Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD239. Nasehat dan perdebatan


__ADS_3

…… Aku lepas tangan." Gavin mengangkat kedua tangannya. 


Air mata Ajeng jatuh tak terkendali. Ia seperti begitu terpukul, mendapat keputusan Gavin. tapi harusnya kan ia bisa menebak, karena Gavin sudah tidak bersamanya lagi. Ia terlalu berekspektasi terlalu tinggi, mungkin juga ia berpikir bahwa Gavin akan setengah mati memperjuangkan anaknya, karena ia tahu Gavin begitu tulus pada anaknya. 


"Bapaknya Elang pun baik, dia sayang anak. Logika kami laki-laki, ya benar juga ambil alih anak sendiri, kalau memang ekonomi baik dan ditambah pendamping baik dan dukung dia. Meski proses pengadilan, itu kan dia minta baik-baik loh, minta secara hukum dan terang-terangan. Bukan main culik, atau main ambil terang-terangan dan bawa kabur aja. Daripada, ribet dimintain jatah ini itu harus terpenuhi semua. Kan anak kan anak kau juga, bukan anak dia aja. Meski nafkah anak kewajiban bapaknya, tapi tak ada salahnya ibunya nutupin sedikit kekurangan biaya yang diberi bapaknya. Kalau bapak, dihitungnya kewajiban, tak beri nafkah ke anak, kita dosa. Kalau ibu, nafkahin anak dihitungnya shodaqoh loh. Kau tak kasih, kau tak dosa. Cuma kan manusiawi, masa iya tega lihat anak kekurangan sedangkan kita mampu kasih." Gavin seolah memberi nasehat dengan nada lembut. Entah tersampaikan tidak maksud baik Gavin, tapi sepertinya Gavin tahu jika Ajeng mungkin berani begitu menekan bapak dari anaknya untuk memenuhi segala kebutuhan anaknya. 


Meski kewajiban, kadang kan kita tidak tahu kemampuan bapak kandung untuk menafkahi anak yang ada di kita. Bang Ken pun terakhir memberi nafkah pada Kirei, ya saat kami akan berangkat ke Lampung itu. Sampai sekarang, tidak pernah ada komunikasi atau laporan uang masuk untuk Kirei. Aku yang memang merasa ada uang, ayah sambungnya mampu, ya tidak merecoki bang Ken, apalagi menuntut meminta uang. 


Ajeng kan punya gaji, orang kepercayaan keluarga ini memiliki gaji yang lumayan. Pasti lah ia mampu mencukupi kebutuhan anaknya, tapi mungkin Ajeng adalah orang yang perhitungan. Atau ia memiliki pikiran, enak sekali ayahnya tidak menjamin apapun, sedangkan dirinya berkorban waktu, tenaga, perhatikan, uang juga. 


"Dari pada diminta uang terus, udah aja sekalian diurus. Kan gitu pikiran bapaknya Elang, karena dia risih loh diminta uang terus. Aku yang masa itu jadi suami kau, jujur aja risih sendiri tengok inbox kau minta uang untuk biaya Elang. Padahal, udah ada aku yang lebih dari cukup untuk nyukupin kebutuhan Elang. Aku aja risih, malu. Apalagi yang jadi bapaknya Elang, sampai dapat laporan tiap kali kebutuhan Elang habis," lanjut Gavin kemudian. 


"Kau aja gimana ke Cali, gimana tanggung jawab kau yang jadi ayahnya." Ajeng menunjuk wajah Gavin. 

__ADS_1


"Sepuluh juta sebulan, belum kalau aku pulang pasti aku penuhi kebutuhan barangnya juga. Kenapa? Kau anggap itu kurang?" 


"Kau jangan terlalu sombong, Vin. Bahkan, ayahnya Elang kasih lebih dari itu." Ajeng nampak marah dalam tangisnya. 


"Oh, pantaslah dia ambil alih. Kebutuhan anak kecil tak akan sebanyak itu kalau dia sehat, Jeng. Daripada ngirim ke kau lebih dari sepuluh juta sebulan, lebih baik dia kasih ke istrinya yang jelas bisa manfaatkan uang itu sesuai porsinya, dengan kebutuhan anaknya pasti terpenuhi juga. Pekerjaan bapaknya Elang tak setara dengan kau, gajinya tak sama dengan kau. Tentu dia punya rasa keberatan, dengan tuntutan nafkah untuk Elang yang kau minta." Gavin menunjuk Ajeng dengan menggelengkan kepalanya. 


"Vin, memang kau tak hitung biaya pengasuh? Kau tak hitung biaya ini itu?" Ajeng sampai memekarkan matanya. 


"Makanya bapaknya Elang milih asuh sendiri, Jeng. Aku pun bakal ngelakuin hal yang sama juga, daripada anak di ibunya tapi tetap bayar pengasuh. Kocak sekali pikiran kau. Paham, kau wanita karir. Wanita karir di luar sana tak ngemis nafkah untuk anaknya, mereka kerja untuk memenuhi kebutuhan anaknya. Mereka malah malu untuk minta nafkah ke mantan suaminya, Jeng! Gengsinya besar untuk meminta, mereka merasa mampu dan berpikir kalau laki-laki baik pasti tak lalai dengan kewajibannya. Urusan bapaknya mau nyukupin kebutuhan anaknya tak, itu biar jadi urusan akhirat bapaknya sama Tuhannya. Dia yang lalai, dia yang sengaja tak memberi, pasti dapat sangkutan di akhiratnya. Itu bukan urusan kau, kau cuma perlu ngingetin sewajarnya. Kalau dia memang tidak mau memberi, itu berarti udah urusan dia sama Tuhannya. Berapa kali aku bilang begini sejak dulu????" Gavin menjeda ucapannya untuk menarik napas lebih banyak. 


Emosi sekali ia rupanya. 


"Beribu kali, Jeng! Aku sering ingatkan, tapi kau begitu kekeh untuk perjuangkan uang nafkah Elang seolah kau tak mampu, seolah aku tak mampu." Napasnya kembang kempis, sampai kepala Elang yang berada di dekapannya bergerak-gerak terus. 

__ADS_1


"Intinya, aku tak bisa bantu kau untuk masalah Elang. Kau punya gaji, kau bisa ajukan banding untuk hak asuh anak kau." Gavin mengibaskan tangannya seolah meminta Ajeng untuk pergi. 


"Vin, kau tak tau kebutuhan hidup di sana dengan Elang yang makin besar. Posisi aku udah turun dan kau tau itu, Vin." Ajeng memeluk dirinya sendiri. 


"Aku tau, Jeng! Delapan belas juta gaji kau, dua puluh dengan lembur kau bilang kurang? Coba biasakan miskin dulu, biar bisa atur keuangan kau. Dari awal kau sama aku panen uang terus, jadi mungkin kau merasa begitu dimanjakan dan menyepelekan nilai uang. Makanya, aku sih kapok mau bebasin istri kek ke kau kemarin. Sekarang ke Ria aku bukannya pelit, tapi aku ajak dia hidup sederhana dan terbiasa sederhana. Biar dibawa kaya tak hambur-hamburkan uang, dibawa miskin dia bisa menyesuaikan. Kuota tinggal dua giga aja, kau terkesan kek mau mati, Jeng! Kau tak pernah merasakan tak punya kuota sampai ikut tethering, kau tak merasakan mau makan ngedadak masak dulu. Aku benar-benar banyak belajar plus dibuat kapok sama kau, diberi pengalaman yang bisa jadi pembelajaran. Kau dulu, ngeluarin uang untuk makan dua kepala aja sampai habiskan puluhan juta perbulan. Bukannya menyesali, tapi apa itu tidak terlalu boros?" 


Gavin orang yang suka mengungkit dan jika diajak berdebat, mulutnya akan bertamasya. Ia sudah seperti ibu-ibu berdaster yang diam-dian memperhatikan aktivitas tetangga. Itu wajar, karena ibunya memang cerewet dan bermulut tajam. 


"Kau bilang aja, kalau sekarang kau tak mampu kek duku lagi! Mulut kau ke mana-mana, intinya memang nyatanya perekonomian kau tak sebagus dulu. Kau tak mau bantu Elang, karena sadar diri uang kau tak cukup untuk bantu uang. Ya kan?!"


Ia keterlaluan tidak sih? Terkesan meledek dengan gaya elit 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2