
"Mamahnya aja yang seolah anggap aku ini masalah besar." Gavin fokus memandang Kirei.
"Kasihlah dulu ke mamah, Abang ngerasa tak dihargai betul." Bang Ghifar menunjuk Kirei.
Masalahnya, fokus Gavin seolah pada Kirei. Padahal, Kirei tak harus selalu ditatap seperti itu. Ia bahkan bisa lelap, jika dibiarkan sendiri saja.
"Sini Yayah antar." Bang Givan mengambil Kirei dari Gavin, kemudian masuk kembali ke kamar mamah Dinda dengan Kirei.
"Jangan sulit-sulit betul diatur, papah udah tua. Yang kasian sama orang tua, di masa tua itu mereka pengen bahagia, menikmati kebahagiaan. Jangan dibuat susah, dengan urus anak yang susah nurut kek kau." Bang Ghifar langsung mengeluarkan petuahnya.
"Aku nurut, Bang." Gavin seperti mengejan.
"Nurut! Nurut! Nurut! Apa coba yang menyulitkan kau? Sampai kata papah, mamah nyuruh abang-abang kau yang urus."
Apa bang Ghifar tidak tahu apa-apa?
"Toel-toel yang jadi masalahnya. Padahal, kita lebih dari toel-toel ya kalau sama istri kita?" sambung bang Givan, yang baru keluar dari kamar mamah Dinda.
Ia tidak membawa Kirei, yang artinya Kirei ditinggal bersama mamah Dinda di dalam kamar. Oke tak masalah, Kirei pasti anteng. Apalagi, ia sendiri yang menolak ASI.
"Masalahnya itu kita sama istri, Bang." Bang Ghifar menatap bang Givan yang tengah mencari posisi duduk nyamannya lagi.
"Yaitu…." Bang Givan mentapku dan Gavin bergantian. "Disegerakan, biar bebas. Udah, pesan Abang sih itu aja. Jadi mau kau toel-toel, gaplok-gaplok, terserah kalian, asal jangan KDRT, jangan sampai menyakiti." Jika bang Givan pasti to the point.
Sepertinya, mereka sudah tahu semua jika aku dan Gavin memiliki kedekatan. Aku tidak pernah ditanya apapun setiap main ke sana, mungkin mereka menunggu aku sendiri yang bercerita. Ataupun, mereka memang menyetujui makanya tidak ada protes apapun.
"Riutnya, Bang." Gavin menunjukku dengan dagunya.
"Kok aku?" Aku menunjuk wajahku sendiri.
"Kan aku udah jelas, ayo nikah kan? Tadi pun di luar kita bahas, katanya oke urus pernikahan dan resepsi. Jadi rencana aku begini, Bang. Bulan ini, aku di sini urus pernikahan kita. Aku mau ada resepsi, dangdutan kalau bisa pun. Aku kan belum pernah resepsi, dia pun sama. Jadi, kita ini punya impian resepsi pernikahan bersama. Senin besok kan dapat bayaran jahe dari ayahnya Safa, aku udah rencanakan untuk biaya resepsi. Sebulan ini pun aku mau di sini, sambil pedekate, sambil urus keperluan pernikahan. Kita pun bahas banyak pas di luar, diantaranya tentang Ria yang pulang dulu ke ibu untuk menghindari fitnah dan terjangan aku," ungkap Gavin lugas.
__ADS_1
Begini seharusnya, saat mamah Dinda dan papah Adi bertanya. Orang tua sudah emosi, akhirnya dilempar juga pada kakak-kakaknya.
"Terus?" Bang Givan sampai bertopang dagu, dengan siku bertumpu pada pangkuannya.
"Belum tersampaikan ke mamah sama papah." Aku yang menjawabnya.
"Ya udah, oke. Gitu tak apa. Nanti disampaikan ke mamah sama papah, sekarang kita perlu atur konsepnya dan perkiraan tanggal. Ambil kertas dan buku, biar tersampaikan ke mamah dan papah." Bang Ghifar bertutur dengan lembut dan empuk kembali.
Kan begini kan enak.
"Ya, sebentar." Gavin berjalan ke arah ruang depan. Tak lama ia muncul, dengan pena dan buku.
"Kau lahir tanggal berapa? Kau juga, Ria? Kita catat, kita kasih hari dan tanggal perkiraan kalian menikah. Nanti, biar papah sama kyai yang hitung tanggalnya. Terus, resepsi yang bagaimana, adat apa. Biar kita enak carikan MUAnya, disesuaikan dengan dana yang ada. Mau indoor, atau outdoor? Mahar apa, list barang untuk hantaran, nomor sepatu, pakaian dalam juga catat, biar ipar yang lain yang repot urus belikan. Jadi kau tau beres aja, Dek. Karena kan, kau kerja juga nih. Terus nikahnya mau di KUA, atau di tempat resepsi? Kita catat semua, biar geraknya enak."bang Givan menerima pena dan buku tersebut.
Di tangan mereka bisa secepat ini?
Kenapa tadi aku dan Gavin berdebat terus? Aku dan dia banyak ributnya, tak ada hasilnya.
Aku dan Gavin mulai berpendapat tentang pernikahan impian kami, satu yang begitu ia harapkan yaitu dangdutan. Dia ingin menyawer biduan katanya.
Aku mencatat nomor cup wadah ASIku, nomor sepatu, ukuran segitiga sakral dan ukuran pakaian yang biasa aku kenakakan. Aku pun diminta bang Ghifar, untuk menambahkan jenis skincare yang aku kenakan, tak lupa kosmetik juga katanya.
Warna dekorasi pesta resepsi pun sudah dibahas, Gavin ingin warna biru, aku ingin warna putih. Sehingga yang dipilih akhirnya warna kuning emas.
Begitu ternyata kami ini? Hal kecil bisa jadi perdebatan besar, yang akhirnya dipilih akhirnya warna yang bukan dari pilihan kami semua. Itu tidak lucu, aku emosi membahas itu warna.
Jumlah undangan sudah kami bahas, perkiraan banyaknya catering sudah kamu perkirakan. Bang Ghifar dan bang Givan pun sudah mengatakan akan membantu pendanaan untuk isi rumah.
Perkiraan lahan kopi yang ditebas untuk rumah baru kami pun, langsung dibicarakan. Jadi, rumah kami nantinya ada di sebelah rumah bang Ghifar. Tepatnya di sebelah tanah Riyana Studio, lahan kopi itu pun milik bang Givan dan katanya berencana untuk dibagi dua dengan Gibran. Jadi, nanti rumah kami akan memanjang.
Untuk akad jual beli, katanya keuntungan dari resepsi nanti. Ah, aku tidak yakin untung. Karena pastinya undangan akan dibatasi.
__ADS_1
"Jangan undang mantan!" Satu peringatan Gavin berikan.
"Kirei kan masih punya ayah, Vin," timpal bang Ghifar.
"Biarin, ayahnya ya hubungannya sama Kirei. Kirei nikah, baru diundang. Ini kan bukan Kirei yang nikah." Ada benarnya juga ucapannya.
"Ya udah, ya udah. Okein aja, Ria. Kolot betul ini anak kecil." Bang Givan meraup wajah Gavin.
"Ya bukannya gitu, Bang. Biar dia tau, kalau dia bukan termasuk dari kebahagiaan kami. Kalau ke sini, kerajaannya buat Kirei kagetan. Ngapain dia harus diikut sertakan?"
Antara benar dengan ucapannya, atau ia cemburu. Aku tidak tahu mana yang benar.
"Gebrag-gebrag meja." Bang Givan terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.
"Ya intinya, jangan undang mantan. Aku pun tak akan ngundang Ajeng." Ia menyepakati hal itu, padahal aku tak meminta.
"Oke sip." Aku menurut saja, agar dia tidak mengajakku ribut lagi.
"Cali sama pengasuhnya nanti aku ambil alih." Aku langsung menoleh padanya.
Aku lupa jika ia itu duda muda beranak satu.
"Istri kau Ria, bukan Canda. Perkirakan baik-baik, daripada anak kau jadi capcay brokoli dan bakso. Lagipula, Cali anak susuan kakak ipar kau. Kita bukan orang lain, sedangkan Ria orang lain." Bang Givan mengatakan seolah aku jahat di depanku juga.
"Kok Abang ngomong gitu?" Aku tidak terima dengan ucapan bang Givan.
"Sok dibicarakan dulu, anak ini sensitif loh." Bang Ghifar menaruh pena di atas meja.
Bagaimana sebaiknya? Bukan aku keberatan, tapi aku punya bayi juga. Mengurus toddler, bukan hal yang mudah, apalagi Cali anak yang aktif.
...****************...
__ADS_1