Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD80. Berharap berubah


__ADS_3

“Mau nyari Ajeng, Gavin nuntut penjelasan. Jangan terlalu terbuka sama Dika itu, sewajarnya berteman aja. Takutnya, Dika main sebar aib kau aja. Bukan apa-apa, nantinya kau yang bakal malu. Keluarga besar kita yang bakal malu, apalagi ini sifatnya skandal.“ Givan menurunkan nada bicaranya.


“Memang bang Ken tak ada usaha untuk nikahin aku, Bang?“ Aku selalu ingin ia yang membuatku seperti ini, ialah yang bertanggung jawab atas semuanya. Termasuk, menikahiku.


“Tak. Di masanya tiba, kau pasti tau sendiri. Memang ini kok yang dia cari.” Nada bicara kesal bang Givan kentara sekali.


Jadi benar, bang Ken tidak berusaha untuk menikahiku? Bang Ken hanya ingin memperdayaku saja.


“Dia belum sadar kah, Bang?“ Aku masih berharap ia membuat perubahan untuk kami.


“Jangan maksain harapan, Ria. Baru satu bulan juga, mungkin dia masih menata dirinya sendiri. Karena sulit, untuk buat perubahan untuk diri sendiri. Dia banyak trauma, dia banyak iri hati, dia banyak problem yang dihadapinya sendiri. Aku tak belain sana-sini, tapi mungkin bang Ken lagi menata dirinya dulu. Kasian sih kasian, tapi gimana juga, Abang marah juga sama dia. Kau mungkin tak akan paham juga, karena kau tak tau masalah sebenarnya yang ia hadapi.“


Aku merasa bang Givan tahu banyak tentang bang Ken, hanya saja bang Givan enggan membukanya padaku.

__ADS_1


“Sekarang aja, diminta stay di rumah mamah. Dalam pengawasan mamah, dalam pemahaman mamah, dalam kontrol mamah. Karena apa? Karena dia banyak merasa bahwa dirinya tak seberuntung kami. Biar dia paham, kalau kami ini pun tak seberuntung yang dia pahami.“


Ada masalah apa ya di sana? Kenapa bang Ken menjadi memiliki masalah dengan anak-anak mamah Dinda? Kami yang bang Givan maksud, pasti dirinya dan saudaranya. Bukan cuma dirinya sendiri, atau dirinya dan keluarga kecilnya.


“Pokok permasalahannya apa, Bang?“ Aku semakin penasaran, jika ia membuka sedikit demi sedikit seperti ini.


“Pokok permasalahannya itu kompleks. Dari keluarga, hingga ke dirinya sendiri. Percayalah, Dek. Abang ini sayang dia, keluarga kami sayang dia, mamah apalagi. Kita tak mau dia gagal lagi bawa rumah tangganya, apalagi kalau istrinya selanjutnya itu kau. Abang tak mau nyalahi pihak manapun, karena ini tentang pandangan pribadi aja. Karena yang anak kecil lihat itu mentah, jadi Abang paham pola pandangnya dulu. Masuk di akal, karena Abang pun dulu merasakan. Hanya aja, di belum dapat suatu kejadian yang buat dia benar-benar sadar.“


Aku semakin bertanya-tanya tentang kesalahannya. Apa sih ini sebenarnya? Tentang apa?


“Jangan, Dek. Jalani jadi teman aja dulu. Sabar, pasti datang laki-laki tepat yang akan nikahin kau. Tak bang Ken, mungkin Dika atau Arman. Nikah itu rasanya gitu-gitu aja. Apa, kau udah kecanduan begituan sama bang Ken?“ Bang Givan seperti menyudutkanku.


“Tak lah, Bang.“ Masa iya aku mengakui aku ini memang terhanyut? Kan aku malu.

__ADS_1


“Betul kasar kah bang Ken ini?“ Bang Givan seperti menggigil di seberang sana.


“Abang rebahan di kamar atas, Bran,” pekiknya kemudian.


“Ya, Bang,” sahut Gibran terdengar begitu lamat-lamat sekali.


“Dingin, Dek. Abang tuh sebenarnya pengen di rumah aja, kelonan. Berat urus kerjaan malam hari begini tuh, karena siang waktunya Abang sama anak-anak.“ Suara pintu yang dibuka dan ditutup, kemudian bang Givan menghela napasnya. Sepertinya, ia telah berhasil merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


“Gimana bang Ken memperlakukan kau?“ tanya bang Givan kemudian.


“Hmm, ya mungkin wajar. Aku tak tau lembutnya laki-laki itu kek mana dan kasarnya kek mana?“ Aku hanya takut ketika bang Ken mengamuk saja.


“Cara dia memperlakukan kau di ranjang itu kek mana? Kira-kira, misal nanti dia akhirnya berjuang untuk kau. Apa kau kuat, diperlakukan kek gitu di ranjang kalian nanti?“ Bang Givan bertanya dengan perlahan, aku yakin ia tengah berhati-hati memilih kata.

__ADS_1


“Menurut aku, mungkin normal. Ada obrolan, ada foreplay. Cuma memang, dia cekalin tangan aku terus. Dia ini bilang, kalau dia risih diraba dan banyak disentuh masanya dia tengah bekerja. Untuk ukuran kekasaran, wajar aja menurut aku. Misalnya nyekik, itu dia tak cekik betulan buat aku mati. Tapi, kek ngunci pergerakan rahang aku aja. Untuk laju pergerakkannya, menurut aku juga wajar. Ada kasarnya, ada lembutnya. Dia tau gitu, di mana dia harus kasar dan harus lembut. Cuma aku merasa, ya terlalu banyak tipu daya aja. Kek awal aja, iya tak masuk. Tapi tanpa izin apapun, dia main terobos aja. Seolah buat keadaan salah paham pun dia pandai, padahal kan alasan yang sebenarnya karena dia memang sengaja. Setelah nerobos itu, dia kek benar-benar bingung gitu. Tanpa kegiatan lanjutan, kita benar-benar selesai. Nah, masanya dia mengamuk hebat dan lempar-lempar barang ini, dia buka semuanya tabiatnya. Dia sengaja buat aku hilang V sama dia, karena pengen ngunci aku untuk kehidupan dia aja. Dia sengaja buat aku tak bisa lepas dari dia, karena dia putar keadaan seolah aku begitu membutuhkannya. Awalnya aku ini main tarik ulur jarinya, sengaja aku buat kek gitu biar dia kacau. Tapi, nyatanya aku sendiri yang kacau. Aku kek tak percaya aja, dia sampai tega kasih obat perangsang di kopi aku. Dia bahkan sebutan nama obatnya, di pagi setelah aku sadar. Dia pun bilang, kalau dia marah. Marah dalam diamnya mematikan, marah dalam amukannya menghancurkan. Sekali dalam seumur hidup, aku baru lihat barang-barang dilempar begitu mudahnya. Kek ringan gitu kesannya, kek tak berat, kek tak punya beban barang tersebut. Tapi setelah itu kita tidur berpelukan. Menurut aku sih, dia kek harus punya tempat pelipur laranya. Tempat curhat, tempat dia cerita, tempat dia keluh kesah, tempat dia berbagi emosinya dalam kontrol yang waspada. Bukan dikumpulkan, untuk dijadikan amukan begitu. Karena siapapun yang lihat, mereka pasti ketakutan. Lepas ngamuk hebat begitu, paginya langsung sakit. Dia demam, nampak kelelahan. Amukannya itu, kek nguras energinya juga. Jadi tenaga dia ini, kek jadi terkuras habis gitu, buat dia drop. Menurut aku, mungkin kasar yang dimaksud itu karena amukannya kali. Aku aja sampai nangis, aku bilang ke dia kalau aku ketakutan sama dia. Setelahnya, dia minta maaf dan bilang kalau dia ini tak akan buat buat aku kesakitan.“ Semoga bang Givan tahu, jika yang dimaksud kasar itu berbeda-beda.


...****************...


__ADS_2