
"Jangan suka begitu." Aku mendorong dadanya.
"Lumayan, masih berdiri." Ia bergerak cepat kembali.
Tidak boleh protes, katanya kami saling membutuhkan. Sering aku akui, ini lebih dari cukup dan aku kewalahan. Namun, ibu mertuaku pun tak memiliki saran untuk mencegah hal-hal seperti ini.
"Katanya jadwal haid sebentar lagi. Jadi, aku harus minta sangu dulu sebanyak-banyaknya." Ia membawa kami ke dalam selimut.
Tidak ada yang bisa aku lakukan, selain mengikuti inginnya. Ekspresi wajahnya seperti mendapat kesenangan yang luar biasa, ia amat bahagia keinginannya terpenuhi.
Gavin adalah sosok malas yang sebenarnya. Setelah selesai panen, lalu menyebar tunas. Kemudian, ia kembali menjadi Gavin yang suka bangun siang.
Apalagi, mesin cuci sudah datang. Ia tidak pernah membantu untuk hanya sekedar menjemur baju saja, aku pun sampai menggendong Kirei untuk melakukan aktivitas ini dan itu.
Kebiasaan ini, sudah berjalan dua bulan. Aku sudah terbiasa dengan keadaan ini, fisikku pun sedikit lebih kebal dibolak-balikan oleh Gavin. Rencananya, setelah selesai panenan yang rutin terjadi sebulan sekali ini, Gavin akan membawaku pulang ke provinsi kami kembali. Ia mengatakannya, uangnya sudah lebih untuk menggarap tanah bang Givan yang ia sewa. Ia juga berencana untuk membangun pondasi rumah kami terlebih dahulu.
"Rumah sakit aja kah, Bu?" Gavin menawarkan opsi ini sejak kemarin, karena Kirei sudah dua hari batuk pilek.
"Udah telpon mamah aku, Bang. Kata mamah tak apa, kalau tak ada panas. Kirei kan sekarang kan tak panas." Aku mengusap dagunya yang memiliki duri baru tumbuh itu.
"Kasian, Cantiknya Ayah kurang ceria." Gavin memeluk Kirei dan mengayunkannya.
Kirei merengek, ia tidak nyaman dipeluk amat erat seperti itu. Rewelnya Kirei sering merengek dan sering terbangun ketika sedang pulas.
Aku mendengar ponselnya berbunyi, kemudian langsung memberikan padanya. "Papah telepon." Aku tidak pernah berani menerima panggilan telepon di ponselnya.
"Perasaan, pagi tadi udah ngobrol." Gavin langsung menerima panggilan teleponnya.
"Hallo, Pah."
Aku mengambil Kirei, agar Kirei tidak mengganggu ayahnya yang sedang bercakap-cakap dalam panggilan telepon tersebut. Kirei sedikit menolak, ia betah duduk manis bersama ayah sambungnya.
"Ohh, ada apa memang? Ya mungkin semingguan lagi panen." Gavin melirikku.
Apa ada masalah di sana yang berhubungan denganku,
__ADS_1
"Kan Cali tak aku bawa. Kalau memang mau nengok, biarkan dia suruh datang ke bang Givan. Menyesal kah rupanya?" Alis tebalnya menyatu.
Berhubungan dengan Cali? Menengok Cali? Siapa?
"Tak ada perjanjian apapun, dari awal aku pun tak pernah ngancam apapun. Malah waktu ditemui itu, yang banyak ngomong itu bang Givan. Terserah bang Givan aja lah, Pah. Bukan aku buang anak, tapi aku yakin bang Givan lebih ngerti dan tau yang terbaik di sana."
Apa yang dibicarakan papah Adi? Aku tak bisa mendengar.
"Kirei pun lagi rewel, batuk pilek di sini. Mau mulai MPASI, malah keselek-keselek duluan."
Benar, MPASI sudah disarankan bidan untuk dilakukan seminggu mendatang. Di mana, Kirei genap enam bulan. Ia nanti tidak akan dilarang lagi untuk mengambil alih piring makanku dan piring makan ayahnya, kalau ia kuat makan daging ayam tentunya.
"Ck, perlu apalah? Aku tak pernah usik-usik lagi, malah punya perlu."
"Siapa?" tanyaku lirih, dengan menyentuh perut bagian atasnya.
Ia tidak mengenakan baju. Ia baru selesai makan siang, juga baru bangun dari tidurnya. Ia belum mandi, ia baru sikat gigi saja.
"Ajeng," jawabnya lirih.
Kemarin Lina, yang bapaknya sering nongol ke sini untuk meminta satu bungkus rokok. Ah, sudahlah. Paham aku dengan tabiat pak RT, pantas saja Gavin tidak berniat melanjutkan dengan anaknya pak RT itu.
Lalu, sekarang ibunya Cali? Yang katanya membuang Cali di teras rumah itu, yang Gavin susulin dengan bang Givan sampai ke Brazilia itu. Tepat sekali, saat itu aku tengah menjadi buronan bang Ken. Pulang dari situ pun, aku tertangkap oleh bang Ken.
Dua mantan itu, membuatku ingin mengikat kaki Gavin dengan kakiku. Aku tak ingin ia pergi menemui perempuan itu tanpa izinku, apalagi bersembunyi-sembunyi dariku.
"Duh, Papah. Aku minggu depan panen tuh, nanti aku bolak-balik ongkos. Kasian Kirei juga, orang dia lagi tak fit. Ria pasti capek bolak-balik pesawatnya. Aku tak mau ninggalin mereka di sini, pekerja di sini laki-laki semua, bisa kena hap nanti." Gavin merengek seperti anak kecil.
Kirei berdiri di pangkuanku, kedua tangannya terulur dan mencoba menggapai ponsel yang berada di telinga ayahnya itu. Gavin menjauh, ia tidak memberikan izin anaknya untuk mengambil alih ponsel tersebut. Hingga racauan Kirei keluar, ia sepertinya ingin berbicara dengan kakeknya juga.
"Kirei cantik mau ngomong katanya, Kek."
Menit selanjutnya, panggilan video dilangsungkan. Kirei loncat-loncat di pangkuanku, dengan kedua ketiaknya yang aku tahan. Ia begitu excited melihat gambaran kakeknya.
"Wah, menantu makin kurus aja." Papah Adi malah mengomentariku.
__ADS_1
"Ya, Pah. Tak dikasih makan sama Ayang Apin." Aku menanggapi dengan candaan.
"Perut karet, makan apapun badan segitu aja. InshaAllah bulan depan positif hamil, Pah. Nanti dia mengembang kek ikan buntal." Ia berpindah duduk di sampingku.
Kirei berputar, ia langsung mengalungi leher ayahnya. Ia semakin dekat dengan Gavin, Gavin seperti satu-satunya penolongnya di kala aku ngebo. Saking lelahnya, kadang aku tidak mendengar rengekan dan tangisannya yang menginginkan susu formulanya.
Aku tidak berniat menyapihnya begitu cepat. Tapi Kirei tidak mau sendiri, karena memang masa dipump pun yang keluar hanya beberapa tetes saja. Kirei butuh airnya, ia tidak sabar hanya mendapatkan ujung dadaku saja. Kirei bukan ayahnya yang memang butuh bentuknya untuk berpegangan, atau dijadikan mainannya.
"Memang sekarang belum isi kah?" tanya papah Adi kemudian.
"Isi seblak tadi, Pah. Aku makan nasi, sama telur mata sepi. Dia enak makan seblak komplit, sampai Kirei pun ngeces." Gavin melirikku.
"Wah, menantu jajan sendiri aja. Anak Papah tak dijajanin."
Terkesan aku yang menjatah Gavin. Tapi aku harus ingat, jika memang candaan keluarga ini sedikit ekstrim.
"Dia bangun tidur pagi jam segini, Pah. Masa mau aku kasih seblak pedas? Malas betul dia kalau tak panenan, Pah."
Perkiraan pengeluaranku sebulan, sekitar dua puluh jutaan. Itu pun karena aku sering membeli barang onlinean. Karena kan, memang aku dan Kirei tidak membawa baju banyak. Sekarang bukan hanya baju, sprei pun bisa ganti-ganti terus. Jika barang yang mahal, seperti mesin cuci, tentu Gavin yang meng-handle biayanya. Jadi aku benar-benar tidak tahu berapa pendapatan masuk setiap kali panenan.
"Dari dulu begitu, masa TK apalagi. Untungnya, mamahnya galak. Jadi sekolah jarang berangkat pun, tetap bisa baca tulis di masa TK." Memang sudah tabiat rupanya.
"Itu Gavin kah, Pah? Boleh aku ngomong." Suara perempuan yang pernah akrab denganku, terdengar sampai ke sini.
Ya, aku pernah akrab dengan Ajeng. Masa ia masih menjadi istri Gavin, waktu ia tinggal di penginapan milik mamah Dinda. Ia selalu menghubungiku untuk menemaninya, semasa Gavin keluyuran entah ke mana.
Waktu itu aku masih merokok, jadi aku memiliki tempat untuk merokok. Aku selalu datang jika memang bisa, karena aku memiliki tujuan sendiri di tempatnya.
Tidak pernah ada obrolan yang serius, hanya obrolan ringan yang membicarakan tentang barang belanjaan atau tentang makanan. Aku lebih hanya sekedar menumpang merokok atau numpang tidur saja.
Gavin memberikan ponselnya padaku, kemudian ia meletakkan Kirei di pangkuanku. Dengan ringannya, ia berjalan ke kamar mandi.
Jadi, aku disuruh berbicara dengan Ajeng kah?
...****************...
__ADS_1