
Mamah Dinda berencana mengajak bang Ken dan Hala makan malam bersama. Aku tidak suka saran itu, karena aku merasa kacau jika ada bang Ken di antara kami.
"Bang Ken mau kerja, Mah. Aku tak setuju, kalau ada bang Ken. Maksud aku, Hala aja udah." Aku langsung memeluk lengan beliau.
"Biar clear gitu, Dek. Kalau kau mau Halanya aja, ya udah tak apa. Mamah coba WA dia ya?" Mamah Dinda langsung mencari nama Hala di pencarian kontak aplikasi chatting tersebut.
"Ya, Mah." Aku ingin tahu bagaimana respon Hala.
"Hallo." Suara Hala terdengar pilu.
Apa ia sedang bersedih.
"Hallo, assalamualaikum. Sehat, Dek?" Suara mamah Dinda terdengar ramah.
Mamah Dinda menspeaker panggilan telepon sedang masih tersambung. Sedang masih 'tut, tut, tut'.
"Alhamdulillah, sehat. Mamah sehat?" Perasaan, suara Hala biasanya tak selirih ini suaranya. Ditambah, dengan tarikan air hidung.
Apa ia flu? Tapi ia tadi mengatakan bahwa dirinya sehat.
"Main ke sini kapan, Dek?" Mamah Dinda langsung berbicara pada intinya.
"Entah, Mah. Kalau Mamah mau bahas tentang ayahnya Bunga, di telepon aja. Aku udah capek, Mah."
Loh, loh. Kok ia malah terisak?
"Kenapa capek? Kan laki-laki itu yang kau pertahankan."
Sepertinya, sesi curhat akan dimulai.
"Mah, demi Allah aku tak tau posisinya saat itu." Tangisannya sampai terdengar.
Mamah Dinda memandangku. Kemudian, mamah Dinda menarik napasnya.
"Kau ngerasa tertipu?" Pertanyaan singkat saja, tapi mamah Dinda memikirkan beberapa menit.
__ADS_1
"Iya, Mah. Tapi aku bukan orang yang bisa lepas dari suatu hubungan."
Aku semakin curiga, bahwa ia dinodai bang Ken.
"Maksudnya gimana? Dengan ucapan kau begitu, kau seolah udah dirusak Ken. Coba terus terang, biar keluarga ini bisa bantu." Mamah Dinda pintar sekali, jika menggali informasi tutur katanya lemah lembut dan begitu ramah. Padahal aslinya, jebret-jebret langsung menikam hati.
"Tak, Mah. Dia tak rusak, cuma aku terlalu percaya. Ini kali pertamanya aku langsung dijanjikan dan langsung benar-benar percaya ke laki-laki, karena pikir aku umurnya udah matang, jadi dia tak mungkin main-main sama aku. Aku jadi ingat pesan bang Lendra, jangan terlalu pakai hati, karena dia sekali pakai hati hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat." Suaranya seperti menangis kembali.
"Kenapa kau tak tinggalin dia?"
Aku menahan suaraku agar tidak bertanya, aku membiarkan mamah Dinda tetap berbicara pada Hala. Karena khawatirnya ia mematikan panggilan telepon ini, jika tahu ada aku ikut mendengarkan.
"Mah, bolehkah aku egois?"
Wah, aku mulai memahami nih.
"Kau pengen milikin dia?" Mamah Dinda pun langsung menebak.
"Dia setengah hati bawa Ria balik. Dia bilang, dia kasih keputusan ke Ria. Mah, kalau laki-laki benar-benar pengen lanjut. Dia pasti tak kasih kesempatan istrinya untuk memilih, dengan dia buat istrinya milih, berarti dia pun punya secuil harapan untuk tak dipilih. Bukan aku berharap dia pisah sama istrinya juga, tapi aku pun memikirkan hati aku sendiri. Kalau memang pada akhirnya dia pisah juga sama istrinya, kenapa aku tak bisa bersama sama dia? Aku sadar, aku ditipu. Tapi mungkin, akan ada masanya dia sadar dan nyesel udah nipu aku sebelum pernikahan." Hala berbicara dengan terbata-bata.
Eh benarkah? Dari kalimat mana?
"Tak, Mah." Ia menepis dengan suara menurun.
Apa maknanya ya?
"Terus terang aja." Mamah Dinda seperti memberikan penekanan pada suaranya.
"Bukan begitu, Mah. Kalau dia memang akhirnya pisah sama Ria, apa aku harus berkorban dengan melepaskan dia? Kan dia udah bebas, udah tak sama siapapun, jadi aku berhak dong untuk miliki dia?"
Benar juga sih. Kenapa membingungkan sekali sih?
"Kan dia udah nipu kau, kau tak sayang diri kau sendiri?" Sudah mulai menampakan keaslian mulut mamah Dinda.
"Ken memang ngapain aku? Mungkin aku tak hati-hati, karena aku pikir dia udah berpikir matang dan dari keluarga Mamah, jadi dia tak mungkin macam-macam. Selain itu, dia bersikap baik dan sopan. Dia pun paham keadaan, juga masih berhubungan baik sampai sekarang. Makanya aku bilang pas itu, silahkan abang selesaikan sama Ria. Mau lanjut, atau taknya, ya tolong bilang. Biar aku bisa ngertiin, biar aku tak dituduh merebut bang Ken dari Ria."
__ADS_1
Eh, sepertinya perempuannya model egois luar biasa lagi. Cocok lah mereka.
"Begitu ya?" Mamah Dinda tersenyum kecut dan menaikan alisnya. Ekspresinya seperti meledek.
"Apa aku di sana dituduh pelakor, Mah?" Ia memiliki kekhawatiran sendiri dengan nama baiknya rupanya.
"Tak kok, tak ada yang nyebut kau pelakor segala macam. Semangat ya? Semoga ada jodoh sama Ken." Support mamah Dinda seolah dibuat-buat.
"Iya, Mah. Sampaikan maaf aku untuk Ria, kemarin aku tak tau kalau Ken suami Ria."
Ck, mulutnya.
"Sampaikan sendiri aja, dia lagi ngobrol sama Ken soalnya."
Wah, mulut mamah iseng sekali.
"Iya, Mah. Dia ada izin untuk bujuk Ria sama mau kasih barang untuk Kirei katanya."
Luar biasa hubungan mereka. Hala memiliki kelegaan untuk mendengar permintaan izin dari bang Ken, ia pun sudah seperti teman untuk bang Ken.
"Oh, baguslah. Udah dulu ya? Soalnya Mamah lagi ngayun Kirei nih." Pandai juga alasan mamah Dinda ini.
"Iya, Mas. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." Mamah langsung mematikan sambungan teleponnya dan menangkupkan ponselnya di tengah telapak tangannya.
"Gila, gila! Perempuannya Hala, laki-lakinya Ken. Syukurlah, kalau ada yang anggap Ken benar. Mamah aja kalau nampak Ken, rasa pengen gaplok dia sekali aja. Tapi ingat, dia bukan anak sendiri. Coba kalau macam Givan, udah Mamah gaplok jidatnya pakai gulungan koran. Ini anak orang, takut orang tuanya tak terima. Penipu, dia berpikir kalau dirinya tak hati-hati makanya ditipu. Kalau diperkosa, dia pasti berpikir bahwa dirinya terlalu seksi makanya diperkosa. Perempuan kek gini nih, bahaya juga untuk dirinya sendiri karena terlalu memaklumi tingkah pasangannya. Nanti pasangan selingkuh, dia berpikir bahwa dirinya kurang menarik. Oke tak apa ambil paham itu sekali, untuk lebih ikhlas menjalani semua, kek waktu Mamah cerai sama papah Hendra. Tapi itu sekali-kalinya ambil paham itu, biar lebih ikhlas dan menerima keadaan yang udah terjadi. Kalau berulang, dia butuh psikiater juga keknya." Mamah geleng-geleng kepala.
"Jadi gimana menurut Mamah?" Aku masih butuh pendapat apa.
"Udah terlalu rumit, khawatirnya kalau kau kembali sama Ken, Hala berpikir untuk memiliki Ken juga. Mamah yakin, Hala tak mudah dilepaskan kek pengakuannya itu. Dia ini nampak dewasa, biar lawannya terbawa arusnya. Karena bisa jadi, Hala lebih pemain dari Ken. Duh, rumit lah. Jadi malah suudzon ke mana-mana, padahal udah nelpon." Mamah menutupi wajahnya.
Cocok memang.
...****************...
__ADS_1