Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD214. Titipan untuk Kirei


__ADS_3

Bibirku sampai gemetar, menahan gejolak yang suamiku timbulkan. Tapi pertahanannya sepertinya tidak lama lagi, karena aku sudah menghitung durasinya. Suamiku paling lama dua puluh lima menit, tidak termasuk pemanasan, makanya ia melarangku keluar cepat karena khawatirnya akan lecet-lecet karena kekeringan. Jangan tanyakan pelumas gel, mungkin sekarang sudah habis satu botol. Ini alasan utama, agar sprei selalu dicuci. 


Durasi cukup itu sekitar tiga belas menit, coba cek Google saja. Tapi tergantung usia dan stamina masing-masing laki-laki. 


Mulutnya terbuka dengan suara geraman kucing liar. Aku yakin suara itu menembus pintu, karena biasanya ibu yang berada di lantai tengah pun mendengar suara aktivitas kami. 


"Plong, Bos?" Aku menepuk bahunya, ia terengah-engah sebelum akhirnya menggulingkan tubuhnya ke sampingku. 


"Plong, tulang-tulang kek dipresto." Dadanya sampai kembang kempis begitu dalam. 


"Udah kali ya momen pengantin barunya, waktunya mungkin bisa digeser jadi seminggu tiga kali atau dua kali aja." Aku berbaris menyamping dan memeluk tubuhnya. 


Tubuhnya berselimut keringat. 


"Ajeng tak pernah komplain."


Ia membuatku badmood seketika. Aku tidak memiliki masalah dengan nama itu, tapi nama itu membuat hatiku sesak. Ajeng mantan satu-satunya untuk Gavin, tapi pantasnya Gavin tak perlu mengungkit namanya terus. 


Aku memunggunginya, menarik selimut dan memeluk Kirei. Aku cemburu, cemburuan. Aku istrinya sekarang, tapi mantan istrinya tetap unggul di segala sisi untuknya. Jika dibalik posisinya, aku yang menarik nama ayah kandungnya Kirei, pasti ia tak suka. 


Aku tak berniat mengingatkannya untuk pergi ke bang Givan, biar dia pulas setelah mendapat tujuannya setiap malam. Bagus juga, ia tidak menyadari kesalahan kecil mulutnya. Karena jika aku ditanya kenapa, aku. Pasti sudah mewek karena hal sepele itu. 


Napasnya sudah tidak terdengar ngos-ngosan, tapi aku tidak tahu tengah apa ia sekarang. Entah benar-benar terpejam, atau sudah berpakaian kembali. Tapi aku belum berpakaian, karena lelehan itu masih terasa keluar. 


"Mau lagi." 


Aku merinding bukan main, saat bisikan itu disertai dengan hembusan napas. Aku meliriknya, mulutku masih rapat menahan kekesalan dalam hatiku sendiri. 


Ia tersenyum manis. "Mau lagi, Bu. Boleh ya?" Ia menarik pinggangku, ia tengah berusaha menempatkan lagi. 


"Katanya mau ke bang Givan." Berhubungan kembali pun, rasanya pasti datar saja karena aku tengah badmood. 


"Ya setelah yang kedua ini. Masih kurang." Ia mulai penyerangan kembali. 


Ia tidak mengerti ekspresi wajahku. 


Tok, tok, tok….


"Kirei, Ayah punya titipan untuk Kirei."

__ADS_1


Bang Ken berani mengetuk pintu kamar kami yang rapat? Ini serius? 


Sorot mata Gavin seolah berbicara, agar aku tetap diam. Tapi dengan nama perempuan yang ia sebut tadi, aku tidak bisa diam dan membuat seseorang yang berada di depan pintu terus mengetuk sampai Kirei terbangun. Aku tidak mau tidur putriku terganggu dengan suara ketukan pintu yang terus berulang. 


Tok, tok, tok….


"Kirei…."


Sudah kuduga, ketukan pintu itu akan terus berulang. Bang Ken pun tidak benar-benar menginginkan Kirei yang menyambutnya. Ini alibi, karena tak mungkin anaknya yang baru akan lima bulan ini membukakan pintu untuknya. 


"Iya, sebentar." Aku melepaskan cekalan tangan suamiku pada pinggulku, kemudian aku turun dari ranjang. 


Aku hanya sempat mengelap sisa semburan suamiku dengan tisu, kemudian langsung berpakaian dan memakai kerudung instan. Aku sadar, aku belum mencucinya. Aku pikir hanya sebentar, untuk menerima barang yang dititipkan bang Ken saja. 


Aku melirik Gavin sebentar, ia tetap berbaring menyamping. Namun, kali ini ia memeluk Kirei. Matanya terpejam, entah ia benar-benar tidur atau tidak. 


"Ya, Bang. Gimana?" Aku membuka pintu kamar, kemudian menutupnya kembali. Bang Ken pasti melihat sepintas pakaian yang tergolek di lantai dengan Gavin yang berselimut dengan anaknya. 


"Hmm, ini." Bang Ken menunjuk barang-barang yang berada di dekat pintu samping. 


Susu formula, diapers, tisu kering dan basah. 


Aku celingukan. Tidak ada mamah Dinda, aku bingung ingin menerima atau menolak. 


"Aku udah bilang mamah, kata mamah iya. Oh iya, ini ada hadiah gendongan bayi dari Riska. Biar di penerbangan nanti, Kirei nyaman di gendongan khusus ini." Bang Ken mengambil sebuah plastik berisi gendongan. Dari gambar produknya, itu adalah gendongan bayi M shape. M shape lain ya? Bukan adegan kemarin. 


"Oke, makasih." Aku menerima saja. 


"Ya udah gitu aja, salam ya untuk Kirei." Ia tersenyum manis dengan sorot sedih. "Jaga diri ya? Jangan suka nangis." Ia menyentuh ujung hidungku, kemudian ia berbalik badan dan pergi. 


Apa ia berpikir, bahwa Gavin jahat? Aku tahu mataku pasti sembab dan merah, tapi bukan karena aku habis menangis karena perdebatan. 


Kembali masuk ke kamar, atau beristirahat sebentar ya? Aku melirik ke gagang pintu, kemudian menoleh ke arah dapur. 


Ah, baiknya aku cuci dulu di kamar mandi belakang. Setelahnya, aku mencari susu UHT di lemari pendingin dan duduk di kursi makan menikmati segelas susu dingin ini. Jika langsung masuk kamar, aku malah digarap lagi. Rasanya berjalan pun agak lain, karena sering dibentangkan. Jarak kaki kanan dan kiri, rasanya seperti satu di Sabang dan satu di Merauke. 


"Hai, sendirian?" 


Aku kaget, tiba-tiba ada kak Aca masuk. 

__ADS_1


"Iya, Kak." Aku tersenyum melihatnya. 


Ia membawa banyak kantong plastik berisi banyak belanjaan. Kemudian datang bang Ghifar, dengan membawa sekarung beras dua puluh lima kilo. Akhir bulan dan besok awal bulan, pada berlomba-lomba memenuhi kebutuhan dapur ibunya. 


Begini ya enaknya banyak anak? 


Mereka sibuk menata barang-barang, mamah Dinda benar-benar tahu beres jika seperti ini. Beras pun, langsung dipindahkan ke wadahnya. 


Ah, balik ke kamar. Susu UHT ini pun sudah habis. Aku sudah sedikit pulih, dari kelemasan lutut ini. Aku beristirahat duduk sejenak, untuk memulihkan diri, bukan untuk meninggalkan suamiku. 


Ehh, ini serius? Pintu kamar dikunci? Apa Kirei dan ayah sambungnya itu keluar dari kamar? Tapi, biasanya pun tidak pernah dikunci jika tidak ada orang di dalamnya. 


"Bang….. Bang Gavin." Aku memanggil namanya, memastikan kamar ini berpenghuni. 


Lama menunggu, tidak ada sahutan. Di sini pun tidak ada orang lagi, jadi aku tidak bisa bertanya pada siapapun. 


Mariam tengah nifas, setelah bersalin ia diminta untuk tinggal di rumah orang tuanya. Gibran? Ya tetap bolak-balik di sini. Tapi memang, kali ini rumah ini sangat sepi. 


Kamar mamah Dinda setengah terbuka, tapi sepertinya tidak ada di dalam kamar. Aku hendak berjalan keluar rumah, barangkali Gavin keluar membawa Kirei. 


"Kenapa, Ria? Nyari siapa?" Pertanyaan bang Ghifar mengurungkan niatku untuk berjalan keluar. 


"Mamah mana ya?" Barangkali beliau tahu kenapa kamar ini tiba-tiba terkunci. 


"Di depan Riyana Studio, sama papah juga. Lagi pada ngobrol di sana."


Apa Gavin ke sana juga kah? 


"Abang ada lihat Gavin di sana?" Aku menunjuk ke luar. 


"Tak ada, kata mamah udah pada tidur. Memang dia tak ada di kamar sama kau?" Bang Ghifar menunjuk pintu kamarku. 


Belum juga aku menjawab, bang Ghifar langsung memanggil nama Gavin dan mengetuk pintu kamar. 


"Hmm," sahutan dari dalam kamar. 


Jadi? Dia di dalam kamar dengan Kirei? Aku ditinggalkan di luar kamar begitu? Aku tidak boleh masuk begitu? 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2