ken pantasnya dibandingkan dengan ayahnya Alfonso yang tinggi tegap.
Bang Ken membukakan pintu tersebut, kemudian Alfonso langsung melarikan diri. Setelahnya, bang Ken berbalik badan dan langsung melepaskan jaket dan kaosnya.
“Kau gila, Ria! Kau bawa masuk laki-laki lain ke rumah kita.“ Bang Ken berjalan ke arahku kembali.
Ia berkeringat banyak.
“Jangan memutar balikkan fakta.“ Aku mencoba bersandar di sofa, kemudian memijat pelipisku sendiri.
Aku masih belum baik-baik saja.
__ADS_1
“Fakta apa?“ Ia duduk kembali di sampingku.
Aku tidak senang ia pulang, karena pasti ia lupa kembali untuk mengurus surat-surat untuk peresmian pernikahan kami. Belum lagi, ia malah menuduhku bukannya menjelaskan hal yang ia lakukan di belakangku.
Jika ia memang melakukan kesalahan, ia tidak harus menimpanya dengan kebohongan. Aku akan menerima kesalahannya, tapi aku akan sulit percaya lagi padanya jika ia sudah berbohong. Meski kebohongan yang ia lakukan dengan alasan menjaga hatiku, tapi aku tidak mau dijaga dengan kebohongan. Kepercayaanku sirna karena keputusannya yang membohongiku itu.
“Apa yang kau rasa, Dek?“ Ia menempatkan punggung tangannya di dahiku kembali.
Aku tidak berniat banyak bersuara, karena aku khawatir terpancing emosiku yang meluap karena kehadirannya di awal yang langsung menuduhku menyimpan laki-laki di kamar.
“Kau demam tinggi, Ria?“ Ia mengecek suhu di leherku.
“Hmm.“ Aku hanya bergumam menjawabnya.
“Berbaringlah, Dek. Biar Abang cek.“
Aku langsung teringat dengan kandunganku, bagaimana jika ia meraba bagian perutku dan merasakan ada benih yang tumbuh di sana? Karena bang Ken seorang dokter, bidan saja mengecek kandungan seseorang dengan memeriksanya langsung di area perut bawah.
“Aku demam, mual, muntah, kliyengan dan kaki tangan aku sakit semua.“ Aku masih memilih untuk duduk bersandar.
“Efek demam tinggi memang tangan dan kaki pasti sakit semua. Abang perlu cek juga.“ Ia memijat telapak tanganku.
Aku muak sekali padanya yang berpura-pura tidak tahu kesalahannya itu.
“Terang aja, Bang.“ Aku langsung ingin membahas permasalahan yang ada di antara aku dan dirinya.
“Terang apa, Dek?“ Suara lembut itu, aku muak dengan tingkahnya di belakangku.
“Aku lebih suka Abang jujur, daripada milih untuk bohong dengan alasan demi kebaikan aku. Tak ada kebaikan dalam kebohongan, yang ada aku hilang percaya sama Abang.“ Aku melepaskan tangannya yang masih memijat telapak tanganku.
“Jujur apa? Bohong apa?“ Bang Ken duduk sering menghadapku.
“Apa tak bisa ubah diri Abang dan ingat status kalau Abang beristri? Abang pengen bebas ngeduda, ya harusnya jangan datangi aku sampai ajak aku nikah. Duda lebih bebas kan untuk Abang ngelakuin sesuatu? Entah itu malam panjang bareng perempuan liar, atau mantan istri Abang. Abang bebas ke club malam dan teguk minuman keras sebanyak yang Abang mampu. Abang bebas cicipi wanita sana sini, tanpa harus menyakiti hati istri di rumah. Harusnya dari awal, Abang tak perlu repot-repot kejar aku di sini dan bujuk aku untuk nikah. Mulut Abang manis kali, janjikan resmi, di waktunya kita malah nikah siri. Dua kali loh pulang pergi Indonesia, aku yakin sekarang Abang pun tak bawa surat-surat untuk peresmian pernikahan kita. Bilang sibuk urus pabrik di Banjarmasin, tak taunya malah rapat untuk beli obat. Ngabarin katanya baru sampai di Malaysia, padahal malamnya Abang abis clubing di Bandung. Ajari aku agama, kek yang paling benar. Sholat aku harus on time, kebersihan dan ketaatan agama Abang tekankan untuk aku. Tak pernah mau waktu diajak cari hiburan malam di sini sama aku, padahal aku cuma mau nikmati suasananya aja, bukan mau minum-minuman keras kek Abang. Di belakang aku, Abang gimana? Paling bener juga? Tak kan? Bebas kan? Enak kan? Sedangkan tuntut aku harus seperti yang iya sesuai ajaran agama, tapi sendirinya nihil kalau di belakang aku. Apa-apaan kek gitu? Bangga? Senang? Cari hiburan? Aku pun pengen hiburan juga, aku pun pengen cari kesenangan juga. Abang tak dapatkan itu dari aku, aku pun tak dapat itu dari Abang. Abang enak, di belakang aku bebas ngelakuin apa aja. Bebas ngelonin siapa aja, bebas nikmati perempuan yang kek mana aja. Maksudnya apa, segala nengokin mantan istri dan senang-senang berdua di sana??? Ngerasa paling care sama dia? Ngerasa paling dekat dengan dia? Yang perempuannya gatal, yang laki-lakinya doyan!“ Aku sudah tidak bisa mengontrol emosi dan air mataku.
Air mataku bagaikan bendungan yang jebol.
__ADS_1
...****************...