Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)

Mabuk Duda (Ceria Skalane Waktu)
MD124. Di luar jendela


__ADS_3

Kenandra Al-Musthofa bukan sih laki-laki yang menikahiku? Aku langsung membuka sosial media milikku kembali, dengan tidak disangka ia langsung mengirimiku pesan.


[Ria….] Tulis pesan tersebut.


Memang nama akun sosial mediaku 'Ria' jadi tak aneh misalkan orang lain tahu namaku. Yang jadi pertanyaannya ini benar bang Ken, bukan? Rasanya percuma jika aku memblokir akunnya, tapi ia membuat akun baru.


Di akun Al-Musthofa itu tak ada foto satu pun, tidak ada informasi apapun. Aku memiliki pemikiran, apa itu penipu? Antara penipu, atau bang Ken.


[Ria….] Pesan itu masuk kembali.


[Ya.] Balasku kemudian.


[Bukalah jendela kau.]


Aku langsung melirik ke arah jendela kamar. Ini rumah ibunya Alfonso, kamar yang aku tempati memiliki dua jendela di samping kanan ranjang. Ketakutanku mengerubung, aku takut jendela itu dijebol dan tiba-tiba ia masuk, lalu aku dibunuh.


Aku langsung berjalan ke arah pintu. Dari kejauhan pun, tampak bayangan orang ada di depan jendela. Tanpa basa-basi lagi, aku langsung keluar dari kamar dan mencari keberadaan ibunya Alfonso.


“Mommy, ada orang di luar jendela kamar itu.“ Aku panik dan langsung memeluk beliau yang tengah memasak sesuatu di dapur.


“Kau yakin?“ Ibunya Alfonso terlihat was-was.


“Ya, orang tersebut mengirimi aku pesan.“ Aku menunjukkan ponselku.


Ia melihat dan mengangguk setelahnya. “Mommy pun takut, karena tenaga Mommy tak seberapa. Tapi kau jangan khawatir, nanti Mommy pasang tralis untuk jendela siang nanti. Mommy tak pasang tralis, karena agar mudah penyelamatan jika terjadi kebakaran. Mommy tak pasang pagar rumah, karena perumahan ini aman dan tidak pernah terjadi sesuatu yang meneror satu keluarga. Ada penjaga dan CCTV di setiap sudut jalanan di perumahan ini. Ehh, tapi siapa Al-Musthofa?“ Ia melirikku dan ponselku bergantian.


“Eummmm…. Kalau tidak salah, nama panjang ayahnya anak aku itu ya Kenandra Al-Musthofa. Tapi aku tak tau di bukan, yang ngirimin aku pesan ini.“


Sejak kejadian, rumah Alfonso berubah seperti penjara. Karena setiap jendelanya, terdapat tralis agar orang tidak mudah masuk. Cukup tenang hidup di sini, apalagi ibu Alfonso selalu mengantarku sampai ke bus bersama anak perempuannya. Ia pun selalu menjemputku, karena anak perempuannya pun selalu ia jemput. Pikirnya, ia sekalian pergi.


Ia baik sekali, meski agama kita berbeda. Ia tidak mempermasalahkan caraku beribadah, ia pun tidak pernah mengajakku untuk ikut dengannya beribadah. Tapi, aku yang memilih untuk ikut pergi karena aku takut di rumah sendirian. Ada ruang tunggu di tempat ibadahnya, aku pun biasanya duduk di sana bersama penjaga tempat ibadah tersebut kala semua orang tengah beribadah. Yang penting niatnya, Penciptaku pasti mengerti jika aku ketakutan di rumah dan selalu datang ke tempat ibadah ini untuk berlindung dari orang yang mungkin membahayakanku.

__ADS_1


Saat ibunya Alfonso menjemputku sampai ke kelasku, aku beberapa kali sering melihat ada bang Ken di sudut koridor. Kadang pun, mobilnya terlihat terparkir di bahu jalan.


Ia laki-laki yang nekat sekali, ia menakutkan. Sungguh, aku bukannya semakin simpatik padanya. Tapi aku semakin takut dengannya, aku semakin ingin menghindar dan menjauhinya.


“Hallo….“ Dalam perjalanan pulang ke rumah, tiba-tiba bang Givan menghubungiku.


“Di mana alamat kau tinggal, Abang mau ambil penerbangan sekarang?“


Ya ampun, ini masih tiga hari lagi dari jadwal aku wisuda. Kenapa bang Givan tidak datang di waktu yang pas?


“Nanti aku kirim alamatnya, Bang. Jadwal penerbangannya kapan?“ Perjalanan pesawat, dua puluh tiga jam satu hari. Belum perjalanan darat dari bandara Brasil ke Sao Paolo, makan waktu satu harian juga. Lalu ke kota aku tinggal, memakan waktu dua jam dari Sao Paolo. Ya sekitar dua harian perjalanan bang Givan.


“Esok pagi.“


Eh, tapi pas juga sih. Ditambah perbedaan waktu sepuluh jam juga. Jika ia penerbangan esok, berarti saat wisuda mereka baru menginjak kota ini.


“Kalau kek gitu, sekalian aja ketemu di kampus. Aku di kampus Universidade Anhembi Morumbi, Abang bisa tanyakan langsung di mana gedung wisuda berada ke penjaga sekolah.“ Salah satu kampus swasta di sini.


Aku segera menyebutkannya, dengan bang Givan mengulangi dan menyimpannya. Aku sedikit was-was, takut mereka kaget melihat perut cembungku.


“Kenapa kau tak kasih alamat rumah Mommy aja, Ria?“ Ibunya Alfonso bertanya, setelah aku berbicara dengan bang Givan di telepon.


Apa ia mengerti bahasa Indonesia?


“Mommy ngerti bahasa Indonesia?“ tanyaku kemudian.


“Sedikit, pernah jadi relawan masa bencana di ujung Sumatera. Waktu itu, Mommy belum menikah.“


Wow, ternyata ia pernah datang ke provinsi tempat Adi's Bird berkembang biak.


“Keluarga aku pun, berada di provinsi yang sama masa bencana itu. Cuma, tempat keluarga aku tinggal tak terkena sapuan air. Karena daerah dataran tinggi di sana, di mana lahannya semuanya berbukit.“ Pantas saja ia mengerti bahasa Indonesia.

__ADS_1


“Mommy tak nyangka.“ Ia geleng-geleng kepala dan tersenyum.


“Tiap hari Mommy nangis di sana, karena tak tega lihat keadaan di sana. Oh iya, kenapa kau tak minta keluarga kau datang ke rumah Mommy aja?“ Ia mengembalikan topik utama.


“Karena waktunya mepet, Mom. Jika aku hitung dengan jarak dan waktu, mereka sampai di beberapa jam sebelum acara mulai.“ Mereka datang di waktu Subuh, dengan acara yang mulai dari pukul tujuh.


Mommy manggut-manggut. “Maksudnya sih, biar keluarga kau ada waktu istirahatnya dulu.“


Aku takutnya mereka bukan beristirahat, tapi mencecarku dengan pertanyaan. “Mom, sebenarnya mereka tak tau kalau aku mengandung di sini,” akuku jujur.


“Hah?“ Mommy sampai menepikan kendaraannya.


“Kau serius?“ Mommy menoleh lama melihatku.


Aku mengangguk lemah, itulah kebenarannya. Aku tak bisa menyampaikan kabar ini, karena aku takut disalahkan karena ulahku sendiri.


“Serius, Mom. Aku harus gimana? Aku tak tau bagaimana yang terbaik untukku dan anakku.“ Karena awalnya aku berpikir, bahwa bang Ken akan menjadi sosok suami idaman dan menjadi sosok ayah yang sigap meski anaknya masih dalam kandungan.


“Mommy bisa bantu jelaskan kalau kek gitu.“ Ibunya Alfonso mengusap lenganku. Saat aku menoleh, ia tengah tersenyum padaku.


Aku membalas senyumnya. “Terima kasih, Mom. Tapi aku mau, Mommy jangan kasih tau siapa ayah dari anak aku. Aku tak mau mereka tau itu, biarlah anak ini tumbuh tanpa tau siapa ayahnya.“


“Kenapa begitu, Ria? Anak biologis, punya hukum dan hak untuk itu semua. Jangankan materi, hak kasih sayang pun harus dia dapatkan.“


“Karena aku udah salah menilai dia, aku udah salah milih laki-laki.“ Aku menyesali keputusanku dulu mau menikah dengannya.


Aku bodoh sekali.


“Semua orang bisa berubah, Ria. Bisa jadi, ini ada kesalahpahaman. Karena dari cerita Alfonso, ayah anak kau selalu nganggap anak yang kau kandung itu anak Alfonso. Hei, kalau benar anak Alfonso. Mommy pun bakal tanggung jawab, tak akan buat kau merana seorang diri begini. Tapi kau selalu bilang, itu bukan anak Alfonso. Jadi menurut Mommy, ada yang harus kau luruskan ke ayahnya anak kau itu. Dia harus tau, minimal tentang anaknya ini adalah anaknya.“


Tidak kak Tiwi, tidak mommy. Mereka terkesan ingin aku berbaikan dengan bang Ken.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2